Showing posts with label home therapy. Show all posts
Showing posts with label home therapy. Show all posts

04 November 2015

Beginner's Review: Young Living Stress Away


Baru-baru ini, aku nyoba essential oil Young Living yang lain: Stress Away. Penyebabnya ya karena akhir-akhir ini banyak perusak mood (seller pompa ASI yang ajaib; kondisi kantor yang nggak bagus dan terancam PHK; banyaknya berita negatif soal asap dan soal anak-anak yang kecelakaan dan sakit, bahkan ada yang meninggal; kabar dari kantor suami soal penurunan angka pengali bonus). Dengan kondisi kerjaanku yang lagi ga stabil gini, kami jadi bimbang buat nerusin usaha punya anak kedua. Ah akuh resah...

Kubuka lah si Stress Away, endus, endus. Hmmm! Baunya nyengat banget, semacam floral fruity scent gitu dan kenceng banget. Tapi begitu didiffuse, hmmmm wanginya lembut dan enak. Suamiku pun komen, "bikin ngantuk ya" dan nggak sampai 5 menit, kami bertumbangan hehehe...

Nah malam-malam tuh biasanya si baby masih suka bangun buat nyusu dan akhir-akhir ini dia bangunnya gelisah dan heboh banget, suka pake acara nangis kenceng atau teriak segala. Tumben, begitu diffuse Stress Away itu, dia bangunnya kalem. Cuma kucek-kucek mata, berguling mendekatiku, dan merengek lirih. Entah efek Stress Away apa bukan, tapi boleh lah dicoba lagi.

Sebelumnya, setiap bangun pagi tuh pinggangku suka pegal. Mungkin efek posisi menyusui sambil tiduran yang nggak benar. Nah pagi sesudah diffuse Stress Away itu sakit pinggangnya hilang.

Apa aja sih kandungan Stress Away ini?
- Copaiba (Copaifera reticulata) resin oil.
  Kegunaan: one of the best natural anti-inflammatory ingredients in the world,
                    dapat meredakan sakit (kepala, keram, arthritis, punggung, 
                    disinfectant dan penyembuhan luka dan jamur,
                    melembabkan dan mengencangkan kulit
                    (bagus untuk skin care bahkan bagi kulit sensitif),
                    expectorant (mencairkan dahak),
                    anti-kanker kulit dan perut,
                    menurunkan tekanan darah tinggi,
                    melancarkan pembuangan air kemih.  
- Lime (Citrus aurantifolia) rind oil.
  Kegunaan: antioksidan, antiseptik, antivirus, antibakteri, disinfectant, anti-allergen,
                    membantu daya tahan tubuh,
                    menurunkan demam,
                    meredakan pendarahan dan mengentalkan darah,
                    mengencangkan kulit dan meringankan keriput, bekas luka, dll,
                    meringankan kegelisahan, depresi, dan kelelahan,
                    mengembalikan fungsi organ tubuh setelah menderita sakit,
                    membersihkan kulit kepala sampai perkakas rumah tangga.
  Dapat meningkatkan nafsu makan.

- Cedarwood (Cedrus atlantica) bark oil
  Kegunaan: relaxing dan membantu fokus, sedative,
                     meregulerkan produksi sebum pada kulit,
                     antiseptik, anti-inflammatory, fungicide,
                     meredakan kontraksi otot yang tiba-tiba
                     (misalnya pada keram, penderita asma, gangguan pernapasan dll),
                     mengencangkan kulit dan otot misalnya pada gusi,
                     detox, meredakan tekanan darah tinggi, membantu fungsi ginjal,
                     meregulerkan siklus haid dan mengurangi gejala negatif haid,
                     melegakan pernapasan dan mengencerkan dahak,
                     insect-repellant,
                     mengurangi jerawat, ketombe, masalah pada kulit.
- Vanilla (Vanilla planifolia) fruit extract yang punya efek menenangkan dan bikin rumah harum (sayangnya I'm not a big fan of its sweet scent walaupun aku doyan banget es krim vanilla hahaha).
- Ocotea (Ocotea quixos) leaf oil.
  Kegunaan: anti-inflammatory, antibakterial, antifungal,
                     meredakan stress,
                     membantu kinerja tubuh melawan iritasi dan cedera,
                     membantu kinerja pencernaan,
                     ditambahkan pada bahan kue dan masakan,
                     membantu menurunkan level gula darah.
- Lavender (Lavandula angustifolia) flower oil.
  Lavender essential oil sudah pernah kubahas kegunaannya di postingan ini.


Semua bahan tersebut terkenal dengan efek menenangkan. Saya survey sih katanya cukup aman untuk anak kecil di atas usia 1 tahun, ibu hamil dan menyusui (tentunya dengan penggunaan yang moderate, dan sebaiknya bumil busui yang belum pernah pakai essential oil menggunakannya dalam jumlah kecil dulu atau didilute).

Kegunaan Stress Away :
- Menenangkan, menciptakan lingkungan yang seimbang dan lembut.
- Membuat suasana tidur yang nyaman.
- Mengurangi kemarahan, ketegangan, mental and emotional stress, perasaan resah, dan trauma.
- Menimbulkan perasaan aman, damai, tenang, jernih, dan membumi *halah*.
- Membantu tubuh mengatasi iritasi dan luka.
- Cleansing and purifying.
- Meningkatkan daya tahan tubuh.
- Bagus untuk kesehatan kulit, tapi jangan kena sinar matahari langsung selama 12 jam setelah penggunaan karena mengandung lime oil. Citrus oil bersifat fotosensitif, kulit kita bisa berflek hitam jika kena sinar matahari langsung.
- Mendukung proses pencernaan.
- Cocok untuk relaksasi, korban abuse, penderita trauma, korban kecelakaan, dll.

