23 August 2015

Setahun yang Lalu: Welcoming An Angel

Pecah Ketuban Dini
 
Setahun yang lalu... jam 4 subuh di hari Minggu, aku bangun karena merasakan aliran air di kemaluan. Buru-buru aku melangkah ke kamar mandi. Ehh... kok makin deras ya? Kok nggak ketahan? Lah ini mah air ketuban! Waww! HPL kan masih 4 minggu lagi! Saking shockednya, aku cuma berdiri di tempat trus manggil si paksu. "Tim, Tim, ketuban gua bocor!" Dia langsung lompat dong. Kalo diingat jadi lawak juga. "Yakin? Kamu udah cek, bukan pipis? Kata dokter gimana kalau ketuban?" Sambil deg-degan, aku ingat-ingat lagi ciri-cirinya. Iya bener, air ketuban tuh nggak ketahan dan baunya manis bukan pesing. Sampe aku ciumin lho celanaku hahahaa... Kami putuskan buat langsung ke rumah sakit aja (tentunya ganti baju dulu), nggak perlu packing dulu. Yang penting memastikan si unyil selamat aja. Kami belum packing apapun buat ke rumah sakit karena berencana melahirkan di Bandung SEBULAN LAGI.

Perjalanan ke Omni Alam Sutera lancar karena masih subuh, tapi terasa lamaaa buatku. Aku berbaring di kursi depan dengan sandaran dimundurkan maksimal, hanya berbekal handuk buat nahan rembesan. Antara panik sama senang, rasanya kaya mimpi. Beneran nih? Anak kami mau lahir hari ini (setahuku anak harus lahir dalam 24 jam setelah ketuban pecah)? Eh ini bener ketuban kan ya? Trus aku belom latihan ngejan sama sekali, kan belum diizinkan sama bidan di kelas senam hamil. Cara ngeden gimana aja aku nggak tau. Bisa nggak ya ntar? Tim ngedrop aku di pintu UGD trus lanjut markir. Aku masuk, menemui seorang dokter dan beberapa suster. "Ketuban saya bocor". Mereka sigap mengambilkan kursi roda dan membawaku ke ruang observasi (atau apalah nama ruangan itu). Tim cepat-cepat menyusul.

Di Rumah Sakit

Aku disuruh langsung ganti baju rumah sakit, lepas celana dalam, berbaring, trus diselimuti. Perutku dipasangi kabel dari alat pengukur tingkat kontraksi. Minim banget kontraksinya. Ya iyalah, nggak kerasa apa-apa kok, tapi kadang masih kerasa gerakan si unyil. Detak jantung si unyil juga dicek; puji Tuhan hasilnya normal. Suster ngecek cairan di Mrs. V pakai kertas lakmus; katanya betul cairan ketuban. Belakangan aku baru tau kalau keputihan pun bisa cair dan bening kaya air ketuban. Dokter Rianda langsung dikabari. Selagi nunggu, aku sempat diperiksa dalam alias VT sama suster. Sakiit! Katanya sih baru paling bukaan 1 apa belom bukaan, gatau dah. Beberapa kali aku harus pipis dan dibantu buat pipis di kasur saking nggak boleh tegakin badan. Aku baru tau loh ada pispot model gitu, dan baru kali ini dicebokin orang lain setelah lewat masa makai popok hahaha... Risih banget (mana aku beser) tapi sabodolah. Saking takut air ketubannya merembes lebih banyak, aku sampe nggak berani ngebalik-balik badan. Kaku aja gitu. Aku nelpon mama di Bandung buat ngabarin. Katanya begitu adekku bangun, mama bakal susul bareng si dede ke RS. Hmmm kusimpulkan berarti sekitar jam 9-an baru berangkat, nyampe Serpong jam 13-an. Aku ngabarin grup Flows (sohib-sohib sejak SMP) dan Gossip Girls (ex-workmates sesama romusha) dan beberapa teman dekat lainnya, Tim ngehubungin ortunya di Bali, minta doa. Tegang tapi aku berusaha tenang. Doa, doa, doa.

