Showing posts with label rumah. Show all posts
Showing posts with label rumah. Show all posts

16 February 2016

Emak Fobia Kuman

Teman-teman lama pasti udah tahu kalau saya fobia sama kuman dan hobi saya adalah cuci tangan ahahaha... Mandi pun saya hampir selalu menggunakan sabun antiseptik, merknya apalagi kalau bukan Lifebuoy! Merk inilah yang menyertai keluarga saya sedari jaman purbakala *lebay*. Saya masih ingat dulu sehabis nonton Kuis Keluarga Lifebuoy, kami disuruh mandi dan saya paling suka mengendus-endus wanginya sabun Lifebuoy warna pink itu hihihi... Anak 90s banget ya booo! Siapa masih inget Cathy Bonn dengan rambut megar ala 90nya, ngacung! Seiring jaman, kami juga mulai menggunakan sabun cair Lifebuoy, terutama ketika bepergian.

Setelah berkeluarga dan punya baby, pastinya fobia saya terhadap kuman semakin kronis hihihi... habisnya, yang namanya kuman tuh makin lama makin canggih juga evolusinya kan? Jamanku kecil dulu mana ada Zika virus. Pokoknya semua orang di rumah harus mandi dulu sehabis bepergian sebelum mereka diizinkan menggendong si baby, termasuk saya sendiri. Tapi kadang yang kotor-kotoran ya si baby sendiri. Horor rasanya melihat si kecil memasukkan tangannya ke mulut, padahal entah tangannya itu habis megang apa saja. Waktu dia sedang masa merangkak, saya gemeesss banget pingin dia cepat bisa jalan. Risih lihat tangannya bekas megang lantai lalu dia jilat-jilat! Nooooo.... Tapi ternyata, setelah si ucrit bisa jalan pun, tetap ada momok yang bernama teething! Ahaha rauwis-uwiiss... Misalnya awal Desember lalu, my baby girl terkena diare. Ringan sih, dan dia pun nggak rewel, tapi kasihan aja lihatnya. Penyebabnya, kata dokter, adalah teething geraham jadi si kecil sibuk memasukkan tangannya yang kotor. Ditambah lagi daya tahannya nggak sebagus ketika dia masih full ASI *cry*. Saya semakin menggiatkan keluarga buat menjaga kebersihan rumah dan diri.

Ehhh ga disangka, datang kiriman parsel Hari Ibu dari Lifebuoy dan TUM! Apa sih isinya? Kartu ucapan hari ibu, handuk, dan dua tube sampel sabun terbaru dari Lifebuoy yaitu Clini-Shield 10 Concentrate Antibacterial Shower Gel! Tersedia 2 varian yaitu Complete (yang warna merah) dan Fresh (yang hijau). Sebelumnya kami sekeluarga sudah menggunakan varian Clini-Shield 10 yang berbentuk cair.
So sweet yaa...
Ada yang langsung kepo mau ikutan bongkar bingkisan

Apa sih itu Clini-Shield 10? 
Itu artinya sabun Lifebuoy ini dilengkapi dengan Activ Naturol Shield yang mampu 10 KALI lebih baik dalam melindungi tubuh dari kuman dan merawat kulit dibandingkan sabun antiseptik lain! Dan memang ketika dipakai, rasanya kulit lembuuutt... lebih seperti memakai sabun dengan moisturizer atau sabun susu daripada sabun antiseptik!


Apaaa, 1 tetes memberikan perlindungan lebih baik?
Yupp, pakainya cukup 1 tetes (1 drop) saja! Ya bukan setetes segede air mata atau setetes minyak esensial yang cuma seuprit juga sih... mungkin lebih tepatnya 'sekecrut' kali yah? #SundaAlert hahaha... Selanjutnya tinggal diusap-usapkan di tangan atau spons sampai berbusa dan dipakaikan ke tubuh yang sudah dibasahi, lalu bilas. Kalau buat cuci tangan, cukup setetes kecil aja.


Why do I love this product?
1. Tentu karena baunya yang segar dan 'aftertaste'-nya di kulit yang ga bikin kering (padahal kulitku gampang kering dan gatal kalau menggunakan sabun antiseptik lain). Wangi favoritku adalah varian Fresh yang tube hijau.
2. Penggunaannya irit dengan busa melimpah.
3. Mudah dibilas (irit air, bo!) dan tidak meninggalkan rasa licin atau lengket di kulit.
4. Bentuk gel sehingga tidak mudah tumpah atau bocor. Praktis buat dibawa bepergian dan beraktivitas.
5. Dan sudah pastinyaa: sabun Lifebuoy Clini-Shield 10 ini dapat melindungi kami sekeluarga dari kuman!

Jadi apakah kami akan menggunakan produk ini kembali? Yes, SUDAH BARANG TENTU!

Silakan dicoba sendiri, produk ini sekarang sudah beredar di supermarket (setidaknya di daerah saya hehehe). Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

14 September 2015

Apaaa Coba?

Begitulah reaksiku tiap dengar cerita mamahku beberapa hari ini tentang percakapannya sama orang-orang sekitar kami soal anakku si Neng Euis. Ya nggak penting-penting amat sih, tapi iseng aja kucatat di sini. Biar rada mirip Nguping Jakarta, gitu (darimananyaaa).

Cerita 1

Antara neneknya Euis (N) dengan mbak kasir Giant Express (K). Jadi mamaku dan si Euis emang udah ngehits banget di Giant seberang rumah saking seringnya siang-siang belanja berdua sambil ngadem di sana. Pokoknya rata-rata kasir-kasir shift siang udah apal lah sama mereka, jadi suka ngobrol juga.

K: Bu, ibu kok idungnya mancung tapi cucunya pesek?
N: Ya namanya juga masih bayi, papa mamanya mancung kok, nanti juga mancung... (Dalam hati: kurang ajar amat ni orang)
K: Oh gitu Bu, iya abis lucu ya kok cucu ibu mah pesek padahal ibu mancung.


Beberapa bulan kemudian, si mbak kasir yang sama komen lagi soal si eneng.

K: Duh kamu tuh lucu ya walau sipit *ngomong ke anakku*
K: Untung ya Bu, sipitnya 'naek', kaya anak Jepang jadi lucu. Kalau sipit Cina kan jelek ya, matanya turun.
N: *speechless*

Gue pas diceritain: *ikutan speechless*


Cerita 2

Ada nenek-nenek tetangga kompleks (T) yang suka jemur cucunya bareng-bareng si eneng.
T: Kamu teh lucu yah, kaya anak Cina. Sipit!

Another day
T: Ehh si ndut, cantiik... sipit ya kamu!

Every other day
T: Si sipiitt! (diselingi setidaknya komen lain seperti 'lucu' dan 'putih')


Pada rasis apa begimana, kita juga bingung hahahaa... Kalo teorinya si mamah sih, pada bingung liat si bayi yang amoy sekali padahal emak dan neneknya (agak) kaya Manado karena putih-ga sipit dan bapaknya (agak) item walau sipit. Apa karena ngidam anak Jepang pas hamil hahahaha...


Cerita 3

Tetangga seberang rumah (TSR, juga singkatan dari tante-tante super resek) punya 2 anak umur 5 dan 1,5 tahun. Yang kecil udah bisa jalan sejak umur 10 bulanan. EVERY CHANCE SHE MET MY KID:

TSR: Ehh... Euis... Udah bisa jalan?

EVEN WHEN WE JUST MET ONE DAY AGO! Lu segitu pengennya anak gue jalan, mau apa siihh? Trus kalo dah jalan lu mau apa? Masih mending kalo cuma ketemu aku mah bentar aja (karena aku mah suka menghindar ngobrol lama-lama sama dia, takut ketular anaknya yang penyakitan - iyaaa jahaatt, tapi jujur!). Kalo ketemu mamahku sambil ngantri tukang sayur, pasti dia ngomong juga.

TSR: Kalo Ratu (nama samaran anaknya) udah bisa berdiri sendiri umur 7 bulan, udah lancar jalan umur 10 bulan.
Iyaaa, diulang-ulang juga dong tentyunyaa!

Si mamah dan aku (bergunjing di balik gorden jendela): Iya Bu, tapi anak lu susah banget makannya, seSENDOK bisa 15 menit diemut-emut doang dan itu pun sambil keliling kompleks yang lagi berdebu banget gara-gara proyek pembukaan cluster baru. Akibatnya anak lu batuk pilek mulu, dah setaon ini kayanya cuma 1-2 kali anak lu ga meler! *kemudian ketok-ketok meja 3 kali* Amit-amiiittt!

Moral of story: TSR dapat memancing setan gunjing nan nyinyir keluar semudah mengosongkan rekening bank!


Cerita 4

Kami lagi ke pemberkatan nikah anak majikanku, si eneng tentu diajak.
Manager-tapi-bukan-atasanku (M) : Anak kamu kayanya tipe yang rambutnya nggak tumbuh-tumbuh ya? Ato ini digunting rambutnya?
Aku-yang-males-tapi-kepaksa-nanggepin : Ga kok, emang segini-segini aja panjangnya.
M : Tuh kan, iya keliatan tuh rambutnya tipe yang ga panjang-panjang.

So whaaattt? Namanya juga masih kecil. Lu sendiri mikir apa dandanin anak lu kaya pengantin pake bakiak yang jelas-jelas bikin dia susah jalan? *nah kan nyinyirnya keluar lagi*

Moral of story 2 : emak-emak sensi macam diriku tuh nggak usah denger puja-puji tentang anaknya kok, sungguh deh, tapi kalau sekedar hal gaje (apalagi yang ga enak didenger) mending diem aja giih!

