10 March 2016

Random Thoughts - Feb 2016



Gara-gara bedrest (ya sebenernya ga beneran berbaring di kasur sih, kadang di sofa, banyak juga jalan ngambil cemilan dan ke kamar mandi buat hoek hoek hahaha), jadinya aku kebanyakan mikir deh. Apalagi sempat ada kejadian mengerikan pengeboman dan penembakan di Thamrin. Puji Tuhan saat itu suamiku lagi nggak ngantor di Sudirman jadi aku ga terlalu waswas karena sempat beredar hoax bahwa pengebomnya kabur naik motor ke arah Semanggi membawa senjata api. Di sosmed, para netizen langsung mencurahkan emosi dalam bentuk hashtag, cuitan, dan meme. Namanya juga Millenials (tertawa getir karena I’m included). Mulai dari #KamiTidakTakut, #JakartaBerani, tukang sate yang tetap laku berjualan di dekat lokasi pengeboman, ngetawain teroris ISIS sampai ribut-ribut soal polisi ganteng fashionable yang berlangsung sampai malam. “Dangkal,” kata beberapa orang, “mudah dialihkan”. Tapi menurutku, itu reaksi yang manusiawi. Ketika tidak langsung terlibat atau menjadi korban dalam suatu peristiwa buruk, manusia cenderung mencari hal untuk mengalihkan kesedihan dan rasa takut mereka. Humor adalah salah satu skill untuk bertahan hidup, untuk mencegah rusaknya jiwa, walau batas humor yang bisa diterima dengan humor yang tidak sensitif menjadi sangat kabur karena sifat subjektifnya.

Menurutku pribadi, #KamiTidakTakut bukan berarti kita sepenuhnya tidak perlu merasa takut. Rasa takut adalah salah satu insting dasar manusia buat bertahan hidup. Lihat aja bayi, salah satu hal yang pertama dia rasakan adalah rasa takut. Rasa takut membuat manusia menghindari hal-hal yang membahayakan nyawanya. Ketiadaan rasa takut malah bisa berakibat kita menjadi lengah, jumawa, dan akhirnya mati konyol. Aku lupa ini quote dari siapa, tapi ada yang bilang bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut tapi kekuatan untuk melawan rasa takut itu sendiri. I agree.

BTW, di Alkitab katanya frase ‘Jangan takut’ disebutkan 365 kali lho (maaf, nggak pernah ngitung sendiri dan nggak pernah khatam baca Alkitab hehehe). Kalo menurut penafsiranku, Tuhan juga nggak bermaksud menyuruh manusia supaya tidak merasa takut sama sekali, tapi untuk menyerahkan ketakutan kita kepada-Nya. Kan Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih besar daripada yang sanggup kita terima ya…

Terus aku jadi kepikiran 7 Deadly Sins menurut ajaran Kristen (karena otak makin melantur). Kemalasan. Amarah. Kerakusan. Ketamakan. Cemburu. Nafsu. Kesombongan. Mana yang masih mengikatku yah? Dulu mah mungkin envy, misalnya sirik ngelihat orang lain jalan-jalan ke luar negeri melulu, sirik lihat artis yang tenar untuk alasan gaje bisa beli rumah mewah dan mendapat endorsement produk-produk keren (LOL ini pasti nggak cuman gue yang ngalamin, hayo pada ngakuuu!), dan schadenfreude alias ngetawain penderitaan orang lain. Tapi yaa ntahlah, sejak punya anak aku lebih ngerasa somehow fulfilled aja. Rasanya ya ‘tiap orang udah ada rejekinya masing-masing’ tuh bener dan ga kerasa sirik kalau orang lain kelihatan happy. Toh aku juga bahagia, apa yang mau disirikin?

Rakus sama tamak juga kayanya sih aku nggak, yah secukupnya aja lah… Cukup kenyang, cukup enak, cukup puas hehehe… Amarah juga hampir nggak pernah, paling setahun sekali lah. Tapi kalau aku marah nyeremin lho, makanya jangan macem-macem. BTW kalo manyun, bete, ngambek mah sering, tapi masih terkendali. Amarah ini dosa yang kayanya enteng dan wajar terjadi tapi paling mudah merusak hubungan keluarga lho, ngeri. Soalnya ketika marah, kita bisa mengucapkan kata-kata jahat ke orang yang kita sayangi. Tahu nggak penelitian tentang tumbuhan yang jadi busuk ketika dimaki-maki dan jadi sehat segar ketika dipuji dan disayangi? Kalau tumbuhan aja punya perasaan, apalagi hati manusia.

Nah layaknya manusia lain, saya juga tetap punya dosa kok. Dosa yang masih mengikatku mah pastinya KEMALASAN! Mbwahaha…  Procrastination itu menyenangkan yaa, gimana doong? Ini masih butuh effort nyembuhinnya.

Oya, masih ada lagi dosa nafsu. Ini juga nyeremin dan life-ruining. Pemerkosaan. Perselingkuhan. Sampe bawa-bawa dukun santet. Pedofilia. Ngomong-ngomong perkosaan, Tahun Baru 2016 lalu terjadi pemerkosaan massal di Eropa. Yang paling ramai diberitakan tentu saja yang di Jerman, karena korban dan pelakunya mencapai ratusan (atau bahkan ribuan) orang. Mengerikan, perempuan-perempuan yang sedang berjalan menuju tempat merayakan tahun baru (bersama keluarga, teman, bahkan pasangan mereka) diserang oleh banyak orang sekaligus, ditelanjangi atau dibuka paksa pakaian dalamnya, dan segala ‘celah’ di tubuhnya dimasuki jari dan entah apa lagi oleh orang-orang jahanam itu.

Tentunya sulit dipungkiri efek pengungsi dari Timur Tengah ke Eropa. Susah ya kalo urusan refugee gini. Saya sendiri pendukung bantuan kemanusiaan buat para pengungsi (baik itu Syria, Rohingya, dll) tapi sepertinya memang perlu ada batasan-batasan karena adanya perbedaan nilai budaya. Berkenaan pengungsi ini, mungkin next time saya bahas, mungkin juga ga akan saya bahas karena saya ga punya solusinya dan takut malah dikira rasis.

Yang lebih menarik minat saya yaitu dalam ramainya pemberitaan tentang hal ini, masih ada lho yang bilang bahwa penyerangan itu bukan pemerkosaan! Alasannya? Karena tidak terbukti adanya penetrasi alat kelamin. Eh woyyy!!! Langsung stress deh aku rasanya. Itu yang ngomong pasti laki-laki goblok. Kalau itu perempuan yang ngomong, wuaahh… gobloknya ga ketulungan. I’m not sorry for being rude. 

Pemerkosaan itu adalah tindakan seksual yang tidak konsensual. Mau masukin jari ke pantat kek, mau penis dimasukin ke mulut instead of vagina kek, atau apapun bentuknya, emangnya itu cewe-cewe setuju? Yang kaya gini nih hasil men-taboo­-kan pendidikan seks. Pola pikirnya jadi picik dan tidak punya empati. Padahal, buat seorang perempuan, ‘sekedar’ diraba (bahkan di tangan atau organ lain selain pantat, boobs & vagina) oleh orang yang tidak dia inginkan tuh udah suatu bentuk serangan seksual dan bisa menimbulkan trauma lho. Dipaksa ‘melayani’ suami ketika si istri tidak mau pun udah bentuk pemerkosaan. Pemerkosaan terhadap laki-laki oleh pelaku perempuan juga ada lho. Sayang banyak yang nggak tahu itu. AKIBAT KURANGNYA PENDIDIKAN SEKS! *menghela napas panjaaaang sekali*

Hal lain yang sering dikaitkan dengan dosa hawa nafsu adalah LGBT. Naahhh… pas lagi rame banget nih ya akhir-akhir ini. Pendapat mayoritas masyarakat Indonesia, tentu saja, menentang keras LGBT. Saya sendiri? Miris.