Dokter Rianda datang, kalau nggak salah sekitar jam 6 pagi. Fresh baru mandi hihi... kami malah masih pada bau jigong. Dia nyapa ceria, "Heeii, kok malah mau ngelahirin sekarang? Katanya mau di Bandung?" Hahaha... iya, sehari sebelumnya, kami baru aja check up dan pamitan sama si dokter, mau ke Bandung minggu depan. "Anaknya pingin dilahirin sama dokter nih," kataku. Saat itu udah nggak mau mikir berapa biaya lahiran di Omni hahahaa... yang penting anak kami selamat aja. Dokter memasang USG di perutku.

"Masih banyak kok cairannya," kata si dokter menenangkan. Lalu dia menjelaskan, usia kehamilan 36 minggu ini rentan, sebetulnya seminggu lagi si baby boleh dilahirkan normal. Tapi di usia ini, dikhawatirkan kepalanya masih sangat lunak dan bahaya kalau kena trauma. "Saya nggak akan bisa pakai vacuum kalau ternyata kamu nggak kuat mengejan," kata si dokter. Mungkin dia kuatir karena aku punya asma. "Saya sarankan kamu caesar aja." Berpandangan sama si suami, kami pasrah dengan saran dokter. Kecewa dan sedih juga. Tapi ya daripada kenapa-kenapa. Lagian selama 7 bulan check ke dokter Rianda, kami merasa dokternya nggak madut kok; rasanya sih dia (mungkin) nggak manfaatin kesempatan yaa hihihi. Dokter lalu ngasih tahu prosedur selanjutnya. Aku akan dioperasi jam 12 siang. Sebelum itu, aku akan diinfus cairan penguat paru-paru buat si kecil. Sekarang obat anestesinya akan dites dulu ke jaringan kulit tanganku untuk ngecek apakah aku alergi. Dokter ga meriksa dalam, halleluya.

Setelah diskusi dengan Tim, dia balik dulu ke rumah buat bawa hal-hal yang mungkin diperlukan. To be honest saat itu aku ga bisa mikir perlu apa hahaha... Blank! Suster bilang baiknya sedia stagen yang velcro. Selanjutnya aku harus puasa, jadi dikasih kesempatan terakhir buat minum segelas teh manis. Ahhh ga kebayang harus puasa sampai setelah operasi! Kami ditanya punya DSA yang ditunjuk nggak. Nggak ada, kataku. Oke, pihak RS yang pilihkan. Katanya namanya dokter Ferdy. Aku juga dicukur 'di bawah sana' sama susternya dan diminta tanda tangan beberapa berkas untuk operasi.

Timeline selanjutnya aku agak lupa, yang kuingat hanya Tim kembali dari rumah (membawa laptop, bok) bareng adiknya dan dia udah check in kamar buatku nanti. Yiyi (adeknya mama) sama nenek dan adik nenekku juga datang, ngecek aku perlu apa aja, lalu pergi nyariin stagen. Trus temen baikku HM juga datang bareng suaminya, katanya giliran dia nemenin aku karena dulu aku nemenin dia lahiran dari bukaan 3 sampai lahiran hahaha. Kesetiakawanan kaya gini suka bikin haru. Apalagi saat itu aku nggak bisa ngapa-ngapain dan suami malah sibuk kerja dengan laptopnya, demi ngelarin kerjaan supaya besoknya bisa cuti. Kalau ngga ada si HM nemenin rumpi, mungkin aku terpaku sama kontraksi yang mulai mendera dan rasa lapar tegang. Kontraksinya masih oke lah, perut kaya kenceng ditarik tapi aku masih bisa ngobrol sambil ngatur napas.

Jam 11 lebih suster datang ngecek keadaanku (kontraksinya udah makin kuat dan sering) dan melihat hasil tes alergi (nampaknya sih aku ga alergi). Dan lagi-lagi aku diperiksa dalam, huaaa! Gatau buat apa. Ada lendir darahnya, kata susternya udah sekitar bukaan 2-3. Aku disiapkan buat operasi, kabel-kabel dilepas dan aku didorong keluar. Si suami masih berkutat dengan laptop, "Ntar gua nyusul ya Trid." Ebuset. Di ruang persiapan, bajuku dipretelin semua, cuma pakai baju operasi yang nutup depan doang itu. Ya Gustiii, malunyaa... tapi ya udahlah. Pas Tim nyusul, dia nggak diizinin masuk ruang operasi. Ternyata suami nggak dibolehin nemenin! WHAATT? Tadi kita lupa dong nanya dokter! Yah, mohon maklumi kebegoan kami yang sama sekali ga siap buat caesar. Kami kira biasanya suami diizinkan masuk karena teman-teman kami juga didampingi suami. Langsung dong aku mewek. Untung masih sempet pamitan dulu sama Si Tim bentar sebelum aku didorong pergi. Sekilas kulihat di pintu, mama dan adekku baru sampai dan melambai ngasih support. Udah nggak berani mikir nanti masih ketemu lagi apa kaga, sejak moment itu mah aku almost nonstop doa. Katanya di luar ruang operasi pun Tim berdoa bareng HM dan suaminya.