10 September 2015

Frugal Living

Segala yang berlebihan Itu tidak baik... apalagi berlebihan GENGSI! Sayangnya, salah satu kelebihan beberapa orang Indonesia dibanding penduduk negara-negara maju adalah KELEBIHAN GENGSI. Akibatnya? Hambur-hamburin uang nggak keruan dan mubazirin sumber daya alam. Padahal kalau kita pikir lebih jauh, betapa kita tuh musti bersyukur ya kita bisa makan kenyang dan ga kehausan, nggak seperti korban famine di Afrika. Di Indonesia aja masih banyak korban kurang gizi dan kelaparan. Kita bisa tidur nyenyak terlindung dari panas dan dingin, nggak seperti pengungsi Syria dan Rohingya. Di Indonesia pun masih banyak tunawisma dan kaum papa.

Kalau kita nggak bisa menolong mereka, setidaknya kita bisa menerapkan pola hidup yang lebih berempati. Nggak hanya kepada humanitas, tapi juga kepada bumi secara keseluruhan. Sampah yang kita buang setiap tahunnya per orang tuh nyampe berapa kilogram? Merusak alam sampai segimana? Membunuh berapa organisme? Kalau kita nggak bisa hidup go-green yang fully environmental-friendly, setidaknya kita bisa usahakan dalam hal-hal kecil lho.

Nah di luar konsep go-green, ada juga yang namanya frugal living. Konteksnya memang lebih ke arah ekonomis daripada kesadaran lingkungan, tapi in the end banyak overlapnya juga. Gimana sih melakukan hidup yang frugal?

1. Pertama-tama, buang gengsi.
Lungsuran itu menyenangkan lho! Gratis, dan biasanya barangnya berkualitas (ya iyalah, udah dipakai orang lain dan masih bisa kita pakai tuh berarti barangnya durable kan). Bahkan barang bekas dari flea market pun biasanya masih oke; tinggal pintar-pintar kitanya aja milih-milih.

2. Gunakan secukupnya.
- Makanan. 
Ini nih yang kulihat suka ngaco. Contohnya: turis-turis Cina (sorry generalisasi berdasar yang selama ini saya temui aja) hobi banget ngambilin segala makanan prasmanan yang disediakan tour agent sebanyak-banyaknya, lalu cuma makan dikit dan sisanya teronggok jadi sampah. Orang-orang di fast food resto suka ngambil saos sambal sebanyak-banyaknya kemudian nyisa banyak. Belum lagi yang pesan makanan banyak-banyak (apalagi kalau dibayarin kantor) lalu akhirnya nyisa banyak dan terbuang. 
Duh, apa sih susahnya buat pakai seperlunya? Sekeluargaku mah udah jamuran kupingnya keseringan denger aku ngoceh soal 'anak-anak kelaparan di Afrika' setiap ada yang buang-buang makanan. Apalagi kalau kami nonton acara TV yang tokohnya mubazirin makanan. Masterchef Junior tuh contohnya, apa-apaan sih lempar-lemparan pancake, nggak lucu!
- Contoh lain: pakaian dan aksesoris.
Kalau saya sih biasanya cukup dengan 1 dompet, 1 handbag, 1 sepatu pesta (yang awet bertahun-tahun), 1 sepatu sehari-hari. Itu semua pun bukan yang brand mahal. Untuk pakaian, memang sebisa mungkin saya sekalian beli yang bagus dan tahan lama (dari segi bahan dan model) karena biasanya bisa saya pakai 5-8 tahun. Belinya? Tentu cari diskonan dong hahaha! Dan modelnya pun yang bisa di mix-and-match dengan pakaian lainnya.
- Baju bayi.
Si bocah kan kebanyakan di rumah, jadi kami lebih berinvestasi di piyama yang murah-murah daripada baju anak bermerk yang lucu-lucu tapi harganya 3-10 kali lebih mahal. Buat baju pergi, beli secukupnya aja. Lagian suka adaa aja yang beliin baju hehehe...

3. LISTRIK DAN AIR (harusnya masuk poin 2 tapi bahasannya panjang nih)
- Biasakan matikan ketika tidak dipakai. Ini simple tapi banyak lho yang cuek aja membiarkan lampu (yang ga terpakai) nyala sepanjang malam atau AC (di ruangan yang tidak dipakai) nyala seharian. Pakai timer (misal supaya AC mati jam 2-3 pagi, kan udah adem tuh biasanya) ngefek banyak lho di tagihan. Pasang suhu di 24-26C dan kecepatan fan paling rendah.
- Tidak menyetrika (iya cuma dilipat aja hehehe) kecuali baju-baju yang emang harus disetrika... Juga, keringkan pakaian dengan dijemur daripada pakai dryer.
- Cabut colokan kabel ketika tidak dipakai (kabel yang terpasang ke colokan pun menghabiskan listrik walau sedikit).
- Pakai shower buat mandi instead of gayung.
- Matikan keran dan shower ketika sedang menggosokkan sabun.
- Saya punya dispenser tapi nggak pernah mengaktifkan fungsi air panas dan dinginnya. Cukup mengandalkan air panas dari termos (tiap pagi diganti baru) dan es batu dari freezer. Kalo doyan banget air dingin, mending taruh di botol lalu masukkan ke kulkas.
- Usahakan pakai elektronik (misal: mesin cuci) di pagi-siang hari yang ratenya lebih murah daripada malam hari.
- Sterilize botol anak sekali sehari saja, kumpulin dulu sampai sekalian penuh sterilizernya. Sterilnya juga pagi supaya lebih murah listriknya. Saya pakai botol penyimpanan yang juga bisa dipasangi pompa dan dot jadi ga kebanyakan cucian.
- Mandi air dingin. Menurut beberapa penelitian, lebih sehat dan bikin awet muda pula hehehe.

4. Frugal SHOPPING
- Make priorities. Buy what you need, not what you want.
Kalau belum punya rumah, stop belanja branded items. Nabung! Mending punya rumah tapi ga punya Hermes kan daripada sebaliknya?

- Cari diskonan buat barang yang emang dibutuhkan, misalnya pospak hehehe. Yup maap belum pakai clodi karena mamahku yang ngurus si baby jadi rempong. Setidaknya kami sempat 7 bulanan pakai popok kain lho.
- Bikin budget dan list belanja jadi ga melenceng jajan aneh-aneh. Saya sekarang belanja toiletries dll selalu online dan bulanan, jadi lebih kelacak pengeluarannya.
- Stop langganan koran dan TV cable kalau lebih banyak ga dipakainya daripada dipakainya.
- Buy refillable items and bigger package. Banding-bandingkan dengan harga merk lain. Tisu dll biasanya lebih murah yang brand supermarketnya sendirI.
- Buat anak, beli barang yang unisex, apalagi kalau masih rencana nambah sibling. Barang girlynya si eneng kayanya 90% dari kado tuh hahaha...
- Don't shop when you're hungry, sad, or angry.
- Bayar credit card FULL, jangan minimum payment. Dan usahakan jangan pakai credit card untuk belanja. Saya punya CC untuk autodebet asuransi dan jaga-jaga buat RS saja.
- Standar sih ini: pakai plastik supermarket buat tempat sampah di rumah. Kalau belanjaan kecil-kecil sih saya masukin tas, males ngumpulin plastik kecil. Kecuali kalau stok plastik kecil buat bungkus popok di diaper bag udah abis hahaha...

5. Make use of what you have.
- Misalnya: saya punyanya pompa ASI Medela Swing (hasil pemberian teman-teman kantor suami yang murah hati) tapi kok ternyata butuh doublepump ya... Masa musti beli doublepump? Akhirnya keluarlah kreativitas buat memodifikasi Swing menjadi doublepump mengandalkan part-part yang ada dan T-connector selang akuarium hahaha...
- Contoh lain: di rumah masih ada sisa makanan semalam dan nanti malam udah beda lagi menunya. Mending dibawa ke kantor buat bekal makan siang. Irit! Saya sih selalu bawa bekal ke kantor. Atau contoh lain: di rumah masih ada makanan. Napa musti makan di luar? Abisin dulu aja apa yang ada.
- Kasus lain: masih bisa produksi ASI tapi males, jadi kasih sufor. Why, mothers, why? Di saat banyak ibu lain yang pingin breastfeeding tapi ga bisa...*sobs*

6. Hobbies and lifestyles are not always expensive.
Misalnya:
- Ngopi di cafe. Kalau sekedar suka kopinya, bikin sendiri di rumah bisa jauh lebih murah. Saya mengandalkan kopi Aroma buatan Bandung doang, udah enak kok. Kalau suka suasananya, sekalian aja cari cafe lokal yang menggunakan kopi lokal Indonesia.
- Ngegym. Sebetulnya bisa lho olahraga murah. Jogging. Sepedaan. Etapi beda lagi kalau nyari sosialisasinya juga ya...
- Nyemil. Kurangi snack terutama yang manis-manis, mending makan buah yang dibeli di pasar. Murah dan sehat.
- Travelling. Kunci penghematan saat travelling itu ada di harga tiket dan akomodasi. Cari promosi. Hindari high season. Go local atau gunakan AirBnB. Cari spot yang free atau cheap, misalnya taman dan museum. Banyak kok opsinya.
- Usahakan anak nggak hobi ngemall. Hehehe... abisnya, parkirnya aja minimal Rp 8 ribu. Belum jajannya.
- Kuliner. Nah ini suka dilematis buat saya hehehe... Abisnya suka kepingin aja ya makan enak! Ya akhirnya sih pokoknya saya cuma beli masakan yang mamah saya ga bisa masaknya hahahaa... Kalo patokannya dari masakan yang saya ga bisa mah, jawabannya: semua ga bisa! Plus prinsipnya, jangan sampai jajan bikin makanan di rumah terbuang.
- Nonton. Kalau sekeluarga hobi ke bioskop, nah mending langganan HBO, nonton bareng-bareng di rumah. Enak, mau ke toilet tinggal ngibrit, pengen nyemil tinggal bikin popcorn.
Khusus nonton, musik, dan bacaan, saya nggak nyaranin bajakan yah (walau sendirinya suka juga hehehe). Sebisa mungkin sih (apalagi yang bakal dilihat/didengar berkali-kali), kami beli file aslinya.
- Nyalon. Creambath lulur gitu selalu di rumah (itu juga kayanya setaon sekali hihi). Kondangan juga dandan sendiri, ampir ga pernah nyalon, tapi hasilnya ya kalo difoto lecek sendiri hahahaa...

