Showing posts with label private. Show all posts
Showing posts with label private. Show all posts

17 April 2017

Interaksi Si Sulung dan Si Bungsu

Eneng Euis dan adiknya berselisih 22 bulan. Saya enggak pernah menanyakan apa Euis mau punya adik atau kaga, pokoknya saya merasa sudah waktunya menambah anak dengan mempertimbangkan faktor usia saya dan kondisi badan (yang udah mulai gampang pegal hahaha), lalu adanya dukungan ortu yang membantu jaga anak saya (kalo mau nambah, ayo sekarang mumpung kondisi fisik mama papa masih oke nih, gitu kata mereka), dan sifat Euis yang dimanja abis sehingga makin egois. Dengan segala pemikiran itu, kami berpasrah pada Tuhan, ehhh tahu-tahu langsung dikabulkan! Puji Tuhan yaa... Euis kami kasih tahu bahwa dia akan jadi cici, dia akan punya adik bayi yang sayang banget sama dia, Euis dan dede kelak bisa main bareng. Entah dia ngerti atau enggak, sikapnya selama kehamilanku memang agak nambah manja dan posesif tapi baik dan penyayang. Dia mau elus-elus perutku, sun dede. 

Begitu adiknya lahir pun, Euis kelihatan senang dan sayang banget sama adiknya. Gemeesss banget dia ke adiknya, sampai suka gerahamnya ngatup dan tangannya getar-getar kaya mau nyubit/mukul hahahaha tapi dia mah gemesnya gemes sayang kok, paling abis itu adiknya diuyel-uyel doang. 

Pernah mukul? Pernah, waktu adeknya newborn. Dua kali. Tapi itu pun karena kesal kami melarang-larang dia megang adiknya, jadinya dia bete dan ngeplak kepala adiknya. Untungnya ga keras dan kepala adeknya udah keras sejak lahir. Si Dede mah diem aja dikeplak, berarti ga sakit hahahaa... Reaksi kami? Ga marah lah. Cuma kami kasih tahu aja bahwa Dede pengen disayang, dielus. Kalau dipukul mah sakit. Lalu Euisnya (yang malah sesenggukan penuh duka nestapa) kupeluk. Sejak itu kami enggak melarang-larang dia lagi kalau mau pegang adeknya, tapi kami ajari cara megangnya dengan lebih lembut aja. Euis pun happy kembali setiap lihat adeknya. 'Dede' adalah salah satu first wordsnya. 

Despite of their good relationship, namanya gejolak kadang muncul. Waktu umur adiknya 8 bulan, Euis tiba-tiba menjaga jarak sama adiknya. Kalau kami sodorkan adiknya juga dia menolak. "Enggak! Enggak! Eces, dede bacah!" katanya, jadi kupikir mungkin dia jijik aja karena adeknya sedang teething dan sering mainin liur. Tapi kok sebelumnya ga kenapa-kenapa, tiba-tiba ga mau banget sayang dedek. Ada apa nih, worry juga tapi ga kupaksa, daripada anaknya makin ngambek. 

Kuingat-ingat lagi apa aja yang kami lakukan. Hmmm kayanya tanpa sadar kami suka memuji-muji si adek di depan kakaknya dan membandingkan mereka. Misalnya: "Dede pinter yaa, mau makan segala macem. Cici juga dong yang pinter makannya." atau "Wah si Dede mah pinter yah mau diajarin dadah, dulu Euis mah mana mau." Kata-kata with no harm intentions tapi ternyata berimbas pedih buat Euis. Apalagi seiring Dede bertambah besar, dia jadi makin lucu (maaf narsis), jago caper, dan minta diajak main terus jadi perhatian kami, buat Euis pun terpecah. 

Buru-buru kami berusaha memperbaiki situasi. Aku mengusahakan one-on-one time sama dia, nunjukin bahwa mamanya masih sayang buat dia. Makin sering bilang sayang. Sering bilang bahwa semua orang serumah sayang dia, apalagi dede, sayaaaang banget sama cici. Kalau memuji adeknya, kami sertakan dia, misal "Wah Dede pinter mau makan brokoli, Cici yang ngajarin ya? Pinter ya Euiiss!" atau "Duhh, Dede udah pengen berdiri aja, pengen cepet bisa main sama Cici yahh? Sayang Cici sih yaa..." Pokoknya sehari bisa puluhan kali penekanan sayang hahahaa... 

Puji Tuhan, dalam sekitar sebulan Euis udah baek lagi sama adeknya. Dede juga bisaan sih, mentang-mentang udah bisa tepuk tangan, begitu kami muji cicinya karena sesuatu (misalnya karena sukses pipis di kloset), dia ikutan heboh tepuk tangan. Caper bangeeet sama cicinya, cici adalah idola hahahaa... Cicinya jadi shy tapi seneng. 

Sekarang kalau kami ajak main Dede, dia suka nimbrung. Mereka lagi hobby main cilukba tiap malam terus ngakak-ngakak berdua, gemesin banget. Jiwa kekakakan Euis makin tumbuh. Kalo liat adiknya ambil mainan dia, dulu mah marah, sekarang dia ambilin mainan adeknya buat ditukerin sambil nasehatin, "No no no no, Dede, ini enan (mainan) Is. Nih enan Dede." atau tau-tau dia bawain adiknya training cup. Kalau makan pisang atau brokoli, adiknya disuapin. 

Seneng sih lihat mereka udah bisa main bareng walau gaje. If Tadi pagi Euis naik ke kasur atas pas adiknya di kasur bawah. Kedua kasur nempel tapi bedanya yang 1 ada ranjangnya, 1 kaga. Jadi selisih 30 sentian. Euis lemparin tali pengikat gorden ke adiknya, "Dede pegang. Ayo naik. Tayiikk (tariiikk), tayiiiikk! Ayo Dede naik!" Ya gimana kamu lah, Nak, mana kuat juga narik Dede. Adiknya asik aja ngunyah tali gorden hahaha... 

Euis juga makin sotoy nasehatin Dede. Semalam papanya lagi laptopan di meja di kamar. Duo bocah lagi bikin sirkus ulet nangka di kasur sambil kuawasi. Tahu-tahu Dede bosen dan merangkak nyamperin papanya. Langsung dihadang sama Euis, "Dede, nyangan! No no no no, papa keja! Cayi uang!" Begitu juga kalo Dede mau ngerebut notebookku, "Nyangan, Dede, buku Mama! Keja! Cayi uang!" Ampun, Ciiii.... 😂

10 March 2016

Random Thoughts - Feb 2016



Gara-gara bedrest (ya sebenernya ga beneran berbaring di kasur sih, kadang di sofa, banyak juga jalan ngambil cemilan dan ke kamar mandi buat hoek hoek hahaha), jadinya aku kebanyakan mikir deh. Apalagi sempat ada kejadian mengerikan pengeboman dan penembakan di Thamrin. Puji Tuhan saat itu suamiku lagi nggak ngantor di Sudirman jadi aku ga terlalu waswas karena sempat beredar hoax bahwa pengebomnya kabur naik motor ke arah Semanggi membawa senjata api. Di sosmed, para netizen langsung mencurahkan emosi dalam bentuk hashtag, cuitan, dan meme. Namanya juga Millenials (tertawa getir karena I’m included). Mulai dari #KamiTidakTakut, #JakartaBerani, tukang sate yang tetap laku berjualan di dekat lokasi pengeboman, ngetawain teroris ISIS sampai ribut-ribut soal polisi ganteng fashionable yang berlangsung sampai malam. “Dangkal,” kata beberapa orang, “mudah dialihkan”. Tapi menurutku, itu reaksi yang manusiawi. Ketika tidak langsung terlibat atau menjadi korban dalam suatu peristiwa buruk, manusia cenderung mencari hal untuk mengalihkan kesedihan dan rasa takut mereka. Humor adalah salah satu skill untuk bertahan hidup, untuk mencegah rusaknya jiwa, walau batas humor yang bisa diterima dengan humor yang tidak sensitif menjadi sangat kabur karena sifat subjektifnya.