Yah gak tahu lah… saya ini memang kurang dalam mempelajari agama, tapi saya nggak mau menuduh orang lain ‘berdosa’ ketika saya sendiri pun bukan makhluk suci. Apakah saya menganggap LGBT termasuk dosa NAFSU? Jujur saja, nggak. Nggak, kalau si LGBT tersebut nggak terlibat dalam pemerkosaan, seks bebas atau perselingkuhan (sama aja kaya orang straight, menurutku). Dan please… kenapa juga sih LGBT suka dikaitkan dengan pedofilia? Kalau pedofilia mah ya iya lah jelas banget salah… memanipulasi anak kecil untuk kepuasan seks pribadi. Malah memang sepantasnya masuk kategori kelainan jiwa. Tapi kalo LGBT mah menurutku (yang awam dan ga religious ini) udah dari sananya. Bukan pilihan, bukan penyakit. Dan jelas ga menular. Kalo ada yang bilangnya tertular karena waktu kecil digrepe om-tante atau apalah, menurutku ga bisa digeneralisir yah. Teman-temanku yang LGBT nggak ada yang hasil ‘penularan’. Kalau memang LGBT itu menular, pasti suamiku udah ketularan hahahah… secara teman-teman dekatnya waktu kuliah juga LGBT. Makanya aku ga ngerti kalau ada istilah 'propaganda LGBT' untuk menyebarkan 'virus LGBT'. Whaattt?

Menurutku lagi, kalau pun ada yang tertular, itu karena memang dalam dirinya udah ada potensi ke sana. Yep, aku percaya pada teori spektrum seksualitas, di mana ada manusia yang nggak 100% heteroseksual ataupun 100% homoseksual. Banyak binatang pun menunjukkan perilaku tersebut. Misalnya, ada orang yang punya ketertarikan pada sesama jenis, walau dia pun tertarik ke lawan jenis. Banyak yang bilang istilahnya biseksual, tapi menurutku dalam spektrum seksualitas, istilah ini terlalu menggeneralisir. Contohnya gimana? Ya mungkin kaya diriku. Ketertarikan seksual ke lawan jenis itu so far cuma sama suamiku, puji Tuhan. Dan aku lebih suka lihat badan perempuan daripada laki-laki hahahaha! Perempuan tuh cantik, indah, enak dilihat. Laki mah jijay hahahaa… Malah kalau lihat cewe cantik di mall, aku yang kagum, bukan si pak suami hahahahaa… Tapi bukan berarti aku pengen berhubungan seks sama perempuan lho. Nah ‘normal’ kah diriku atau layak dikategorikan LGBT? Hayo…

Satu lagi dalam teori spektrum seksualitas: seksualitas kadang tidak bersifat permanen pada beberapa orang. Makanya bisa ada kejadian orang yang kelihatan straight tiba-tiba ‘coba-coba’ dan yang tadinya LGBT ‘insyaf’. Istilah yang kuberi tanda petik itu tandanya aku sendiri nggak sreg sama penggunaannya di media yah.

Yah, di luar perdebatan kewajaran LGBT atau dosa-tidaknya LGBT (itu mah ranah lain dan boleh dibilang nggak akan ada titik temunya yah antara kedua pola pikir tersebut), ada satu hal yang sangat bikin aku miris. Yang namanya orang-orang yang ngaku beriman kok begitu mudahnya ya menistakan, melecehkan, merendahkan sesama manusia hanya karena LGBT? Iya tahu, mungkin sebagian karena rasa takut, tapi terpikir nggak sih kalau orang-orang yang dibilang ‘menjijikkan’, ‘sakit jiwa’, dll itu tuh adalah manusia juga? Manusia yang punya perasaan, punya hati? Manusia yang juga punya ibu, seperti kita semua, yang mungkin sedang menangisi nasib anaknya yang dinistakan masyarakat?

Coba deh baca komik IS. Iya, judulnya IS, kependekan dari Inter Sex. Cari tahu soal anak-anak yang dilahirkan dalam kondisi jenis kelamin yang nggak sedeskriptif konteks umum, and yes, they were BORN that way (kelainan genetis dsb). Sedih banget, kebayang kalau anak, adik, keponakan, atau diri sendiri yang ngalamin kaya gitu. Mereka terlahir demikian. Nggak sesuai ‘norma’ yang berlaku, tapi demikian adanya kondisi biologisnya.

Menurutku nggak ada bedanya sama kaum homo-biseksual. Mereka juga mengalami pergumulan sendiri, dan pergumulan itu nggak mudah. Kalau kita malah menistakan mereka, apa nggak makin kacau jiwanya? Ibaratnya, yang tadinya pingin ‘sembuh’ pun menjauh dari lingkungan asalnya, terutama dari lingkup religius yang keras menolak dirinya, dan membentuk komunitas sendiri. Ehh, udah begitu pun, masih dituduh komunitasnya tersebut mempropagandakan LGBT. Cape banget, kebayang nggak sih hidup kaya gitu, apa nggak kasihan. Puji Tuhan, saya ada teman gay yang masih mau beribadah dan menyerahkan dilemanya kepada Tuhan.

Lalu coba deh bayangkan. Misalnya kita sehari-hari berkomentar dengan ringan di depan anak-anak kita ketika melihat homoseksual bergandengan tangan atau di TV ada transeksual, “Jijik ya ih, amit-amit deh!” apalagi kalo ditambah, “Kalau itu anak Mama, udah Mama buang kali!” atau sejenisnya. Bayangkan, si anak yang sering mendengar itu, kemudian mengalami pergumulan tentang orientasinya, tapi dia takut buat terbuka ke orang tuanya. Akhirnya dia malah kabur atau menjauh dari orang tuanya. Nggak bisa dibantu dan orang tuanya sendiri ga membantu. Nggak bisa menjadi diri sendiri di depan orang tuanya karena takut orang tuanya membenci dia. Sedih banget.

Saya sendiri sih, jujur saja, berdoa supaya anak-anak saya straight, bukan karena saya nggak mau menerima kalau mereka ternyata bukan, tetapi karena ngeri dan nggak tega membayangkan perlakuan yang akan mereka terima dari orang lain. Tapi kelak, andai ternyata mereka berbeda dari konformitas masyarakat, saya berharap mereka bisa mendatangi papa mamanya dan tahu bahwa sebeda apapun mereka, kami mencintai mereka tanpa syarat.

Buat para antigay yang menganggap bahwa LGBT itu penyakit, apa kalian akan membuang anak kalian yang sakit dan cacat? Kalau iya, yowis saya udah ga sanggup bilang apapun lagi. Saya nggak doakan anak-anaknya Hafidz Ary dan sebangsanya (anti-gay yang radikal) itu punya anak LGBT yah, no… kasian anaknya. Tapi semoga ya hati mereka bisa terbuka bahwa Tuhan Allah mengajarkan kasih ke sesama manusia, di luar anggapan KITA bahwa orang lain itu berdosa atau tidak. Kita bukan Tuhan yang boleh mengadili orang lain, kita tuh cuma seupil debu di dunia ini. Be loving, people.

FYI, sesuai yang namanya kebebasan berpendapat, saya ga melarang orang untuk berpikir dan berpendapat menentang LGBT, tapi saya anjurkan berpendapatlah dengan kasih. Ga perlu lah ngetweet nyuruh followers membully LGBT minimal sekali setiap hari. Saya rasa Tuhan nggak akan menyuruh umat-Nya begitu.

Oya, di atas tadi sempat saya ngomong pendidikan seks. Ini cukup ngeri ya di Indonesia, karena rasanya masih ditabukan banget. Anak-anak jadi mencari jawaban di tempat yang salah. Lucunya logika fundies (mayoritas pemimpin bangsa), mereka malah larang dan sensor aja dulu, bukan edukasi anak-anaknya. Pada ga tau kah psikologi manusia: semakin dilarang, semakin ingin tahu. Lihat aja anak batita, dibilang 'jangan' malah makin sengaja kan? Katanya disuruh membudayakan ASI dan menormalisasi menyusui sampai usia anak 2 tahun, tapi gambar memerah puting SAPI saja diblur! 

Berkali-kali saya lihat perempuan diblur di bagian dada, saya kira bajunya vulgar banget kaya apa, taunya pas lihat fotonya di internet: dia pakai blus berkerah sabrina! Elah... lebay amat. Apa bukannya sensorship berlebihan begini yang bikin anak-anak lelaki tumbuh jadi pria yang pura-pura alim tapi begitu lihat bahu perempuan aja langsung ngaceng? Hih. Kalau saya punya anak laki-laki, saya pinginnya dia jadi gentleman yang tahu diri untuk mengalihkan pandangan dari dada atau organ vital perempuan, bukan yang lantas freaked out. Begitu juga anak perempuan saya, pastinya saya pingin ajari untuk berpakaian pantas dan tertutup.