Cara pemakaian Stress Away :

Cara lain penggunaan Stress Away :
- Untuk pengobatan jerawat : 1-2 tetes pada cotton bud, oles langsung ke jerawat. Jangan kena matahari langsung selama 2x24 jam (ada yang bilang cukup 12 jam, tapi jaga-jaga aja haha).
- Dilute dengan carrier oil, pijat di area yang terkena stretch marks atau varises, bisa juga digunakan untuk pijat sebelum sesi chiropractic.
- Oleskan pada bagian luar luka (jatuh, goresan, dll).
- Oleskan pada bekas gigitan serangga.
- Diffuse ketika anak sakit dan susah tidur, terutama pada penyakit yang diakibatkan infeksi virus atau bakteri. Diffuse juga pada masa recovery dari sakit.
- Meredakan sakit gigi dan bau mulut: 1 tetes di air minum, kumur.
- Teteskan pada air mandi untuk membantu meredakan alergi kulit (tapi anak-anak, bumil, busui, sebaiknya gunakan untuk bilas saja dan tidak berendam).

JANGAN: dioles atau diteteskan ke dalam hidung, mata, dan telinga; digunakan pada orang yang punya kekentalan darah tinggi atau penggumpalan darah; digunakan secara internal oleh wanita hamil (karena beberapa orang sensitif pada cedarwood).


Stress Away juga ternyata ada kemasan roll-onnya (sudah ditambahkan carrier oil dari Young Livingnya, yaitu coconut oil). Tapi kayanya lebih murah bikin sendiri aja pakai botol kaca roll-on dan VCO hehehe... Tapi hati-hati menggunakan coconut oil ke wajah ya, karena di beberapa orang malah bikin komedo.

Setelah dicobakan ke si eneng tiap malam, ternyata dia lebih kalem tidurnya kalau pakai Stress Away ini dibanding Peace & Calming. Memang namanya essential oil mah cocok-cocokan yaa...

05 June 2015

Beginner's Review: Young Living Lavender, Lemon, Fennel Essential Oil

Yuuukkk lanjuuutt... Batch kedua essential oilku dah tiba bulan lalu dan pastinya langsung kalap dicoba dong.

1. LAVENDER (Lavandula angustifolia)

Essential oil sejuta umat dengan sejuta manfaat. Antiviral. Antibakteri. Antioksidan. Calming effects and curing insomnia. Salah satu oil yang dinyatakan aman buat babies, bumil, dan busui. Oil ini kupakai neat (ga didilute).

So far udah dipakai buat:
- Ngoles bentol si eneng bekas gigitan nyamuk. Cepet kempes dalam itungan jam (biasa bentol si eneng lama sembuhnya) dan besoknya udah ga berbekas.
- Diffuse malem-malem supaya enak tidur dan untuk membunuh kuman. Baunya kurang kecium sih menurutku (kebiasaan diffuse Thieves yang baunya nyengat) jadi musti netesin lebih banyak (sekitar 7 tetes buat 2 jam alias setengah wadah Dewdrop). Not my fave smell karena emang nggak gitu suka floral scents. Besokannya si baby ngantuk terus seharian (gatau deh efek lavender apa kecapean abis dari luar kota hehehe). Setelah beberapa kali diffuse, kayanya lebih ngefek di aku jadi ngantuk banget tapi biasa aja di si baby.
- Ditetesin di krim perawatan muka. Level dompet belom nyampe SKII jadi masih di lepel-lepel L'Oreal sajalah... Rasanya? Biasa aja siihh hahaha... Katanya sih bisa ngurangin keriput, jerawat dan bekasnya. Efek pemakaian sekitar sebulan (tapi kadang kelupaan): lumayan cepet ngeringin dan ngempesin jerawat. Update sesudah pakai 3 bulan: lumayan banget ngurangin bekas jerawat; walau masih nyisa merah-merah tapi nggak korodog alias kasar lagi.
- Krim muka + lavender tersebut kuoles ke kelopak mata pas kena bintitan, dengan logika kalo lavender tuh antibacterial dan bintitan tuh disebabkan bakteri (bukan karena ngintip loh ya)! Besoknya langsung kempes dan nggak gatel lagi. Tapi musti ati-ati olesnya jangan sampai masuk mata.
- Dioles ke tangan si mama yang menderita trigger finger setiap malem sebelom tidur. Ga berhasil euy, level sakitnya udah parah sih.
- Dimasukkan ke botol roll-on, dioles di kulit si mama yang gatal-gatal efek post-menopause. Katanya kerasa enakan banget, tapi pemakaiannya musti agak sering.
- Kumur-kumur waktu sakit gigi dan halitosis. Entah kenapa sakitnya, mungkin karena gigi bungsu mendesak maju lagi, atau panas dalam, atau ga sengaja gigit makanan yang keras jadi luka. Sakitnya ga seberapa tapi bau mulut tuh momok banget buatku, tengsin kan ya kalo ngomong sama orang lain. Abis kumur air matang + 2 tetes lavender oil, mulut langsung seger dan sakit giginya berangsur hilang. Tapi ya napas jadi kaya Tante Susana yah bau kembang hahaha...

Yang belum dicoba:
- Dicampur ke tonik rambut buat nebelin rambut dan ngurangin rontok. 
- Membantu gejala alergi dan sinus (dioleskan ke affected areas, nasal passages, temples, forehead, back of the neck, between the eyes) juga gejala batuk, sakit tenggorokan, asma ringan (dioles di leher dan dada). Diffusing helps, too, katanya. 
- Mengurangi mabuk karena perjalanan.

Kegunaan lain:
- Membantu menyembuhkan luka dan menghilangkan atau mengurangi bekasnya (gigitan serangga, luka bakar, sunburn, goresan, diaper rash), benjol atau memar, iritasi kulit, dan jamur. Catatan: sebaiknya tidak digunakan pada luka yang dalam (kulit terbuka, daging terekspos).
Bener juga, pernah kuoles di bekas luka kena sterilizer panas. Besoknya langsung kering dan mengelupas.
- Insect repellant.
- Pelembab kulit dan bibir. Bisa diteteskan ke produk perawatan tubuh mulai dari rambut sampai ujung kaki.
- Massage oil, diffuse untuk spa, bath oil atau bath salt. Efeknya menenangkan, menghilangkan pegal, mengurangi ketegangan otot dan rasa sakit.
- Dioles ke perut untuk meredakan nyeri menstruasi. Ga pernah sakit mens jadi belum dicoba.
- Menghilangkan bau badan.
- Meningkatkan konsentrasi.

lavenderoil

PS: sudah disertai update penggunaan selama beberapa bulan.