Menurutku pribadi, #KamiTidakTakut bukan berarti kita sepenuhnya tidak perlu merasa takut. Rasa takut adalah salah satu insting dasar manusia buat bertahan hidup. Lihat aja bayi, salah satu hal yang pertama dia rasakan adalah rasa takut. Rasa takut membuat manusia menghindari hal-hal yang membahayakan nyawanya. Ketiadaan rasa takut malah bisa berakibat kita menjadi lengah, jumawa, dan akhirnya mati konyol. Aku lupa ini quote dari siapa, tapi ada yang bilang bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut tapi kekuatan untuk melawan rasa takut itu sendiri. I agree.

BTW, di Alkitab katanya frase ‘Jangan takut’ disebutkan 365 kali lho (maaf, nggak pernah ngitung sendiri dan nggak pernah khatam baca Alkitab hehehe). Kalo menurut penafsiranku, Tuhan juga nggak bermaksud menyuruh manusia supaya tidak merasa takut sama sekali, tapi untuk menyerahkan ketakutan kita kepada-Nya. Kan Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih besar daripada yang sanggup kita terima ya…

Terus aku jadi kepikiran 7 Deadly Sins menurut ajaran Kristen (karena otak makin melantur). Kemalasan. Amarah. Kerakusan. Ketamakan. Cemburu. Nafsu. Kesombongan. Mana yang masih mengikatku yah? Dulu mah mungkin envy, misalnya sirik ngelihat orang lain jalan-jalan ke luar negeri melulu, sirik lihat artis yang tenar untuk alasan gaje bisa beli rumah mewah dan mendapat endorsement produk-produk keren (LOL ini pasti nggak cuman gue yang ngalamin, hayo pada ngakuuu!), dan schadenfreude alias ngetawain penderitaan orang lain. Tapi yaa ntahlah, sejak punya anak aku lebih ngerasa somehow fulfilled aja. Rasanya ya ‘tiap orang udah ada rejekinya masing-masing’ tuh bener dan ga kerasa sirik kalau orang lain kelihatan happy. Toh aku juga bahagia, apa yang mau disirikin?

Rakus sama tamak juga kayanya sih aku nggak, yah secukupnya aja lah… Cukup kenyang, cukup enak, cukup puas hehehe… Amarah juga hampir nggak pernah, paling setahun sekali lah. Tapi kalau aku marah nyeremin lho, makanya jangan macem-macem. BTW kalo manyun, bete, ngambek mah sering, tapi masih terkendali. Amarah ini dosa yang kayanya enteng dan wajar terjadi tapi paling mudah merusak hubungan keluarga lho, ngeri. Soalnya ketika marah, kita bisa mengucapkan kata-kata jahat ke orang yang kita sayangi. Tahu nggak penelitian tentang tumbuhan yang jadi busuk ketika dimaki-maki dan jadi sehat segar ketika dipuji dan disayangi? Kalau tumbuhan aja punya perasaan, apalagi hati manusia.

Nah layaknya manusia lain, saya juga tetap punya dosa kok. Dosa yang masih mengikatku mah pastinya KEMALASAN! Mbwahaha…  Procrastination itu menyenangkan yaa, gimana doong? Ini masih butuh effort nyembuhinnya.

Oya, masih ada lagi dosa nafsu. Ini juga nyeremin dan life-ruining. Pemerkosaan. Perselingkuhan. Sampe bawa-bawa dukun santet. Pedofilia. Ngomong-ngomong perkosaan, Tahun Baru 2016 lalu terjadi pemerkosaan massal di Eropa. Yang paling ramai diberitakan tentu saja yang di Jerman, karena korban dan pelakunya mencapai ratusan (atau bahkan ribuan) orang. Mengerikan, perempuan-perempuan yang sedang berjalan menuju tempat merayakan tahun baru (bersama keluarga, teman, bahkan pasangan mereka) diserang oleh banyak orang sekaligus, ditelanjangi atau dibuka paksa pakaian dalamnya, dan segala ‘celah’ di tubuhnya dimasuki jari dan entah apa lagi oleh orang-orang jahanam itu.

Tentunya sulit dipungkiri efek pengungsi dari Timur Tengah ke Eropa. Susah ya kalo urusan refugee gini. Saya sendiri pendukung bantuan kemanusiaan buat para pengungsi (baik itu Syria, Rohingya, dll) tapi sepertinya memang perlu ada batasan-batasan karena adanya perbedaan nilai budaya. Berkenaan pengungsi ini, mungkin next time saya bahas, mungkin juga ga akan saya bahas karena saya ga punya solusinya dan takut malah dikira rasis.

Yang lebih menarik minat saya yaitu dalam ramainya pemberitaan tentang hal ini, masih ada lho yang bilang bahwa penyerangan itu bukan pemerkosaan! Alasannya? Karena tidak terbukti adanya penetrasi alat kelamin. Eh woyyy!!! Langsung stress deh aku rasanya. Itu yang ngomong pasti laki-laki goblok. Kalau itu perempuan yang ngomong, wuaahh… gobloknya ga ketulungan. I’m not sorry for being rude. 

Pemerkosaan itu adalah tindakan seksual yang tidak konsensual. Mau masukin jari ke pantat kek, mau penis dimasukin ke mulut instead of vagina kek, atau apapun bentuknya, emangnya itu cewe-cewe setuju? Yang kaya gini nih hasil men-taboo­-kan pendidikan seks. Pola pikirnya jadi picik dan tidak punya empati. Padahal, buat seorang perempuan, ‘sekedar’ diraba (bahkan di tangan atau organ lain selain pantat, boobs & vagina) oleh orang yang tidak dia inginkan tuh udah suatu bentuk serangan seksual dan bisa menimbulkan trauma lho. Dipaksa ‘melayani’ suami ketika si istri tidak mau pun udah bentuk pemerkosaan. Pemerkosaan terhadap laki-laki oleh pelaku perempuan juga ada lho. Sayang banyak yang nggak tahu itu. AKIBAT KURANGNYA PENDIDIKAN SEKS! *menghela napas panjaaaang sekali*

Hal lain yang sering dikaitkan dengan dosa hawa nafsu adalah LGBT. Naahhh… pas lagi rame banget nih ya akhir-akhir ini. Pendapat mayoritas masyarakat Indonesia, tentu saja, menentang keras LGBT. Saya sendiri? Miris.

