03 July 2014

Pattaya 2012 - Day 3: Journey to Bangkok



Jam 9 pagi kami sudah siap sedia di depan hostel menunggu jemputan Bell Travel untuk membawa kami ke Bangkok. Time to leave Pattaya! Untunglah ga lama-lama di sini, karena sejujurnya saya lebih suka pantai-pantai di Indo (dicompare ketika sama-sama bercuaca mendung lho ya).

Sampai di Bangkok, agak dudul nih ceritanya. Saya emang belum survey mau makan siang di mana, akhirnya minta diturunkan di daerah Sukhumvit. Ehh sopirnya ga bisa bahasa Inggris jadi dia asal aja turunin kami entah di mana yang sepi banget dan ga ada penjual makanannya. Hikss!! Akhirnya dengan segala cara, kami berhasil cari makanan (yang ga berkesan) dan naik BTS, nyari pier Chao Phraya terdekat, dilanjut naik perahu ke guest house kami. Ngeri-ngeri dikit karena ga pada bisa bahasa Inggris waktu kami tanya, sedangkan perahunya ada banyak rutenya, bener-bener kaya Metromini a la Chao Phraya. Kami ikuti petunjuk orang guest housenya aja, yang thankfully cukup jelas.

Awalnya agak was-was waktu turun di Thewes Pier dekat guest house, habis suasananya pelabuhan banget. Tapi ternyata area pier di sana dan guest housenya lumayan kok! Cukup bersih dan aman. Nama guest housenya Baan Manusarn. Kami pesen lewat Agoda karena sedang ada promo. Website resminya bisa dilihat di www.baanmanusarn-guesthome.com. Di teras ada café kecilnya ala ala Bengawan Solo gitu. Dia cuma punya 4 kamar dan ukurannya besar-besar. Yang kami ambil punya kamar mandi dalam. Ukurannya kalau di Singapore atau Jakarta seperti apartemen studio deh. Ranjang dan kasurnya sudah tua tapi bersih, bikin inget rumah. Bapak yang nerima kami juga bisa bahasa Inggris dan baiiiikk banget ngasi penjelasan ini-itunya. Dia kasih penjelasan panjang lebar soal rute-rute perahu yang melewati Chao Phraya dan situs apa saja yang bisa kami lihat sepanjang sungai. Kami juga dikasih nama dan alamat guest house dalam tulisan Thai supaya bisa dikasi liat ke supir taksi atau orang-orang kalau kami nyasar.

Suasana Thewes Pier. Kita bisa beli roti buat kasih makan burung dan ikan.
Tampilan boat di Chao Phraya
Bangkok tuh guedeee banget (ya namanya aja ibukota lah yaa) jadi kalo mau muterin semua dengan santai sih kayanya minimal butuh seminggu hehehe… Waktu kami terbatas jadi kami memilih buat ga jauh-jauh dari area Chao Phraya. Enaknya karena ada transportasi umum yang murah meriah di Chao Phraya ini berupa express dan local line boat. Info mendetailnya bisa didapat di www.chaophrayaexpressboat.com/en/home. BTW be careful, sungai kan ada 2 sisi; pastikan lokasi pier tempat tujuan kita dan apakah kita harus menyebrang pakai boat lain.


Karena hari udah menjelang sore, kami putuskan buat lihat-lihat Wat Arun aja yang termasuk dekat (masih bisa dijangkau dengan boat di Chao Phraya). Entrance fee-nya kalo ga salah sekitar THB 50. Pokoknya ga mahal. Wat Arun ini punya julukan keren: Temple of Dawn. Walau yang namanya ‘wat’ itu adalah sebutan untuk kuil Buddha, dulunya Wat Arun ini dibikin sebagai kuil Hindu. Namanya pun diambil dari Dewa Hindu Aruna. Kita bisa naik melewati tangga-tangga yang cukup terjal. Lumayan lah buat olahraga. Di atas ramai dengan turis yang foto-foto; udah kaya gang senggol.


 Beberapa foto tanpa turis yang berhasil diambil, walau miring-miring


Sehabis dari Wat Arun, kami kecapean dan mampir dulu ke sebuah café yang terlihat cozy. Kami pesan minum sambil foto-foto ganjen pakai timer. Café ini kecil dan ramai, jadinya foto kami sering disusupi penampakan orang lewat hahaha…

Suasana sunset bikin Chao Phraya jadi terkesan lebih syahdu dan romantis (uhuk) sehingga kami pun membulatkan tekad untuk mencoba nyari dinner cruise di River City Shopping Complex. Sebelumnya saya sempat survey di http://www.bangkok.com/dinner---shows-tours/ untuk tahu perkiraan harga dan siapa aja providernya. Kisaran harga sih di THB 1000-2000 per orang. Lumayan mahal buat budget kami biasa pacarannya makan malam di kantin dekat kost hehehe… Kami sengaja tidak booking lebih awal karena tadinya nggak seniat itu untuk romantic cruise-romantic cruise-an. Emang dasar pasangan ga romantis!