2. FENNEL (foeniculum vulgare)

Kegunaan: antiseptik, laxative, diuretic, galactogogue (penambah ASI), lung and kidney support and to balance the female reproductive system.
Yang ini kupesan buat nambahin produksi ASI yang makin menurun. Sejak baby umur 8 bulan, produksi perahan jadi 400-450 cc sementara kebutuhan masih 5x 100 cc. Dengan peditnya kuirit-irit aja ngasi si eneng sebotol jadi 70-90 cc sambil doa-doa dia mau makan banyakan. Walau sebenernya nggak apa-apa juga kalo ternyata harus dioplos sufor, tapi kupikir mending coba dulu ningkatin produksi aja sebelum menyerah. Harga fennel ini kan Rp 385.000an bisa dipake beberapa bulan sedangkan harga sufor Rp 200-300an cuman itungan harian-mingguan. Lagian takut akunya jadi makin males mompa kalo udah anak udah telanjur kena sufor, aku pemalesan sih *sigh*...

Pemakaian yang dianjurkan buat ningkatin ASI: topical 2-3 tetes di area PD sambil dipijat 3 kali sehari, internal minum 2-3 tetes tiga kali sehari, dan inhalasi. Yang topical kulakukan neat (tanpa dilute) tapi musti ati-ati juga kalo kena area puting dan areola langsung pedes! Takutnya keisep si baby juga. Baunya emang kaya bumbu rempah jamu gitu. Demi anak, rela deh diriku bau encim-encim dilirikin penumpang bus hahaha... Minumnya aku tetesin ke air suhu ruang dulu di gelas beling. Nggak sepedes Thieves. Rasa awalnya pait tapi after tastenya enak, agak manis. Bittersweet gitu jadinya, kaya kehidupan (halah).

Pemakaian pertama Senin pagi : minum 3 tetes + oles masing-masing PD 1 tetes. Senin siang oles-oles lagi. Perahan cuma 400 cc (biasa kalo menjelang menstruasi emang produksi ASI cuma segitu). Malem oles-oles dan minum 3 tetes.
Selasa pagi oles-oles dan minum 3 tetes. Mulai kerasa efek samping: HAUS melulu! Siang oles-oles. Perahan 470 cc. Malem kelupaan karena teler (hari pertama siklus bulan).
Rabu pagi, siang, malam oles-oles dan minum 3 tetes. Perahan 480 cc.
Kamis pagi, siang, malam oles-oles dan minum 3 tetes. Perahan 480 cc.
Jumat pagi, siang, malam oles-oles dan minum 3 tetes. Perahan 480 cc.
Sabtu pagi, siang, malam minum 3 tetes. Nggak sempat pumping, nyusuin langsung.
Minggu pagi, siang, malam minum 3 tetes. Subuh sempat mompa 100 cc karena si unyil dah kekenyangan minum dari 1 nenen dan aku ngerasa perlu ngosongin yang satunya. Tumben lho... biasanya si eneng sanggup ngosongin dua-duanya.
Senin pagi, siang, malam minum 3 tetes. Perahan 460 cc. Mompanya sering kedistract kerjaan.
Selasa pagi, malam minum 3 tetes. Hari libur jadi cuma sempat mompa 80 cc pagi-pagi.
Rabu pagi, siang, malam minum 3 tetes. Perahan 480 cc.
Kamis pagi, siang, malam minum 3 tetes. Perahan 400 cc. Lagi banyak pikiran banget! Hahaha... Terbukti imbas pikiran lebih besar daripada fennel.
Jumat udah nggak pake fennel, perahan dapet 500 cc. Kenapa nggak pakai fennel lagi? Karena pemakaian udah 10 hari, kustop dulu pemakaian fennelnya. Menurut beberapa sumber, fennel ini mengandung Trans Anethole dan sebaiknya setelah 10 hari, pemakaian dihentikan sementara waktu untuk mencegah gangguan hormon yang bisa mengakibatkan kanker. Fennel juga harus dihindari perempuan hamil dan penderita kanker dan tumor. Nah aku kan ada polip mulut rahim jadi serem juga... Ntar aja pake fennel lagi kalo menjelang menstruasi lagi.

Kesimpulan: penggunaan fennel selama masa menstruasi cukup membantu menaikkan jumlah perahan; yang biasanya 400 cc menjelang dan selama mens jadi 480an. Lumayan banget. Tapi tetep musti dipompa dengan rutin setiap 2 jam dan kondisi jiwa raga musti bagus hehehe...

Kegunaan lain: 
- Membantu mengatasi kembung, konstipasi dan kolik.
- Detox dengan cara diminum 1-2 tetes, 2-3 kali sehari. Oles di kaki di vitaflex untuk area liver dan pankreas. Efek samping: sering pipis dan haus.
- Membantu siklus menstruasi yang tidak teratur.
- Expectorant (mengeluarkan lendir).
- Mengurangi obesitas dan anoreksia, nausea, muntah, cegukan, dyspepsia, rematik. 
- Mengurangi keriput dan selulit dengan cara dioleskan (boleh campur ke krim perawatan). Juga bisa membantu menghilangkan memar.
- Mengatasi kencing batu dengan cara pijat 1-2 tetes (diluted for sensitive skin) di area tersebut 1-2 kali sehari.

fennelessentialoilinfographic


3. LEMON (Citrus limon peel oil)

Manfaat: stimulasi (pada jumlah sedikit) atau calming (pada jumlah lebih banyak), carminative, anti-infection, astringent, antiseptic, disinfectant, and antifungal properties. Termasuk oil yang cukup aman untuk babies, tapi hati-hati karena ada efek keras di kulit (seperti kalau kita maskeran pakai air lemon, kebayang kan?) jadi sebaiknya dipakaikan di telapak kaki dan didilute dulu untuk newborn.