7. Majukan perekonomian rakyat. Go local.
Belanja di tukang sayur dan pasar terdekat. Bangga dengan produk Indonesia. Untuk barang yang kecil-kecil (macam tisu kemasan travel) atau fixed price (majalah dan koran yang memang saya selalu beli eceran karena cuma sekali-kali), saya mending beli di tukang asongan.

8. Hemat bahan bakar dan kurangi carbon print.
- Gunakan kendaraan umum.
Saya dan suami lebih memilih naik bus daripada ngantor macet-macetan bawa kendaraan pribadi. Menempuh jarak pendek menuju halte busnya, kami menggunakan ojek (ingat: majukan perekonomian rakyat hahaa). Mobil kami hanya digunakan kala weekend untuk antar anak divaksin dan pergi-pergian yang banyakan. Sebisa mungkin mobil diutilisasi untuk banyak orang, bukan hanya buat bawa satu orang aja.
- Kurangi pemakaian kertas.
Untuk baca buku, sebisa mungkin kami menggunakan Kindle. Kalau bukunya betul-betul bagus dan pasti akan kami baca ulang, baru kami beli hardcopy-nya. Abisnya enakan pegang bukunya sih ya hehehe... sensasinya beda ngebolak-balik halaman buku sama nge-swipe gadget.
Usahakan transaksi dan tagihan online dan paperless.
- Berjalan selagi bisa.
- Bepergian untuk sekaligus beberapa keperluan.
Jadi daripada short trip tapi sering, mending sekalian aja. Kalau saya biasanya satukan semua di weekend: bersosialisasi, cari hiburan, dan belanja (plus vaksin anak kalau udah jadwalnya). Itu pun rutenya diatur supaya efisien dan sebisa mungkin dekat rumah.

9. Jaga kebersihan lingkungan di manapun kita berada.
Mentang-mentang bukan di halaman rumah sendiri, ga berarti bisa enak aja buang sampah dari mobil. Mentang-mentang di tempat umum dan ada petugas kebersihan, ga berarti bisa enak aja lempar bekas makan minum kita. Kalau udah kebanjiran kan stress tuh, barang-barang pada rusak dan terbuang. Suka sedih lihat teman-teman kebanjiran sampai rumahnya berantakan penuh sampah yang hanyut dan furniturenya rusak parah. Motornya juga rusak. KZL!

10. Declutter your house and sell un-used items. Recycle.
Jangan suka ngumpulin sampah (alias barang-barang yang udah 1 tahun ga terpakai) dengan pemikiran 'siapa tahu kelak terpakai'. 
Kebetulan di lingkungan rumah saya ada yang rutin ngumpulin kardus dan plastik bekas, jadi keluarga saya suka ngumpulin juga sampah dus-plastik kami sampai agak banyakan lalu kasihin ke dia. Some people even make money from their household recycle-able trash!
Air pun bisa di-recycle lho, misalnya bekas cucian beras dan lauk buat nyiram tanaman. Air bekas rendam cucian buat siram-siram WC. Dll.

11. Maintain barang kepunyaan kita, termasuk badan.
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Badan yang sehat berarti mengurangi biaya berobat. Elektronik, rumah, dan kendaraan kita pun sama. Daripada kita menghemat 'uang kecil' untuk keperluan maintenance (misal: menutup lubang di rumah, bawa mobil untuk cek rutin, membersihkan filter AC) tapi akhirnya barangnya malah rusak parah, mending rutin kita maintain. Kalau rusaknya parah, salah-salah malah lembiru (lempar, beli baru).

12. DO IT YOURSELF
Yah... dalam hal ini mah saya JUJUR minim kemampuan. Hahaha... Beberapa ide yang bisa dipakai:
- Bikin sendiri mainan anak pakai barang bekas (Google aja, banyak tipsnya)
- Tanam sendiri bumbu-bumbu, cabe, jeruk nipis, dll.

13. Sewa barang bayi dan anak, terutama mainan dan gears yang singkat masa pakainya.

Hmmmm apa lagi ya, segitu dulu deh, kalau ada ide lain tolong kasi masukan yahh!

18 August 2015

Review: Pengajuan KPR di BCA

Untuk memperjelas aja, di sini saya betul-betul mau sharing proses pengajuan KPR yang baru kami lewati sekalian mengungkapkan uneg-uneg, bukan bermaksud pamer properti dan aset yaak! Lha ini aja beli pake KPR kok, kalo mau gaya mah cash dong? Hahaha... Dan dalam kasus ini, sebetulnya cuma nama saya aja 'dicatut' buat keperluan KPR rumah keluarga yang nantinya akan ditempati papa mama dan adek. Pengajuan KPR pakai nama saya supaya kemungkinan disetujuinya lebih tinggi (double income saya dan suami nominalnya lebih besar dari income adik saya).

BCA nggak menerima joint income selain suami istri; jadi rencana awal kami di mana KPR dan sertifikat atas nama adik dengan saya sebagai penjamin tuh nggak diizinkan. Nah kalau KPR atas nama suami, sertifikat atas nama istri (atau sebaliknya) itu boleh.

Properti berada di suatu perumahan di Tangsel, kondisi bekas tahun 2011, status sertifikat HGB. Jual beli disepakati dan uang tanda jadi sebesar Rp 20 juta ditransfer tanggal 21 Juni 2015. Saat itu BCA memberikan bunga KPR yang oke. Ada fix selama 1 dan 2 tahun (9,25% per annum bebas penalti), 3 tahun (9,5% p.a, penalti 1%), dan 5 tahun (10% p.a, penalti 2%). Juga ada Fix 3 tahun 8,88% p.a dan Cap 2 tahun 9,99% p.a dengan penalti 2%.

- Fixed maksudnya bunga akan tetap selama waktu tersebut. 
Misalnya fixed 2 tahun, maka angsuran akan tetap dari cicilan pertama sampai ke-24. Tapi umumnya orang ambil KPR buat 5-20 tahun, yang mana bunga di tahun ketiga dan seterusnya bersifat floating setiap 6 bulan.
- Floating maksudnya bunga akan direview ulang oleh bank, biasanya setiap 6 bulan. 
Nah bunga floating inilah yang biasanya bikin empet, karena biasanya melejit lebih tinggi dari bunga fix di awal-awal masa KPR hehehe... Sekarang aja setahuku bisa nyampe 12-14%. Sakit juga tuh di rekening.
- Cap adalah suku bunga tertinggi ketika floating diberlakukan. Jadi di tahun ke-4 dan seterusnya di BCA, suku bunga akan direview setiap 6 bulan tapi nggak akan lebih dari 9,99% per tahun. Cap BCA ini berlaku selama 2 tahun, sisanya (kalau KPR lebih dari 5 tahun) ya floating biasa.
- Penalti dikenakan ketika kita melunasi (sebagian atau seluruhnya) pokok fasilitas KPR kita, dihitung dari nilai pelunasan pokok hutang.

Kami mengajukan yang fix and cap karena dihitung-hitung masih lebih murah daripada yang fixed 5 tahun.

Berikut susunan timeline pengajuan KPR kami.

1. Menyiapkan Dokumen Pengajuan KPR
Kalau sudah ada plan membeli rumah, ada baiknya dokumen-dokumen pribadi disiapkan sedari dini. Pengecualian mungkin untuk surat dari employer; sebaiknya diminta belakangan saja ketika KPR sudah diajukan. Bank suka emoh sama surat yang ketuaan (di atas 2 bulan).

Fotokopi dari:
- KTP suami istri (jika sudah menikah).
- NPWP pribadi sesuai nama pemohon KPR.
- Kartu Keluarga, Akta Nikah.
- Rekening omzet / copy buku tabungan 3 bulan terakhir. 
Kalau pengajuannya di bank yang sama dengan rekening, cukup pakai print out e-banking. Untungnya saya rajin save tiap bulan karena di KlikBCA hanya available 2 bulan terakhir saja. Kalau request ke customer service, butuh waktu 3 hari karena harus dimintakan dulu ke cabang pembukaan akun saya di Bandung dan kena biaya.
- SIUP, TDP, Surat Keterangan Domisili (untuk usaha perorangan atau PT atau CV).
- Akta Pendirian, Akta Perubahan Anggaran Dasar, Pengesahan Menkeh, NPWP badan usaha, KTP seluruh pengurus dan pemegang saham (untuk badan usaha PT atau CV).
- Sertifikat agunan, IMB, PBB terakhir dari properti yang diajukan.

Asli dari:
Surat keterangan kerja dan penghasilan ATAU slip gaji 1-2 bulan terakhir (untuk karyawan).
Kalau kerja belum sampai 2 tahun, harus sertakan surat keterangan kerja dari employer terdahulu. Nah saya nggak punya surat keterangan dari tempat terdahulu dan udah males mintanya, jadi saya kasih aja copy SPT PPh saya selama 3 tahun terakhir. Kan ada cap perusahaan sama tanda tangan bos juga. Untungnya dibolehkan.

Sebagian besar dokumen berhasil kami kumpulkan tanggal 24 Juni dan saya titipkan ke agen propertinya buat diantarkan ke bank (sekalian karena file legal rumah macam IMB dkk kan ada di doi). Sisanya yaitu surat keterangan gaji akan disusulkan.