Maaf-maaf aja buat yang antimiras, saya juga ga setuju kalau miras sepenuhnya diblokade. Yang penting adalah pembatasannya dan edukasinya. Kalau ada yang mabuk terus nyetir mobil dan nabrak orang sampai mati, menurutku yang salah ya orangnya, kenapa mabuk masih nyetir? Asshole banget. Saya sendiri bukan penggemar alkohol; bisa lah hidup tanpa alkohol, tapi sebagai manusia saya merasa dilecehkan kalau dianggap tidak bisa membatasi diri sendiri sampai segala sesuatu dilarang-larang sama negara.

Lucunya orang-orang ini, hal yang mustinya dilarang malah diberlakukan: pernikahan dini. Batas usia minimum untuk menikah di Indonesia saat ini adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 (atau 18 ya?) untuk laki-laki. Yep, 16 FUCKING YEARS. Tahu apa sih anak umur 16? Sorry ya, ga maksud nyombong, tapi untuk diriku sendiri (yang menurut beberapa teman sih lebih mature dari rata-rata, mungkin karena kondisi ekonomi keluarga saat itu), umur 16 tahun tuh aku masih labil, egois, dan irresponsible. Totally not fitted to procreate dan ngurus keluarga! Dan menikahkan anak di usia semuda itu memperkecil kemungkinannya untuk melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi (bahkan mungkin tidak akan lulus SMU). Malah kemungkinan komplikasi saat mengandung dan melahirkan jadi meningkat, begitu juga angka perceraian. Kapan dong kita jadi negara maju?

Sayangnya, masih banyak petinggi agama dan kaum intelektual yang menentang peningkatan batas usia nikah tersebut (padahal yang diajukan, kalau ga salah, hanya nambah 2-3 tahun, setidaknya cukup bagi si anak menuntaskan SMU). Malah seorang psikolog kenamaan kesayangan banyak ibu menjadi saksi ahli MUI dan bilang gini, “Akibat pornografi anak-anak sudah melakukan hubungan seks pada usia dini, jadi kalau usia pernikahan ditingkatkan maka akan banyak sekali risiko (perzinahan) yang akan terjadi karena pengaruh itu tadi.” Beritanya bisa dibaca di link BBC ini dan banyak situs lainnya.

Ummm, apa ga lebih baik meningkatkan pendidikan seks? Jadi, orang tua lebih milih pernikahan anaknya punya 50% kemungkinan cerai daripada mendidik mereka supaya nggak melakukan hubungan luar nikah? Terus, tugas ortu tuh apa sih? 

Malah suamiku jadi kesel sama si psikolog tersebut, pokoknya jangan harap dia bakal mau datang ke seminar parentingnya si ibu tersebut hahaha... Kata paksu, "Apa nggak kontradiktif? Dia sendiri yang seminarin soal Cinderella Complex & Peter Pan Syndrome yang banyak mengakibatkan perceraian pada pasangan muda, tapi dia sendiri mendukung pernikahan dini? Bukannya itu orang-orang jadi gitu karena menikah sebelum sempat mendewasakan diri?" Hehehe ya kalo nggak gitu, pasiennya berkurang kali cyiiin... auk ah. 

Emang sih, psikolog ini malah bilang bahwa pola asuh orang tualah yang menyebabkan sindrom-sindrom itu muncul. Aku sih sepikiran sama paksu, bahwa itulah yang terjadi ketika orang menikah sebelum mendewasakan diri. Kalau umur 16 udah nikah, ya eyalaah... Kami nikah aja almost 29 dan masih ada dikit-dikit konflik dalam rumah tangga. Memang sih umur ga menentukan kedewasaan, tapi berapa persen sih anak umur 16-18 tahun yang sudah siap mental buat berkeluarga?

Sorry yaaa buat para penggemar ibu psikolog tersebut... Teman-teman saya pun seringkali share soal beliau di WA dan FB. Saya mengakui kok beberapa teori parenting beliau ada benarnya, tapi dalam hal ini, prinsip beliau kontradiktif.

04 March 2016

Baby L's Milestones : 18 Months

Si calon kakak udah gede uyyy! Tapi ya gitu deh ngomongnya masih telat. Dia lebih seneng niruin suara binatang, terutama kucing. Kalau dibawa kakeknya ke luar rumah, yang dicari kucing dan dia bisa sahut-sahutan anteng sama kucing liar 'auuww, miaaww' hahaha... 

Speech Skill
Setelah sebelomnya (jujur aja) saya agak panik curiga speech delay, lama-lama ya saya belajar buat lebih tenang. Toh saya juga dulu telat jalan & ngomong, masih idup sampe sekarang, ga oon-oon amat. Saya lihat juga sebetulnya kosa kata si ucrit lumayan banyak tapi dia cukup ngerti & isyaratkan aja, ga mau ngomong hehe.. So far beberapa kata yang hampir tiap hari kami pakai dan dia paham tuh sbb :
Mama, papa, popoh, kungkung, Ibu (ART di rumah). Kakak (anak-anak tetangga). 
Tukang sayur, bapao. Nasi, baso, kerupuk, dukuh, pisang, stroberi, susu, Ultra, dukuh, jeruk, telor, jagung, roti, puding. 
Burung, kucing, guguk, ikan, semut, kupu-kupu. 
Gambar gajah, kadal, kodok, buaya, cicak, bebek, kucing, anjing, koala, kuda, sapi. 
Jalan, berdiri, duduk, tidur/bobo, bawa, ambil, cium, peluk/ sayang, gatal, garuk, tepok, ngangkang/ jegang, basah/jibrug, mandi, cebok, ganti popok, cuci tangan, ngupil, enen, mimi, mamam/makan, nyusu, tumpah & tumpahin, lepas, taruh, masukin, goyang, panjat, naik, tegak, cantik, rontok, keselek, batuk, bau, lagi, terima kasih, xie xie, sini, ke sana, belakang. 
Remote, AC, popok, buku, novel, cukin, sapu, sepatu (masih suka ketuker sama sandal), kacamata, kacamata item, kayu putih, baju, celana, pita (bando), buku gambar, sapu. 
Mainan2nya : wugui, kuda, sepeda, unicorn, bola, spidol, balon. 
Rambut, kepala, idung, mulut, tangan, kaki, perut, perut ndut, mata, kuping, pipi, lidah, gigi. 
Not bad lah yah, itu juga cuman yang saya ingat. Bocahnya juga ngerti perintah sederhana walau suka tengil dan ngeyel juga (padahal belom masuk rebellious age yah).
Kalo menurut kamus si eneng, 'jangan' tuh artinya 'ayo' LOL. Jadi kami ga bisa tuh ngomel singkat 'jangan manjat-manjat dong, Neng' tapi malah musti 'sookk, panjat aja box maenan kamu, kalo jatuh ga usah nangis yah, kalo jebol ga akan mama beliin lagi lho' dst dst baru anaknya nurut hahahaa...
Dengan bahasa isyaratnya juga dia bisa nyerita, misal : aku abis eek (nyingkap kaos dan nepuk-nepuk perut), tadi aku disuntik sakit (ngulurin tangan atau paha sambil meringis iba), meragain robot dengan bilang 'wawawawa' (mulutnya mangap-mangap kaya robot), meragain adegan di buku ceritanya.
Oya, dia (finally) udah mulai mau diceritain walau masih moody,kadang gampang kedistract juga. Buku favorit saat ini :
- Bright Baby Farm (board book gambar2 peternakan, dia suka kalo kita tiruin suaranya)
- Tiga buku cerita bergambar keluaran Gramed thn 1990 (LOL warisan gueee) karangan orang Jepang. Gambarnya baguuuss...
- Buku bergambar, judulnya Tamasya ke Negeri Dongeng by Barbara Hayes keluaran Gramed 1990. Gambarnya juga baguus!
- Adventure Stories keluaran Priddy Books. Belom ngerti sih doi, tapi dia suka warnanya dan gambarnya.
- Ada yang tahu atau ingat serial Pustaka Cerita Si Tini keluaran Gramed? Aku punya (kayanya) komplit dan dibundel jadi 3.
Irit yah hihi... Masih banyak kok buku ceritaku, ga usah beli banyak-banyak kayanya buat si eneng. Huhuuyy! Semoga bisa minta budget beli Tira Pustaka ya ke papanya hahahaa...
Walau anaknya keliatan cuek dan ga merhatiin, ternyata dia tau lho di bukunya itu cerita apa. Misalnya nih, tau-tau dia bawa bukunya ke papahku. Dia bolak-balik sendiri sambil nunjuk-nunjuk 'uhh.. Uhhh.. Uhh..' trus papahku iya-iyain 'ohh itu Ayako? Pake topi? Ohh itu kakaknya?' trus pas adegan pake sepatu, dia lari ke rak ngambil sandal trus meragain pake sepatu. Pas adegan kehujanan juga dia nunjuk-nunjuk idungnya karena di buku, tokohnya ketetesan air hujan di hidung. 

