Showing posts with label thailand. Show all posts
Showing posts with label thailand. Show all posts

03 July 2014

Pattaya 2012 - Day 3: Journey to Bangkok



Jam 9 pagi kami sudah siap sedia di depan hostel menunggu jemputan Bell Travel untuk membawa kami ke Bangkok. Time to leave Pattaya! Untunglah ga lama-lama di sini, karena sejujurnya saya lebih suka pantai-pantai di Indo (dicompare ketika sama-sama bercuaca mendung lho ya).

Sampai di Bangkok, agak dudul nih ceritanya. Saya emang belum survey mau makan siang di mana, akhirnya minta diturunkan di daerah Sukhumvit. Ehh sopirnya ga bisa bahasa Inggris jadi dia asal aja turunin kami entah di mana yang sepi banget dan ga ada penjual makanannya. Hikss!! Akhirnya dengan segala cara, kami berhasil cari makanan (yang ga berkesan) dan naik BTS, nyari pier Chao Phraya terdekat, dilanjut naik perahu ke guest house kami. Ngeri-ngeri dikit karena ga pada bisa bahasa Inggris waktu kami tanya, sedangkan perahunya ada banyak rutenya, bener-bener kaya Metromini a la Chao Phraya. Kami ikuti petunjuk orang guest housenya aja, yang thankfully cukup jelas.

Awalnya agak was-was waktu turun di Thewes Pier dekat guest house, habis suasananya pelabuhan banget. Tapi ternyata area pier di sana dan guest housenya lumayan kok! Cukup bersih dan aman. Nama guest housenya Baan Manusarn. Kami pesen lewat Agoda karena sedang ada promo. Website resminya bisa dilihat di www.baanmanusarn-guesthome.com. Di teras ada café kecilnya ala ala Bengawan Solo gitu. Dia cuma punya 4 kamar dan ukurannya besar-besar. Yang kami ambil punya kamar mandi dalam. Ukurannya kalau di Singapore atau Jakarta seperti apartemen studio deh. Ranjang dan kasurnya sudah tua tapi bersih, bikin inget rumah. Bapak yang nerima kami juga bisa bahasa Inggris dan baiiiikk banget ngasi penjelasan ini-itunya. Dia kasih penjelasan panjang lebar soal rute-rute perahu yang melewati Chao Phraya dan situs apa saja yang bisa kami lihat sepanjang sungai. Kami juga dikasih nama dan alamat guest house dalam tulisan Thai supaya bisa dikasi liat ke supir taksi atau orang-orang kalau kami nyasar.

Suasana Thewes Pier. Kita bisa beli roti buat kasih makan burung dan ikan.
Tampilan boat di Chao Phraya
Bangkok tuh guedeee banget (ya namanya aja ibukota lah yaa) jadi kalo mau muterin semua dengan santai sih kayanya minimal butuh seminggu hehehe… Waktu kami terbatas jadi kami memilih buat ga jauh-jauh dari area Chao Phraya. Enaknya karena ada transportasi umum yang murah meriah di Chao Phraya ini berupa express dan local line boat. Info mendetailnya bisa didapat di www.chaophrayaexpressboat.com/en/home. BTW be careful, sungai kan ada 2 sisi; pastikan lokasi pier tempat tujuan kita dan apakah kita harus menyebrang pakai boat lain.


Karena hari udah menjelang sore, kami putuskan buat lihat-lihat Wat Arun aja yang termasuk dekat (masih bisa dijangkau dengan boat di Chao Phraya). Entrance fee-nya kalo ga salah sekitar THB 50. Pokoknya ga mahal. Wat Arun ini punya julukan keren: Temple of Dawn. Walau yang namanya ‘wat’ itu adalah sebutan untuk kuil Buddha, dulunya Wat Arun ini dibikin sebagai kuil Hindu. Namanya pun diambil dari Dewa Hindu Aruna. Kita bisa naik melewati tangga-tangga yang cukup terjal. Lumayan lah buat olahraga. Di atas ramai dengan turis yang foto-foto; udah kaya gang senggol.