2. BI Checking
Selama menunggu kelengkapan dokumen terkumpul, saya kasih dulu copy KTP dan NPWP untuk BI checking (BCA mengecek status kredit saya selama ini menurut catatan BI) saat tanda tangan surat kesepakatan jual beli. Biasanya sekitar 3-4 hari, dan hasilnya keluar tanggal 24 Juni.
Ehh ternyata ada status kolek 2 di salah satu credit card HSBCku yang nggak terpakai, jadi persyaratannya nambah: surat bukti penyelesaian dari HSBC.
Buru-buru kutelpon HSBC dan mereka membenarkan ada tagihan annual fee ke-pending, tapi karena cardnya memang nggak pernah kuaktifkan, mereka bisa cepat batalkan card itu. Sayangnya mereka nggak bisa ngasih e-mail ataupun surat (keterangan tertulis) mengenai penyelesaiannya, jadi cuma ku-screen capture aja m-banking HSBCku yang menunjukkan aku udah nggak ada kewajiban apa-apa ke HSBC. Untung dibolehkan, toh kan BCA tinggal cek ulang aja ke BI ya.

3. House Appraisal (paralel dengan mengumpulkan kelengkapan dokumen, tapi menunggu hasil BI Checking positif)
Tanggal 30 Juni, saya ditagih biaya appraisal untuk dibayarkan ke rekening virtual BCA. Biaya yang berlaku saat ini:
- Rp 700 ribu untuk plafon pinjaman di bawah Rp 1 M.
- Rp 900 ribu untuk plafon pinjaman Rp 1 s.d. 5 M.
- Rp 1,2 juta untuk plafon pinjaman di atas Rp 5 M.
Plafon pinjaman yang dimaksud di sini adalah POKOK HUTANG + BUNGA yak.
Lucunya, walau saya transfer dari rekening atas nama saya (alias si pengaju KPR), orang BCAnya tetap minta e-mail bukti transfernya dong. Yasud lah, aku juga pernah kerja di corporate kok, ngerti birokrasinya nan rudet. Kami dijanjikan appraisal akan dilakukan tanggal 4 Juli dan akan di-arrange oleh pihak appraiser (Appraisor? Ser, sor, bebas lah) dengan agen properti yang memegang kunci rumah tersebut.

4. Pihak KPR BCA menghubungi untuk melakukan verifikasi
Tanggal 2 Juli, mereka menghubungi untuk mengkonfirmasi jangka waktu pinjaman dan jenis suku bunga pinjaman yang ingin saya ajukan. Mereka juga bilang bahwa pencairan dana maksimal adalah 80% dari hasil penilaian appraisor.
Ehh mereka minta lagi dong slip gaji suamiku yang Juni. Ya kutolak lah, ini baru awal Juli gitu loh, gaji Juni aja baru keluar dan minta slip tuh suka lama. Toh yang Mei sudah tersedia. Trus mereka minta surat keterangan kerjaku ditambahkan nominal gaji karena slip gaji dari kantorku unavailable. Suratnya baru bisa kufulfill tanggal 7 Juli, nunggu si boss.

Tanggal 6 Juli barulah aku kontekan pertama kali sama marketing BCA. Tadinya via si agen terus, tapi kuminta kontak langsung aja biar cepat. Yah gaya-gayanya sih masih semi-formal ya, jadi kesannya ga terlalu profesional, tapi emang ekspektasiku ke orang dari financial industry tuh tinggi karena pernah kerja di corporate Nippon nan sangat formal. Lagian liat profpicnya mah kayanya doi masih bocah (halaahh, sok tua hahaha). Si neng BCA ini ngirimin simulasi KPRnya.

Tanggal 9 Juli, orang bagian analisa kredit BCA nelpon aku ke kantor juga nelpon HRD memastikan tanggal masuk kerja dan salary, dan nanya kenapa di rekeningku salary masuk bukan dari rekening perusahaan tapi dari rekening pribadi. Hahahaa... ya namanya juga perusahaan keluarga, Pak... Nah bagian ini jangan lupa kongkalikong sama orang HRD yak hihihi.

Tanggal 10 Juli, si Eneng Marketing BCA ngirim WA lagi nagih appraisal fee. Bingung dong eike, kan udah hampir 2 minggu? Taunya salah nagih. Yaelah jangan lipenan mulu makanya, neng. Keracunan merkuri kali tuh. *mulai jahat*

Nah ketika kami mengira semuanya udah kelar, tinggal nunggu approval, ehhh suamiku ditelpon orang appraisor BCA tanggal 13 Juli, katanya mau melakukan appraisal dan minta kunci sama kami! Yaelahyaelalooohhh! Ke mane aje looo? Lagian logisnya, mana lazim pembeli udah megang kunci selagi mengajukan KPR seh? Trus mana si neng marketing pas kukontak malah bilangnya nggak punya nomor penjual. Lha, kan situ udah kontak-kontakan sama agen propertinya dari kapan hari! Pas kubilang, "Gimana ya ini koordinasinya, kok kaya mau tahu beres aja" malah doi jawabnya ngeyel, "Saya juga koordinasi sama Bu Agen kok, bukan mau tau beres aja. Kan saya urusin. Ya udah Pak. Eh Bu." Kujawab, "Iya memang harusnya koordinasi antara BCA, appraiser, dan penjual jadi efisien. Jangan hubungi pembeli karena pembeli nggak mungkin megang kuncinya. Pengalaman saya di KPR sebelumnya juga pembeli tahu beres untuk urusan appraisal." Doi masih berani ngeyel lho! "Di form KPRnya ga ditulis nomor broker, Bu. Tadi suami ibu yang dihubungi mungkin karena udah hubungi ibu tapi nggak diangkat. Biasanya kalau ada nomor broker, langsung hub pembelinya. Biasanya pembeli akan infoin no hp orang yang bisa dihubungi untuk appraisal." Ga profesional abiiiisss! Ga customer-oriented banget! Wong ga ada telpon masuk ke hapeku. Lagian form KPR ya harus dicek dulu lah sama marketing, mana yang nggak lengkap, lengkapin sendiri, kan doi punya nomor agennya. Emang sih terakhirnya doi minta maaf dan bilang tidak akan kami ulangi lain kali. Keburu kesel tuh aku, aku cuekin aja trus langsung kukontak agen propertinya aja, biar dia yang urus. Nah selanjutnya keburu libur Lebaran deh tanggal 16-21 Juli.

5. Pengumuman Hasil Pengajuan KPR
Tanggal 23 Juli (dua hari setelah kelar libur Lebaran), saya menerima SMS dan e-mail hasil pengajuan KPR saya di BCA. Boleh dibilang pas 1 bulan sejak pengajuan yaa... Puji Tuhan, approved sesuai kondisi yang kami ajukan. Nilai appraisalnya memang lebih rendah sekitar 8% dari nilai jual-beli sesungguhnya (tapi emang biasanya gitu sih setahuku).
Di Surat Persetujuan Kredit yang saya dapat di e-mail, terinci biaya apa saja yang harus kami siapkan untuk dibayarkan ke BCA (provisi 1% dari pokok hutang, administrasi, premi asuransi jiwa, dan premi asuransi kebakaran rumah yang di-KPR-kan). Lumayan pedih di premi asuransi jiwa, nyampe 20 jeti bo! Tapi mungkin karena jangka waktu pinjamannya 15 tahun. In sya Allah kalau kami lunasi dipercepat, preminya pun balik. Biaya-biaya tersebut akan didebet langsung dari rekening BCA saya saat akad dilangsungkan. Awalnya orang BCA bilang premi ini sifatnya masih estimasi, tapi ternyata in the end ga berubah tuh. Padahal udah ngarep dapet diskon; aku kan masih muda belia dan sehat walafiat! Hahaha...

Di SPK tersebut juga disebutkan kelengkapan dokumen yang diminta BCA untuk disediakan saat akad:
- Asli slip gaji Juni suamiku (keukeuh ya booo!)
- Asli surat pernyataan LTV (bahwa kewajiban KPR kami ke bank lain adalah nihil). Copynya pakai scan-scanan harus dikirim duluan via e-mail ke BCA sebelum akad.
- Asli surat keterangan lunas KPR rumah kami dari bank pemberi KPR (karena bukan BCA) untuk diperlihatkan.
- Peningkatan status HGB menjadi SHM (akan diurus si notaris, kami tinggal bayar feenya).

Dari BCA juga ada bagian follow up yang langsung menghubungiku hari itu. Selanjutnya aku kontekannya sama dia buat follow up persyaratan dan jadwal akad.


6. Pemenuhan Syarat Persetujuan KPR
Beberapa hal yang harus kami penuhi saat itu adalah:
- Survey by phone dari agen asuransi jiwa. Biasalah, nanya-nanya riwayat kesehatan dan habit merokok atau obat-obatan, kondisi hamil atau tidak, dll. Saya nyoba nego premi tapi doi langsung ngeles hahaha...
- Menghubungi notaris yang ditunjuk oleh BCA, menanyakan fee legal dan kelengkapan legal yang harus kami penuhi. In the end saya serahkan sama agen propertinya aja, sekalian dia kan harus menyerahkan berkas legal rumah tersebut untuk dicek ke BPN sebelum akad dapat dilakukan (supaya tahu apakah sertifikat tersebut dalam sengketa atau tidak). Biasanya pengecekan sertifikat ke BPN itu butuh 3-4 hari. Juga ada surat yang harus ditandatangani penjual non-developer. Akhirnya si agen dan sekretaris notaris menghubungi saya dan ngasih rincian biaya legal yang harus saya bayar.
- Transfer biaya legal dan pajak pembeli ke notaris maksimal H min 3 (dari hari akad), sekalian nalangin pajak penjual sesuai permintaan doi (buat dipotong dari DP). Buktinya tentu harus dikirim via email atau fax ke kantor si notaris.
- Arrange tanggal akad. Nah ini yang ribet, secara suamiku harus hadir dan doi lagi banyak keluar kota dan si penjual susah dihubungi (harus melalui agennya yang mana susah dihubungi juga)! Mabok deh, dari tanggal 7 Agustus disepakati akad tanggal 12 Agustus, tapi statusnya tentatif sampai H min 1 hahaha.