Motor Skill
- Baru aja bisa pake sedotan, akhirnya.. Ya tapi emang ga suka diajarin juga sih haha.. Ternyata kalo udah waktunya ya dia bisa sendiri. 
- Udah mulai bisa masukin plat kayu shape sorter ke wadah yang tepat, tapi belom semua. Baru bentuk yg gampang kaya lingkaran, persegi. 
- Ngeswipe HP buat scroll gallery kanan-kiri sama Instagram atas-bawah. Gawat nih, semoga nggak jadi anak gadget yah hahaha... Oya sama bisa ngeclick nyalain video di gallery. 
- Nendang bola & balon sambil jalan, tanpa dipegangi. 
- Naik turun tangga dengan pegangan ke tembok. 
- Buka tutup spidol & ballpoint. Segala macem barang yang ada tutupnya dibuka tutup. Gelas, toples, kaleng, dll. Kalau yang screw kaya tutup Aqua gitu sih belum bisa dan belom diajarin dulu, takut bikin becek hihi... 
- Lagi seneng megang gelas sendiri tapi kadang ngarahinnya belom pas malah kesirem sendiri trus ngamuk *SWT*. 
- Lagi belajar masukin donat kayu yang buat meronce itu, masih suka ga sabaran banget tapinya. Endingnya malah dilempar. Kalo donat plastik yang gede mah dia masih suka ngasal ngurutinnya, tapi kalo dibiarinin kadang dia bongkar sendiri trus susun dengan bener. Slebor lah ni anak, moody abis dan gengsian hahaa... Ga mau diajarin, maunya bisa sendiri.

Makan & Gerakan Tutup Mulut
Karena gigi belom kelar keluarnya, masih GTM aje nih... Mabok. Dah ga keitung berapa kali neneknya ngamuk gara-gara makanan dilepeh-lepeh. Saya deh yang stress, antara kesian sama anak bercampur dengan gemes.
Anak di birth clubnya kemarin dulu ada yg ADB, padahal montok lincah lho. Haduuu, langsung parno lah, paksu kepaksa ngemodal cek darah, mana mehong hahaha... Semoga bisa direimburse.
Dokternya nyaranin kasi Pediasure dan ga usah kuatir karena pada waktunya pasti si anak bakal doyan makan nasi. Ehhh kemaren dibeliin Pediasure, icip sedikit, langsung lepas dotnya. Kayanya karena manis dan bau vanilla. Manisnya banget banget sih emang, apalagi si bocah selama ini cuma minum ASI sama Ultra plain. Diencerin pake Ultra atau air juga dia tau. *cry* Mau beliin yang coklat, takut tetep ga doyan. 
Yah kadang dalam seminggu ada 1-2 hari dia pinter mamamnya. Tapi kaya kesurupan hahahaa... Abis makan nasi 12 suap, minta pisang, trus puding. Ehh ga lama minta rice krispies. Sejam kemudian minta Ultra. Buset dah. Langsung pupnya sehari 2-3 kali hahaha...

Kesehatan
Sejak berhenti ASI, nih anak adaaa aja sakitnya. Desember 'diare' yang bukan diare itu. Februari kemarin kena pilek sehabis dibawa Imlekan di Bandung. Emang pas aku lagi nyetop pakein Thieves juga sih (teledor banget, mustinya seminggu sebelum bepergian tuh pakein Thieves tiap hari).
Walah itu mah... Ada 1 malam dia susah tidur, musti kupeluk sambil dieyong-eyong. Pas dia pules baru aku bisa duduk, tapi akunya yang jadi susah tidur, mana lagi hamil 19 week hahaha... Untung cuma semalem lho parahnya. Sempat demam juga sampai 38,3. Papanya udah nyuruh ke dokter, tapi kubilang lihat semalam lagi aja. Taunya bisa pules dia. Senjataku? Ke Hong San, Sanmol, sama Young Living lagi hahaha...
Nurutin ajaran Mbak Evariny, oilnya kulayer. Lemon, trus Thieves, trus RC, trus diluted peppermint di telapak kaki. Diluted Thieves dan RC di punggung dan dada. Pas demam kuolesin diluted peppermint di dada dan punggung.
Buat bantu napasnya yang tersumbat, aku netesin minyak kayu putih di bajuku, di dekat hidungnya.
Buat melembabkan kamar, aku diffuse essential-oils semalaman. Diffuser yang satu kuisi Thieves, RC, sama peppermint. Satunya lagi kuisi lavender, Peace & Calming, sama Stress Away.
Bocahnya ga suka sama bau RC haha jadi pakeinnya musti pas bobo. Dilute peppermint juga musti hati-hati karena lumayan panas di kulit baby.
Ke Hong San sehari 2 kali. Pas parah 3x. BTW harganya naek lagiii *cry* jadi 240rb isi 10 tabung. Bangkek.
Sanmol kukasi tiap 4 jam pas suhunya di atas 37. Ternyata cukup dikasi 2-3 kali aja,panasnya turun.
Dan setelah dicontohin kakeknya, sekarang si eneng bisa nyingsring (buang ingus) hahahaa... Dia emang benci banget dilap pake tisu. Kalo pake kain masih mending.
Total sakitnya ya sekitar 4 harian, tapi nyisa grak grok & batuknya masih sampe sekitar hari ke-10. Malah emaknya yang ketularan hahaha... Karena lagi hamil, cuma berani minum Silex sama 2 kali Fluimucil sesuai saran dokter kandungan. Sisanya kumur2 Thieves sama oles-oles, bobo yang banyak aja.
Hari ke-7 si ucrit sakit, dia udah fresh lagi jadi kami berani ke Bandung lagi hahahaa... Ya abis gimana, meridan temen lama sih, kalo bukan temen lama mah aku pun males hihi.. Puji Tuhan anaknya kooperatif walau makannya dikit. Ceria dan tetep maceuh. Emang dia kayanya seneng nginep di hotel, nurun dari emaknya hehehe... 

16 February 2016

Emak Fobia Kuman

Teman-teman lama pasti udah tahu kalau saya fobia sama kuman dan hobi saya adalah cuci tangan ahahaha... Mandi pun saya hampir selalu menggunakan sabun antiseptik, merknya apalagi kalau bukan Lifebuoy! Merk inilah yang menyertai keluarga saya sedari jaman purbakala *lebay*. Saya masih ingat dulu sehabis nonton Kuis Keluarga Lifebuoy, kami disuruh mandi dan saya paling suka mengendus-endus wanginya sabun Lifebuoy warna pink itu hihihi... Anak 90s banget ya booo! Siapa masih inget Cathy Bonn dengan rambut megar ala 90nya, ngacung! Seiring jaman, kami juga mulai menggunakan sabun cair Lifebuoy, terutama ketika bepergian.

Setelah berkeluarga dan punya baby, pastinya fobia saya terhadap kuman semakin kronis hihihi... habisnya, yang namanya kuman tuh makin lama makin canggih juga evolusinya kan? Jamanku kecil dulu mana ada Zika virus. Pokoknya semua orang di rumah harus mandi dulu sehabis bepergian sebelum mereka diizinkan menggendong si baby, termasuk saya sendiri. Tapi kadang yang kotor-kotoran ya si baby sendiri. Horor rasanya melihat si kecil memasukkan tangannya ke mulut, padahal entah tangannya itu habis megang apa saja. Waktu dia sedang masa merangkak, saya gemeesss banget pingin dia cepat bisa jalan. Risih lihat tangannya bekas megang lantai lalu dia jilat-jilat! Nooooo.... Tapi ternyata, setelah si ucrit bisa jalan pun, tetap ada momok yang bernama teething! Ahaha rauwis-uwiiss... Misalnya awal Desember lalu, my baby girl terkena diare. Ringan sih, dan dia pun nggak rewel, tapi kasihan aja lihatnya. Penyebabnya, kata dokter, adalah teething geraham jadi si kecil sibuk memasukkan tangannya yang kotor. Ditambah lagi daya tahannya nggak sebagus ketika dia masih full ASI *cry*. Saya semakin menggiatkan keluarga buat menjaga kebersihan rumah dan diri.