 Beberapa foto tanpa turis yang berhasil diambil, walau miring-miring


Sehabis dari Wat Arun, kami kecapean dan mampir dulu ke sebuah café yang terlihat cozy. Kami pesan minum sambil foto-foto ganjen pakai timer. Café ini kecil dan ramai, jadinya foto kami sering disusupi penampakan orang lewat hahaha…

Suasana sunset bikin Chao Phraya jadi terkesan lebih syahdu dan romantis (uhuk) sehingga kami pun membulatkan tekad untuk mencoba nyari dinner cruise di River City Shopping Complex. Sebelumnya saya sempat survey di http://www.bangkok.com/dinner---shows-tours/ untuk tahu perkiraan harga dan siapa aja providernya. Kisaran harga sih di THB 1000-2000 per orang. Lumayan mahal buat budget kami biasa pacarannya makan malam di kantin dekat kost hehehe… Kami sengaja tidak booking lebih awal karena tadinya nggak seniat itu untuk romantic cruise-romantic cruise-an. Emang dasar pasangan ga romantis!

Sunset di Chao Phraya
River City ini bentuknya seperti mall tapi sepiiii dan banyak outlet kosong. Provider-provider dinner cruise itu sendiri tersebar di lantai dasar dengan bentuk stand-stand mirip stand promosi property di mall-mall Jakarta. Tiap provider punya jadwal departure masing-masing. Mungkin karena weekdays, kebanyakan masih menyediakan vacant seat. Padahal kami lihat peminatnya lumayan banyak lho. Mayoritas turis. Setelah muter-muter, kami ambil yang paling murah: Princess Cruise. Kami dikasih tiket dan korsase anggrek buat dipasang di baju.


Penampakan salah satu kapal Princess Cruise
God blessed us. Entah gimana caranya, kami pasangan pertama yang masuk kapal (tamu lain kebanyakan keluarga dan mejanya lebih besar jadi ditaruh di area indoor) sehingga kami kebagian couple table paling depan di dek atas! Posisi strategis buat lihat pemandangan dan foto-foto tanpa terhalang orang dan dinding, dan sebetulnya agak mubazir karena kami bukan tipe banci kamera. Kami sempat pinjamkan meja kami buat sepasang bapak ibu tua foto-foto. Kasihan lihat mereka susah payah cari spot hihi...

Kami juga foto-foto selagi meja kami (yang di belakang itu) dipinjam


Harus saya akui kalau pemandangan Chao Phraya di malam hari tuh emang romantis hihi… Banyak spot wisata terkenal yang dikasih penerangan seperti Wat Arun, Grand Palace, dan Rama VIII Bridge. Cakep-cakep deh!

Makanannya sendiri enak tapi nggak begitu berkesan buat kami. Porsi sih bisa sesukanya karena pakai sistem buffet. Tinggal berdoa aja semoga tamu lain ga rakus ngabisin makanan yang enak-enaknya. Yah itung-itung beli pemandangan lah. Hiburannya juga 90s banget: live music dengan lagu-lagu tempo dulu macam La Bamba gitu di mana tamu-tamu bebas ikutan disko di dek bareng penyanyinya.



Rama VIII Bridge
Setelah melewati Rama Bridge, kapal berbalik kembali dan kami diturunkan lagi di River City. Di sinilah kami mulai deg-degan. Express boat udah nggak ada dan ternyata daerah River City ini agak susah taksi! Taksi sana pun suka sadis kalo lihat turis yang kepepet. Sambil doa, kami berjalan mencari jalan raya (yang juga ternyata sepi). Ketemu tuktuk. Kami sodorkan alamat guest house. Syukurlah supirnya mau bawa kami walau dia nggak ngerti bahasa Inggris. Ngeeeng… kami ngebut di jalan Bangkok yang sepi. Serasa Amazing Race.

Waktu kami diturunkan, kami mulai bingung. Kok beda ya sama Thewes Pier yang kami lihat tadi siang? Apa karena malam-malam udah sepi? Kami coba berjalan mencari Baan Manusarn. Lho kok? Ini bukan Thewes Pier! Mateng deh! Mana sepi banget kaya abis diserang zombie! Buru-buru kami datangi satu-satunya warung yang menunjukkan kehidupan. Ada seorang bapak dan 2 orang ABG. Duh, semoga ABGnya ngerti bahasa Inggris. Kami tunjukkan alamat Baan Manusarn, dan mereka langsung mengangguk-angguk paham. Hore! Eh tapi… Mereka ga bisa bahasa Inggris jadi kami sama-sama pakai bahasa isyarat hahaha! Penjelasan mereka juga panjaaang sekali (harus lewatin sungai, jembatan, dll) bikin kami cemas: sejauh apa sih kami nyasar?