7. Penandatanganan akad kredit dan akta jual beli
Tiba juga tanggal 12 Agustus, hari penandatanganan akad. Waktunya jam 11 siang di KCU Serpong, untung masih lumayan dekat rumah. Saya dan suami memutuskan ngantor siang aja sepulang akad. Si baby kami bawa karena saya pastinya rempong kalo harus mompa di sana (maklumlah stok ASIP di freezer tipis, jadi diirit-irit). Nyampe jam 10.30, kami diminta nunggu dulu karena ruangan rapatnya semua penuh. Terlihat notaris dan gengnya sibuk bolak-balik beberapa ruangan (Kesimpulan: properti masih laku ya cuy walau ekonomi lagi gojlak). Pihak notaris minta maaf, katanya penandatangan akad paling pagi ngaret sejam jadi berantakan semua jadwal hari itu. Ihhh tau gitu kami aja yang paling pagi yaa hahaa... Akhirnya kami diminta isi beberapa form awal di meja depan ruang rapat sambil wakil notaris menjelaskan prosedur selanjutnya. Sesudah akad, BCA akan mendebet biaya asuransi dan provisi dari rekeningku, "jadi mohon disiapkan ya Buu...". Pencairan dana ke rekening penjual hanya akan dilakukan setelah pendebetan rekeningku berhasil. Kelengkapan dokumen persyaratan persetujuan kredit juga dikumpulkan dan dicek.

Jam 11-an, agen properti datang, disusul pasangan suami-istri penjual rumah. Kami penjual-pembeli dipersilakan masuk ke ruang rapat (dan penghuni alias penanda tangan akad sebelumnya buru-buru diusir hahaha). Neng marketing BCA sama eneng rekannya juga datang tapi tentunya nunggu di luar bareng agen properti (3 orang). Yaiyalah masa tanda tangan sekompi cyin, kaya akad nikah aja haha...

Selanjutnya sih standar, notaris bacain isi akta kredit, kami bergantian disuruh tanda tangan. Yang nggak standar adalah gantian megangin bocah maceuh yang nggak mau duduk diem. Sibuuukk banget si Euis, ya narik bolpen lah, manjat meja lah, numpahin minum lah hahaha... Padahal tadi di mobil cuma bobo bentar. Untung notarisnya sabar. Oya, notaris juga memastikan berapa jumlah aset properti kami karena ada batas maksimum 5 buat setiap pasang suami-istri yang tidak pisah harta. Katanya kami masih bisa tuh nambah lagi. Yakali? Amin aja dehhh hahaha... Tanda tangan berlangsung cepat, sebelum jam 12an udah kelar.

Nah setelah penandatanganan dan cap jari kelar, kami digiring (alias diusir) keluar. Notarisnya ngasih folder buat nyimpan file-file rumah; cakep deh foldernya udah pakai kantong-kantong plastik dan dinamain buat naruh sertifikat, IMB, PBB, dll. Rapiii... aku sukaa (maklum OCD). Di luar, duo Eneng Marketing nyamperin aku. "Ibu, nanti biasanya ada yang telepon Ibu dari survey BCA, nanya kepuasan gitu. Tolong bilang sangat puas ya Bu, jangan bilang cukup puas doang, soalnya penilaian kami dari situ. Tolong ya, Bu, jangan lupa ya. Nanti kalau Ibu ada keluhan, langsung ke kami aja." Trus mereka ngasih souvenir (bantal kepala). Ih norak ya bo. Bukan souvenirnya tapi cara requestnya. Kayanya mendingan nanya dulu dong keluhanku apa selama kontak dengan mereka, trus minta maaf, baru jelasin bahwa bakal ada survey dan penilaian mereka sangat tergantung dari situ.  Ya aku juga ngerti bahwa beberapa orang emang sadis ngasih nilai (lihat aja Tokopedia, nilai 3 dari 5 bintang tapi komennya 'puaaasss, barangnya baguuuss', dafuuq?) tapi kan bisa dibikin elegan gitu requestnya? Cuman sudahlah, aku capek ngajarinnya, anak gue bukan, adek gue bukan, iyain aja biar cepet.

Selagi kami nunggu agen ngitung-ngitung pembagian pentransferan sisa DP (yang baru kubayar 20 juta + kutalangin pajak penjual XX juta), orang-orang pada mengagumi si eneng (Halaaahh! Ya abis dia lagi baek aja, mau digendong tante agen karena tertarik kalung bling-blingnya). Maklum agennya ada 2 perusahaan jadi ngitungnya rada lama. Untungnya si penjual adalah member BCA Prioritas jadi kami ga usah antri di teller bawah nan udah rame banget jam segitu. Enak ya antri di Prioritas, dikasih air dan kopi (tapi nggak kuambil karena lagi megang cah wedhok nan lincah), nyaman buat rumpi-rumpi sama si penjual. Keluar deh kampungannya hahaha... Kelar transaksi, kami bubar. Bocah udah ngamuk minta nyusu.

Sehari sesudahnya si Neng Marketing masih WA lho dengan request yang sama. Cape deehh... Padahal sampai sekarang (seminggu setelahnya) pun belom ada yang survey tuh!

BTW, berikut adalah strategi kami ketika mengajukan KPR:
1. Pilih yang paling lama suku bunga fixednya. Biasanya bunga fix paling lama yang ditawarkan bank tuh 5 tahun. Awal-awal pembayaran KPR tuh bunganya sangat besar karena dihitung dari pokok hutang, makanya sebisa mungkin pilih suku bunga terkecil dan fix dalam jangka waktu terlama. Jangan lupa set budget buat masa ketika bunga floating berlaku, karena biasanya kenaikan suku bunganya signifikan.
2. Tanyakan detail tentang peraturan mengenai pelunasan dipercepat (baik sebagian maupun seluruhnya). Misalnya, di CIMB dulu ternyata hanya boleh 2 kali pelunasan sebagian per tahun dan harus berjarak 6 bulan.
3. Persiapkan dokumen sedari dini. Cek ke HRD perusahaan, biasanya slip atau surat keterangan kerja tuh berapa lama dibuatnya sejak diminta (kalau tidak rutin dibagikan setiap bulan). Tanya siapa contact person yang akan menjawab interview verifikasi oleh analis kredit bank.
4. Bank biasanya mensyaratkan cicilan per bulan maksimal 30% dari income. Kalau suami istri bekerja dan nggak pakai perjanjian pisah harta, itungan double incomenya bisa mempermudah pengajuan. Kalau pisah harta sih aku gak tau detail, kayanya cuma dilihat dari income si pengaju aja dan sertifikat harus atas nama pengaju ya?
5. Sebaiknya aktif bertukar nomor kontak pihak-pihak yang terlibat (penjual, pembeli, agen properti, marketing bank, dll) untuk mempermudah koordinasi. Agen properti aja kadang ada dari pihak penjual dan pembeli hehehe...

Trus dana apa aja yang harus disiapkan untuk KPR (dalam kasus ini, diajukan ke BCA Serpong)?
1. DP: setahuku minimal 20% dari nilai jual beli. Pokoknya bank maunya mencairkan maksimal 80% dari nilai appraisal, jadi kalau bisa kasih spare lah sekitar 10% dari nilai jual belinya.
2. Biaya appraisal: Rp 700 ribu s.d. Rp 1,2 juta. Tergantung plafon kredit.
3. Premi asuransi jiwa. Nah ini aku kurang tahu gimana ngitungnya, pokoknya tergantung umur pengaju kredit dan plafon kreditnya.
4. Premi asuransi kebakaran. Sekitar 1-2% dari nilai rumah.
5. Provisi: 1% dari pokok hutang.
6. Administrasi: Rp 400-600 ribu.
7. BPHTB (Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan) alias pajak pembeli: 5% x (NJOP - Rp 60 juta). NJOP bisa ditanyakan ke agen penjual.
6. Biaya Notaris: Pengecekan Sertifikat dan Zona Nilai Tanah (sekitar Rp 750 ribu), Legalisir Pajak Jual Beli (sekitar Rp 500-600 ribu), Perjanjian Kredit (sekitar Rp 500 ribu s.d. Rp 1 juta), AJB dan balik nama (sekitar Rp 3 s.d. 3,5 juta), APHT & SKMHT (sekitar Rp 1,5 s.d. 3,5 juta). Jika perlu peningkatan HGB jadi SHM: sekitar Rp 2 s.d. 2,5 juta.
7. Penerimaan Negara Bukan Pajak: tergantung peruntukannya. Kami dikenai PNBP pengecekan sertifikat (sekitar Rp 100 ribu), PNBP balik nama (sekitar Rp 500 ribu s.d. 2 juta), dan PNBP Hak Tanggungan.
Saat ini tarif PNBP untuk HT yang berlaku adalah sbb:
a. untuk nilai s.d Rp 250 juta: Rp 50 ribu.
b. untuk range Rp 250 juta s.d Rp 1 M: Rp 200 ribu.
c. untuk di atas Rp 1 M sampai Rp 10 M: Rp 2,5 juta.
Untuk detailnya mungkin berbeda tergantung bank, notaris, lokasi properti, dan nilai transaksi ya...