Ehhh ga disangka, datang kiriman parsel Hari Ibu dari Lifebuoy dan TUM! Apa sih isinya? Kartu ucapan hari ibu, handuk, dan dua tube sampel sabun terbaru dari Lifebuoy yaitu Clini-Shield 10 Concentrate Antibacterial Shower Gel! Tersedia 2 varian yaitu Complete (yang warna merah) dan Fresh (yang hijau). Sebelumnya kami sekeluarga sudah menggunakan varian Clini-Shield 10 yang berbentuk cair.
So sweet yaa...
Ada yang langsung kepo mau ikutan bongkar bingkisan

Apa sih itu Clini-Shield 10? 
Itu artinya sabun Lifebuoy ini dilengkapi dengan Activ Naturol Shield yang mampu 10 KALI lebih baik dalam melindungi tubuh dari kuman dan merawat kulit dibandingkan sabun antiseptik lain! Dan memang ketika dipakai, rasanya kulit lembuuutt... lebih seperti memakai sabun dengan moisturizer atau sabun susu daripada sabun antiseptik!


Apaaa, 1 tetes memberikan perlindungan lebih baik?
Yupp, pakainya cukup 1 tetes (1 drop) saja! Ya bukan setetes segede air mata atau setetes minyak esensial yang cuma seuprit juga sih... mungkin lebih tepatnya 'sekecrut' kali yah? #SundaAlert hahaha... Selanjutnya tinggal diusap-usapkan di tangan atau spons sampai berbusa dan dipakaikan ke tubuh yang sudah dibasahi, lalu bilas. Kalau buat cuci tangan, cukup setetes kecil aja.


Why do I love this product?
1. Tentu karena baunya yang segar dan 'aftertaste'-nya di kulit yang ga bikin kering (padahal kulitku gampang kering dan gatal kalau menggunakan sabun antiseptik lain). Wangi favoritku adalah varian Fresh yang tube hijau.
2. Penggunaannya irit dengan busa melimpah.
3. Mudah dibilas (irit air, bo!) dan tidak meninggalkan rasa licin atau lengket di kulit.
4. Bentuk gel sehingga tidak mudah tumpah atau bocor. Praktis buat dibawa bepergian dan beraktivitas.
5. Dan sudah pastinyaa: sabun Lifebuoy Clini-Shield 10 ini dapat melindungi kami sekeluarga dari kuman!

Jadi apakah kami akan menggunakan produk ini kembali? Yes, SUDAH BARANG TENTU!

Silakan dicoba sendiri, produk ini sekarang sudah beredar di supermarket (setidaknya di daerah saya hehehe). Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

03 February 2016

Review Mainan dan Teether Usia 0-12 Bulan

Menurut pendapatku pribadi, anak seumur gini mah mending dikasi mainan kreasi sendiri atau mainan murce-murce aja macam keresek dan tali-temali hahahaa... Ya bukan hanya karena pelit ya *jujur*, tapi karena banyak babies yang lebih seneng mainin barang yang bukan mainan daripada mainan yang bermerk, termasuk babyku.

Cuman ya namanya first baby in the family, emaknya kadang masih tergoda pingin ngasi barang yang bagusan. Keluarga dan sahabat juga alhamdullilah, puji Tuhan pada perhatian beliin ini itu *terharu* sehingga akhirnya emak bapaknya ga pernah beliin si eneng mainan hahahaa...

Nah buat referensi frugalmamas lain yang lagi dilema milihin mainan dan teether buat babynya, ini reviewku atas mainan dan teether si eneng dalam 1 tahun pertama hidupnya.

Oke, PART ONE: TEETHER!

Si bocah umur 6,5 bulan mulai teething dengan gejala banyak ngacai dan suka gigit-gigit. Rewelnya ampuun, mana GTM pula. Tapi setidaknya ga demam sih.

1. Sophie the Giraffe
 Image result for sophie the giraffe

Harga: sekitar Rp 350-400ribuan.
Jerapah paling beken sejagad parenting kayanya nih sampe punya halaman Wikipedia sendiri, secara doi udah diproduksi sejak 1961. Diyakini terbuat dari bahan yang aman dan pewarna yang edible dengan standard internasional.

Pemakaian start usia 4 bulan; minat berkurang sejak usia 6 bulanan.
Awalnya sih si eneng seneng banget. Sophie dibolak-balik, pencet-pencet, diemut, dikunyah; betaaaah banget. Lama-lama bosen, paling lama dikunyah dan dipegang 15 menitan. Tapi mayan lah sampe umur 10 bulan lewat pun masih kepake kalo lagi teething. 

Plus: Teether ini bentuknya lucu, mudah dipegang sama baby. Bahannya kuat jadi bisalah diwariskan ke adeknya kelak hahaha... 
Minus: Agak susah bersihinnya karena ada bolong buat squeaker jadi ga boleh direndam air (akhirnya kubersihkan sambil dipegangin aja supaya squeakernya di atas air, trus pas anaknya udah gedean cuma kulap tisu antiseptik). Warnanya mudah pudar banget. Mungkin karena pakai pewarna makanan dan keseringan kubersihin *grin*. Pernah baca emak US bilang anaknya keselek kaki Sophie tapi so far ga pernah kejadian di si eneng. Mulut anak bule lebih gede apa gimana kali ya.


2. Carter's Soft Teether Book
Harga: sekitar Rp 35-50ribuan per buku.
Deskripsi: Ada beberapa 'judul' dengan cerita singkat masing-masing.

Pemakaian start usia 7 bulan. Dilirik sekilas lalu diabaikan. Kalau kami sodorkan, mau diambil sih trus dipegang-pegang dan digigit selama... 1 menit! Kemudian dilempar. Gatau napa... 

Plus: ada kresek dan squeaker di dalam halamannya yang terbuat dari kain; mudah dibersihkan (tinggal lempar ke mesin cuci); bisa dibawa mandi.
Minus: menurut seleraku mah gambarnya keramean dan warnanya butek kalo dicompare fotonya.


3. MAM Bite n Play teether

Image result for mam bite and playHarga: lupa, di atas Rp 70ribu kayanya.

Deskripsi: Didesain sedemikian rupa untuk mengembangkan motorik anak dan berbentuk cembung sehingga anak tetap mudah mengambilnya jika teether ini tergeletak di kasur, meja, atau lantai.

Yeah, udah sengaja dicariin yang keren gini, anaknya tetep aja ogah, dipegang 5 menit lah paling, dan GA PERNAH DIGIGIT! *cry*

Plus : bentuk dan warna oke, bahan kuat, mudah dibersihkan.
Minus : anaknya ga suka hahahaa... padahal oke lho ni teether!


KESIMPULAN : teether paling juara: WORTEL mentah!

 
Asoooy bener dia kaya mafia ngunyah cerutu seharian. Irit pula ya hahaa...



PART TWO: Rattle toys

Kebanyakan sih nggak beli tapi ambil yang nempel dari bouncernya aja. Untung ga beli, karena ternyata anaknya moody. Kalo lagi anteng kaya foto di bawah ini, betaah banget tuh boneka rattle diputer, dijilat, digigit, digoyang. Tapi kalo lagi emoh ya dilempar aja.

Kesimpulan: mending kasih benda ga jelas yang bisa bikin dia happy dan menarik minatnya aja. Contohnya:
Guling
Piring melamin
Hardbook
Contoh lain: keresek, tissue buat dirobek, kertas, tali-temali, ritsleting. 


PART THREE : Baby toys

Nah bagian ini, jujur aja ya semuanya adalah kado. Aku ngasi review beserta minusnya tuh bukan berarti nggak berterima kasih sama yang ngasih lho yaa (kami mah kulo nuwun pisan) tapi buat ngasih gambaran nyata ke orang-orang yang emang lagi considering beli mainan-mainan ini.

1. Jumperoo Cocolatte

Dari geng arisan SMUku.

Pemakaian start umur 6 bulanan ketika kakinya udah jejek, tapi doi ga betah lama-lama di situ. Abis itu badannya meleber dan seatnya ga muat hahahaa. Baru ketika umur 10 bulan doi langsingan jadi bisa dipakai lagi dan kalau moodnya bagus, dia betah di situ sampai sekitar 20 menitan. Nah kalo anak lain suka loncat-loncat di situ, si eneng mah anaknya ga suka lompat-lompat jadi diem aja muter-muter ngemainin toysnya.