Sunset di Chao Phraya
River City ini bentuknya seperti mall tapi sepiiii dan banyak outlet kosong. Provider-provider dinner cruise itu sendiri tersebar di lantai dasar dengan bentuk stand-stand mirip stand promosi property di mall-mall Jakarta. Tiap provider punya jadwal departure masing-masing. Mungkin karena weekdays, kebanyakan masih menyediakan vacant seat. Padahal kami lihat peminatnya lumayan banyak lho. Mayoritas turis. Setelah muter-muter, kami ambil yang paling murah: Princess Cruise. Kami dikasih tiket dan korsase anggrek buat dipasang di baju.


Penampakan salah satu kapal Princess Cruise
God blessed us. Entah gimana caranya, kami pasangan pertama yang masuk kapal (tamu lain kebanyakan keluarga dan mejanya lebih besar jadi ditaruh di area indoor) sehingga kami kebagian couple table paling depan di dek atas! Posisi strategis buat lihat pemandangan dan foto-foto tanpa terhalang orang dan dinding, dan sebetulnya agak mubazir karena kami bukan tipe banci kamera. Kami sempat pinjamkan meja kami buat sepasang bapak ibu tua foto-foto. Kasihan lihat mereka susah payah cari spot hihi...

Kami juga foto-foto selagi meja kami (yang di belakang itu) dipinjam


Harus saya akui kalau pemandangan Chao Phraya di malam hari tuh emang romantis hihi… Banyak spot wisata terkenal yang dikasih penerangan seperti Wat Arun, Grand Palace, dan Rama VIII Bridge. Cakep-cakep deh!

Makanannya sendiri enak tapi nggak begitu berkesan buat kami. Porsi sih bisa sesukanya karena pakai sistem buffet. Tinggal berdoa aja semoga tamu lain ga rakus ngabisin makanan yang enak-enaknya. Yah itung-itung beli pemandangan lah. Hiburannya juga 90s banget: live music dengan lagu-lagu tempo dulu macam La Bamba gitu di mana tamu-tamu bebas ikutan disko di dek bareng penyanyinya.



Rama VIII Bridge
Setelah melewati Rama Bridge, kapal berbalik kembali dan kami diturunkan lagi di River City. Di sinilah kami mulai deg-degan. Express boat udah nggak ada dan ternyata daerah River City ini agak susah taksi! Taksi sana pun suka sadis kalo lihat turis yang kepepet. Sambil doa, kami berjalan mencari jalan raya (yang juga ternyata sepi). Ketemu tuktuk. Kami sodorkan alamat guest house. Syukurlah supirnya mau bawa kami walau dia nggak ngerti bahasa Inggris. Ngeeeng… kami ngebut di jalan Bangkok yang sepi. Serasa Amazing Race.

Waktu kami diturunkan, kami mulai bingung. Kok beda ya sama Thewes Pier yang kami lihat tadi siang? Apa karena malam-malam udah sepi? Kami coba berjalan mencari Baan Manusarn. Lho kok? Ini bukan Thewes Pier! Mateng deh! Mana sepi banget kaya abis diserang zombie! Buru-buru kami datangi satu-satunya warung yang menunjukkan kehidupan. Ada seorang bapak dan 2 orang ABG. Duh, semoga ABGnya ngerti bahasa Inggris. Kami tunjukkan alamat Baan Manusarn, dan mereka langsung mengangguk-angguk paham. Hore! Eh tapi… Mereka ga bisa bahasa Inggris jadi kami sama-sama pakai bahasa isyarat hahaha! Penjelasan mereka juga panjaaang sekali (harus lewatin sungai, jembatan, dll) bikin kami cemas: sejauh apa sih kami nyasar?

Di tengah kondisi bingung itu, sebuah motor melintas. Kedua anak ini teriak memanggil-manggil. Sepertinya mereka kenal di pengendara motor. Mereka memberi dia penjelasan, lalu memberi isyarat supaya kami naik ke motor itu. Rupanya si bapak pengendara motor mau dijadikan ojek. Alleluya! Kami ber-khapkunkha/khapkunkhap sama 2 ABG baik hati nan heboh dan ceria itu. God, bless them please. Tanpa mereka apa jadinya kami…

Dan… finally sampailah kami di guest house tercinta! Rupanya tadi kami diturunkan dari tuktuk masih di area bernama Thewes, tapi jauh dari piernya. Ketika kami tiba, area sekitar sudah sepi banget. Sungkan juga sama penjaganya karena kemalaman pulang; kami sibuk minta maaf tapi dia tetap ramah menyambut kami. What a tiring day. Kami tidur sangat nyenyak malam itu.