Yah gak tahu lah… saya ini memang kurang dalam mempelajari agama, tapi saya nggak mau menuduh orang lain ‘berdosa’ ketika saya sendiri pun bukan makhluk suci. Apakah saya menganggap LGBT termasuk dosa NAFSU? Jujur saja, nggak. Nggak, kalau si LGBT tersebut nggak terlibat dalam pemerkosaan, seks bebas atau perselingkuhan (sama aja kaya orang straight, menurutku). Dan please… kenapa juga sih LGBT suka dikaitkan dengan pedofilia? Kalau pedofilia mah ya iya lah jelas banget salah… memanipulasi anak kecil untuk kepuasan seks pribadi. Malah memang sepantasnya masuk kategori kelainan jiwa. Tapi kalo LGBT mah menurutku (yang awam dan ga religious ini) udah dari sananya. Bukan pilihan, bukan penyakit. Dan jelas ga menular. Kalo ada yang bilangnya tertular karena waktu kecil digrepe om-tante atau apalah, menurutku ga bisa digeneralisir yah. Teman-temanku yang LGBT nggak ada yang hasil ‘penularan’. Kalau memang LGBT itu menular, pasti suamiku udah ketularan hahahah… secara teman-teman dekatnya waktu kuliah juga LGBT. Makanya aku ga ngerti kalau ada istilah 'propaganda LGBT' untuk menyebarkan 'virus LGBT'. Whaattt?

Menurutku lagi, kalau pun ada yang tertular, itu karena memang dalam dirinya udah ada potensi ke sana. Yep, aku percaya pada teori spektrum seksualitas, di mana ada manusia yang nggak 100% heteroseksual ataupun 100% homoseksual. Banyak binatang pun menunjukkan perilaku tersebut. Misalnya, ada orang yang punya ketertarikan pada sesama jenis, walau dia pun tertarik ke lawan jenis. Banyak yang bilang istilahnya biseksual, tapi menurutku dalam spektrum seksualitas, istilah ini terlalu menggeneralisir. Contohnya gimana? Ya mungkin kaya diriku. Ketertarikan seksual ke lawan jenis itu so far cuma sama suamiku, puji Tuhan. Dan aku lebih suka lihat badan perempuan daripada laki-laki hahahaha! Perempuan tuh cantik, indah, enak dilihat. Laki mah jijay hahahaa… Malah kalau lihat cewe cantik di mall, aku yang kagum, bukan si pak suami hahahahaa… Tapi bukan berarti aku pengen berhubungan seks sama perempuan lho. Nah ‘normal’ kah diriku atau layak dikategorikan LGBT? Hayo…

Satu lagi dalam teori spektrum seksualitas: seksualitas kadang tidak bersifat permanen pada beberapa orang. Makanya bisa ada kejadian orang yang kelihatan straight tiba-tiba ‘coba-coba’ dan yang tadinya LGBT ‘insyaf’. Istilah yang kuberi tanda petik itu tandanya aku sendiri nggak sreg sama penggunaannya di media yah.

Yah, di luar perdebatan kewajaran LGBT atau dosa-tidaknya LGBT (itu mah ranah lain dan boleh dibilang nggak akan ada titik temunya yah antara kedua pola pikir tersebut), ada satu hal yang sangat bikin aku miris. Yang namanya orang-orang yang ngaku beriman kok begitu mudahnya ya menistakan, melecehkan, merendahkan sesama manusia hanya karena LGBT? Iya tahu, mungkin sebagian karena rasa takut, tapi terpikir nggak sih kalau orang-orang yang dibilang ‘menjijikkan’, ‘sakit jiwa’, dll itu tuh adalah manusia juga? Manusia yang punya perasaan, punya hati? Manusia yang juga punya ibu, seperti kita semua, yang mungkin sedang menangisi nasib anaknya yang dinistakan masyarakat?

Coba deh baca komik IS. Iya, judulnya IS, kependekan dari Inter Sex. Cari tahu soal anak-anak yang dilahirkan dalam kondisi jenis kelamin yang nggak sedeskriptif konteks umum, and yes, they were BORN that way (kelainan genetis dsb). Sedih banget, kebayang kalau anak, adik, keponakan, atau diri sendiri yang ngalamin kaya gitu. Mereka terlahir demikian. Nggak sesuai ‘norma’ yang berlaku, tapi demikian adanya kondisi biologisnya.

Menurutku nggak ada bedanya sama kaum homo-biseksual. Mereka juga mengalami pergumulan sendiri, dan pergumulan itu nggak mudah. Kalau kita malah menistakan mereka, apa nggak makin kacau jiwanya? Ibaratnya, yang tadinya pingin ‘sembuh’ pun menjauh dari lingkungan asalnya, terutama dari lingkup religius yang keras menolak dirinya, dan membentuk komunitas sendiri. Ehh, udah begitu pun, masih dituduh komunitasnya tersebut mempropagandakan LGBT. Cape banget, kebayang nggak sih hidup kaya gitu, apa nggak kasihan. Puji Tuhan, saya ada teman gay yang masih mau beribadah dan menyerahkan dilemanya kepada Tuhan.

Lalu coba deh bayangkan. Misalnya kita sehari-hari berkomentar dengan ringan di depan anak-anak kita ketika melihat homoseksual bergandengan tangan atau di TV ada transeksual, “Jijik ya ih, amit-amit deh!” apalagi kalo ditambah, “Kalau itu anak Mama, udah Mama buang kali!” atau sejenisnya. Bayangkan, si anak yang sering mendengar itu, kemudian mengalami pergumulan tentang orientasinya, tapi dia takut buat terbuka ke orang tuanya. Akhirnya dia malah kabur atau menjauh dari orang tuanya. Nggak bisa dibantu dan orang tuanya sendiri ga membantu. Nggak bisa menjadi diri sendiri di depan orang tuanya karena takut orang tuanya membenci dia. Sedih banget.

Saya sendiri sih, jujur saja, berdoa supaya anak-anak saya straight, bukan karena saya nggak mau menerima kalau mereka ternyata bukan, tetapi karena ngeri dan nggak tega membayangkan perlakuan yang akan mereka terima dari orang lain. Tapi kelak, andai ternyata mereka berbeda dari konformitas masyarakat, saya berharap mereka bisa mendatangi papa mamanya dan tahu bahwa sebeda apapun mereka, kami mencintai mereka tanpa syarat.

Buat para antigay yang menganggap bahwa LGBT itu penyakit, apa kalian akan membuang anak kalian yang sakit dan cacat? Kalau iya, yowis saya udah ga sanggup bilang apapun lagi. Saya nggak doakan anak-anaknya Hafidz Ary dan sebangsanya (anti-gay yang radikal) itu punya anak LGBT yah, no… kasian anaknya. Tapi semoga ya hati mereka bisa terbuka bahwa Tuhan Allah mengajarkan kasih ke sesama manusia, di luar anggapan KITA bahwa orang lain itu berdosa atau tidak. Kita bukan Tuhan yang boleh mengadili orang lain, kita tuh cuma seupil debu di dunia ini. Be loving, people.

FYI, sesuai yang namanya kebebasan berpendapat, saya ga melarang orang untuk berpikir dan berpendapat menentang LGBT, tapi saya anjurkan berpendapatlah dengan kasih. Ga perlu lah ngetweet nyuruh followers membully LGBT minimal sekali setiap hari. Saya rasa Tuhan nggak akan menyuruh umat-Nya begitu.

Oya, di atas tadi sempat saya ngomong pendidikan seks. Ini cukup ngeri ya di Indonesia, karena rasanya masih ditabukan banget. Anak-anak jadi mencari jawaban di tempat yang salah. Lucunya logika fundies (mayoritas pemimpin bangsa), mereka malah larang dan sensor aja dulu, bukan edukasi anak-anaknya. Pada ga tau kah psikologi manusia: semakin dilarang, semakin ingin tahu. Lihat aja anak batita, dibilang 'jangan' malah makin sengaja kan? Katanya disuruh membudayakan ASI dan menormalisasi menyusui sampai usia anak 2 tahun, tapi gambar memerah puting SAPI saja diblur! 