14 July 2015

Resep: Pizza Terong

Saya nemu resep Julia Child's eggplant pizza waktu baru married, dan sejak itu si pizza terong jadi andalan supaya suami mau makan sayur. Apalagi waktu itu kan ngarep lekas punya anak dan terong katanya punya khasiat menyuburkan... ehh mayan lah 6 bulan abis merid hamil hahaha! Walau bukan bukti khasiat si terong, tapi tetep pizza terong ini bisa jadi camilan sehat keluarga bahkan buat anak-anak bayi (tinggal kurangi atau eliminasi garam dan mungkin musti dicacah kalau belum bisa ngunyah).

Bahan:
1 buah terong ungu (sekitar 500 gram, panjang sekitar 20 cm)
garam, merica, Italian seasoning, oregano, olive oil sesuai selera
3-5 siung bawang putih sesuai selera, dicincang

500 gram tomat, dicacah
sedikit air (hanya jika perlu)
daun basil segar (opsional; saya biasanya tidak pakai) 
250 gram mozarella atau sesuai selera, diparut
PS: takaran bisa dikira-kira sesuai selera

Alat:
3 lembar tisu serbet
1 wajan teflon yang datar dan lebar (jika dimasak di atas kompor) atau loyang (jika dipanggang dengan oven)
1 panci saus

1. Cuci terong, buang batangnya. Potong-potong terong mendatar jadi berbentuk keping setebal sekitar 1,5 cm (usahakan semua sama ketebalannya).
2. Tata terong di atas tisu serbet lapis dua, taburi garam. Simpan selama 30 menit (tidak perlu di kulkas). Terong akan nampak perlahan mengeluarkan butir-butir air.
3. Selagi menunggu terong mengeluarkan air, buat saus tomatnya. Di wajan, panaskan olive oil dan masak bawang putih sampai harum. Tambahkan cacahan tomat, bubuhi Italian seasoning dan oregano sesuai selera. Aduk sampai rata, kecilkan api, biarkan sampai saus agak berbuih, tambahkan 1-2 sendok makan air jika saus terlalu kering. Garami dan taburi merica sesuai selera. Angkat setelah saus mengental. Hasil sausnya memang nggak seindah saus kemasan, tapi saat itu ceritanya mah minimalisir bahan pengawet (kan persiapan hamil hahaha).
PS: kalau malas, bisa pakai saus tomat pasta kalengan. Tinggal tambahkan bumbu sesuai selera.
4. Setelah 30 menit, terong tadi akan nampak berembun. Totol-totol dengan tisu serbet untuk membuang airnya, sekalian membuang kelebihan garam.
5. Tata potongan terong di wajan datar atau loyang, olesi olive oil, taburi oregano dan Italian seasoning. Panggang selama sekitar 25 menit dengan suhu 190C atau roast di atas kompor selama sekitar 15 menit sampai nampak mengering. Hati-hati jangan kelamaan sampai terongnya terlalu lunak.
6. Selagi terong dimasak, iris-iris daun basil (jika dipakai) dan parut keju mozarella.
7. Matikan kompor atau keluarkan terong dari oven. Tuangkan saus tomat di atas masing-masing terong, lalu daun basil (jika dipakai), lalu taburi dengan keju mozarella, yang banyak!
8. Masak kembali di atas kompor atau dalam oven sampai keju meleleh dan kuning kecoklatan.
9. Sajikan.

10 July 2015

Recipe: Ayam Saus Kelapa dan Limo dan Nasi Ketumbar


Ga sempat motret cantik-cantik, pokoknya kurang lebih gini lah hahaa
Nemu resep ini di Pinterest, dari situsnya Chaos in the Kitchen. Biasanya resep bule di Pinterest berakhir mediocre di tanganku hahaha, tapi yang ini cucok deh di lidah Indonesia. Rasanya kaya gulai ayam. Persiapan dan masaknya mudah, cocok buat working mom. Bisa siapkan di pagi hari lalu masak begitu sampai rumah. Don't worry, selama kulkasnya bersih dan dingin, kuat kok. Malah makin enak karena bumbunya makin meresap.

Persiapan : 15 menit + 2 jam marinate ayam dalam bumbu
Memasak  : 15 menit

BAHAN
1 kg dada ayam
2-3 sdm cooking oil (saya pakai olive oil biasa atau yang light)

Marinade:
- 1 sdm olive oil
- air perasan 1 jeruk limo
- 1 sdt jinten bubuk (ground cumin)
- 1,5 sdt ketumbar bubuk (ground coriander)
- 2 sdm kecap asin
- 1,5 sdt garam
- 2 sdm gula pasir
- 2 sdt bubuk kari (curry powder) --> saya kadang pakai 1 sdm bumbu basah Bamboe/Indofood
- 125 mL santan (coconut milk)
- 1,5 sdt bubuk cabai (cayenne pepper, etc)
- 1 buah cabai dicincang (opsional)

Garnish: daun ketumbar segar dan potongan jeruk limo (opsional)


CARA MASAK
1. Buang kulit dan lemak dada ayam (opsional), bersihkan, bagi dua, pukul-pukul dengan meat hammer.
2. Campur bahan-bahan marinade. Rendam ayam selama 2 jam di dalam kulkas. Sebaiknya menggunakan wadah tertutup untuk menghindari paparan bakteri, apalagi kalau dibiarkan seharian. Selagi menunggu, bisa gunakan waktu untuk masak nasi ketumbar.
3. Gunakan wajan grill, panaskan 2 sdm minyak. Angkat dada ayam dari marinade, taruh di panci grill. Balik setelah beberapa menit agar matang merata. Masak sampai ayam berwarna coklat keemasan.
Cat: jangan biarkan daging bertumpuk supaya semua matang merata. Kalau wajan tidak muat, masak sedikit-sedikit.
4. Tuang sisa marinade ke panci kecil, panaskan sampai mendidih selama 2 menit di atas api kecil. Aduk supaya tidak gosong.
5. Letakkan ayam yang sudah matang di piring saji. Taburi potongan daun ketumbar jika suka. Sajikan dengan saus di atas atau sisi ayam. Tambahkan potongan jeruk limo jika suka.


RESEP NASI KETUMBAR

Nah ayam tadi enak banget dimakan pakai nasi ketumbar ini.

BAHAN
Beras dan air sesuai takaran biasa untuk 3-4 orang.
1 sdm ketumbar bubuk
2 siung bawang putih, dikupas, diremukkan
1 batang jahe (sekitar 3 cm), dikupas, diremukkan
1 batang daun bawang (opsional)
2 sdt minyak (saya pakai olive oil)
Bubuk cabai dan sedikit garam, sesuai selera
Daun ketumbar, dicincang

CARA MASAK
1. Bersihkan beras.
2. Masukkan semua bahan ke dandang atau rice cooker, aduk sedikit supaya bumbu menyebar. Lebih asoy lagi kalau airnya diganti dengan kaldu. Masak seperti biasa sampai nasi matang dan harum.
3. Buang sisa bawang-bawangan dan jahe dan aduk nasi sebelum disajikan.

Gampil banget kan? Kalo baby udah mulai nyantong table food kaya bocahku, bisa dikasi juga (tinggal singkirkan cabe-cabean dan adjust rempah sesuai kesanggupan si bocah).

03 July 2015

Survival Tips Selama Nggak Ada Asisten Rumah Tangga dan Suster

Well some people still call them pembokat tapi rasanya gimanaa gitu ya, kaya degrading nggak sih? So my bestfriend and I started to use the term 'asisten rumah tangga'. 

Nah kalo ada para asisten ini, jasanya terlupakan tapi kalo nggak ada dirindukan, iya kan? Ntar libur lebaran pada deg-degan ditinggal ART kan? Ngakuu! Hahaha... Sebenernya aku  juga lagi mempersiapkan mental nih ditinggal ART (padahal ART harian yang cuma sapu pel ngelap lho), apalagi punya anak bayi gini, tapi aku yakin pasti survive kok. Gini biasanya strategi kami.

1. Bagi tugas sama seisi rumah.
Makanya jangan nikahin orang yang nggak bisa kerja, minimal nyuci piring itu wajib bisa hahahaa... Oya, biasakan juga semua anggota keluarga buat jaga kebersihan dan simpan barang dengan rapi, jangan kaya raja besar ninggalin sampah di mana aja dan membiarkan barang berantakan mentang-mentang ada orang lain yang bersihin dan rapiin. Habis pakai, balikin ke tempatnya.

2. Prompt spot cleaning.
Alias: bersihkan yang kotor aja seketika. Tiap nemu remah atau kotoran kecil, langsung pungut dan buang. Sediakan tisu gulung di setiap ruangan kalau dirasa perlu.
Misal: ga sengaja jatuhin makanan berminyak ke lantai. Cepat lap dengan cairan pembersih atau air sabun supaya bekas minyaknya nggak terinjak lalu nyebar ke sekeliling ruangan.

3. Sapu pel seperlunya.
Sebisa mungkin, tetap nyapu setiap hari (bergantian, siapa aja yang ada waktu). Cita-cita saat ini (kalau THR keluar) : beli vacuum cleaner yang oke. Cara nyapu yang bener: dari lantai atas ke bawah, dari dalam ke luar ruangan.
Cukup pel area yang paling mudah kotor dan sering digunakan, misalnya di rumah kami: dapur dan ruang keluarga. Kamar cenderung bersih karena cuma dipakai tidur dan sebelum masuk kamar kami harus gosok kaki di keset.