Di tengah kondisi bingung itu, sebuah motor melintas. Kedua anak ini teriak memanggil-manggil. Sepertinya mereka kenal di pengendara motor. Mereka memberi dia penjelasan, lalu memberi isyarat supaya kami naik ke motor itu. Rupanya si bapak pengendara motor mau dijadikan ojek. Alleluya! Kami ber-khapkunkha/khapkunkhap sama 2 ABG baik hati nan heboh dan ceria itu. God, bless them please. Tanpa mereka apa jadinya kami…

Dan… finally sampailah kami di guest house tercinta! Rupanya tadi kami diturunkan dari tuktuk masih di area bernama Thewes, tapi jauh dari piernya. Ketika kami tiba, area sekitar sudah sepi banget. Sungkan juga sama penjaganya karena kemalaman pulang; kami sibuk minta maaf tapi dia tetap ramah menyambut kami. What a tiring day. Kami tidur sangat nyenyak malam itu.

27 June 2014

Pattaya 2012 - Day 2



Hari kedua, kami memutuskan untuk menyeberang naik kapal ke Koh Larn, pulau dekat Pattaya. Tiket ferrynya murah: THB 30 saja per orang, walau kondisinya ya sepadan. Kaya naik angkot laut hahaha… Kami ga expect terlalu banyak sih dari pantai-pantai di Koh Larn ini, secara namanya bulan November ya pasti mendung ya. Ga hujan aja sudah syukur. Tapi tetep kok bagusan Bali dan Lombok (dengan penilaian sama-sama bulan November dan mendung) hahaha.. Setia ya saya sama usaha memajukan wisata nusantara.

Begitu mendarat di Koh Larn, kita akan ditawari beberapa mobil angkutan sejenis angkot ke pantai tujuan. Kalau bisa dari awal kita sudah survey & tentukan mau ke mana. Kalau ingin putari semua sih baiknya sewa motor aja. Kami sih ambil pantai yang kata teman kami paling sepi (kalau ga salah Tian Beach). Biaya angkotnya sesuai jarak pantai yang kita tuju (sekitar THB 50).

Suasana pantainya sesuai testimony teman kami, sepiii….seperti pantai pribadi. Kami ga main air karena lagi dingin dan ga ada atraksi apa-apa juga. Setelah agak kebingungan cari restoran (yang saking sepinya diragukan buka atau tutup) dan toilet, kami berhasil juga pesan makanan yang kami nikmati di bawah payung pantai: nasi dan sup tomyam, udang goreng tepung, dan kelapa muda. Enak juga.
 
Gatau dogi sapa lagi berjemur; jinak doginyaa

Sok-sokan romantis


Ga betah berlama-lama (ya iyalah, mendung kelabu) dan takut keburu hujan, kami panggil ojek untuk kembali ke pier. Nego-nego, kok agak mahal (dengan asumsi harus sewa 2 ojek). Ehh ternyata kami berdua disuruh naik ojek yang sama! Kami cekikikan bloon sepanjang jalan sambil deg-degan takut jatuuh. Abang ojek di depan, abang Tim di tengah, saya di belakang. Untung dah calon suami-istri ya, secara pamali kan anak gadis sama jejaka duduk nempel begitu hahaha…

Sekembalinya kami di Pattaya, cuaca sudah agak membaik tapi hari menjelang sore. Tujuan kami berikutnya adalah Sanctuary of Truth (ปราสาทสัจธรรม, Wang Boran, Prasat Mai). Kami lagi-lagi harus naik ojek bertiga termasuk abang ojeknya untuk pergi ke Sanctuary of Truth karena kebetulan nggak ada taksi yang melintas. Kayanya di sana cukup lazim turis naik motor bertiga hahaha… Lumayan pegal juga karena perjalanannya agak jauh dan kami pun agak cemas cara balik ke hotel dari Sanctuarynya nanti gimana ya. Ah gimana nanti dah!

Di Sanctuary of Truth, untuk masuk basically kita perlu bayar THB 450-500an dan harus bayar lebih kalau mau pakai guide. Ada juga paketan naik gajah atau boat. Mengingat kami turis pelit, kami ambil yang non-guide. Tempatnya gedeee banget, tapi masih dalam proses pembangunan. Masuk ke gedungnya pun harus pakai helm proyek. Info lebih lengkap tentang makna filosofis ukiran-ukirannya bisa dibaca di website resminya http://www.sanctuaryoftruth.com .

Sanctuary of Truth dari atas
Bang Tim lagi jadi mandor
Salah satu ukiran di dalamnya
Detail ukirannya gile, bikin terkagum-kagum. Nanti kalau udah jadi pasti keren nih. Cuma ya agak gloomy. Cocok deh buat yang galau-galau pingin nyari jati diri dan berefleksi tentang hidup hihi… Katanya sih yang memprakarsainya ini seorang Thai nan kaya raya dan diramalkan dia akan meninggal ketika tempat ini selesai dibangun. 