Berkali-kali saya lihat perempuan diblur di bagian dada, saya kira bajunya vulgar banget kaya apa, taunya pas lihat fotonya di internet: dia pakai blus berkerah sabrina! Elah... lebay amat. Apa bukannya sensorship berlebihan begini yang bikin anak-anak lelaki tumbuh jadi pria yang pura-pura alim tapi begitu lihat bahu perempuan aja langsung ngaceng? Hih. Kalau saya punya anak laki-laki, saya pinginnya dia jadi gentleman yang tahu diri untuk mengalihkan pandangan dari dada atau organ vital perempuan, bukan yang lantas freaked out. Begitu juga anak perempuan saya, pastinya saya pingin ajari untuk berpakaian pantas dan tertutup.

Maaf-maaf aja buat yang antimiras, saya juga ga setuju kalau miras sepenuhnya diblokade. Yang penting adalah pembatasannya dan edukasinya. Kalau ada yang mabuk terus nyetir mobil dan nabrak orang sampai mati, menurutku yang salah ya orangnya, kenapa mabuk masih nyetir? Asshole banget. Saya sendiri bukan penggemar alkohol; bisa lah hidup tanpa alkohol, tapi sebagai manusia saya merasa dilecehkan kalau dianggap tidak bisa membatasi diri sendiri sampai segala sesuatu dilarang-larang sama negara.

Lucunya orang-orang ini, hal yang mustinya dilarang malah diberlakukan: pernikahan dini. Batas usia minimum untuk menikah di Indonesia saat ini adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 (atau 18 ya?) untuk laki-laki. Yep, 16 FUCKING YEARS. Tahu apa sih anak umur 16? Sorry ya, ga maksud nyombong, tapi untuk diriku sendiri (yang menurut beberapa teman sih lebih mature dari rata-rata, mungkin karena kondisi ekonomi keluarga saat itu), umur 16 tahun tuh aku masih labil, egois, dan irresponsible. Totally not fitted to procreate dan ngurus keluarga! Dan menikahkan anak di usia semuda itu memperkecil kemungkinannya untuk melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi (bahkan mungkin tidak akan lulus SMU). Malah kemungkinan komplikasi saat mengandung dan melahirkan jadi meningkat, begitu juga angka perceraian. Kapan dong kita jadi negara maju?

Sayangnya, masih banyak petinggi agama dan kaum intelektual yang menentang peningkatan batas usia nikah tersebut (padahal yang diajukan, kalau ga salah, hanya nambah 2-3 tahun, setidaknya cukup bagi si anak menuntaskan SMU). Malah seorang psikolog kenamaan kesayangan banyak ibu menjadi saksi ahli MUI dan bilang gini, “Akibat pornografi anak-anak sudah melakukan hubungan seks pada usia dini, jadi kalau usia pernikahan ditingkatkan maka akan banyak sekali risiko (perzinahan) yang akan terjadi karena pengaruh itu tadi.” Beritanya bisa dibaca di link BBC ini dan banyak situs lainnya.

Ummm, apa ga lebih baik meningkatkan pendidikan seks? Jadi, orang tua lebih milih pernikahan anaknya punya 50% kemungkinan cerai daripada mendidik mereka supaya nggak melakukan hubungan luar nikah? Terus, tugas ortu tuh apa sih? 

Malah suamiku jadi kesel sama si psikolog tersebut, pokoknya jangan harap dia bakal mau datang ke seminar parentingnya si ibu tersebut hahaha... Kata paksu, "Apa nggak kontradiktif? Dia sendiri yang seminarin soal Cinderella Complex & Peter Pan Syndrome yang banyak mengakibatkan perceraian pada pasangan muda, tapi dia sendiri mendukung pernikahan dini? Bukannya itu orang-orang jadi gitu karena menikah sebelum sempat mendewasakan diri?" Hehehe ya kalo nggak gitu, pasiennya berkurang kali cyiiin... auk ah. 

Emang sih, psikolog ini malah bilang bahwa pola asuh orang tualah yang menyebabkan sindrom-sindrom itu muncul. Aku sih sepikiran sama paksu, bahwa itulah yang terjadi ketika orang menikah sebelum mendewasakan diri. Kalau umur 16 udah nikah, ya eyalaah... Kami nikah aja almost 29 dan masih ada dikit-dikit konflik dalam rumah tangga. Memang sih umur ga menentukan kedewasaan, tapi berapa persen sih anak umur 16-18 tahun yang sudah siap mental buat berkeluarga?

Sorry yaaa buat para penggemar ibu psikolog tersebut... Teman-teman saya pun seringkali share soal beliau di WA dan FB. Saya mengakui kok beberapa teori parenting beliau ada benarnya, tapi dalam hal ini, prinsip beliau kontradiktif.

03 February 2016

Review Mainan dan Teether Usia 0-12 Bulan

Menurut pendapatku pribadi, anak seumur gini mah mending dikasi mainan kreasi sendiri atau mainan murce-murce aja macam keresek dan tali-temali hahahaa... Ya bukan hanya karena pelit ya *jujur*, tapi karena banyak babies yang lebih seneng mainin barang yang bukan mainan daripada mainan yang bermerk, termasuk babyku.

Cuman ya namanya first baby in the family, emaknya kadang masih tergoda pingin ngasi barang yang bagusan. Keluarga dan sahabat juga alhamdullilah, puji Tuhan pada perhatian beliin ini itu *terharu* sehingga akhirnya emak bapaknya ga pernah beliin si eneng mainan hahahaa...

Nah buat referensi frugalmamas lain yang lagi dilema milihin mainan dan teether buat babynya, ini reviewku atas mainan dan teether si eneng dalam 1 tahun pertama hidupnya.

Oke, PART ONE: TEETHER!

Si bocah umur 6,5 bulan mulai teething dengan gejala banyak ngacai dan suka gigit-gigit. Rewelnya ampuun, mana GTM pula. Tapi setidaknya ga demam sih.

1. Sophie the Giraffe
 Image result for sophie the giraffe

Harga: sekitar Rp 350-400ribuan.
Jerapah paling beken sejagad parenting kayanya nih sampe punya halaman Wikipedia sendiri, secara doi udah diproduksi sejak 1961. Diyakini terbuat dari bahan yang aman dan pewarna yang edible dengan standard internasional.

Pemakaian start usia 4 bulan; minat berkurang sejak usia 6 bulanan.
Awalnya sih si eneng seneng banget. Sophie dibolak-balik, pencet-pencet, diemut, dikunyah; betaaaah banget. Lama-lama bosen, paling lama dikunyah dan dipegang 15 menitan. Tapi mayan lah sampe umur 10 bulan lewat pun masih kepake kalo lagi teething. 

Plus: Teether ini bentuknya lucu, mudah dipegang sama baby. Bahannya kuat jadi bisalah diwariskan ke adeknya kelak hahaha... 
Minus: Agak susah bersihinnya karena ada bolong buat squeaker jadi ga boleh direndam air (akhirnya kubersihkan sambil dipegangin aja supaya squeakernya di atas air, trus pas anaknya udah gedean cuma kulap tisu antiseptik). Warnanya mudah pudar banget. Mungkin karena pakai pewarna makanan dan keseringan kubersihin *grin*. Pernah baca emak US bilang anaknya keselek kaki Sophie tapi so far ga pernah kejadian di si eneng. Mulut anak bule lebih gede apa gimana kali ya.