Kegunaan lain :
- Mengurangi stress dan rasa lelah, menurunkan demam, menyembuhkan infeksi. 
- Detox dan meningkatkan imunitas dengan diffuse dan diminum.
- Mengatasi insomnia.
- Mencerahkan kulit (tapi hati-hati kalau kena sinar matahari bisa mengakibatkan bercak-bercak di kulit). Kebanyakan orang pakai buat krim malam. Aku sih jaga-jaga aja, nggak mau pakai lemon oil di muka. Sayang bok, kulit putih gini *kemudian ditabok*.
- Mengurangi gejala asma (dengan inhalasi).
- Mengatasi obesitas (menurunkan napsu makan). Nah boleh nih ntar kalo udah nyapih, diet sering-sering pake lemon oil hihi...
- Meningkatkan hair conditions (menumbuhkan rambut, menghilangkan ketombe).
- Mengatasi masalah perut (gas, mual, maag, keram).
- Membersihkan kerak dan kotoran di rumah. Mayan menarik nih, ntar mau kucoba ah.

Yang udah dicoba baru diffuse di kamar dan kantor aja buat bunuh kuman pilek yang muter terus gara-gara ventilasi buruk. Lemon oil bisa meningkatkan imunitas selama masa pencegahan penyakit (ngirit Thieves hehehe). Enak baunya seger, tentunya nggak semenyengat pengharum ruangan macam Glade lemon ya. Kalau di rumah aku diffuse pas weekend atau pagi-pagi, karena takutnya kalo dosisnya nggak tepat, babyku malah ON semaleman hahaha... Musti trial and error dulu nih soal dosisnya.

Pemakaian lain: teteskan 1-2 tetes di masker kain yang kupakai waktu berangkat ngantor (maklum lah ya pengendara ojek dan bus). Sukses mengurangi meler alergi di pagi hari dan aku suka baunya yang seger. Kalau gejala pilek mulai menyerang (pusing, bersin-bersin, meler) juga aku langsung enakan sesudah 15 menitan menghirup bau oil lemon ini.


lemonoil

Segitu dulu ya, kalau nanti ada efek dan kegunaan lain, ntar diupdate.

13 May 2015

Beginner's Review: Young Living Peppermint & Thieves Essential Oil

Sejak hamil, aku suka baca tentang perawatan keluarga dengan cara organik di blog-blog mommies bule dan buanyaak banget yang pake essential oil. Setelah join forum di Indo, ternyata orang Indo pun udah banyak yang pakai. Kebetulan salah satu ibu di birth clubku join member Young Living, jadilah kucoba.

Mengingat harganya yang cukup mihil (Rp 200ribuan s.d. jutaan per botol isi 15 ml!).... aku belinya nyicil dulu sedikit-dikit hehehe... Lagian akunya dari dulu sceptical juga sama aromaterapi; masa iya sih bau-bauan bisa ngobatin penyakit? Dan banyak oil yang katanya ga aman buat baby jadi kupikir mau pakai sendiri dan buat suami aja dulu. Peppermint untuk bantu masalah pencernaan (diare atau konstipasi) dan flu. Thieves blend buat flu.

In the end, ternyata mindsetku yang salah. Essential oil dan aromaterapi bukanlah obat! Tapi betul efeknya bisa membantu kinerja tubuh kita, misalnya buat meningkatkan imunitas, bikin rileks, dsb. Itu pun cocok-cocokan sama kondisi tubuh tiap orang. Kemudian setelah pakai, aku pun ketagihan dan malah terpikat menggunakan essential oil buat si baby karena faktor 100% naturalnya. Mana ratjun dari mommies di birth club pada okey pula testimoninya!

TAPIIII.... nget inget, penggunaan ke anak-anak tuh musti hati-hatiiii sekali! Iyalah yaa... 1 tetes essential oil itu bisa dibuat dari ratusan kg tanaman tersebut, gila kan? Makanya orang-orang bilang essential oil tuh bukan sekedar saripati tumbuhan itu tapi juga jiwanya *woooww dalem*. Efeknya juga dahsyat. Takutnya kita alergi atau ga kuat sama efek tanamannya, malah jadi masalah. Jadi untuk jaga-jaga, semua essential oils kudilute dulu pakai EVOO sebelum dicoba (baik buat dewasa maupun si baby). Situs YLnya aja bilang 'start low and go slow' jadi LESS IS BETTER! Menurut beberapa blog naturopathy dan aromatherapist ternama (duh males sebut satu-satu hahaha), pemakaian essential oil memang sebaiknya sedikit-sedikit aja. Beberapa bahkan sangaaatt hati-hati dengan pembatasan umur buat pemakaian EO. Penggunaan inhalasi aja ga boleh, apalagi topical dan internal.

Nah soal penggunaan inhalasi, YL essential oil ini semuanya bisa digunakan buat aromaterapi. Yaeyalah ya... Cara ini termasuk aman, irit (karena cukup pakai 5-7 tetes buat 4 jam), dan efisien (seisi ruangan dapet manfaatnya). Katanyaa... EO sebaiknya pakai cold mist diffuser dan jangan kena panas karena bisa rusak. Kebetulan ada kenalan jual murah Dewdrop YL diffuser seharga Rp 900 ribu sajah. Langsung beliii! Toh emang ada wacana beli humidifier, jadi sekalian lah yang multifungsi. Malah kalo kita diffuse EO yang antiviral, bisa jadi air purifier juga!

Berikut ini beberapa essential oil yang saya sudah coba dan testimoni saya sebagai user non-seller.

1. PEPPERMINT oil (mentha piperita).
Kegunaan: mengatasi masalah pencernaan dan sakit kepala, meningkatkan energi dan konsentrasi, antiviral dan antibacterial, menekan napsu makan (walau di aku malah bikin lapar hahaha), dll. 
 Pemakaian yang pernah dilakukan:
- Topically: dilute 5-7 drop dalam 20 ml EVOO lalu diolesin ke punggung suami pas dia ga enak badan kena gejala pilek. Doinya sih gapapa, akunya yang masalah. Besoknya produksi ASI berkurang sebotol hahaha... Jadi busui mending ati-ati, walau ga semua busui kena efeknya, tapi peppermint emang bisa nurunin produksi ASI. Sejak itu aku ga berani oles-oles.
- Aromatically: diffuse 3 drop selama 1 jam buat bunuh kuman. Enaaak banget, bikin kamar wangi. Walau sebetulnya efeknya menyegarkan tapi kami pules-pules aja tuh diffuse ini malem-malem.
- Internally: belum.