Dalam sekitar 2 jam kami selesai mengitari Sanctuary of Truth dan puas foto-foto. Matahari hampir terbenam.  Kami penasaran ingin melihat Sanctuary yang diterangi lampu sorot, jadi kami sengaja makan malam di restoran di atas Sanctuary itu supaya dapat spot yang bagus. Ya sekalian karena lapar juga sih… Menunya sih simple aja, udang masak kecap dan omelet, cukup enak. Ada turis bule yang mencoba nongkrong di situ juga sambil nunggu sunset tanpa pesan makanan, tapi diusir hehehe…

Sunsetnya sendiri cantik sih, tapi illumination di Sanctuarynya sebetulnya ya nggak gimana-gimana banget kok. Mungkin nanti kalau sudah jadi bakal diperbanyak lampunya.
Illuminated Sanctuary of Truth

Having no idea mau ke mana lagi, kami memutuskan buat balik ke hostel. Untungnya Sanctuary bisa bantu menyediakan semacam shuttle van ke pusat kota. Saya nggak ingat kami harus bayar berapa dan diturunkan di mana, tapi pokoknya kami bisa sampai hostel dengan selamat.

16 May 2014

Thailand 2012 - Day 1 (Loi Krathong at Pattaya)



Pertengahan November, Thailand dan beberapa daerah lain baru saja merayakan Loi Krathong; bikin kami (saya dan Tim) terkenang pengalaman kami tahun 2012 lalu menyaksikan perayaan itu di Pattaya sekalian prehoneymoon (prikitiiiiwww). Iya waktu itu kami masih pacaran/tunangan dan sikon ‘memaksa’ kami buat pergi ke Bangkok. 

Ceritanya… flight kami tahun 2011 ke Hongkong dibatalkan sepihak gara-gara Mandala Airlines bangkrut (ini detailnya). Waktu mereka di-take over Tiger Airways, Tiger Mandala ngasih kami voucher ‘itikad baik’ penggantian rugi dengan seabrek terms and conditions (emang kurang niat aja tuh). Secara yaa… tiket kami yang batal tuh ke HONGKONG, tapi vouchernya cuman bisa dipake ke Medan sama Singapore! Ih, mana sebanding? Walo ngomel tapi kami tetep sempat pakai sebagian vouchernya untuk ke Medan bareng Rudy-Fanus-Joy sekalian nganter Rudy pulang kampung, wisata kuliner dan liat indahnya Danau Toba. Di trip itu saya ngalamin ngambekan pertama kali sama pacar hihi… Cerita soal kulinernya bisa dibaca di sini dan cerita tentang Air Terjun Sipisopiso bisa dibaca di sini. Tapi tetep vouchernya masih ada sisa, bingung deh mau dipake apa.

Luckily, Tiger Mandala tiba-tiba bikin rute baru ke Bangkok! Jadilah kami merencanakan trip di November karena ada Loi Krathong dan sekalian merayakan ultah ke-28 si calon suami, plus karena vouchernya hangus kalo ga dipake sebelum Desember. Saat itu kami lagi mabok mengurus kerjaan, renovasi rumah, dan persiapan nikah (yang cukup mepet karena nikahnya awal Juli) jadi kayanya butuh kabur refreshing dulu sebentar hehehe…


Nah sayangnya, sebetulnya perayaan Loi Krathong paling cantik dan meriah tuh di Chiangmai. Jauh bok dari Bangkok! Naek train saja sudah buang waktu, manalagi cuti terbatas. Pakai local flight juga mahal. Kami mengalah, Chiangmai buat next time; kali ini kami ke Pattaya saja.


Nah flight ke Bangkok itu kami ambil yang paling pagi. Ngantuk tapi happy dan malu-malu juga pertama kali pergi berdua nginep-nginep sama tunangan (ahiiyyyy!) sambil diiringi ngiangan 1000 nasehat dan wanti-wanti dari mama tercinta supaya ga kebablasan hahahaa…

Flightnya estede sebagaimana budget airline lainnya; puji Tuhan tidak delayed. Sejak kami sampai di Svarnabhumi (sebenernya sejak browsing-browsing soal pariwisata Thailand sih), langsung terasa betapa niatnya pemerintah Thailand memajukan pariwisata mereka. Padahal waktu kami mengunjungi Phuket dan Phi Phi Island tahun 2010, sumpah ya saya rasa sih bagusan Bali sama Lombok ke mana-mana, apalagi Karimunjawa dan Sulawesi! Katanya coral dan lautnya jadi rusak karena tsunami 2009 itu sih, kasian juga ya. Nah, site yang paling sering saya buka saat itu adalah Bangkok.com yang sedia info-info travelling Bangkok, Pattaya, dan area-area lain di Thailand bahkan di negara lain.