Posisi Tidur Orang Hamil

Menurut banyak sumber (buku dan website panduan kehamilan), posisi tidur terbaik untuk ibu hamil adalah menyamping ke kiri. Kenapa? 

Karena :
- Posisi tengkurap jelas berbahaya ketika kandungan semakin besar (walau masih terhitung aman dan suka saya lakukan di trimester pertama).
- Posisi telentang setelah melewati trimester pertama berisiko menekan tulang punggung dan mengakibatkan pusing dan sakit punggung dan dapat menghalangi jalur oksigen dan makanan ke plasenta. Kalau mau dilakukan, sebaiknya dengan punggung ditopang bantal agar posisi badan agak miring ke samping.
- Posisi miring ke kanan dapat menekan pembuluh-pembuluh darah yang membawa oksigen.

Banyak juga orang yang menyarankan untuk menaruh kaki di posisi lebih tinggi dari badan ketika kaki mulai membengkak. Disarankan juga untuk memakai bantal di sela kedua kaki untuk bantu menopang pinggul ketika perut semakin besar dan mencegah sakit punggung. Ada hikmahnya juga ya doyan pake guling.

Nah... gimana caranya tidur miring sambil kedua kaki diangkat? Kemarin saya coba kok kaya badut gendut mau akrobat hahaha... Kasur sampai penuh bantal.

Intinya : tidur yang nyaman aja lah tanpa kebanyakan teori. Saya pakai topangan bantal saja di punggung supaya posisi kepala dan punggung agak tinggi. Selebihnya miring kanan dan kiri saja sesukanya.

27 June 2014

Pattaya 2012 - Day 2



Hari kedua, kami memutuskan untuk menyeberang naik kapal ke Koh Larn, pulau dekat Pattaya. Tiket ferrynya murah: THB 30 saja per orang, walau kondisinya ya sepadan. Kaya naik angkot laut hahaha… Kami ga expect terlalu banyak sih dari pantai-pantai di Koh Larn ini, secara namanya bulan November ya pasti mendung ya. Ga hujan aja sudah syukur. Tapi tetep kok bagusan Bali dan Lombok (dengan penilaian sama-sama bulan November dan mendung) hahaha.. Setia ya saya sama usaha memajukan wisata nusantara.

Begitu mendarat di Koh Larn, kita akan ditawari beberapa mobil angkutan sejenis angkot ke pantai tujuan. Kalau bisa dari awal kita sudah survey & tentukan mau ke mana. Kalau ingin putari semua sih baiknya sewa motor aja. Kami sih ambil pantai yang kata teman kami paling sepi (kalau ga salah Tian Beach). Biaya angkotnya sesuai jarak pantai yang kita tuju (sekitar THB 50).

Suasana pantainya sesuai testimony teman kami, sepiii….seperti pantai pribadi. Kami ga main air karena lagi dingin dan ga ada atraksi apa-apa juga. Setelah agak kebingungan cari restoran (yang saking sepinya diragukan buka atau tutup) dan toilet, kami berhasil juga pesan makanan yang kami nikmati di bawah payung pantai: nasi dan sup tomyam, udang goreng tepung, dan kelapa muda. Enak juga.
 
Gatau dogi sapa lagi berjemur; jinak doginyaa

Sok-sokan romantis


Ga betah berlama-lama (ya iyalah, mendung kelabu) dan takut keburu hujan, kami panggil ojek untuk kembali ke pier. Nego-nego, kok agak mahal (dengan asumsi harus sewa 2 ojek). Ehh ternyata kami berdua disuruh naik ojek yang sama! Kami cekikikan bloon sepanjang jalan sambil deg-degan takut jatuuh. Abang ojek di depan, abang Tim di tengah, saya di belakang. Untung dah calon suami-istri ya, secara pamali kan anak gadis sama jejaka duduk nempel begitu hahaha…

Sekembalinya kami di Pattaya, cuaca sudah agak membaik tapi hari menjelang sore. Tujuan kami berikutnya adalah Sanctuary of Truth (ปราสาทสัจธรรม, Wang Boran, Prasat Mai). Kami lagi-lagi harus naik ojek bertiga termasuk abang ojeknya untuk pergi ke Sanctuary of Truth karena kebetulan nggak ada taksi yang melintas. Kayanya di sana cukup lazim turis naik motor bertiga hahaha… Lumayan pegal juga karena perjalanannya agak jauh dan kami pun agak cemas cara balik ke hotel dari Sanctuarynya nanti gimana ya. Ah gimana nanti dah!