2. Carter's Soft Teether Book
Harga: sekitar Rp 35-50ribuan per buku.
Deskripsi: Ada beberapa 'judul' dengan cerita singkat masing-masing.

Pemakaian start usia 7 bulan. Dilirik sekilas lalu diabaikan. Kalau kami sodorkan, mau diambil sih trus dipegang-pegang dan digigit selama... 1 menit! Kemudian dilempar. Gatau napa... 

Plus: ada kresek dan squeaker di dalam halamannya yang terbuat dari kain; mudah dibersihkan (tinggal lempar ke mesin cuci); bisa dibawa mandi.
Minus: menurut seleraku mah gambarnya keramean dan warnanya butek kalo dicompare fotonya.


3. MAM Bite n Play teether

Image result for mam bite and playHarga: lupa, di atas Rp 70ribu kayanya.

Deskripsi: Didesain sedemikian rupa untuk mengembangkan motorik anak dan berbentuk cembung sehingga anak tetap mudah mengambilnya jika teether ini tergeletak di kasur, meja, atau lantai.

Yeah, udah sengaja dicariin yang keren gini, anaknya tetep aja ogah, dipegang 5 menit lah paling, dan GA PERNAH DIGIGIT! *cry*

Plus : bentuk dan warna oke, bahan kuat, mudah dibersihkan.
Minus : anaknya ga suka hahahaa... padahal oke lho ni teether!


KESIMPULAN : teether paling juara: WORTEL mentah!

 
Asoooy bener dia kaya mafia ngunyah cerutu seharian. Irit pula ya hahaa...



PART TWO: Rattle toys

Kebanyakan sih nggak beli tapi ambil yang nempel dari bouncernya aja. Untung ga beli, karena ternyata anaknya moody. Kalo lagi anteng kaya foto di bawah ini, betaah banget tuh boneka rattle diputer, dijilat, digigit, digoyang. Tapi kalo lagi emoh ya dilempar aja.

Kesimpulan: mending kasih benda ga jelas yang bisa bikin dia happy dan menarik minatnya aja. Contohnya:
Guling
Piring melamin
Hardbook
Contoh lain: keresek, tissue buat dirobek, kertas, tali-temali, ritsleting. 


PART THREE : Baby toys

Nah bagian ini, jujur aja ya semuanya adalah kado. Aku ngasi review beserta minusnya tuh bukan berarti nggak berterima kasih sama yang ngasih lho yaa (kami mah kulo nuwun pisan) tapi buat ngasih gambaran nyata ke orang-orang yang emang lagi considering beli mainan-mainan ini.

1. Jumperoo Cocolatte

Dari geng arisan SMUku.

Pemakaian start umur 6 bulanan ketika kakinya udah jejek, tapi doi ga betah lama-lama di situ. Abis itu badannya meleber dan seatnya ga muat hahahaa. Baru ketika umur 10 bulan doi langsingan jadi bisa dipakai lagi dan kalau moodnya bagus, dia betah di situ sampai sekitar 20 menitan. Nah kalo anak lain suka loncat-loncat di situ, si eneng mah anaknya ga suka lompat-lompat jadi diem aja muter-muter ngemainin toysnya.

Plus: Mainannya yang bisa muter-muter dan tombol lagunya lumayan bisa bikin anak konsentrasi, melatih motorik dan kognitif.
Minus: Sayangnya seatnya kaku dan rodanya seret; bocah jadi susah muter badannya. Trus nggak ada pijakan di bawahnya jadi kalau anaknya suka lonjak-lonjak ya kakinya kena lantai. Kalau takut kaki anaknya sakit, musti dialasin karpet atau kasur lipat.


2. Little Tikes Musical Ocean 3 in 1 Gym

Dari sepupunya papaku.
Deskripsi: ada lagu-lagunya kalau tombol dan kepitingnya ditekan atau ikan di tengah diputar. Si eneng lumayan suka sama mainan ini terutama sebelum dia bisa merangkak.
Plus: Kuat; bisa lah dipake adeknya hehe. Designnya bagus dan mudah dipasang bahkan olehku si emak gaptek. Posisi mainannya versatile, bisa madep bawah (bayi telentang), madep depan (bayi duduk), dan madep atas (bayi berdiri). Suaranya bisa diatur low-loud dan off.
Minus: bukaan baterai musti pakai obeng (tapi jadi aman dari tangan iseng si baby), gantungannya (yang ada pitanya menjuntai-juntai itu) terlalu mudah lepas kalo ditarik si baby.

3. Fisher-Price Musical Lion Push-Walker

Dari keluarga college-mate suamiku yang sekarang jadi family friend kami.
Deskripsi: Kalau rodanya berputar, keluar lagu atau suara tawa dan lampu di hidung singanya akan menyala. Idungnya juga bisa ditekan, dan ada tombol-tombol lain untuk mengeluarkan bunyi-bunyian, juga beberapa mainan sensorik di bagian depan.

Plus: Anak nggak dangling atau duduk di walker (yang katanya jadi lebih memudahkan dia belajar jalan). Desain, warna dan suaranya lucu. Bisa bersin segala, sampe anakku cekikikan dengernya. Bahannya kuat (iya, iya, bisa dipake anak kedua hahaa). Ada tombol on-off untuk suaranya.
Minus: Babyku senengnya megangin bagian depan karena lucu ada lampu di idung singanya, jadi malah singanya mundur dan anaknya ga bisa pegangan dengan puguh hahaha... Lalu kayanya walker ini nggak didesain buat bayi yang udah segede buta baru belajar jalan ahaha... Kaki si eneng beberapa kali kebentur bagian roda belakang karena jalannya masih agak ngangkang, akhirnya dia jalan agak bungkuk supaya kakinya ga kena roda. Andai aja desain rodanya lebih melebar hehe.


4. Fisher-Price Bounce Tiger
Dari work-mate suamiku.

Plus: Bahannya kuat; pernah dijadiin sansak sama suamiku hahaa...
Minus: Anakku kurang suka, cuma dilirik sekilas, dipegang sebentar, udah ga pernah disentuh lagi. Malah dusnya yang dimainin hahaha... Jadi maap ga ada fotonya.


5. ELC Fun Singing Trumpet

Deskripsi: Ada 3 tombol dengan lagu berbeda. Di bagian depan ada lidahnya bisa dicokel (melatih motorik dan kognitif anak) supaya keluar suara nyanyian yang lucu.
Senjata rahasia suamiku kalau si eneng lagi separation anxiety dan nangis gegoakan kalo nggak ada aku. Nah supaya aku bisa mandi, kasiin aja mainan ini, betah deh si eneng mainin sampai 15-20 menitan. Pemakaian start usia 8 bulanan.

Plus: Suara dan warnanya lucu, lagu-lagunya lucu, tombolnya mudah dipencet. Si eneng betah banget cokel-cokel lidah terompet ini, bagus buat melatih motorik halus dan kognitifnya. Bisa diwariskan ke anak kedua.
Minus: Ga ada tombol on-offnya. Kadang kami mau mindahin terompetnya pas si eneng udah tidur, ehh kepencet tombolnya. Suaranya kan kenceng, kalau belum nyenyak si eneng pasti kebangun. Bahannya berat. Pas babynya masih agak kecil, ngeri juga kalo dia pegang sambil tiduran telentang, takut jatuh kena mukanya. Ganti baterai harus pakai obeng.