2. THIEVES 
Blend of Clove (Syzygium aromaticum) bud oil, Lemon (Citrus limon) peel oil, Cinnamon (Cinnamomum verum) bark oil, Eucalyptus (Eucalyptus radiata) leaf oil, Rosemary (Rosmarinus officinalis) leaf oil.
Kegunaan: antiviral, antibacterial, meningkatkan imunitas, energizing, dll.
Pemakaian yang pernah dilakukan:
- Topical: dilute sampai 1% (0,5 ml atau sekitar 20 tetes dalam EVOO 50 ml) buat si bocah, dioles di telapak kaki. Sebenernya menurutku sih ga terlalu panas, tapi jaga-jaga aja karena beberapa sumber menyarankan buat tidak menggunakan Thieves buat anak di bawah 10 tahun (topical maupun aromatically). Kenapa? Karena kandungan 1,8-cineole dalam Rosemary dan Eucalyptus bisa mengurangi fungsi pernapasan pada anak-anak yang sensitif dan karena efek panas dari Clove dan Cinnamon Bark. Tapi aku masih berani pakein di si unyil (pemakaian pertama tetep didilute dulu sih) karena minyak kayu putih pun sebetulnya ada 1,8-cineolenya dan si unyil kuat-kuat aja tuh. Rosemary sendiri sebetulnya aman buat babies, tapi harus didilute. Aku dan bapaknya juga nyoba pakai di telapak kaki sebelom bobo ketika sekeluarga kena pilek. Kalo menurut kami mah, yang neat (tidak didilute) pun nggak kerasa panas. Masih lebih panas minyak kayu putih.
- Aromatically: Panduannya mah diffuse selama 15 menit, tiga kali sehari buat pencegahan penyebaran virus. Aku pakai 3-4 tetes Thieves plus 2 tetes peppermint buat diffuse 1 jam, tiga kali sehari karena virusnya terlanjur nyebar. Pertama kali diffusenya pas si bocah ga di kamar karena alasan di atas. Begitu anaknya keliatan ga kepengaruh sih diffusenya pas dia mau bobo biar kehirup juga sama dia. Baunya kenceng, mungkin karena kandungan cengkehnya. Pokoknya kaya rempah-rempah gitu. Aku suka, paksu biasa aja, mamahku bilang bau hihii...
- Internally: Nah saking udah putus asa sama pilekku, nekad kuminum 1 tetes pake aer anget. Bener lho enakan. Ada 1 blog yang bilang emang ginilah metode tertokcer yang dia cocok kalo flunya udah terlanjur menyerang. Sebulan kemudian, suamik gejala batuk. Kusuruh minum juga setetes pake aer anget (walo sambil ngernyit-ngernyit) pagi-pagi. Bener tuh seharian ga batuk lagi.

Salah satu kejadian sekeluarga kena pilek dan diterapi Thieves:
Minggu tgl 3 suami mulai ga enak badan karena kurang tidur, berlanjut sampe minggu depannya, yang mana tgl 9 bocah mulai meler-meler dan tgl 10 malem aku ikutan meler. Itu tuh lagi di luar kota dan ga bawa EO. Yasud bocah dicekokin Kehongsan doang, mak bapaknya minum vit C dan imboost. Tgl 11 mulai diffuse-diffuse dan oles-oles Thieves, tgl 12 aku tepar dan cuti, trus malem aku minum setetes Thieves. Bocah sih untungnya dah sehatan (tapi masih kami kasi Kehongsan dan oles Thieves di telapak kakinya sebelum bobo malem). Tgl 13 udah bisa kerja walau masih agak lemes dan tgl 14 kami semua udah sehat. Lumayan banget lah, biasanya aku musti cuti 2 hari dan baru sembuh total 10 harian walau minum obat flu.
Kesimpulan: next time Thievesnya musti mulai kudiffuse begitu musim penyakit tiba dan oles-oles begitu kurang tidur dan kecapean. Bocah juga musti diolesin sebelom bepergian atau begitu mak bapaknya ga enak bodi. Maklum cosleeping, gampang nular.

Berdasar 2 bulan penggunaan EO, aku nyadar kalo aku MUSTI BANYAK RISET dan hati-hati soal pemakaiannya. Kemasannya yang munyil dan praktis bikin produsen ga bisa mencantumkan efek samping dan kegunaan masing-masing oil dengan lengkap (misalnya kedua oil di atas tidak disarankan dioles di dada dan dekat hidung anak-anak). Berikut beberapa situs tempat aku belajar soal EO:
- learningabouteos.com milik Lea Harris (ceritified aromatherapist)
- thehippyhomemaker.com milik Christina Anthis (calon aromatherapist)
- growingupherbal.com milik Meagan Visser (housewife with nurse education)
Mereka kebanyakan ngikutin sarannya Robert Tisserand dalam safety usage of EO, jadi batasan umur dan dilutionnya juga ketat banget (kaya soal Thieves ga dipake anak di bawah 10 tahun ituuh). Akhirnya sih balik lagi ke kitanya ya. Kaya yang kupikir soal bocahku udah biasa sama minyak kayu putih (yang juga mengandung 1,8-cineole) jadi ndak apapalah kupakein Thieves yang didilute. Itu pun di telapak kaki. Dan untungnya emang anaknya kuat.
Mereka juga menyarankan penggunaan EO tidak dilakukan secara terus menerus (long and continuously). Yang ini aku setuju. Seperlunya aja dan kasi rehat setelah pemakaian selama beberapa hari.

Nah gara-gara mereka juga, aku jadi pesen lavender dan lemon buat si kecil! Dua oil itu termasuk 'must have' karena termasuk aman buat babies dan buanyaak banget kegunaannya. Aku juga pesan fennel buat banyakin ASI. Lagi nunggu kirimannya tiba (padahal ya belom bayar juga) hehehe...

19 March 2015

Baby L Sakit Pertama Kali!

Seperti yang udah saya ceritakan di post sebelumnya tentang home therapy buat bayi sakit, si neng Euis pileekk sesudah imunisasi di ulang bulan ke-5! Huhuhuu...Mungkin terpapar virus waktu di RS.

Gejala awalnya di hari ke-1, si baby tidak demam tapi napasnya mulai bunyi grok grok grok kaya tersumbat lendir. Waktu itu saya mikirnya 'oh mungkin sisa lendir newborn, ada yang belum keluar karena akhir-akhir ini nggak bisa jemur'. Bulan Januari itu memang lagi mendung terus. 