Di Sanctuary of Truth, untuk masuk basically kita perlu bayar THB 450-500an dan harus bayar lebih kalau mau pakai guide. Ada juga paketan naik gajah atau boat. Mengingat kami turis pelit, kami ambil yang non-guide. Tempatnya gedeee banget, tapi masih dalam proses pembangunan. Masuk ke gedungnya pun harus pakai helm proyek. Info lebih lengkap tentang makna filosofis ukiran-ukirannya bisa dibaca di website resminya http://www.sanctuaryoftruth.com .

Sanctuary of Truth dari atas
Bang Tim lagi jadi mandor
Salah satu ukiran di dalamnya
Detail ukirannya gile, bikin terkagum-kagum. Nanti kalau udah jadi pasti keren nih. Cuma ya agak gloomy. Cocok deh buat yang galau-galau pingin nyari jati diri dan berefleksi tentang hidup hihi… Katanya sih yang memprakarsainya ini seorang Thai nan kaya raya dan diramalkan dia akan meninggal ketika tempat ini selesai dibangun. 

Dalam sekitar 2 jam kami selesai mengitari Sanctuary of Truth dan puas foto-foto. Matahari hampir terbenam.  Kami penasaran ingin melihat Sanctuary yang diterangi lampu sorot, jadi kami sengaja makan malam di restoran di atas Sanctuary itu supaya dapat spot yang bagus. Ya sekalian karena lapar juga sih… Menunya sih simple aja, udang masak kecap dan omelet, cukup enak. Ada turis bule yang mencoba nongkrong di situ juga sambil nunggu sunset tanpa pesan makanan, tapi diusir hehehe…

Sunsetnya sendiri cantik sih, tapi illumination di Sanctuarynya sebetulnya ya nggak gimana-gimana banget kok. Mungkin nanti kalau sudah jadi bakal diperbanyak lampunya.
Illuminated Sanctuary of Truth

Having no idea mau ke mana lagi, kami memutuskan buat balik ke hostel. Untungnya Sanctuary bisa bantu menyediakan semacam shuttle van ke pusat kota. Saya nggak ingat kami harus bayar berapa dan diturunkan di mana, tapi pokoknya kami bisa sampai hostel dengan selamat.

16 June 2014

Serunya Talang Bocor Pas Lagi Hamil

Mertua lagi di rumah sejak hari Jumat malam, besok rencananya mau hadiri wisuda adik ipar. Kasian deh, dah jauh-jauh dateng ke Serpong malah harus bantuin nguras air. Kok bisa? Gini ceritanya.

Rabu sampai Jumat kemarin, suami tugas ke Surabaya. Hiks, berdua aja deh di rumah sama si unyilku di perut. Kamis malam begitu nyampe rumah, langsung turun hujan besar. Hujan badai deh itu namanya. Petirnya juga serem banget. Selagi asik beres-beres dikit supaya ga terlalu malu-maluin pas mertua datang, pas kulihat ke arah tangga kok ada bunyi krucuk-krucuk ya? Ya ampuuuunnnn, ada aliran air ngalir aja di tangga kaya sungai kecil!! Kok bisaaa? Buru-buru aku naik (sambil pegangan, takut kepeleset) nyari sumbernya. Jendela sebelah tangga kering kok. Atap ga ada yang bocor, tembok semua kering.
Begitu buka ruang cuci…. Deeggg!! Jantungan deh. Air nyembur keluar dari pipa pembuangan!! Kok bisaa?? Mana deras banget! Ruang cuci yang lebih rendah sekitar 10 cm itu udah terendam makanya airnya merembes lewat pintu dan membasahi lantai atas. Sebagian sudah masuk ke kamar kami dan kamar tamu.