Si terompet ditaruh di mobil buat mainan selama perjalanan jadi selalu kelupaan difoto.


6. Fisher Price Laugh and Learn Shape Shorter Cookie Jar

Yang kita punya kaya gini, edisi millenium alias design 1999! Tapi karena tanteku apik, kondisinya masih super bersih dan lengkap. Foto diambil dari e-bay.
Ini versi barunya
Harga: gatau, dapat warisan dari tanteku hehe...
Deskripsi: Mainan ini bisa menyebutkan shape atau number ketika 'cookies' dimasukkan ke lubang-lubang kecil di pinggir jar (melatih motorik). Kalau sensor di bagian tutup jar mendeteksi gerakan, jarnya akan mengeluarkan lagu (ada 2 opsi, tergantung kita nyalakan tombol yang mana). Kalau bagian hidung ditekan, dia akan 'tertawa' dan hidungnya nyala. Lucuk!

Si eneng sukaaa banget sama lagunya! Ini mainan pertama yang bisa bikin dia sampai goyang-goyang tangan setiap dengar lagunya. Masih suka dimainkan sampai sekarang; seisi rumah udah bisa ikut sing-along ke lagu favoritnya di jar ini!

Plus: Designnya bagus buat melatih motorik halus, suara dan lagunya lucu. Bahannya kuat. Bayangin aja ini mainan udah dipake sepupu-sepupuku yang kelahiran tahun 2001 dan 2006!
Minus: Warnanya ga secerah yang design baru tapi in overall aku malah lebih suka versi lama. Ganti baterainya rada susah, musti pakai obeng, tapi di sisi lain jadi aman, ga mudah dibongkar anak.


7. Family Baby Walker

Dari sahabatku Ferintjeu.
Deskripsi: Ada mainan setir-setiran yang kalau diputar bisa mengeluarkan suara 'kreekk kreeekk'. Bisa diubah menjadi static (semacam activity table).  Tinggi bisa disesuaikan.

Plus: Ada dorongannya, bisa dibuat static jadi aman anak ga menggelinding ke mana-mana.
Minus: Nggak ada petunjuk perakitan jadi nebak-nebak sendiri aja cara rakitnya, buset deh bingung gitu kita mikirin cara rakit seatnya. Kalau beli di toko biasanya dirakitin di toko sih... Seatnya sempit buat ukuran perut anakku yang mbleber, trus pas dia kurusan dan udah muat malah anaknya udah ketinggian jadi bengkok deh kakinya walaupun udah pakai settingan teratas hahaha... In the end walkernya ga pernah dipake belajar jalan, malah cuma dijadiin static activity table.

Mainan-mainan lainnya si eneng biasanya ya simple aja, bola-bola, dus, toples, balon dll. Pokoknya murah meriah dan anaknya hepi.

16 November 2015

How Having A Child Change Me

1. Makin sabar
Namanya bayi kan belum bisa ngasih tahu apa yang bikin dia nggak nyaman, cuma bisa nangis aja. Bingung juga sih, apalagi kalau belum berpengalaman ngurus bayi. Ini tuh nangis bosan, ngantuk, lapar, gatal, sakit perut, kepanasan, kedinginan, atau apaaa?
Dan yang namanya bayi tuh instingnya kuat banget dalam membaca mood mamanya. Kalau mamanya kesal malah bayinya makin panik, jadi ya mending kalem-kalem aja deh. Pengakuan: kadang masih bablas kesel juga kok pas anak nangis-nangis ga keruan ga tau juntrungannya hehehe... tapi ya ditahan-tahan aja.

2. Kehilangan ambisi berkarir
Ini agak aneh sih mengingat masa laluku yang workaholic. Rasanya dulu tuh maunya semua kerjaan diselesaikan hari itu juga, kalau bisa. Lembur mah ga masalah, apalagi tugas keluar kota. Sekarang? No way! Selain badan udah mudah capek, maunya justru pulang tenggo dan cepat-cepat ketemu anak. 
Karir setinggi langit? Tinggal angan yah. Aku mah salut banget makanya sama para ibu employee, direktris, manager di perusahaan-perusahaan gede yang udah pada punya anak tapi masih pada semangat berkarir. Kuat banget yah! Aku mah kayanya ga akan tahan karena namanya berkarir tinggi tentunya harus mengorbankan waktu dan perhatian buat anak. Ada probability musti tugas keluar kota, lembur, meeting dll di luar jam kantor.
Cita-citaku dan suami malah agar kelak aku bisa menjadi stay-at-home-mother. Mungkin karena kami dibesarkan di keluarga di mana ibu-ibu kami adalah wirausahawan yang nyari duitnya di rumah kali ya...

3. Makin pelit LOL
Ini mah jelas hahahaa... Abisnya biaya pendidikan jaman sekarang mengerikan gitu ih!

4. Ritme aktivitas hidup melambat
Dulu mah kayanya hectic deh setiap hari, bangun pagi, siap-siap ngantor, kerja sampe malem, pulang, mandi, tidur. Weekend sibuk maen dari pagi sampai malam (walau kalau diingat sekarang suka heran sendiri, ngapain aja sih itu di mall seharian). Janjian sama teman itu number one. Traveling juga rusuh, pingin lihat sebanyak-banyaknya dan ga takut dengan schedule yang padat.
Sekarang? Ya kerja ga sampai malam dong, jam 5 teng langsung siap-siap pulang, nyampe rumah, mandi, langsung digelendotin anak. Maksimum jam 8 malam udah ngelonin anak dan biasanya ikutan tidur hahaa... Weekend kebanyakan leyeh-leyeh di rumah, keluar cuma buat lunch aja. Janjian sama teman cuma sekali-sekali karena kebanyakan udah punya kesibukan sama keluarga. Bepergian juga jadi lebih slow karena harus lihat mood anak. Ga mungkin tega kan anak udah cape, ngantuk, bete, tapi masih kita seret ke sana sini.
Belum lagi soal makan. Kalau kita orang dewasa mah masih bisa ya nahan lapar, tapi kalau anak kecil kan susah. Apalagi belum semua jenis makanan bisa dimakan. Kadang kalau lagi bepergian kami harus detour dulu, mampir beli kentang goreng karena dipastikan si bocah doyan dan mudah makannya di mobil.

5. Makin nggak egois ((semogaa))
Kayanya jadi makin sering doain teman-teman yang belum punya anak supaya segera punya momongan juga dan kayanya jadi nggak terlalu banyak maunya buat diri sendiri (dilirik sama suami, kemudian dia mendehem-dehem hahahaha).

6. Makin sayang orang tua
Sekarang nih yaa... bocah baru umur setahun aja rasanya hatiku remeg kalo dia lagi ngambek sama aku atau ga mau kugendong (walaupun jaraaaaang banget). Gimana ya perasaan si mamah dulu pas aku ABG manyun-manyun di rumah, ngerem diri di kamar, dan setiap ditanya malah nyahut judes. *nangis darah*  Hampura ya, Papa Mama....
Bener lah kalo udah jadi orang tua makin kerasa dulu pengorbanan orang tua kita sendiri tuh segimana. Eh nggak cuma dulu ding, sekarang pun mereka masih ngorbanin tenaga dan waktu buat dititipin cucu! Semoga kami sempat menyenangkan mereka yaah...