Plus: Mainannya yang bisa muter-muter dan tombol lagunya lumayan bisa bikin anak konsentrasi, melatih motorik dan kognitif.
Minus: Sayangnya seatnya kaku dan rodanya seret; bocah jadi susah muter badannya. Trus nggak ada pijakan di bawahnya jadi kalau anaknya suka lonjak-lonjak ya kakinya kena lantai. Kalau takut kaki anaknya sakit, musti dialasin karpet atau kasur lipat.


2. Little Tikes Musical Ocean 3 in 1 Gym

Dari sepupunya papaku.
Deskripsi: ada lagu-lagunya kalau tombol dan kepitingnya ditekan atau ikan di tengah diputar. Si eneng lumayan suka sama mainan ini terutama sebelum dia bisa merangkak.
Plus: Kuat; bisa lah dipake adeknya hehe. Designnya bagus dan mudah dipasang bahkan olehku si emak gaptek. Posisi mainannya versatile, bisa madep bawah (bayi telentang), madep depan (bayi duduk), dan madep atas (bayi berdiri). Suaranya bisa diatur low-loud dan off.
Minus: bukaan baterai musti pakai obeng (tapi jadi aman dari tangan iseng si baby), gantungannya (yang ada pitanya menjuntai-juntai itu) terlalu mudah lepas kalo ditarik si baby.

3. Fisher-Price Musical Lion Push-Walker

Dari keluarga college-mate suamiku yang sekarang jadi family friend kami.
Deskripsi: Kalau rodanya berputar, keluar lagu atau suara tawa dan lampu di hidung singanya akan menyala. Idungnya juga bisa ditekan, dan ada tombol-tombol lain untuk mengeluarkan bunyi-bunyian, juga beberapa mainan sensorik di bagian depan.

Plus: Anak nggak dangling atau duduk di walker (yang katanya jadi lebih memudahkan dia belajar jalan). Desain, warna dan suaranya lucu. Bisa bersin segala, sampe anakku cekikikan dengernya. Bahannya kuat (iya, iya, bisa dipake anak kedua hahaa). Ada tombol on-off untuk suaranya.
Minus: Babyku senengnya megangin bagian depan karena lucu ada lampu di idung singanya, jadi malah singanya mundur dan anaknya ga bisa pegangan dengan puguh hahaha... Lalu kayanya walker ini nggak didesain buat bayi yang udah segede buta baru belajar jalan ahaha... Kaki si eneng beberapa kali kebentur bagian roda belakang karena jalannya masih agak ngangkang, akhirnya dia jalan agak bungkuk supaya kakinya ga kena roda. Andai aja desain rodanya lebih melebar hehe.


4. Fisher-Price Bounce Tiger
Dari work-mate suamiku.

Plus: Bahannya kuat; pernah dijadiin sansak sama suamiku hahaa...
Minus: Anakku kurang suka, cuma dilirik sekilas, dipegang sebentar, udah ga pernah disentuh lagi. Malah dusnya yang dimainin hahaha... Jadi maap ga ada fotonya.


5. ELC Fun Singing Trumpet

Deskripsi: Ada 3 tombol dengan lagu berbeda. Di bagian depan ada lidahnya bisa dicokel (melatih motorik dan kognitif anak) supaya keluar suara nyanyian yang lucu.
Senjata rahasia suamiku kalau si eneng lagi separation anxiety dan nangis gegoakan kalo nggak ada aku. Nah supaya aku bisa mandi, kasiin aja mainan ini, betah deh si eneng mainin sampai 15-20 menitan. Pemakaian start usia 8 bulanan.

Plus: Suara dan warnanya lucu, lagu-lagunya lucu, tombolnya mudah dipencet. Si eneng betah banget cokel-cokel lidah terompet ini, bagus buat melatih motorik halus dan kognitifnya. Bisa diwariskan ke anak kedua.
Minus: Ga ada tombol on-offnya. Kadang kami mau mindahin terompetnya pas si eneng udah tidur, ehh kepencet tombolnya. Suaranya kan kenceng, kalau belum nyenyak si eneng pasti kebangun. Bahannya berat. Pas babynya masih agak kecil, ngeri juga kalo dia pegang sambil tiduran telentang, takut jatuh kena mukanya. Ganti baterai harus pakai obeng.

Si terompet ditaruh di mobil buat mainan selama perjalanan jadi selalu kelupaan difoto.


6. Fisher Price Laugh and Learn Shape Shorter Cookie Jar

Yang kita punya kaya gini, edisi millenium alias design 1999! Tapi karena tanteku apik, kondisinya masih super bersih dan lengkap. Foto diambil dari e-bay.
Ini versi barunya
Harga: gatau, dapat warisan dari tanteku hehe...
Deskripsi: Mainan ini bisa menyebutkan shape atau number ketika 'cookies' dimasukkan ke lubang-lubang kecil di pinggir jar (melatih motorik). Kalau sensor di bagian tutup jar mendeteksi gerakan, jarnya akan mengeluarkan lagu (ada 2 opsi, tergantung kita nyalakan tombol yang mana). Kalau bagian hidung ditekan, dia akan 'tertawa' dan hidungnya nyala. Lucuk!

Si eneng sukaaa banget sama lagunya! Ini mainan pertama yang bisa bikin dia sampai goyang-goyang tangan setiap dengar lagunya. Masih suka dimainkan sampai sekarang; seisi rumah udah bisa ikut sing-along ke lagu favoritnya di jar ini!

Plus: Designnya bagus buat melatih motorik halus, suara dan lagunya lucu. Bahannya kuat. Bayangin aja ini mainan udah dipake sepupu-sepupuku yang kelahiran tahun 2001 dan 2006!
Minus: Warnanya ga secerah yang design baru tapi in overall aku malah lebih suka versi lama. Ganti baterainya rada susah, musti pakai obeng, tapi di sisi lain jadi aman, ga mudah dibongkar anak.


7. Family Baby Walker

Dari sahabatku Ferintjeu.
Deskripsi: Ada mainan setir-setiran yang kalau diputar bisa mengeluarkan suara 'kreekk kreeekk'. Bisa diubah menjadi static (semacam activity table).  Tinggi bisa disesuaikan.

Plus: Ada dorongannya, bisa dibuat static jadi aman anak ga menggelinding ke mana-mana.
Minus: Nggak ada petunjuk perakitan jadi nebak-nebak sendiri aja cara rakitnya, buset deh bingung gitu kita mikirin cara rakit seatnya. Kalau beli di toko biasanya dirakitin di toko sih... Seatnya sempit buat ukuran perut anakku yang mbleber, trus pas dia kurusan dan udah muat malah anaknya udah ketinggian jadi bengkok deh kakinya walaupun udah pakai settingan teratas hahaha... In the end walkernya ga pernah dipake belajar jalan, malah cuma dijadiin static activity table.

Mainan-mainan lainnya si eneng biasanya ya simple aja, bola-bola, dus, toples, balon dll. Pokoknya murah meriah dan anaknya hepi.

27 January 2016

Baby L's Milestones : 16-17 months

Gara-gara saya kena hyperemesis, milestone Big Baby bulan lalu ga kepost deh hehehe... Digabungin aja deh sama yang bulan ini. Perkembangan fisik nggak kentara. Tinggi 81-82an cm, berat sekitar 12 kg (turun naik setiap teething). Gigi ada 14 biji (8 gigi seri, 4 geraham, 2 taring atas). Rata-rata setiap bulan tumbuh 2 dalam 2 bulan terakhir. Rambutnya udah mulai tumbuh dan jadi kaya emo style haha...