Panik. Panik. Panik. Buru-buru telpon suami dan kirim foto plus videonya pake whatsapp, terus berusaha nguras airnya pakai ember besar buat dibuang di kamar mandi terdekat. Baru jalan 3-4 kali aku udah ngos-ngosan. Gawaattt!!! Untung suami masih kepikir nyuruh panggil satpam. Akhirnya aku lari-larilah ke pos satpam pake payung diiringi kilat nyamber-nyamber dengan horornya. Di pos ada 2 satpam, yang satu langsung pakai jas hujan dan helm dan lari bareng ke rumah. Dia yang akhirnya bantu nguras dengan ember dan setelah hujan reda, dia bantu ngeringin genangan airnya dengan segala cara. Dia pake semua tuh tongkat pel, sapu lidi, sapu biasa, dan cardiganku yang tadi terlempar begitu aja saking paniknya (dikira lap pel kali hahahaha). Puji Tuhan ada Pak Nalih ini. Gile deh airnya saking banyaknya sampe ngalir lewat tangga ke ruang TV, ruang tamu, dan gudang yang nantinya jadi kamar suster. Berarti hampir seisi rumah! Duh, semoga ga terlalu ngefek ke furniture. Pak Nalih pulang, aku makan seadanya, lalu berusaha mengeringkan sisa genangan air di kamar tidurku.

Malemnya aku agak susah tidur; badan rasanya remek banget kecapean. Sempat kontraksi pula, mungkin karena lonjakan adrenalin. Padahal menurut kultwitnya @AnnaSurtiNina, psikolog anak, ibu hamil kalo stress bisa berimbas buruk ke janin karena lonjakan kortisol dan adrenalin ngalangin pasokan gizi ke plasenta. Maap ya unyil sayang, kan mama jarang-jarang kok stresnya.

Besoknya aku ga berani ngantor, takut hujan gede trus kebanjiran lagi. Lagian genangannya masih ada jadi aku musti ngepel-ngepel. Ehhh bener aja, jam 2-an turun hujan gede lagiii… dan begitu dicek, pipa ruang cuci udah nyemburin air lagiiii! Bisa gila nih. Buru-buru lari lagi ke pos satpam. Kampretnya, satpamnya cuma ada 1 dan lagi malas-malasan. Malah dia pinjem payungku dan jalan santai manggil bantuan. Kamprett! Ga liat apa gue panik! Kutungguin kok nggak balik-balik!

Akhirnya aku titip pesan aja ke bapak-bapak yang nongkrong di pos situ, nyuruh bantuan langsung datang ke rumah karena ga berani nunggu lama-lama, bisa keburu luber airnya. Aku lari-lari lagi deh ke rumah, trus berusaha buang air ke kamar mandi. Dah beberapa ember diangkut tapi kok bantuan belom dataang? Amsiong semi panik, berdoa supaya ujan brenti sambil ngajak ngomong si unyil, “Anakku, sayang, yang kuat ya, maapin mama ga bisa diem yaa…” Dah ngeri banget kontraksi atau kepeleset.

Pas bantuan datang berupa seorang mas-mas yang kayanya tukang bangunan, hujannya mulai mereda. Ruang cucian udah terendam lagi tapi at least airnya ga ngalir ke ruangan lain. Si mas aku minta ngecek talang-talang. Ternyata dia emang lagi ngerjain renovasi rumah di RT sebelah. Dia bantu cek pipa buangan air cucian, sampai manjat segala buat lihat kondisi talang di luar dekat toren. Katanya talang air hujan dari luar tuh masuk ke rumah dan nyambung sama si pipa buangan air cucian itu. Dia lihat banyak bekas renovasi rumah tetangga berserakan di dekat lubang talang air di atas rumahku. Di suatu tempat pasti ada yang mampet makanya air hujannya balik lagi dan malah nyembur dari si pipa ruang cuci. Dia bantu juga cari tempat buangannya sampai ngelongok-longok lubang-lubang selokan sekitaran rumah. Hikks…makasih Maaass… Begitu ketemu, kita tes. Beneran mampet. Masnya ga berani bolos kerja, jadi katanya jam 5 sore aja dia balik bantuin ngorek sumbatan si pipa.

Saking capeknya, abis itu aku ketiduran hihi… Bangun-bangun kedengeran suara motor si mas berhenti di depan rumah. Baik deh si mas ini, padahal kaki dia tuh lagi sakit. Bolong, katanya, ketusuk pasak. Hiiiyyy….Itu dia bantuin aku tuh sambil pincang-pincang, kasihaan banget. Dia bawain kawat besi panjang buat nyodok si pipa. Mampet parah! Disodok abis-abisan juga cuma bisa ngalir dikit airnya. Si mas nawarin buat bantu bongkar pipa besok siangnya. Oke deh Mas, besok ya saya samperin, sekalian ngasi tambahan uang terima kasih (saat itu cuman punya ban go alias lima belas ribu di dompeet hahaha, malu-maluin banget).