10 November 2015

Tentang Kakek

Kalau kata orang, sekeras-kerasnya orang tua mendidik anak, yang 'merusak' itu adalah kakek neneknya hahahaa... Yah tanpa bermaksud menggeneralisir, tapi rata-rata kakek nenek yang kutahu memang lebih lunak daripada ayah ibu. Bukan berarti nggak ngedidik si cucu lho ya, tapi lebih mengalah dan pingin nyenengin cucu aja gitu...

Contoh dalam hidupku ya jelas kakek-kakek dan nenek-nenekku. Kalo nenek mah ada lah pernah ngasih tahu kalau aku salah (tapi ga dimarahin, malah abis ditegur aku diciumin hahahaa), tapi kalo kakek kayanya lebih manjain deh. Pada gitu ga sih?

Liat kakeknya si eneng juga gitu. Ya ampyuuuunn manjainnya, sampe kadang aku yang gemes. Kayanya bagian marahin dan negur tuh harus buat aku dan neneknya aja gituuuu, kakek mah cuma bagian ngajak maen. Huuu liciik hahaha!

Papa tuh (kata mama) dulu emang deket banget sama anak-anaknya sewaktu kami bayi dan toddler, tapi begitu kami gedean malah jaga jarak. Dasar aliran cina kuno kali ya... namanya figur 'ayah' di keluarga papaku selama beberapa generasi memang selalu terkesan strict dan bikin anak-anaknya segan, dan kayanya sosok seperti itulah yang diteladani papaku. Sayangnya, hal ini bikin aku dan adikku agak sungkan sama papa. Ga bisa deh pokoknya curhat sama papa hahahaa... Padahal di balik diamnya si papa, doi tuh memperhatikan kami banget lho. Sering kali papa duluan yang nyadar kalau kami kenapa-kenapa dan nanya mama 'kenapa tuh'. Kalau kami sakit atau butuh bahan prakarya dadakan (ini hobiku banget, kelupaan ngisi agenda), si papa juga yang malam-malam nyariin sampe gedor toko orang.

Tapiiii... di luar perhatiannya, papa bukan tipe yang bermulut manis sama anak-anaknya. Makanya ini geli bangetttt kalau dengar papa ngomong ke cucunya tuh sweet banget. Kalau kami lagi ngejar-ngejar si eneng yang kabur nggak mau dimandiin, papa yang nyamperin, "Sini, sayang, cantik, maniss, ayo dong mandi dulu..." trus bener aja si eneng mau nyamperin kakeknya. Ihhhh najong!

Begitu si eneng rewel dikit, langsung sama si papa digendong keluar rumah. Ya akhirnya sekarang kebiasaan deh, dikit-dikit dia maunya keluar. Papa emang ga bisa banget dengar cucunya merengek. Langsung disodorin apapun maunya, kerupuk, mainan, kunci, dll. Auk ahh...Sebetulnya gara-gara melihat pemanjaan papa ke si eneng ini yang bikin aku semangat punya anak kedua. Siapa tahu kalau ada dua mah manjainnya berkurang hahaha... Logika yang aneh ya.

Waktu aku punya adik, tetap aja kakekku manjain aku. Lucu sih, kalau kakek dari pihak papa kayanya lebih manjain adikku. Kakek dari pihak mama kayanya lebih manjain aku. Tapi ya aku tetap sayang sama keduanya dong, dan mereka berdua juga sayang sama kami berdua. Kakek dari pihak papa nggak sempat mengalami punya cucu selain kami berdua. Menjelang saat terakhirnya di tahun 1997, beliau sempat nyariin kami cucu-cucunya walau sudah susah ngomong. Untungnya nenekku bisa menebak, "Kenapa Pa, cari Astrid? Alfa?" dan kakekku ngangguk lemah. Kami memegangi tangannya sampai dia tertidur. Sore itu beliau nggak terbangun lagi; beliau pergi dikelilingi semua anak cucunya. *mewek lagi kalau ingat*

Kakek dari pihak mama punya 3 cucu lagi setelah aku dan adikku. Tahun 2010 lalu beliau berpulang setelah mengalami penurunan kondisi selama 2-3 tahun. Beliau ini yang dulu waktu aku SMP (udah pulang pergi sekolah sendiri) pernah bersikeras nganter aku sekolah hahaa... Aku malu sih waktu itu, tapi sekarang malah jadi kenangan manis.

BTW kedua kakekku semasa mudanya ganteng banget lho! Kakek dari pihak papa tuh gagah, rambutnya hitam asli bahkan sampai ketika beliau meninggal pun belum beruban, matanya tajam galak gitu. Kakek dari pihak mama tampangnya kaya bule Belanda (padahal aslinya encek-encek hahaha). Dua-duanya tinggi. Sayang gen gantengnya kurang kebawa yah di aku, mbok ya aku tinggi langsing kaya bule gitu hahahaaa... maunya!

09 November 2015

Second Pregnancy (Whaatttt?) - 7W

Puji Tuhan, iyaaa... kami sedang menantikan adeknya si eneng. Senang sekaligus bingung. Senang karena memang kami mengharapkan selisih usia anak di bawah 2,5 tahun supaya sekolahnya nggak selisih 3 tahun ajaran; kan mabok bayar uang pangkalnya ahaha... Kenapa bingung? Karena kondisi pekerjaanku lagi gonjang-ganjing dan bahkan atasanku udah nyuruh aku nyari lowongan kerja baru (gila ga siih). Nah dengan kondisiku hamil, apa ada perusahaan yang mau nerima aku? Baru masuk beberapa bulan, udah minta cuti lahiran, pegimane hahahaa... Yah di luar masalah itu, kami tetap bersyukur. Kami yakin Tuhan yang menitipkan, Tuhan yang menjaga. 

Ceritanya, tanggal 22 Okt tuh harusnya aku udah 'dapet'. Tapi belum keluar-keluar dan malah badan lemes banget dan meler-meler. Kukira gejala flu jadi kuputuskan buat nggak ngantor. Siangan dikit, melernya berhenti tapi kepala pusing dan agak kliyengan. Pas dicek tensi, ternyata 98/48. Ga percaya dong! Tes lagi, jadi 98/55. Langsung ayah bundaku panik nyariin sate kambing hahahaa... Di situ aku mulai curiga, apa jangan-jangan hamil ya, soalnya waktu kehamilan pertama pun tensiku turun dari 110/70 jadi 100/60, tapi aku nggak berani terlalu GR juga. Secara jadwal siklus haid masih panjang pendek ga keruan!

Sabtunya aku ke RS buat vaksin Hepatitis B ketiga walau masih ada feeling kalau sebetulnya aku hamil. Nanggung bok, tinggal suntikan terakhir! Aku juga udah baca-baca, vaksin Hepatitis B termasuk aman untuk perempuan hamil.

Rabu tanggal 28 Okt pagi, kami memutuskan buat testpack karena: 1. Udah melewati hari ke-36 dari siklus bulananku. 2. Suami hari itu mau tugas ke Surabaya jadi biar dia ikut nemenin testpacknya (ga pentinngg hahaha). Kami pakai merk Akurat. Hasilnya? Ada garis kedua walau samar. Jengjeeeng! Suami cuma cengar-cengir. Tanggal 31 kucoba lagi pakai Sensitif. Garisnya dua dan jelas!