Operasi Caesar / Sectio Caesaria

Di ruang operasi, aku diangkat ke meja operasi. Risihnya bukan main! Itu bapak-bapak semua yang megang tubuh sucikuuu hahaha.... lagi-lagi nebelin muka aja deh. Dokter anestesi masuk, ternyata dokter Christian Johannes yang kemarin ngisi kelas senam hamilku! Dia juga masih ingat aku, jadi kuceritain kalo aku pecah ketuban dini. Dia menenangkan lalu memintaku duduk memeluk bantal. Nah ini dia. Yang kata orang-orang sakit banget. Tapi aku berusaha napas tenang aja sambil hipnotis diri "kuat, kuat, nggak apa-apa". Dokter Chris bilang, "Maaf ya, suntik sebentar, rileks aja, mungkin sakit dikit... yak, tahan napas" trus terasa cuss! Eh, kok nggak sakit-sakit amat? Hahahaa.... Entah karena dokternya lihai banget (secara dokter kepresidenan bok, yang ngasi epidural ke mantu-mantu SBY), entah akunya kebal saking tegang. Yang aku percaya banget mah aku dikuatkan sebagai anugerah Tuhan dan doa banyak orang karena aku orangnya nggak kuat sakit banget. Kalo sakit hati sih bisa tegar *loohhh*.

Selanjutnya tangan kiri kananku dipasung. Malah mikirin metode penyiksaan zaman barbar. Aku dipasangi segala selang (termasuk kateter tapi udah nggak kerasa karena efek anestesi). Terdengar suara alat detektor detak jantungku yang kalo di film-film suka berdenging dramatis 'biiiiiippp' tiap ada yang mati. Amit-amit. Kakiku mulai krenyet-krenyet kesemutan. Dokter Rianda masuk dengan riang. "Mana, bawa kamera atau handycam nggak?" tanyanya. Walah, nggak kepikir, dok hahaha. Untung dokter sigap, udah bawa pocket camera sendiri. Disuruhnya seorang (asistennya?) buat motretin. Operasi pun dimulai. *buru-buru doa lagi* Perutku dibelek. Kerasa ada sesuatu yang menggores perutku tapi nggak sakit. Settt... sett.... klentang klentong! Dokter dan para suster mengobrol pelan. Perutku digoyang-goyang. "Jam 12.27," kata si dokter. Lalu terdengar tangisan malaikat SUPER KENCENG.

My Baby

Deg-degan, kaya apa ya anakku... seorang suster membawakan eneng kecilku yang terhenti tangisnya, ditempelkan sebentar ke dadaku, difoto-foto. Aku nggak tahu gimana menggambarkan perasaanku. Kaya jatuh cinta, kali? Kaya ketemu pertama kali sama orang yang udah dicinta sejak dulu? Dengerin aja lagunya Savage Garden yang I Knew I Loved You. Gitu kali. Saat itu aku nggak nangis saking seneng (dan masih agak tegang) tapi tiap mengenang moment itu pasti mewek. Oh gini ya anakku. Bibirnya merah darah, kulitnya pink, matanya terpejam rapat. "Siapa namanya?" tanya para suster. Kujawab mantab dengan nama pilihan kami, Euis. *tentunya bukan nama sebenarnya* Sayang, dia harus dibawa untuk dibersihkan dan dicek DSA. Kami nggak IMD karena aku nggak ingat buat request ke dokter. Aku juga lupa minta delayed cord clamping.