Asupan gizi
- Bosenan, menu makan musti ganti 3 kali sehari. Biasanya sih lahap kalau diajak makan di luar.
- Masih GTM setiap kali teething; bisa nggak makan sama sekali sampai kami stress nyodorin segala jenis makanan ke dia. Biasanya agak luluh sama buah-buahan dan es loli buatan kakeknya (cuma Yakult + probiotik bubuk gara-gara sejak Desember si eneng kena diare). Well, sebetulnya nggak bisa dibilang diare juga sih, cuma pup lunak dengan frekuensi sering (4-5 kali sehari) tanpa merah pantat ataupun keluhan dari si anak. Yang mengeluh itu mamanya hahahaa... Mbok ya lagi mual lemes parah gini, masih musti kebangunin jam 2 dan 4 subuh karena bocah pupup dan musti berusaha menidurkan lagi si bocah yang sehabis dicebokin malah cenghar dan minta main. Gile aje lu, Nak!
- Stop ASIP sejak pertengahan Desember dan frekuensi ngenyot enen pun semakin dikurangi. Big Baby pun sempat melalui masa-masa 5 STAGES OF GRIEF. Denial, berusaha minta ngenyot enen setiap melihat mamanya. Dikasih sih, karena ceritanya kan pingin weaning with love yah, yang mana teorinya 'jangan ditawarkan tapi jangan ditolak'. Anger karena makin lama ASI mamanya semakin seret. Bargaining, masih berusaha minta enen walau cuma 2-3 menit terus lepas sendiri (percuma, ASInya seret) dan narik tanganku ke kulkas minta Ultra. Depression; uring-uringan sepanjang hari, ngomel-ngomel tanpa alasan jelas. Ditambah lagi dia kena 'diare' aneh itu dan harus minum zinc dan probiotik. Awal-awalnya sih mau tapi lama-lama dia bosan dan ngamuuk! Makanya sampai pakai strategi ngasih probiotik dalam bentuk es. Sampai Acceptance tuh kayanya sekitar sebulan lah. Itu pun masih enen setiap mau bobo sih hahaha... Belom sukses WWLnya!
- Karena si eneng suka susah makan dan masih sangat suka nyusu, kami memberikan susu UHT Ultra plain (full cream). Puji Tuhan anaknya doyan. November (umur 15 bulan) masih fifty-fifty dengan ASIP. Desember udah full ASIPnya diganti UHT (nenen hanya kalau mau bobo). Waktu dia kena 'diare' aneh itu - sesuai saran temanku dr. Ayu Rono - UHTnya kuganti dengan sufor low lactose.
Gini kelakuannya waktu nyadar aku mau ngasih zinc hahahaha...

Verbal dan Kognitif
- Kemampuan verbal masih nihil, di kala teman-teman seumurannya udah pada ceriwis. Khawatir? Jelaass... Udah dilema kapan perlu ke klinik tumbuh kembang. Tapi dulu aku juga speech delay sih dan sekarang bawel-bawel aja tuh.
- Babbling mah ada, dan kadang niruin suara binatang. Kayanya bahasa hewani lebih menarik buat dia hahaha...
- Di sisi lain, dia mengerti percakapan kami. Suka nimbrung dengan isyarat-isyaratnya. Bisa ngajak kakek neneknya ke Giant hanya dengan isyarat (walau ribet) : tarik tangan kakek, tarik tangan nenek, ajak ke kamar, tarik baju di gantungan (maksudnya nyuruh kakek neneknya ganti baju dan ngamuk kalau kakek neneknya pura-pura nggak paham), tarik kunci motor kakek yang tergantung rendah, tarik lagi kakek nenek ke arah pintu dapur. Ribet amat ya, tapi dianya sih santai aja selama maksudnya tersampaikan hahaha...
Kalau ngajak jalan-jalan keliling kompleks, beda lagi caranya. Dia ke ruang makan ngambil bangku rotan yang khusus buat dipasang di depan pengemudi motor (tahu nggak bentuknya?) padahal bangku rotannya lumayan gede lalu dia panggil-panggil kakeknya "Uhhhh! Uhhhh!" Udah deh, bahagia banget dia dibawa muterin kompleks sama kakeknya.
- Udah mau dibacain buku walaupun rentang konsentrasinya masih sangat pendek. Aku baru ngucap opening, dia udah beranjak nyari buku lain hahahaa... Paling suka lihat boardbook binatang-binatang dan nyuruh kami niruin suara binatang yang dia tunjuk. Pernah dia nunjuk kupu-kupu lalu dibilangin sama kakeknya, "Kupu-kupu mah nggak ada suaranya." Mewek dong sejadi-jadinya! Sejak itu, kupu-kupu suaranya 'keplek-plek-plek' LOL whateva.
- Suka mukul lantai atau tembok kalau dia terpeleset atau kebentur. Papanya sempat parno, takut kebiasaan sampai gede nyalahin orang lain melulu. Hihi nggak dong, Pa, kan sambil diajarin bahwa yang salah itu dia sendiri.
- Lupa deh, udah disebutin belum ya di milestone 15 bulan? Si bocah udah hapal barang apa milik siapa, barang apa ditaruhnya di mana. Misalnya kita bilang, "Ini bukanya susah, musti pake gunting." nah dia bakal jalan ke dapur nunjuk-nunjuk tempat gunting. Kakeknya naruh spidol di atas lemari pun dia diam-diam lihat dan hapal, besoknya minta digendong ke atas lemari ngambil spidol.
- Lagi seneng berusaha pakai sendok sendiri tapi mama dan neneknya males kalau belepotan hahaha... Jadi cuma dikasi kalau dia mau makan buah, dan itu pun dibantu.
- Masih benci sama lift. Dia ga suka efek gamang ketika liftnya berhenti.
- Pura-pura masak begitu liat Masterchef Junior di TV.
Pembelaan diri: anaknya ga suka nonton TV ataupun gadget kok, cuma kakek neneknya kan nonton jadi kadang dia lihat kalau ada hewan atau anak kecilnya. Hahaha... tetep seharusnya ga boleh ya? Gimana doong...
- Kokolot begok. Kalau mau keluar kamar, ngecek AC udah mati belom. Kalau mau ke kamar, mainan di ruang keluarga dimasuk-masukin dulu ke box (kalau lagi eling).
- Kalau dibilang dede di perut Mama, dia langsung nepuk-nepuk dan kadang cium. Entah beneran ngerti apa nggak, semoga aja yaa.. Suka kubilangin 'Ini ada dede di perut Mama, nanti kalau dede udah gedean, dede lahir, keluar dari perut Mama, nanti bisa main sama kamu ya'. Pas kubilang 'nanti dede lahir, nangis owaakk owaakk', ehh dia ikutan mau nangis 'huuuu huuuu' gitu. Langsung kubilang 'tapi dede nanti seneng ketemu kamu, ketawa-ketawa', langsung dia ngekeh-ngekeh. Ini anak beneran ngerti kaga yah?

Motorik
- Jalannya udah lancar, walau masih suka meleng dan kadang rusuh jadi kepeleset sendiri. Udah bisa undakan kecil juga misal undakan dapur setinggi 7 cm-an. Kalau naik turun tangga masih musti pegangan. Jalan di kasur empuk juga udah mulai stabil.
- Jalan mundur juga udah bisa.
- Jalan sambil nendang bola (tapi biasanya masih pingin pegangan tangan).
- Udah mau main menyusun donat atau shape sorting tapi sekali nyusun aja, abis itu simpan dan ganti mainan lain. Nasibbb punya anak bosenan.
- Kelihatannya lebih tertarik ke kegiatan yang membutuhkan ketelitian, misal berusaha memasukkan plug earphone ke handphone, memasukkan ujung pensil ke lubang kecil di mainan (main montir-montiran). Kalau udah gini, aku bersyukuuur banget colokan listrik di rumah semua ada penutupnya *lap keringat dingin*.

Social Skill
- Ramah kalau sama yang udah sering ketemu, mau dadah dan kadang senyum. Yep, masih jutek banget kalau di luar rumah.
- Tapinya penakuuuut banget kalau sama orang baru, apalagi yang udah ubanan.
- Kalau sama sesama anak kecil, dia suka dan pingin ngajak main bareng walau dengan muka lempeng.
- Udah mau jalan sendiri di mall, apalagi kalau ada hal yang menarik (misalnya live music) atau anak-anak lain.

KPSP 18 bulan :
1. Tanpa bantuan, apakah anak dapat bertepuk tangan atau melambai-lambai? Jawab TIDAK bila ia membutuhkan bantuan. YA
2. Apakah anak dapat mengatakan “papa” ketika ia memanggil/melihat ayahnya, atau mengatakan “mama” jika memanggil/melihat ibunya? TIDAK
3. Apakah anak dapat berdiri sendiri tanpa berpegangan selama kira-kira 5 detik? YA
4. Apakah anak dapat berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik atau lebih? YA
5. Tanpa berpegangan atau menyentuh lantai, apakah anak dapat membungkuk untuk memungut mainan di lantai clan kemudian berdiri kembali? YA
6. Apakah anak dapat menunjukkan apa yang diinginkannya tanpa menangis atau merengek? Jawab YA bila ia menunjuk, menarik atau mengeluarkan suara yang menyenangkan. YA
7. Apakah anak dapat berjalan di sepanjang ruangan tanpa jatuh atau terhuyung-huyung? YA
8. Apakah anak anak dapat mengambil benda kecil seperti kacang, kismis, atau potongan biskuit dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk? YA
9. Jika anda menggelindingkan bola ke anak, apakah ia menggelindingkan/melemparkan kembali bola pada anda? Kadang YA, kadang TIDAK
10. Apakah anak dapat memegang sendiri cangkir/gelas dan minum dari tempat tersebut tanpa tumpah? TIDAK alias tidak pernah dibiarkan megang gelas sendiri sih hahaha... Yasud ini PR berikut.