Malamnya, suami pulang. Alleluya! Aku ngajak dia buat ngomong ke tetangga supaya dia pertanggungjawabkan kerjaan tukang-tukang dia (yang selama renov udah sering banget nyusahin: ngebobol tembok dia sampe tembok rumah kita ikut retak lah, buang sampah sembarangan sampe pada ketiup angin ke halaman kita lah). Sayangnya si suami nampak ragu. Dia mah suka takut ribut, padahal kan yang penting kita coba ajak ngomong baik-baik dulu yaa hihi… Tengah malam mertua tiba pakai flight paling malam. Aku ga ikut jemput saking teparnya. Mereka nyampe rumah pun aku udah tidur hahaha... Menantu nggak berbakti.

Besoknya, kami melepas rindu deh sama mertua. Ngobrol-ngobrol, cerita ini itu, trus check up ke obgyn bareng. Aku sempet nyari si mas yang kemarin bantuin ke proyekan di RT sebelah. Ternyata namanya Andi. Sayangnya dia lagi ga masuk karena mau ngecek sakit kakinya ke dokter. Ehm, semoga ga makin parah gara-gara aku yah… Kami jadinya cuma sempat nitip tambahan duit buat dia ke kakaknya yang juga kerja di proyek itu.

Ehhh taunya sore-sore hujan gede lagiiii! Mama mertua sampe kaget lihat semburan airnya. Tinggi bener hahaha… Jadilah kami nguras air bersama-sama. Aku dan mama nyiduk air pakai baskom dan gayung ke ember; suami ngangkut embernya ke kamar mandi. Ada tuh total 30 ember mah. Kekar dah suami. Tanganku aja pegel banget.

Si suami lumayan emosi kayanya. Soalnya begitu hujannya reda, dia langsung pergi ke tetangga. Si tetangga itu datang ke rumah buat minta maap dan lihat sikon, namanya Pak Anton. Ya kita sih ga galak-galak gimana sama dia, tapi minta pertanggungjawaban dia aja. Dia janjiin hari Minggu tukangnya pasti datang bantuin kita. Sementara sih kita coba aja pakai soda api buat ngeluruhin mampetnya, tapi kayanya ga mempan lah ya, ini kan mampet parah sisa bahan bangunan, bukan mampet sink sisa makanan.

Hari Minggu tiba dan mendung kelabu. Kami ga berani keluar rumah, sampai plan main ke rumah tantenya suami pun batal. Bener aja, paginya hujan sampai si suami siaga harus nadahin air di atap supaya ga terlalu banyak masuk talang. Kesian lihatnya, cungkring-cungkring basah kuyup. Untung hujannya ga lama. Aku dan mama ga perlu nyiduk air banyak-banyak. Adik ipar juga semalam datang jadi bisa bantu-bantu.

Si tukang untungnya beneran datang siang itu. Abis lihat sikon, dia bilang ga bisa bongkar pipa hari itu karena ga bawa alat. Apaahhhh??!! Drama bumil pun dimulai. “Pak, lihat deh saya lagi hamil gini udah 3 hari kerjaannya nguras air! Gimana kalo anak saya kenapa-kenapaa! Kalo nanti malam hujan lagi saya udah ga sanggup. Tolong lah Pak, gimana caranya. Bapak ambil peralatan dulu, saya tungguin sampe malam juga. Tolong Pak, beneran saya ga kuat. Ini mertua saya juga kan udah tua, kasihan!” Akhirnya bapaknya ngalah deh hihihi… Sukurlah. Kalo dia masih ngeyel, aku dah siap manipulasi air mata. Mumpung hamil lagi cengeng-cengengnya hahahaa…  Sayangnya…. Si bapak ngambil peralatannya lama bener! Siang itu hujan gede lagi! Si suami lagi-lagi harus hujan-hujanan nampung air di atap. Memang sangat berjasa sih si suami hujan-hujanan gitu, rembesan air ke ruang cuci jadi nggak terlalu parah.

Nah pas si bapak tukang bangunan sampai, mood si suami udah di level terendah. Aku sih masih agak rileks karena abis didatengin mantan temen sekantorku yang baru lahiran. Lihat bayinya jadi seneeng, ngebayangin si unyil nanti kalau dah lahir. Aku dan temen-temen lain patungan beli stroller buat dia, tapi akhirnya karena aku ga bisa keluar rumah malah dia yang main ke rumahku buat ngambil strollernya hehehe…

Aku baru tau sikon terkini sumbatan pipa itu setelah temanku dan keluarganya pulang. Owalah, ternyata tukangnya keukeuh ga mau bongkar pipa. Dia nyodok-nyodok lagi pipanya pakai kawat besi dan pakai cairan pelarut entah apa. Hmmm… agak meragukan, tapi somehow akhirnya berhasil! Dites dengan semburan air dari toren pun si pipa ga banjir lagi. Horeeeey! Lega deh, malam itu aku bisa tidur tenang.