Ketika si baby terlahir
Dokter terus bekerja sambil ngobrol dengan para suster, mungkin membersihkan sisa plasenta dan merapikan organ dalamku. Suster memuji, perkiraan berat badan anakku cuma meleset 50 gram dari prediksi dokter. Dokter prediksi 2,8 kg tapi lahirnya 2,75 kg. Belakangan kutau, dokter Rianda mengoleskan semacam gel supaya organ-organ dalamku nggak saling melekat. Emang sih mahal, tapi daripada usus nempel? Temanku ada lho yang ngalamin perlekatan organ dalam, gara-gara dokter lamanya ga rapi pas caesar anak pertama. Hiiiyy... ngeri ya. Sampai kata dokter barunya ketika mengoperasi caesar untuk anak berikutnya, 'ini mukjizat kamu bisa hamil lagi'. Kalau mau caesar, wanti-wanti dokternya supaya rapiin dengan bersih ya! Terdengar juga suara sedotan alat seperti vacuum cleaner, mungkin membersihkan sisa darah. Suara tangis si eneng terdengar lagi dari ruang sebelah, kenceeeng banget. WAAAAAK, WAAAAAKK! Kutanya, "Paru-parunya nggak masalah kan ya?" lalu salah seorang di situ menjawab, "Kalau nangisnya aja sekenceng itu, harusnya nggak ya, Bu." Hahaha... Amiiin!
36 weeks gestation; 2,750 grams; 49 cm
Setelah Operasi
Aku mulai menggigil akibat efek anestesi dan diberi obat supaya stop menggigilnya. Setelah dokter Rianda selesai, dia pamit dan bilang, "Nanti foto-fotonya saya email ya, minta alamat e-mail kamu aja di BBM." Iya, makasih banyak ya dok. Aku diselimuti dan didorong pergi. Sekilas kulihat troli penuh kain berdarah-darah, kaya film horor. Aku ditaruh di suatu ruangan kosong, kata masnya yang nganter sih 'untuk observasi sejam'. Beuh observasi apaan ah. Nggak ada siapa-siapa yang meng-'observasi'-ku kok. Palingan dokter Chris sempet ngecek bentar trus bilang bakal panggilin suamiku. Tapi agak lama lho sampai Tim datang, katanya abis nyariin aku sampe bingung karena nggak ketemu siapa-siapa, coba. Dia cerita, udah lihat si Euis tadi, cuma sempat pegang tangannya bentar. "Lucu ya anak kita," katanya. Mana ada ortu nggak bilang gitu ya hahaha... padahal saat itu idungnya penyek, matanya sipit, bibirnya manyun, tapi buat kami ya inilah bayi tercantik (^^). Nggak akan cukup rasa syukur kami kepada Tuhan buat anugerah terindah ini.

Aku nggak ingat akhirnya berapa lama aku ada di ruangan itu sampai akhirnya aku diizinkan buat masuk kamar inap di lantai atas. Kata Tim, keluarga kami udah pada nungguin di sana. Aku didorong ke lift sambil dikawal security; roda ranjang dorongnya rusak jadi aku terguncang-guncang. "Maaf Bu, ini ranjang yang rusak ternyata." Dalem hati: yeee, udah rusak masih dipake. Untung masih ngefek anestesinya. Kujawab aja, "Iya gujrak-gujrak kaya troli Carrefour ya, Pak." Baru kali ini ngerasain jadi belanjaan; mantri sama satpamnya cengar-cengir aja.

Di kamar udah ada mama, yiyi, nenek, adik nenekku, dan adek-adek kami. Katanya mereka udah lihat babyku tadi waktu dia diantar ke ruang baby. Mama langsung ciumin aku, ngasi selamat udah jadi ibu. Hihi selamat juga, mama jadi nenek sekarang. Suster bilang suhu tubuh neng Euis turun ke 35 derajat Celcius jadi harus dihangatkan dulu sebentar. Uhhh sebentar gimana. Untung keluargaku ada di situ mengisi waktu, akunya mah udah ga sabar pingin ketemu si eneng. Sesama ibu pasti kebayang rasanya, setelah sembilan delapan bulan selalu ngegembol harta karun lalu terpisah tuh... aaaaa! Aku pun belum berani makan dan minum karena belum dikasi instruksi lebih lanjut. Akhirnya kami nanya suster karena aku udah sangat haus. Susternya baru deh ngasih tahu bahwa aku sebetulnya udah langsung boleh minum sedikit-sedikit. Ihhh cape deh, kok ga bilang dari tadi. Room service mengantarkan bubur putih dan mama menyuapiku sedikit karena aku belum boleh bangun. Nggak enak, tawar banget. Aku cuma makan beberapa suap.