4. Mesin cuci itu wajib.
Alat elektronik pertama yang suamiku belikan buat rumah kami adalah mesin cuci, no need for explanation lah ya...ehm, karena bininya pemalas hahaha... Kalau pakai mesin cuci, jadi bisa cuci baju 2-3 hari sekali, ga perlu tiap hari. Sebisa mungkin koordinasi pakaian orang serumah (misal hari Senin-Rabu-Jumat pakai warna gelap, Selasa-Kamis-Weekend pakai warna terang) jadi bisa dicuci berbarengan dan ga repot memilahnya.
Tips nyuci celana jeans: pasang ristsluitingnya dan kancingkan, lalu balik celana sebelum dicuci.
Kucek manual dan rendam hanya pakaian bayi yang kotor saja (misal kena makanan atau pup), selebihnya blusss ke mesin cuci.
Tips kalau sering pakai kaus kaki: gunakan washing mesh bags (tas jaring untuk mencuci), murah dan praktis.
Image result for wash mesh
Kaya gini misalnya (ini yang gede)


PS: Kalau punya dana lebih, beli dryer Electrolux deh, itu asik banget. Omku single dan pakai itu supaya praktis. Eh tapi mungkin dia kebeli karena single yak, gajinya ga abis buat beli popok hahaha... Dryer tuh ga hemat listrik!

5. The wisdom of no ironing.
Sejak kecil saya udah menganut gerakan-anti-setrikaan hahaha... beli baju pun diusahakan yang berbahan kaus dan tidak mudah kusut (misalnya viscose).
- Kibas-kibas pakaian sebelum digantung di jemuran.
- Gunakan hanger untuk hemat tempat dan 'memuluskan' pakaian menggunakan gravitasi.
- Jika langsung digantung di jemuran, ratakan pakaian (jangan berkerut atau terlipat).
- Jemur pakaian bayi indoor di area yang kena sinar matahari supaya nggak kena kutu dll.
- Begitu kering, lekas angkat dan lipat supaya nggak jadi tempat persembunyian nyamuk. Lagian kalau ditumpuk lama-lama malah jadi kusut.

6. Minta tolong ART ganti sprei dan sarung bantal sehari sebelum dia pulang biar tetap fresh selama dia mudik. Jangan biarkan anak main dan makan di atas kasur EVER! Biasakan cuci kaki sebelum naik ke kasur. Lipat selimut setiap bangun tidur, sebelum melakukan hal lain. Jangan ikutin lagu 'bangun tidur ku terus mandi' trus nunda rapiin kasur, yang ada kelupaan deh pasti!

7. Gunakan waktu mandi untuk sedikit-sedikit membersihkan kamar mandi. Taruh cairan pembersih di kamar mandi, di tempat yang tidak terjangkau anak-anak. Better to have a trash bin too in the bathroom.
Misal: sehabis gosok gigi atau sebelum cuci tangan, bersihkan wastafel (bisa pakai sabun cuci tangan). Sebelum mandi, sikat lantai kamar mandi. Sehabis BAB, sikat bagian dalam kloset dan lap luarnya pakai tisu gulung.

8. Kumpulkan mainan di satu tempat tertutup (supaya tetap bersih dan nggak menjadi sarang nyamuk), jangan biasakan anak membongkar sendiri kontainer mainannya. Berikan mainan satu per satu, kalau sudah bosan baru kasih mainan lain dan langsung taruh mainan yang tidak dipakai ke dalam kontainer. Taktik ini juga dapat melatih fokus bayi. Strategi mamaku: kalau anak udah agak besar dan suka ngebongkar kontainer mainannya, usahakan dia main di satu ruangan saja supaya mainan nggak tersebar berantakan di sekeliling rumah. Makin besar dia makin ngerti, bisa dibiasakan menyimpan semua mainannya lagi setiap sore.

9. Kalau orang dewasa hanya sedikit di rumah, kurangi pemakaian dapur dan mulai stok makanan beku. Lap kompor setiap habis pakai, sebisanya kering dan nggak berminyak. Masak yang gampang-gampang aja dan nggak butuh banyak panci. Hindari goreng menggoreng karena minyak sangat gampang muncrat dan bikin lantai lengket (bahkan ketika lantai sudah dilapisi kertas koran).
Tips penting membersihkan dapur: bersihkan area sekeliling kompor dulu, dan kompor paling akhir. Mengapa? Supaya tidak menyebarkan minyak dan kotoran dari kompor ke sekeliling dapur karena kompor adalah area paling greasy.

10. Lap meja makan setiap habis digunakan. Cuci piring dll setiap pakai, sedikit-sedikit; jangan tunggu numpuk. Emang sih katanya kalau nyuci banyak tuh lebih irit sabun dan air, tapi akalin aja. Taruh air sabun & spon di wadah tertutup, buang air sabun tiap malam, refill tiap pagi. Gunakan penutup gelas supaya tetap bersih dan bisa dipakai seharian (jadi cukup dicuci sekali sehari). Begitu sempat, sikat sinknya.

11. Tick list sebelum libur dimulai:
- lap debu dari semua furniture (ingat: atas ke bawah)
- cuci mobil dan bersihkan bagian dalamnya
- cuci semua keset. Even better: cuci semua gorden.

12. Sebisa mungkin pilah barang-barang, declutter, buang atau donasikan yang tidak terpakai selama 1 tahun terakhir. Singkirkan kertas-kertas yang tak terpakai (pamflet, majalah, koran bekas)

Kalau ada dana lebih, sewa jasa ART dan suster infal atau pembersih profesional. Sayangnya biasanya mahal dan aku ogeng hehehe...


Prinsip utama kebersihan rumah: short but frequent cleaning makes it easier! Makin sering kita membersihkan sesuatu (walau sebentar-sebentar) akan lebih mudah daripada menunggu lama sampai kotorannya keburu numpuk dan susah dibersihkan.

17 June 2015

Kid's Weight Booster Recipe: Shrimp in Creamy Coconut Sauce

Aku menemukan resep ini di Welcome Home Blog tapi belum terpikir untuk membuatnya selama berbulan-bulan. Sabtu lalu aku dan mama membeli seperempat kilo udang besar yang segar di pasar dan aku keingetin sama resep ini!

WARNING: nggak cocok buat penderita kolesterol tinggi dan penyakit jantung!

Bahan:
- 250 gram udang besar, kupas kulit
- 60 ml santan (kami pakai Sun Kara)
- 1 sdm susu UHT plain (kami pakai Ultra full cream)
- 1 sdm susu kental manis
- 1 sdm mayones
- 3 sdm mentega (kami pakai margarin Meadow Lea)
- 2 sdm minyak (kami pakai olive oil)
- 2 sdt daun bawang cincang
- 70 gram bread crumbs (kami pakai yang kasar secukupnya)
- 1/2 sdm maizena
- 1/2 sdt garam
- 1/2 sdm ekstrak vanilla (tidak kami pakai)

Cara masak:
1. Cuci lalu tiriskan udang, balur dengan garam.
2. Campur bread crumb dengan maizena di mangkuk, masukkan udang. Balur udang (tidak perlu ditekan, tidak perlu terlalu tebal).
3. Di wajan, panaskan mentega dan minyak hingga meleleh, goreng udang selama 3 menit sampai cokelat keemasan. Angkat dan tiriskan minyaknya.
4. Di panci, campurkan santan, susu UHT, dan ekstrak vanila. Aduk di atas api kecil. Tambahkan susu kental manis sambil terus diaduk sampai berbuih.
Jika sudah berbuih, masukkan cacahan daun bawang. Biarkan di atas api kecil sampai cairan berkurang sepertiganya.
Tambahkan mayones dan aduk sampai rata.
5. Masukkan udang ke saus (masih di atas kompor) dan aduk supaya sausnya meresap.
Setelah mendidih, matikan api dan angkat masakan. Sajikan panas-panas.

NOTE:
- Enak dimakan dengan nasi hangat. Teksturnya sangat creamy, ada beberapa orang nggak suka. Kami makan pakai cah sayuran supaya ada segar-segarnya. Kayanya dipakein nanas enak deh, lain kali mau coba ah.
- Bisa buat boost berat badan bayi (biasanya kan orang boost BB bayi dengan pakaikan butter, olive oil, susu UHT, dan santan di masakan MPASInya). Kalau anaknya belum makan table food, tinggal singkirkan bahan-bahan yang nggak dimakan si bayi (misalnya garam, susu kental manis, mayones). Saya sendiri merasa sedikit mayones yang dimasak nggak apa-apa buat bayi di atas 7-8 bulan. Maklumlah, ibu penganut WHO.
Jangan kuatir sama kolesterolnya, asal jangan keseringan juga yah hahaha... Kalo waswas ngasi ini ke anak, bisa kurangi santannya atau eliminasi juga beberapa bahannya. Hindari resep macam gini kalau keluarga punya riwayat kolesterol tinggi atau penderita penyakit jantung di usia muda.


Hasil akhir kurang cantik ya, burem hahaa..
Fotonya burem haha.. mohon maklum ya, lagi gendong anak ndut yang nggak bisa diem dalam kondisi lapar, jadi aja gemeteran.

Shopaholic Momma & Review Online Shop

Kayanya sejak jadi emak, tingkat ke-shopaholic-an meningkat drastis deh. Emang sih saya beli baju setaon sekali kalo yang lama udah pada belel ato robek-robek (trus yang belel dan robek dijadiin daster), beli tas kalo talinya udah putus (itu juga ga pernah yang bermerek dan malah seringnya dapet dikasih), sol sepatu diperbaiki di tukang sol bisa sampai dua kali setahun (makanya sepatu bisa awet 3-8 tahun). Make up? Lah muka cuma segini-gininya, pasrah ajalah cukup bedakan sama lipenan dikit biar ga terlalu pucat. Pokoknya irit deh kalau belanja buat pribadi, sekalian ngurangin sampah global *ceileee, sok iyee*.

Tapi, tapi, tapiii... semua itu berubah sejak datangnya si eneng kecil.