Melewati imigrasi, kami langsung menuju lantai 1 bandara untuk mencari counter Bell Travel, yaitu shuttle bus yang akan membawa kami ke Pattaya. Pemesanan tempat saya lakukan via websitenya: belltravelservice.com.  Counter mereka cukup mudah dicari dan prosedur pengambilan tiket pun mudah. Kami dipersilakan menunggu sampai waktu keberangkatan tiba. Waktu luang 1 jam tersebut kami manfaatkan untuk makan siang di Subway, salah satu franchise favorit saya yang sayangnya belum ada di Jakarta. Di dekatnya ada minimart yang penuh jajanan menarik. Kami tentunya membeli Pocky rasa bacon kesukaan kami (yang juga tidak ada di Indonesia hehe).


Tidak lama sekembalinya kami ke counter Bell Travel, kami dipanggil untuk menaiki bus. Saya sudah survey foto busnya di internet dan ternyata fasilitasnya memang nyaman. Hampir seperti bus Singapore-Kuala Lumpur.

Kami sampai di Pattaya sekitar jam 3 sore. Di pool Bell Travel, penumpang dipisah-pisah menurut area tempat menginap yang dituju. Kami tinggal mencari bapak-bapak yang memegang karton besar bertuliskan nama penumpang-penumpangnya, lalu kami digiring ke minibus bersama sekitar 6 penumpang lain. Supir terlebih dulu menurunkan beberapa penumpang di hotel-hotel yang nampak mahal sebelum akhirnya membawa kami melalui jalan-jalan kecil berliku menuju hostel kami: Apple Inn. Pokoknya kelihatan deh kami turis paling miskin hahaha….


Kamar yang kami dapat berlokasi di lantai 3. Syukur kami tidak bawa barang terlalu banyak. Sesuai janji di Agoda: kamarnya guedeeee! Udah kaya 1 apartemen sendiri kalo di Jepang. Fasilitas sederhana tapi bersih dan setidaknya ACnya kenceng walau tua. Di dekatnya juga ada minimart dan banyak tukang jajanan. Apple Inn sendiri menyediakan restoran kecil di lantai 1. Kami lihat menunya kebanyakan a la bule dan memang pengelola inn-nya juga bule.

 Kaya gini suasana kamarnya, gede kann?

Walau saya sempat kuatir melihat sikon jalan-jalan kecil di sekitar hostel, ternyata daerahnya aman dan kami cukup berjalan 15-20 menit sampai Main Road di pinggir pantai Pattaya. Situasinya agak mirip Pantai Kuta, Bali. Jalan dipadati mobil sementara pejalan kaki awut-awutan sama pedagang kaki lima. Pier juga terletak di dekat Main Road dan mudah dicari.


Setelah makan di warung nasi ala Thailand, kami jalan-jalan ke kuil di dekat hostel. Pasar malamnya cukup ramai tapi kegiatan Loi Krathong sendiri tidak banyak berlangsung di sini. Kami lihat beberapa orang menghanyutkan krathong ke kolam kuil.  Kami sempat bingung, mana festivalnya… sampai kami lihat dari pantai nampak lampion-lampion oranye beterbangan. Buru-buru kami ke sana. Sayang kami nggak punya SLR, karena pemandangan lampion yang semarak di langit itu bener-bener romantis deh. Ihiy! Langsung kami berkhayal bikin acara lepas lampion di resepsi nikahan kami (yang kami batalkan karena takut bikin kebakaran setempat hahaha). Jadi makin penasaran suasana Loi Krathong di Chiangmai!


Contoh krathong yang dijual, kebanyakan dari bahan organik supaya tidak merusak alam
 


 Itu bintik-bintik oren di kejauhan tu lampionnya, cuman ga ketangkep kamera hahaha...


Menghindari masuk angin (ahem, maklum umur) dan terjebak kerumunan, kami pulang ke hostel sebelum festival bubar.

Oya kalau tertarik semi-backpacking alias wisata ngirit, bisa coba booking di Apple Inn via Booking.com dan Agoda. Harganya murah untuk kualitas kamarnya.
111\174-175 Soi Bua-Khao, Central Pattaya