04 January 2016

Second Pregnancy - First Trimester

Kalau di first pregnancy minggu keenam aku udah mulai mual, di second pregnancy ini mulai mualnya di minggu ketujuh.

Kalau di first pregnancy mualnya dibagi 3 kategori: mual, mual banget, mual-sampe-KO. Nggak pernah nggak mual. 24/7 alias 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dari minggu keenam sampai lahiran di minggu ke-36. Kalau di second pregnancy ini (so far) masih ada moment nggak mualnya walau cuma sedikit.
Rekapan minggu ke-7 : fine, agak mual, mual lemes, agak mual, fine tapi LAPAR-BERAT-GILAAK, agak mual, fine tapi lapar melulu.
Minggu ke-8: lapaarrr... lapaaarrr... abis makan pun masih lapar! Porsi makan udah kaya kuli lho. Abis dinner masih lanjut nyemil semangka, sirsak, keripik kentang sebungkus gede, dan masih ga bisa tidur karena lapar hahaha.
Minggu ke-9: tepar gara-gara mual!!! Pengennya tidur aja, lemes!
Minggu ke-10: masih tepaarr.... susah makan.
Minggu ke-11: mulai bisa ngantor tapi masuk siangan saking parahnya kalau pagi. Sempat ngeflek dan diomelin dokter. Ternyata ada pendarahan dalam. Noooo!
Minggu ke-12: hyperemesis lagi. Ga makan, lapar. Makan, mual & muntah. Serba salah pokoknya haha...
Minggu ke-13: kurang tidur gara-gara si sulung diare 2x tiap subuh, ditambah masih mual. Seru lah hahaha... Puji Tuhan fleknya udah berhenti.
Minggu ke-14: Muntah mulai berkurang frekuensinya, tapi kontraksi jadi makin kenceng.

Tiap hamil nih mualnya kembung-kembung dan enakan kalau burping gitu. Aku dari kecil agak fobia muntah (rasanya geli sendiri aja gitu) jadi susaaah banget muntah walaupun pingin. Kayanya kalau muntah kan enak ya jadi legaan, tapi sayangnya di first pregnancy aku ga bisa samsek (kecuali ketika tak tertahan lagi)... Puji Tuhan di second pregnancy udah mulai bisa munmun walau bikin cape, lemes, dan perih. Dan di semua pregnancy, asam lambungku menggila.

Kalau di first pregnancy aku susah makan karena males keluar rumah, males masak (bau bahan makanan bikin eneg), sering ga ada nafsu makan, dan delivery service di sekitar rumah sangat terbatas (belum ada layanan beli makanan dari Gojek), di second pregnancy ini makan melulu soalnya ada mama yang nyiapin dan kalau mualnya ilang, langsung LAPAR BERAT. Tapi abis makan ya mual lagi hahaha... First pregnancy pernah sih beberapa kali mama ngirim makanan beku (paling kuingat supnya, favorit sih) dan setiap ke Bandung bekelin makanan hahaha... Mertuaku juga dulu ngirim makanan dari Denpasar, kali ini ngirimin mangga hasil kebun seabrek! Seminggu nggak abis-abis dimakan berempat hahaha...

Kalau di first pregnancy aku mendadak claustrophobia dan agoraphobia, di second pregnancy ini baru kerasa agak claustrophobic sedikiit. First pregnancy juga aku parno banget. Lihat kucing aja langsung tahan napas, apalagi papasan sama bangke tikus pas naik ojek hahahaha... Lebay abis ya.

Kalau di first pregnancy kayanya nggak pernah kram atau kontraksi perut sebelum usia kandungan sekitar 20 minggu, di second pregnancy ini dari minggu keempat udah suka kram atau kontraksi ringan. Kayanya sih efek nyusuin dan mompa juga sih. Sejak minggu ke-8 kontraksinya menghilang, tapi malah jadi mual haha... Muntah berkurang di minggu ke-14 tapi kontraksinya muncul lagi dan makin kuenceng!

Cek kehamilan kami lakukan di akhir minggu ke-7 ke dr. Joel Juanda, SPOG di Carolus karena kebetulan doi praktik hari minggu dan denger-denger doi sangat mengusahakan normal. Dan betul aja, pas diceritain riwayat lahiran pertama, katanya 36 w pecah ketuban mah masih bisa normal. Huhuuuu... Dia sendiri nggak bisa menjanjikan VBAC buat anak kedua ini, karena banyak syarat yang harus dicek belakangan, misalnya ketebalan jahitan rahim minimal 2 mm dan berat bayi tidak boleh melebihi 3,5 kg. Aku cuma dikasi Folamil sama Hi-Bone dan nggak ada pantangan apapun. Lucunya nggak dikasih tahu kapan musti balik lagi, mungkin 30 hari sesuai jumlah vitaminnya kali ya. Dokternya juga nggak komen apa-apa pas kubilang aku masih nyusuin. Walau hitungan tanggal udah hampir 8w, USG transvaginal menunjukkan ukuran si bocah masih 0,5 cm (sekitar 6,5w). BTW tipe dokternya nggak banyak ngomong. Santai gitu. Suami dan aku sih belum ngerasa apa-apa soal dokternya, biasa aja.

Di usia kehamilan menjelang 11w, kami ke dokter lagi karena mualku udah ga ketulungan. Kami nyari yang dekat aja yaitu dr. Rahmedi di RS Omni Alsut. Image dokternya: oke! Aku pernah ketemu beliau di kelas kehamilan dulu, tapi baru kali ini check sama dia. Orangnya blak-blakan. Aku diomelin karena kurang minum. Dipuji karena banyak konsumsi protein. Disuruh jangan bergantung ke obat mual tapi dikasi juga sih satu strip Ondansetron. Trus katanya hati-hati karena harusnya umur segitu udah ga ngeflek, dan di USG memang nampak pendarahan ringan. Aku disuruh perbanyak minum dan dicek lagi dalam 30 hari buat pantau baby karena sekarang ukurannya baru 23 mm (standar usia 9w) padahal berdasar kalender harusnya udah hampir 11w. Hiks little baby, tumbuhlah sehat kaya kakakmu yaa...

Kemarin memasuki 15w, kami cek lagi ke dr. Rahmedi. Pendarahannya udah ilang. Aku minta dibekelin Hystolan in case ngeflek lagi karena di apotek dekat rumah unavailable. Ukuran si unyil udah lumayan sesuai umurnya yg 14w : 7.6 cm. Beratku udah naik 2,5 kg. Bentuk kepala, rahang, jari, tulang punggung bagus kata si dokter, dan jantungnya juga bagus. Katanya sih kemungkinan cowo tapi aku ga terlalu ngarep, toh baby girlku juga sempat dikira cowo sama dokter hahaa... Puji Tuhan hasil cek kemarin bagus. Aku diingatkan bahwa konsumsi protein tinggi memang penting tapi harus diimbangi sayur dan buah untuk mencegah efek buruk protein ke badan. Siap, dok! Lha ini aku tiap hari minum sari jeruk atau jus MamaRoz karena mual kalau minum air putih.

Ngidam so far: brownies panggang Prima Rasa yang rum raisin; Taokaenoi rasa tomat dan tomyam goong, popcorn, bakso sapi, kerupuk aci tutung, sayur asam, sup bikinan Mama, ayam goreng, pasta tomat, baked tomato. Banyak amat yak hahaha... Soalnya begitu terpenuhi ya besoknya udah berubah lagi ngidamnya hahaha...  Semua kesampaian kecuali brownies rum raisin (tapi sekarang udah ga pingin sih, jadi mungkin bukan ngidam ya namanya) thanks to my devoted father and mother yang sabaaarr banget ngurusin aku dan baby L (yang kadang harus dipancing buat main di luar kamar instead of gangguin mamanya yang mual). Tanpa mereka mah walahualam deh gimana nasib kami.