Awalnya aku cuma belanja kebutuhan dia yang basic aja macam baju sehari-hari dan popok (termasuk nyoba clodi). Trus ketika aku menjadi breastfeeding working mom, kok rasanya perlu beli printilan breastpump, botol, dot antikolik antibingput, ASI booster eta, plus baju menyusui dan jangan lupa bra menyusuinya. Ehh kok botol merk A nggak pakai plastik PP5, yuk ah beli botol merk B. Ehh kok mending botol kaca ya? Beli botol kaca merk C. Ih tutupnya kurang ok, beli botol merk D deh. Akhirnya beli juga peralatan buat memodif pump supaya bisa double pump. Sempat juga ngeces-ngeces ketika browsing media penyimpan ASI Medela dan Avent yang sophisticated abiiss. Dan hampiiirrr aja beli barang gaje macam penampung tetesan ASI. Addicted to breastfeeding, pokoknya!

Badai menyusui mereda, badai MPASI dimulai. Puji Tuhan ya nyokap tinggal di rumah jadi aku sadar diri dan megang erat-erat dompet. Godaan Avent steamer-blender, peralatan masak MPASI Beaba, dan barang-barang lucunya Boon, Munchkin, Tommee Tippee dll bener-bener ratjun sejati. Gitu kali ya perasaan Hawa menghadapi godaan si ular buat makan buah pengetahuan? In the end cuman beli lollipop ice tray yang buat bekuin ASI, kayanya asoy ya kalo si anak teething sambil cemilin es loli ASI atau jus buah.

Godaan lainnya adalah aksesoris dan baju-baju anak cewe. Yaowoh lucu-lucuuuuu! Pas masih hamil mah aku idealis, sampai ngomong ke suami, "Kita beli baju yang unisex aja ya, warna yang biasa aja. Gue OGAH ya anak kita pake pink mulu, apalagi bando segede gaban nutupin muka gitu." Yuuu yah yuuuk, makan tuh omongan lu Trid! Liat dress bayi langsung jerit, "Lucuuuu!" Liat bandana bunga, "Ih imuuuut!" Liat jumpsuit pink, "Mauuuu!" Liat sepatu boot bayi, "Waaaw lucu iniii!" Untungnya keluarga juga pada hobi beliin baju, jadi mak bapaknya masih lumayan irit. Tapi, tapi... kapan akuh bisa beliin baju yang sesuai seleraku doong? Hahaha. *minta digampar*

Ketika udah nggak ada keperluan sandang pangan papan yang diperlukan si eneng, harusnya udah dong shopping spree ini berakhir ya? Nggak lah! Si eneng mulai gede, mulai pingin ngenalin buku dan mainan. Harus yang edukatif dong yaa *sok iyeee*. Mulai deh berburuuu... nyari softbook, mainan edukatif, dll.

Sejak si eneng lahir pun, saya makin males beli groceries. Ribeett... Kalo cuma dikit-dikit masih oke lah, tapi kalo belanja bulanan kerasa ribetnya. Belom kelar, anaknya udah mau nyusu. Sekarang mah groceries pun aku belinya onlen hihihi...

Online shop mana aja sih yang jadi andalan selama 10 bulan ini?

1. ASIBayi.com

Aku tahu toko ini karena browsing cara modif Medela Swing supaya ga bocor, terus nemu blog ASIBayi. Ternyata tokonya emang jadi andalan seribu ibu. Akhirnya aku beli parts buat modif si Swing (selang Medela Lactina, membrane-cover-spring Unimom) total sekitar Rp 190ribu. Selain itu juga beli bra untuk mompa supaya bisa hands free (muahal, 400 ribuan, tapi lumayan berguna di kantor), botol kaca BKA buat simpan ASI (standar Rp 48ribu isi 8), botol kaca BabyPax buat perah-simpan-ngasih ASI (Rp 50ribu isi 3), krim telon Bebe Roosie (Rp 25rb) dan Mama Soya (Rp 30ribu). Sesudah itu pun aku masih beberapa kali lagi beli barang di sana, misalnya selang unimom, botol RBS, botol Pigeon, dll.
Produk: segala hal buat breastfeeding dan weaning (makanya paling sering dijadikan pembanding harga), mainan, clodi, baby carrier, sampai baby medicine dll.
Pemesanan via email. Responsif, tapi suka salah hitung harga, musti dicek and ricek ya, jangan lupa hehe… Barang nyampe sehari-dua hari setelah pembayaran, kena ongkir sekitar Rp 10 ribuan. Dia jaga kualitas barang banget, pokoknya kiriman selalu memuaskan dah.

Juaranya diskonan disposable diaper! Pertama kali bikin akun di sini demi Mamypoko promo Rp 50 ribu buat produk-produk tertentu. Lumayan buat yang Extra Dry M isi 46 biasanya min Rp 80 ribu. Pernah juga aku beli Goon tape L30 dan XL34 dengan harga per pak Rp 65 ribu (biasanya sekitar Rp 75 ribu). Sejak itu aku suka compare harga popok ke sini, dan emang Bilna ini salah satu situs andalan sejuta ibu. 
Produk lainnya adalah segala keperluan bayi (they have EVERYTHING) dan rumah tangga. Barangnya sih lucu-lucu, sayangnya mehoong! Tapi kalo lagi promo edyan, bisa dapet barang murah banget! Misalnya pake kode voucher BILNA-ARSY, aku bisa beli 4 pak Goon tape L34 seharga Rp 200 ribu aja, free ongkir pula! Pembelian berikutnya, aku dapat buku memori 1st year Gifthing, hand pump, sensor LPG, dan telon juga hanya seharga Rp 220 ribu. Setiap Senin-Selasa juga ada promo diskon 30% pakai credit card BNI; jadi pingin apply hihi...
Pengiriman max 3 hari (aku selalu pakai shippingnya, nggak pernah COD), free ongkir untuk pembelian minimal Rp 200 ribu. So far pengiriman sih cepat buatku (di beberapa daerah katanya suka lambat). Keluhanku cuma sekali, waktu mereka salah kirim barang dan syuseee banget ngontek CSnya. Email ga dibalas, telpon susah nyambungnya.

Sarana belanja groceries bulanan. Biasanya aku compare harga popok di Bilna sama Sukamart. Yang paling sering sih beli toiletries, detergen, pelembut, cairan-cairan pembersih, dan minyak goreng. Pokoknya yang berat-berat hihihi... Dicek-cek, harganya nggak jauh-jauh amat sama supermarket Giant Express; malah lebih murah kalo lagi promo. Misalnya minyak Tropical atau Filma Rp 10.000 seliter. Untuk pembelian Rp 350 ribu ke atas, free ongkir.
Pengirimannya akhir-akhir ini kacrut. Dulu maksimal 2 hari, sekarang bisa 4-5 hari. Pas kucek di kode pengiriman ternyata salah JNE Tangerangnya sihh... soalnya email notifikasi shipping dari Sukamartnya masih cepat. Pengiriman dari JNE Jakarta ke JNE Tangerang juga cepat. CSnya Sukamart juga responsif, pasti email pertanyaan dijawab dalam 24 jam, dan rata-rata tiap kutelpon langsung diterima.

Awalnya aku bikin akun Tokopedia karena mau beli ice gel gede yang 3 lekuk (ga nemu-nemu pas nyari di baby shop) seharga Rp 37 ribu dan cetakan buat bekuin ASI/puree Munchkin. Terus ketagihan deh belanja di sini, total kayanya udah lebih dari 30 item hahahaa... 
Setiap mau beli apapun, aku cek dulu harganya di Tokopedia. Kadang ditambah ongkir pun masih lebih murah dari di toko lain! Opsinya banyakkk banget karena ada banyak seller di sini; sampai nyesel dulu pas nyiapin wedding nggak tahu karena ternyata di Tokopedia banyak printilan yang dulu nggak kutemukan. 
Pembayaran juga aman karena kita transfernya ke rekening escrow si Tokopedia. 
Kualitas barang ya namanya juga online shop yaa... kadang bagus, kadang mediocre. Belom pernah nemu yang mengecewakan banget sih... Pokoknya setiap beli, cek dulu review terhadap toko dan barang tersebut.

Salah satu online shop kebutuhan bayi yang paling lengkap. Free ongkir ke Jakarta untuk pembelian minimal Rp 100 ribu. Bisa same day delivery kalau settle pembayaran sebelum jam 8.00 pagi. 

Nah yang satu ini nanti kureview terpisah aja baju-baju menyusuinya hehehe...

7. SweetMomShop
Khusus toko ini, pertama kali beli kudatangi toko fisiknya di Pluit, secara kami ngincer stroller Aprica dan pingin lihat langsung bentuknya. Toko ini kayanya satu-satunya deh yang ngasih diskon buat Aprica sebesar itu! Dan ternyataa... gile tokonya ini surga mainan! Hahahaa... Kalo bawa anak udah gedean ke situ mah ngeri deh, secara doi punya segala jenis mobil-mobilan yang 2-3 jutaan gitu! Dan ternyata mainan yang lebih murah juga ada. Selama setengah jam kami di sana, beberapa ortu datang nyari mainan V-Tech dll yang menurut mereka lebih murah di SMS ini daripada di ELC dkk. Berikutnya aku pernah beli mainan di toko ini via online. Interaksi by email dan pengiriman cukup cepat. Sayangnya mereka kurang update stok barang di website jadi banyak yang udah sold out.

Nah selain itu, aku pernah juga beli beberapa baju bayi di IG KururuTown dan Babyboo.littlefashionista Bandung, kaos kaki bayi di FB BebibuShop, tank top menyusui di EstilaMama.com (bahannya enak, adem dan lembut), topi-topi lucu di jualbajuanaklucu.com. Selebihnyaa... lupaaa hahaha! Pokoknya yang kusebutin itu yang menurutku kualitas barangnya dan servicenya oke.