Reaksi keluarga?
- Papa mamaku mesem-mesem aja, nyiapin mental ngurus 1 bocah lagi. Mamaku doakan cucunya yang kedua kalem, at least ga seheboh cicinya hahaha... 
- Mama mertua cerita, baru mimpi pergi ke Jakarta nengok kami dan gendong bayi cowo hahahaaa... amiiiiinnn!
- Adekku langsung komen 'kejer tayang lu, Ci?' jyahahaa mumpung atuh lahh..
- Katanya anak suka makin nemplok kalau mau punya adek, gimana si eneng? Sejak sebelum aku testpack pun, si eneng lagi heboh banget nenennya dan kalau bangun malam suka nangis kenceng, padahal dulu cuma 'ah-uh-ah-uh' minta susu aja ga pake berisik. Dulu mah cepet tenangnya, tinggal disodorin nenen. Sekarang suka gulang-guling gelisah dulu dan kalau kudekap buat menghadap ke arahku malah makin kenceng protesnya. Bangunnya juga makin pagiiii, bisa dari jam 3-4 subuh udah ngajak main. Sekarang lagi dileukeunan dikasih Stress Away atau Peace and Calming hahaha... Aku dan suami ngerasa tidurnya si eneng lebih kalem kalo pakai essential oil itu *bukan iklan*.
- Keluarga lain (oma, om, tanteku) pada ngetawain aja. 

Teman-teman saat ini belum dikasih tahu, selain grup TUM ABC 14. Ceneng deh semuanya ikut excited, tapi cedih karena ternyata mommies lain yang kemarin pada telat haid bareng ternyata udah pada dapet satu per satu hahaha... Beneran pingin hamil bareng. Etapi kalo yang belum siap hamil lagi mah kasian juga ya kalau tiba-tiba hamil mendadak hehehe... Biar Allah yang menentukan waktu yang paling tepat aja yaa, amiinnn!

Rencana ke depannya? Hmmm dijalanin dulu aja, cek dokter kayanya nanti 8W sekalian. Pumping dan nyusuin masih jalan terus walaupun sudah mulai seret, selagi nggak ada kontraksi berlebihan dan flek. Kontraksi sih udah mulai kerasa tapi ringan. Aku belum siap mental menyapih si eneng, tapi kurasa sebaiknya dia sudah bisa lepas dari ketergantungan terhadap nenen sebelum adiknya lahir. Setiap malam ku-'brainwash' pakai hypnotherapy bahwa dia udah besar, udah jago mamam, dan udah bisa berhenti nenen. Entahlah ngefek apa kaga hahahaa... Mamaku menyarankan stop mompa supaya ASInya berhenti dan siapa tahu si eneng menyerah sendiri. Papaku malah nyaranin pakai yang pahit-pahit kaya bubuk kopi atau cokelat. Hikss aku mana tega... Ntar deh nunggu eneng 15 bulan aja, baru kupikir-pikir.

Sekarang ini, aku masih pulang pergi kantor naik ojek. Ya abis gimana, kalau nyetir akunya males macet ga bisa. Kendaraan umum lain ga ada yang memadai. Shuttle kompleks jadwalnya kepagian atau kesiangan. Semoga nggak masalah, kuat ya Deek!

Cari kerja lagi kayanya kutunda dulu sampai lahiran. Sekarang malah mikirnya survey sekolah di dekat-dekat rumah dan biayanya supaya bisa prediksi kebutuhan finansial beberapa tahun mendatang dengan adanya 2 anak. Sempat terpikir berhenti kerja aja dan wirausaha tapi untuk saat ini kayanya belum memungkinkan. Semoga bisa mendapat kerjaan baru yang memadai, dekat rumah, dan jadwalnya enak, amiiiin! BTW, aku salut lho lihat teman-temanku masih pada sanggup berkarir walau sudah mempunyai anak. Aku kok hilang sama sekali ya ambisi berkarir. Jaman dulu mah bisa kerja sampai jam 9 malam di kantor setiap hari, tapi sekarang jam 5 udah siap-siap pulang, kangen anak. Haihhh... Hasrat hati mah tentunya stay at home yah, bisa memantau sendiri milestone si anak, bonding dan main sama anak.

Rencana lain, tentu saja survey RS dan dokter. Dulu kan sok-sokan survey RS di Bandung, ehh taunya malah ketuban pecah sebulan lebih cepat dari due date jadi saat itu langsung cabcus ke RS yang paling dekat rumah deh. Semoga bisa nemu dokter dan RS yang support VBAC, IMD, dan pro-ASI yah! Incaran saat ini: Carolus dan Bethsaida Serpong.

Kalau lihat di website Carolus, estimasi biaya melahirkan di sana adalah sbb:
Perkiraan Biaya Melahirkan Normal
Kelas
Normal (Rp.) Normal ILA (Rp.)
VVIP 13.000.000 - 15.000.000 16.000.000 - 18.000.000
VIP 12.000.000 - 13.000.000 15.000.000 - 16.000.000
I 11.000.000 - 12.000.000 13.000.000 - 14.000.000
II 8.000.000 - 9.000.000 10.000.000 - 12.000.000
III 6.000.000 - 7.000.000 8.000.000 - 9.000.000
Termasuk :
1. kamar Perawatan (3 hari) Ibu dan Bayi
2. Jasa Dokter
3. Obat dan Alat Kesehatan (sesuai standard)
4. Pemeriksaan Lab
5. Administrasi Rawat Inap
6. Kondisi Perawatan Tanpa Komplikasi

Perkiraan Biaya Sectio
Kelas
Sectio (Rp.)
VVIP 21.000.000 - 22.000.000
VIP 20.000.000 - 21.000.000
I 17.000.000 - 19.000.000
II 14.000.000 - 16.000.000
III 12.000.000 - 13.000.000
Termasuk :
1. kamar Perawatan (3 hari) Ibu dan Bayi
2. Kamar Operasi
3. Jasa Dokter Obgyn & Anak
4. Anastesi
5. Obat dan Alat Kesehatan (sesuai standard
)
6. Pemeriksaan Lab
7. Administrasi Rawat Inap
8. Kodisi Perawatan Tanpa Komplikasi (Normal)
Tapi itu terakhir di-update 2013 jadi kayanya tetap harus cek sendiri ke sana deh.

Buat anak kedua nanti, kelihatannya kami nggak usah beli apa-apa nih. Baju dan popok kain si eneng masih ada walau agak belel hahaha... Mungkin enaknya umur deketan tuh gitu ya. Tetep aja emaknya mikirin penghematan. Aku kayanya pingin full clodi deh buat anak kedua, buat ngirit biaya pospak yang ternyata yahud (padahal aku nggak pernah beli pospak yang harga satuannya di atas noceng hahaha)! Rata-rata sejak Januari 2015, per bulan pengeluaran pospak mencapai Rp 200 ribu padahal kalau dibeliin Pempem bisa dapet 3 pcs. Itupun si eneng baru full pospak sekitar bulan Maret atau April sejak dia bisa merangkak; sebelumnya siang masih pakai popok dan celana kain. Asumsikan kami nyuci setiap hari dan malam masih pakai pospak, hanya butuh sekitar Rp 1,2-1,5 juta untuk beli 18 buah clodi merk lokal, udah sama insert cadangannya. Dana segitu kalau dibelikan pospak, palingan cuma buat 6-7 bulan.

Morning sick saat ini belum terasa, cuma kadang aja mual sedikiiiit. Jauh banget sama kehamilan pertama yang sejak 6W udah eneg dan lemes parah. Puji Tuhan yaa... semoga kehamilan kedua ini mah kuat setrong seterusnya, ga pake lemes-lemes eneg-eneg, jadi masih bisa ngurusin si sulung.