Sekitar jam 17.00, barulah si unyilku diantar masuk. Waktu itu masih banyak orang. Salahku lagi, mustinya langsung coba nyusuin walau anaknya lagi tidur. Tuh tidur pun dia ngenyot telunjuknya.

Mamanya HM pun sempat datang, tapi waktu kutanya mana sohibku itu, ternyata dia habis muntah-muntah dan lagi ke IGD. Ya ampuunnn... Akhirnya kami nggak sempat ketemu lagi hari itu karena mereka langsung pulang. Makasih ya HM, udah menemani walau lagi nggak sehat. Malah ternyata sempat ikut sibuk beli Aqua segala buat keluargaku.

Sobat-sobatku Bisma dan Melly juga langsung datang sore itu. Makasih ya kawan-kawan!
Yang cowo masih lajang. Muslim. 34 tahun. Cuek tapi baik. Berpenghasilan memadai, karir bagus. Sayang keluarga. Suka membaca dan musik. Mencari wanita yang dewasa dan mandiri. Please PM untuk mencomblangkan.
Room service datang mengambil sisa bubur. Kutunggu-tunggu makan malam yang tak kunjung diantarkan. Pas kami tanyakan, ternyata aku nggak dapat makan malam lagi hahaha... aku kan lapar... Buru-buru aku pesan makanan dari restoran rumah sakit. Tim makan di dekat-dekat situ sekalian membelikan Haagen Dazs kedoyanan bininya hihihi. Tau aja dia, aku udah ngidam banget es krim. Aku kan habis pantang es krim sejak usia kandungan sekitar 6 bulan karena pertambahan berat si eneng luar biasa dan aku takut si bayi terlalu gede untuk lahiran normal.

Menjelang malam, keluarga dan teman-teman kami pamit. Mama balik dulu ke Bandung karena aku baru keluar RS hari Selasa siang kalau kondisi kami bagus. Selasa pagi mama akan datang lagi sekalian bawa perlengkapan menginap buat bantu aku ngurus bayi. Malam ini just the three of us. 

Love at the first sight

Usaha Menyusui Pasca-Operasi Caesar

Aku masih belum boleh banyak bergerak walaupun aku sih merasa baik-baik aja dan nggak sakit. Ya linu-linu dikit lah, tapi ilang begitu liat si unyil unyu ini. Aku sempat mencoba menyusui tapi anaknya tidur nyenyak. Aku minta dikirimi konselor laktasi tapi nggak kunjung datang. Bodohnya aku, membiarkan si eneng tidur. Belakangan baru kutahu, anak prematur memang cenderung tidur terus dan harus dipaksa menyusu. Lha ini dibangunkan dengan cara apapun susaah...

Tengah malam, dia nangis heboh dan nggak bisa ditenangkan. Kucoba menyusui, tapi kok ga bisa latch on ya, ga nemplok. Putingku juga entah kenapa jadi cunglem, padahal semasa hamil tua udah mancung banget. Buat yang merasa vulgar, maaf ya, tapi pada kenyataannya banyak ibu bermasalah gini kok. Kupencet juga dadaku kempes dan nggak keluar apa-apa (mungkin sebenernya salah metode mencetnya juga sih). Tim juga berusaha menimang-nimang si eneng yang terus nangis gegoakan. Walaupun aku tahu bahwa bayi bisa survive 3 hari tanpa menyusu, kami nggak tega mendengarnya mewek.

Kami minta suster memberinya susu formula. Sebetulnya kami sempat minta kami saja yang menyuapi si eneng, tapi katanya SOP mereka tidak mengizinkan. Waktu kutanya, ternyata si kecil dikasi berapa banyak sufor, tebak? Yep, 40 cc! Dan paginya dikasih segitu lagi, tanpa nanya kami. Tahu kan ukuran lambung bayi baru lahir? Paling juga SATU SENDOK TEH! Dan ngasihnya pun pakai dot. Speechless. Kaya gini ngaku RS pro-ASI... tapi kami males ngomel lah.