Hari ke-2, baru deh saya yakin kalau anak ini sakit... nyusu cuma mau sedikit tapi nangis terus kelaparan. Napasnya kaya sesak, sepertinya ingusnya tersumbat. Kadang-kadang meler (biasanya kalau habis mandi berendam air hangat) dan kami bersihkan pakai tisu yang dipuntir-puntir supaya bisa masuk lubang hidungnya. Kondisinya naik turun, bentar ceria, bentar sesak dan ngamuk, gitu terus. Sorenya sehabis disusuin, gumoh 2 kali, lendir semua. Akhirnya kami posisikan badannya agak lebih tinggi, pakai bantal kepala yang agak kempes. Biasanya kalau malam nyusu sambil tiduran, nah sakit gini musti dipangku.

Hari ke-3, kami pakaikan Transpulmin Baby Balsam di badannya dan oles PureKids Decongestant Oil di bantal dan bajunya. Kadang sekalian saya suruh hirup baunya (botolnya ditaruh di depan hidungnya). Saya juga teteskan Breathy di hidungnya supaya ingusnya cair. Saking takut perih, saya cobain dulu Breathynya ke hidungku. Tapi tetap aja anaknya nangis, kesel kali ya, diapain sih inii? AC dipasang di 27C doang, cuma supaya nggak sumpek aja. Kami masih tetap mandikan 2 kali sehari karena anaknya suka mandi dan air hangat bantu mencairkan ingusnya. Di airnya juga kami tetesi minyak kayu putih. Begitu keringetan pasti ganti baju. Kami ga pakaikan baju tertutup, yang penting tetap hangat aja. Kondisinya masih naik turun, kalau lagi ga mampet sih ceria-ceria aja main. Karena saya kerja, saya titip ke mama saya supaya sering-sering tawarkan ASI perah ke si unyil.

Hari ke-4 dan 5, kami teruskan metode sebelumnya dan mulai beri obat Qing Feng San (Kehongsan) sesuai saran sahabat saya. Kebetulan dekat rumah ada toko obat cina. Satu ampul (bentuknya kaya guci keciiil sekali, dari plastik ditutup gabus) bisa buat 3 kali pemberian. Saran penjualnya sih untuk anak 5 bulan kasih setengah ampul, tiga kali sehari, tapi waktu kami coba jadinya pekat (kalau diencerin jadi kebanyakan) dan anaknya ogah. Kami tuang 1/3nya (dikira-kira aja) dengan bantuan tusuk gigi ke sendok lalu dikasih air hangat. Pelan-pelan kami suapkan ke si kecil lalu kami beri air putih. Sehari kami kasih 3 kali. Saya masih keukeuh nggak usah bawa ke dokter karena nggak demam sama sekali.
Kami juga coba sedot ingusnya dengan Pigeon nasal aspirator yang pakai selang (jadi mama saya yang pegangin si baby, lalu saya yang nyedot). Nangis sejadi-jadinya, kaget kali ya, tapi abis itu legaan. Kadang kalau dia nolak disedot sih kita bersihkan pakai tisu aja. Kalau dia sedang menyusu, saya oleskan minyak kayu putih di baju saya dan bagian atas dada supaya bantu napasnya.
Badannya terus kami balur dengan minyak kayu putih karena Transpulmin nampaknya ga ngefek. Kami coba 'terapi uap tradisional' ke dia dengan cara netesin minyak kayu putih ke gelas berisi air panas (kenapa gelas, karena saya pikir ga sebahaya baskom; at least mukanya ga akan nyemplung ke gelas) trus taruh di depan mukanya. Saya cobain dulu tuh hirup uapnya; pernah kepedesan soalnya, sampai mata saya aja perih. Kami tutup kain di atas kepala si bayi dan gelasnya biar uapnya lebih terarah (berani kami lakukan karena berdua meganginnya; saya pegang gelas dan kain, mama saya pegang si bayi). Hasilnya? Tentunya anaknya marah-marah hehe... tapi kan yang penting ingusnya mencair.

Hari ke-6 sampai ke-8, kondisinya membaik tapi kadang masih nangis karena tersumbat atau meler. Kami masih teruskan perawatannya, tapi makin susah ngasi Qing Feng Sannya, dilepeh terus. Pahit sih ya... Saya coba kasih pakai medicine feeder, anaknya nangis kejer sambil dia muntahin 'koeekk' gitu. Kasihaan banget liatnya. Mungkin dia juga pusing tapi ga bisa bilang ya?

Hari ke-9 nangisnya udah berkurang dan kayanya udah ga sesak, tinggal sisa suara grok grok aja. Suara grok-groknya itu baru ilang sekitar seminggu kemudian. Nyisa manjanya nemplok melulu (belakangan baru ketahuan dia mulai teething begitu sembuh pilek).

Nah abis ngalamin hebohnya anak pilek gini, jadi dilema dong.
- Perlu beli nebulizer ga sih?
- Ini metodenya udah bener belom yah?
- Kalo masih grak grok berlendir gini, apa indikasi asma yah? Mana emak bapaknya asma.
Langsung saya googling nyari DSA (dokter spesialis anak) yang terkenal mempraktekkan RUM (rational use of medicine). Ketemu beberapa nama di sekitar BSD, dan saya tertarik konsul ke dr. Johannes Ridwan di Gading Serpong karena dia juga spesialis pulmonologi (paru-paru). Vaksinasi bulan ke-6 kami pergi ke praktiknya di Bethsaida Hospital.

Belakangan baru kami  tahu dari dr. Johannes, bahwa:
- Kalau ada matahari (walau nggak panas), anak tetap bisa dijemur.
- Begitu denger kalo aku nguap anak pake aer panas, dokternya geleng-geleng. Oops hihi! Penguapan tradisional kurang dianjurkan karena bahaya lah ya naro air panas di depan muka anak yang masih ga ngerti dan ga bisa diem gini. Dokter saranin pake vaporizer aja.
- Untuk obat, dokternya tipe yang nggak kasih antibiotik kalau belum perlu. Tapi dia malah ngizinin aku kasih Qing Feng San. Nebulizing juga dia kasi cuman kalo perlu, dan dia ga suggest beli home nebulizer.
- Decongestant mending pakai Sterimar daripada Breathy karena bentuknya spray jadi lebih gampang dan tepat guna. Kalau Breathy kan musti ditetesin, riweuh jadinya. 
- Anak yang kedua ortunya asma emang punya kecenderungan asma juga, minimal alergi lah. Pencegahannya ya cuma dengan menghindari penyebabnya (misalnya debu). Vacuum kasur setiap hari (di rumahku sih cuma dikebutin pake sapu lidi hehe).
Selebihnya sih metode pengobatan rumahan kami udah bener.