Selesai? TIDAK! Beberapa hari kemudian, terulang lagi kasus air nyembur. Cape deeh!!! Suami udah bete, males berurusan sama tukangnya tetangga yang nggak mau tanggung jawab itu. Jadinya kami cari tukang sendiri, minta dia bongkar pipanya, dan ternyata bener aja. Kotorannya ada lah sekilo mah, sayang nggak sempet difoto. Ato lemparin ke muka tukangnya si tetangga hahaha... Abis itu kita trauma, sekalian kami pasang jaring kawat buat nyaring kotoran supaya nggak masuk lewat talang air lagi.

12 June 2014

Kelas EdukASI PostNatal AIMI Jabar - Juni 2014

Ceritanya calon mak-bapak semanget ngasih ASI ke si baby kalo dia udah lahir karena tradisi keluarga dan demi ngirit! Iyalah, formula berapa harganya bok! Lagian sebagaimana semua mamalia lain, pastinya susu ibu lebih bagus lah daripada susu organisme lain, kecuali kalo susu ibunya emang ga keluar ya.

Nah buat nambah ilmu, kami memang berencana mencari kelas-kelas tentang laktasi. Sok iye yah, padahal emak-emak kita dulu ga banyak teori lancar-lancar aja tuh... Saya sendiri follow twitternya AyahASI dan AIMI sejak tahu hamil dan dari sana tahu beberapa ilmu netekin bayi. Ga segampang netekin bapaknya, pastinya *hush*!

Follow punya follow, AIMI rutin ngadain kelas-kelas edukASI (prenatal, postnatal, MPASI, dan kendala menyusui) di beberapa kota. Sayangnya waktu itu kelas di Jakarta penuh jadi saya coba daftar di Bandung, yang waktu itu ngadainnya Kelas Postnatal di awal Juni 2014. Yah, kok langsung postnatal, ga prenatal dulu? Ya gapapa sih, denger-denger materi Kelas Prenatal itu tentang IMD (Inisiasi Menyusui Dini), cara perlekatan, dll. Bisa lah nyusul asal sebelum lahiran. Lagian, kami pikir kami bakal perlu ilmu mendalam soal materi postnatal yang bakal bahas cara menyimpan dan ngasi ASI perah, mengingat saya bakal balik kerja lagi sehabis melahirkan.

Cara daftarnya saya cuman SMS-an dan transfer aja. Biayanya Rp 110.000 (sendiri) atau Rp 190.000 (couple) untuk kelas dari jam 8.30 sampai jam 13.00. Lokasinya di Jl. Sabang, tapi sehari sebelum event kami di-SMS kalau lokasinya pindah ke Supratman. Ga ngefek sih, dua-duanya masih di pusat kota Bandung.

Pagi-pagi kami berangkat dari rumah di Serpong. Bawa bekal komplit kaya mau piknik: roti, bacang, apel, air. Papanya ikut hamil sih (makannya banyak) jadi kudu siap sedia. Sayangnya pagi itu tolnya kok maceett... saya buru-buru ngabarin kalau saya bakal telat. Mana jalan yang lewat samping PUSDAI ditutup pula jadi harus muter, hadeuhh gemesnyaa! Untungnya kami sampai jam 9 dan acara belum mulai. Di dalam sudah ada seorang ibu hamil dan sepasang suami-istri dengan bayi merahnya. Ternyata pesertanya memang cuma 3 ibu hahaa... jadi malu datang telat.

Pengurus AIMI segera menyiapkan peralatan dan memperkenalkan diri. Mereka ada 3 orang. Yang saya ingat namanya cuma Mbak Lintang. Duh, maap ya, Mbak-Mbak lainnya... Dan mereka pada bawa anak-anak mereka. Mbak-mbaknya muda-muda dan kurus-kurus gitu anaknya udah pada gede dan sejibun!

Di awal kelas kami dibagikan brosur-brosur AIMI, notepad, ballpoint, sama CD berisi slide show presentasi (supaya kami ga sibuk nyatet sampe lupa dengerin) dan souvenir mug. 
Materi kelasnya sendiri isinya dibagi sbb :
- Hari-hari pertama bayi (kenapa bayi menangis, penyebab bayi kuning)
- Perbedaan ASI dan susu formula
- Feses alias tai bayi ASI eksklusif (dikasi liat foto-fotonya nan uhuy)
- Cara meras, nyimpan, dan ngasi ASI
- Hak ibu bekerja (lengkap dengan dasar-dasar hukumnya lho) dan kesiapan AIMI membantu pengajuan ruang laktasi ke kantor ibu-ibu yang memerlukan.