PR kami: nyari vaporizer atau humidifier, yang bisa ditetesin inhalant. Aku malah penasaran pingin nyari yang bisa ditetesi essential oil nih. Si dokter nyaranin vaporizer dan inhalant Kaz tapi di Indo ga ada yang jual. Aku sampe kirim e-mail ke companynya, katanya emang ga jual. Mungkin mu nitip temen di US aja, in sya Allah si unyil ga pake acara pilek-pilek lagi.

Duhh kapok deh pokoknya ngalamin bayi sakit, cukup sekali ini sajaa! Suka berandai-andai, kalo tinggal di negara yang udaranya lebih bersih mungkin anaknya bisa lebih cepet sehat ya, pagi-pagi dibawa keluar hirup udara segar. Di Serpong mah, puihhh! Mana bisa!

Dan saya suka heran liat orang-orang bawa anaknya lagi batpil jalan-jalan ke mall ato apalah. Ya okelah situ yakin anaknya ga apa-apa, tapi apa ga mikir kalo nularin anak lain? Saya mah takut banget anak saya nularin anak lain. Mana tetangga ada yang anaknya batpil melulu tapi suka pingin gendong-gendong anakku. Hih! Virus semua, syuhh syuuhh! 
OOT: di bus juga aku perhatiin banyak yang batuk dan srat srot pilek tapi pada ga pake masker. Ginilah Indonesia. Malah yang sehat yang musti pake masker dan melindungi diri. *narik napas dalem 
**eh pasang masker dulu ding

Musim penyakit nih, baik-baik pada jaga kesehatan sekeluarga yahh! Semoga sehat semua!

16 March 2015

Home Therapy buat Bayi Batuk Pilek



When she was five months old, my daughter received her third DPT-BCG-HIB vaccine at the hospital then went with us to our aunt's house. During the trip, she caught cold (most probably because of her immune is weakened from the shot). The next day she was quite fussy (we thought it was her being uncomfortable from the shot) and on the second day her nose was congested; she wasn't feverish at all but she became very fussy and cried a lot. Her breathing sounds like clogged with phlegm (different from noisy grook-grook sounds she had during newborn stage).


We decided to give her home therapy:
  1. Raise the room temperature and lower AC's fan speed (or turn off AC if possible). Make sure it's not too hot and has good air circulation.  
  2. Don't bundle the baby too much. Keep the room temperature warm but let the baby wear light cotton clothes that absorb her sweat and covered with light blanket. Change her clothes every time she perspires.
  3. Let her sleep as much as she wants and avoid strenuous activities. If the baby got difficulty in breathing when sleeping horizontally, raise her head position. Even better: let the baby sleep on mom's chest (mom in semi-sit position), skin-to-skin, with her back covered with warm blanket.  
  4. Rub her body with warm oil like baby balsam, minyak telon, cajuput/eucalyptus oil, menthol, etc. I think cajuput oil is much warmer than Transpulmin baby balsam. I haven't tried Vicks baby, tho. Adjust with the baby's skin tolerance.  Good tip: rub it on her feet, too, then cover with socks. It also works for adults.
  5. For congested nose, drop NaCl (like Breathy) into her nose; or as our pediatrician suggested, use spray nasal decongestant like Sterimar. Wait a moment until it works then suck the mucus using nasal aspirator. FYI, Breathy can also help to get baby's nose dirt out. Some babies found comfort when decongestant oil (Purekids, etc) is dropped on her clothes and her pillow.
     
    Pigeon and Nose Frida nasal aspirator with tube
    Sucking the snot directly by mouth is not suggested because it can spread the virus. The types of nasal aspirator can be found here. I prefer to use TUBE type nasal aspirator (rather than the bulb type) so I can suck by mouth in hygienic way and adjust the suction level. I use Pigeon nasal aspirator (2015 price: Rp 65,000).
  6. Warm steam can help getting the phlegm out. Traditional way is to drop oil (minyak telon, cajuput, eucalyptus etc) to hot water and let the baby breath in the vapor. This way is a bit tricky though. We have to hold the baby and put water container very carefully. Best way is using vaporizer.
  7. Give her a warm bath or two daily. It also can help during fever. Drop a little of cajuput oil on her bath water (of course after you wash her head and face). 
  8. Measure her temperature once or twice daily and learn the pattern. Sometimes baby's body temperature only rises at night, or it rises for several days and cool down for some time, but it rises again. The pattern will help doctors to determine the cause of fever.

    Tips for Taking Temperatures

    As any parent knows, taking a squirming child's temperature can be a challenge. But it's one of the most important tools doctors have to determine if a child has an illness or infection. The best method will depend on a child's age and temperament.
    For kids younger than 3 months, you'll get the most reliable reading by using a digital thermometer to take a rectal temperature. Electronic ear thermometers aren't recommended for infants younger than 3 months because their ear canals are usually too small.
    For kids between 3 months to 4 years old, you can use a digital thermometer to take a rectal temperature or an electronic ear thermometer to take the temperature inside the ear canal. You could also use a digital thermometer to take an axillary temperature, although this is a less accurate method.
    For kids 4 years or older, you can usually use a digital thermometer to take an oral temperature if your child will cooperate. However, kids who have frequent coughs or are breathing through their mouths because of stuffy noses might not be able to keep their mouths closed long enough for an accurate oral reading. In these cases, you can use the tympanic method (with an electronic ear thermometer) or axillary method (with a digital thermometer).
  9. If she's feverish, apply warm damp towel or warm hotpack to her armpit and groin (not on forehead) for 5-10 minutes then dry it gently. Never use cold water or alcohol!
  10. Go to the doctor if the fever has reached 38C (for baby 3 months or younger) or 39C (for older baby), or when you feel have to. Search doctors with RUM (Rational Use of Medicines), who give antibiotics only when needed and provide parents with good consultation on home remedy. Petunjuk kapan harus membawa bayi ke dokter bisa dilihat di sini (dalam bahasa Indonesia).
    From kidshealth.org:
    Call the doctor if an older child has a fever of less than 102.2°F (39°C) but also:
    • refuses fluids or seems too ill to drink adequately
    • has persistent diarrhea or repeated vomiting
    • has any signs of dehydration (peeing less than usual, not having tears when crying, less alert and less active than usual)
    • has a specific complaint (like a sore throat or earache)
    • still has a fever after 24 hours (in kids younger than 2 years) or 72 hours (in kids 2 years or older)
    • has recurrent fevers, even if they only last a few hours each night
    • has a chronic medical problem such as heart disease, cancer, lupus, or sickle cell anemia
    • has a rash
    • has pain while urinating
    Seek emergency care if your child shows any of these signs:
    • inconsolable crying
    • extreme irritability
    • lethargy and difficulty waking
    • rash or purple spots that look like bruises on the skin (that were not there before the child got sick)
    • blue lips, tongue, or nails
    • infant's soft spot on the head seems to be bulging outward or sunken inwards
    • stiff neck
    • severe headache
    • limpness or refusal to move
    • difficulty breathing that doesn't get better when the nose is cleared
    • leaning forward and drooling
    • seizure
    • abdominal pain
  11. Give a lot of fluid to the baby. If the baby has already had solid and refused water, offer her juice or broth (with no sugar and make sure the baby is not allergic to the ingredients). Let her have healthy food that's easy to chew. When I went to work, I asked my mom to give my daughter a lot of my expressed breastmilk even when she didn't ask for it. At home, I offered my baby to breastfeed anytime, as long as she wanted to. I put some cajuput on my upper breast and clothes to help her congested nose.
  12. Some parents use essential oil for home remedy. I haven't tried one.
  13. Give her medicine (acetaminophen or ibuprofen is considered safe for babies but ibuprofen isn't recommended for babies under 6 months or for those who are dehydrated or have consistent vomiting) only after consulting a doctor because the baby's weight determine the right dose.
  14. Some kids have seizure *amit-amit* during fever. Here is some information about seizure and how to handle it.

FEVER FACTS from kidshealth.org
 
Fever happens when the body's internal "thermostat" raises the body temperature above its normal level. This thermostat is found in a part of the brain called the hypothalamus. The hypothalamus knows what temperature your body should be (usually around 98.6°F/37°C) and will send messages to your body to keep it that way.
Most people's body temperatures even change a little bit during the course of the day: It's usually a little lower in the morning and a little higher in the evening and can vary as kids run around, play, and exercise.
Sometimes, though, the hypothalamus will "reset" the body to a higher temperature in response to an infection, illness, or some other cause. Researchers believe turning up the heat is the body's way of fighting the germs that cause infections and making the body a less comfortable place for them.

It's important to remember that fever by itself is not an illness — it's usually a symptom of an underlying problem. Fevers have a few potential causes:
Infection: Most fevers are caused by infection or other illness. A fever helps the body fight infections by stimulating natural defense mechanisms.
Overdressing: Infants, especially newborns, may get fevers if they're overbundled or in a hot environment because they don't regulate their body temperature as well as older kids. However, because fevers in newborns can indicate a serious infection, even infants who are overdressed must be checked by a doctor if they have a fever.
Immunizations: Babies and kids sometimes get a low-grade fever after getting vaccinated.
Although teething may cause a slight rise in body temperature, it's probably not the cause if a child's temperature is higher than 100°F (37.8°C).

Kids whose temperatures are lower than 102°F (38.9°C) often don't need medication unless they're uncomfortable. There's one important exception to this rule: If you have an infant 3 months or younger with a rectal temperature of 100.4°F (38°C) or higher, call your doctor or go to the emergency department immediately. Even a slight fever can be a sign of a potentially serious infection in very young infants. If your child is between 3 months and 3 years old and has a fever of 102.2°F (39°C) or higher, call your doctor to see if he or she needs to see your child. For older kids, take behavior and activity level into account. Watching how your child behaves will give you a pretty good idea of whether a minor illness is the cause or if your child should be seen by a doctor.
The illness is probably not serious if your child:
  • is still interested in playing
  • is eating and drinking well
  • is alert and smiling at you
  • has a normal skin color
  • looks well when his or her temperature comes down
A simple cold or other viral infection can sometimes cause a rather high fever (in the 102°-104°F/38.9°-40°C range), but this doesn't usually indicate a serious problem. And serious infections might cause no fever or even an abnormally low body temperature, especially in infants.

We didn't take the baby to pediatrician and she got cured in 10 days (what a terrifying week to us), but we consult one on her next shot. I searched for RUM doctor and we went to dr. Johannes Ridwan at Bethsaida Hospital. The doctor agreed with giving of Kehongsan (Qing Feng San), a Chinese herbal medicine. He shook his head hearing me giving traditional steam remedy *heehee* and suggest us to use Kaz vaporizer. He will give medicines and/or nebulizer therapy only when needed.

What is the difference between nebulizer, vaporizer, and humidifier?
- Humidifier convert liquid into mist but only to humidify the air (hence, the name). It can help asthma and dry skin.
- Vaporizer also convert liquid (and can be added with medications) into mist and disperse the mist throughout a room and thus are not a reliable form of medication delivery, though the mist itself can still have health benefits.
The usage of 'vaporizer' and 'humidifier' term is ambiguous when searching for seller, moreover aromatherapy or diffuser features in humidifiers. Some people use term humidifer when the appliance produce cool mist and vaporizer for hot vapor.
- Nebulizer are designed to deliver prescription respiratory medications by dissolving the medicine into a light mist which can be breathed in through a mouthpiece. Breathing in mist helps open up one’s airways and can be useful in treating asthma, allergies and a variety of respiratory diseases. It was initially used for asthma treatment, especially for younger kids who haven't been able to use asthma inhaler. Using home nebulizer is not forbidden but MAKE SURE YOU CONSULT THE DOCTOR ABOUT THE PRESCRIPTION AND ITS DOSAGE!