Sebelum dan sesudah presentasi kami dikasih quiz. Suami istri musti isi terpisah. Saya aja bengong apalagi si hubby, ngarang deh...hahaha...  Isi pertanyaannya tentang risiko susu formula, tindakan untuk bayi kuning, berapa kali minimum meras ASI kalau keluar rumah 12 jam, dan ciri-ciri kotoran pup bayi ASI.


Presentasinya kadang diselingi peragaan dan video. Misalnya peragaan cara memerah nenen hahaha... Kami dikasi bantalan busa kecil (ceritanya itu nenen) trus disuru praktik meres ASI. Kami juga diajarin cara mijet punggung buat ningkatin oksitosin. Si abang suka latihan tuh di rumah, ahiiyy! Tapi paling ngakak sih lihat ekspresi dia waktu video soal meres ASInya diputar. Risih doiiii liat nenen ibu-ibu dipencet-pencet hahahaha! Keliatan sakit, kata si abang.

Materi-materinya sebetulnya ada yang pernah saya baca di tempat lain, tapi di sini jadi bisa sekalian lihat praktiknya dan bisa tanya jawab juga. Namanya juga first time parents ya, masih bloon dan kadang parno. 
Misalnya soal nyimpan ASI di kulkas dan freezer kan beda-beda waktu penyimpanannya. Nah di sini dikasi chartnya. Oya, ternyata bayi boleh minum ASI dingin kalau dianya suka. Hihi... enak kali ya kalo lagi gerah. Bosen kan ASI hangat mulu.

Trus tentang 2 hormon laktasi : prolaktin yang memicu produksi ASI dan oksitosin yang memicu keluarnya ASI. Oksitosin ini terbentuknya saat happy jadi busui tuh ga boleh stress... Busui juga sebetulnya ga punya pantangan (incl makanan pedes, duren dll). Apa aja boleh dimakan asal busuinya sehat dan senang. Dan percuma juga minum rebusan daun katuk bergalon-galon kalau busuinya malah kesel. ASInya tetep susah keluar.

ASI tuh ajaib loh, bener-bener karya Tuhan. Kandungannya akan berubah terus sesuai dengan kebutuhan si baby seiring pertambahan umurnya. Contohnya: Ibu yang bayinya prematur akan menghasilkan ASI yang lebih berlaktosa. Pokoknya bener-bener produk customized.

Ada juga yang kami baru pertama tahu. Ya misalnya foto pup bayi! Hahaha jijay juga yaa... kayanya ga jijik cuma sama pup anak sendiri deh. 

Trus warna dan bentuk ASI ada dua: foremilk (bening, volumenya banyak tapi encer, keluar duluan) dan hindmilk (putih, lebih berlemak, keluar belakangan) yang mana keduanya bagus walau beda kandungan lemak. Dulu kan mitosnya foremilk tuh ASI jelek, padahal bukan jelek tapi lebih encer aja. Makanya bayi jangan dibatasi waktunya ketika nyusu di 1 payudara tapi biarkan dia lepas sendiri. Tapi kalo saya baca-baca, katanya sih kandungan lemak dalam foremilk juga beda-beda tergantung interval antar breastfeednya. Ibu yang bayinya nyusu sejam sekali bakal punya foremilk yang lebih berlemak daripada ibu yang bayinya nyusu 3-4 jam sekali. Yah intinya mah biarinin si bayi yang nentuin kapan dan berapa lama dia mau nyusu deh.

Kami juga baru tahu kalau newborn tuh ga disarankan pakai dot dan empeng, tapi sebaiknya pakai gelas atau sendok aja supaya anaknya ga 'bingung puting'. Hmmm...dilema juga. Tapi kata mama, saya juga karena prematur sempet ga dikasi nyusu ke mama, malah sama susternya dikasi susu botol (hikss padahal kan kolostrum ASI bagus banget buat bayi prematur). Abis ngobrol sama si abang, saya putuskan bakal tetep pake botol tapi kalau si unyil lagi ga bareng saya aja. Kalo ada mamanya mah nyusu langsung dooong, sekalian bonding.

Di kelas ini juga ditekankan pentingnya memberi perasaan nyaman dan aman untuk si baby. Kalau nangis ya peluk. Ga usah takut bau tangan. Nah beda pandangan lagi nih sama mamaku hihihi... Dan yang pasti supaya laktasi lancar, busuinya harus happy. Dukungan dari orang-orang sekitar juga sangat penting.

Pokoknya abis ikut kelas ini pokonya makin bulat tekad kami ngasi ASI buat si unyil selama mungkin. Together we can ya hanih! Happy mom happy baby happy daddy happy family!