Esok Harinya

Si bayi yang kekenyangan pun lanjut tidur nyenyak seharian. Boro-boro mau ngenyot nenen. Menolak emosi demi ASI biar segera keluar, aku berusaha postive thinking. Kami menyambut beberapa teman yang datang: Ci Amel dan Ko Bryan, Sisi, Donata, keluarga Widigdo. Aku sempat minta Tim membelikan nipple shield, ceritanya supaya putingnya mancung. Ya jelas gatot lah ya, mohon maklum masih bego. Dokter Rianda sempat datang ngecek kondisi jahitan dan melepas kateter. Suster membantuku belajar berdiri dan jalan. Gampaaang... *songong dulu* lagian aku emang udah nggak betah tiduran. Langsung aku minta mandi sendiri. Agak rempong sih dengan adanya infus ngegantel, tapi botol infusnya bisa digantungin di kaitan yang tersedia di kamar mandi dan digantung di leher sewaktu aku jalan, jadi nggak usah geret-geret tongkat infus kaya di sinetron.

Selama di rumah sakit, tidak sekalipun suster mengajari cara merawat bayi walaupun rumah sakit menerapkan sistem room-in. Mungkin diasumsikan ortunya udah pada jago aja kali ya, atau ada sanak saudara yang ngajarin. Kami sih ya nekad aja coba-coba sendiri. Ada kapas basah sama tisu di ranjang bayi, kami coba cebokin si bayi dan gantikan popoknya. Kami coba lepas pasang bedong tapi tentu masangnya nggak bisa sekencang bidan. Akhirnya kami biarkan bedong terlepas karena si kecil sering nangis kalau dipakaikan bedong. Aku berusaha membangunkan si eneng kecil, tapi dianya pulas. Saking semangat aku berusaha belajar menyusui, infusku sampai lepas kesenggol. Darah berceceran hahaa... Emang dasar nggak bisa diam. Aku beberapa kali minta dipinjami breastpump supaya bisa memancing ASI keluar, tapi nggak kunjung diberikan. Konselor laktasi juga nggak datang-datang.

Datangnya kapan, coba? Senin malam. Aku dan suami malah udah ketiduran bareng si eneng. Yowes, mari belajar menyusui. Suster merangkap konselor itu berusaha membangunkan si eneng lalu mengajariku ngatur posisi. Dia memencet payudaraku, "Tuh keluar kok Bu kolostrumnya." Oh iyaa... senangnya! Si eneng cuma ngenyot bentar lalu tidur lagi. Suster pamit.

Tengah malam si eneng membangunkan kami lagi dengan jeritannya. Kucoba menyusui kanan kiri, tapi dia tetap nangis. Tim membawanya buat ditimang-timang, tetap nangis. Akhirnya kami pasrahkan ke suster. Duh dasar ortu baru oon ya... napa nggak kucoba buat skin-to-skin aja ya. Di ruang bayi sudah tentu dia dikasih susu formula lagi.

Prosedur Kepulangan

Keesokan harinya, hari Selasa pagi, Mama sampai di Serpong. Mama sempat melihat waktu dokter Rianda mengganti plester jahitan. Katanya, "Oh jahitan sekarang mah rapi ya, cuma ngegaris aja." Kata dokter sekarang sistemnya dilem, jadi kulit sama kulit ditempel dan nggak perlu lepas jahitan. Lukaku belum sepenuhnya kering jadi nanti aku boleh lepas sendiri plesternya dalam 4 hari. Dokter menyarankan aku tetap bergerak seperti biasa dan boleh BANGET naik turun tangga (apalagi kamarku di lantai dua). Dia menjadwalkan kontrol dalam seminggu ke depan. Si eneng juga sudah dicek darah dan kami diberi kartunya. Sama dengan golongan darah papanya. Dia juga harus kontrol minggu depannya.

Tim ngurus administrasi dan pembayaran ke kasir di lantai 1. Lumayan lama, ada kali sejam. Aku, mama dan si eneng nunggu di kamar. Lupa ih buat minta gelang rumah sakit dan kertas yang tertempel di ranjang bayi, buat kenang-kenangan. Bahkan lupa foto sekeluarga hahaa... emang dasar ga narsis, suseee..

Sesampainya di rumah, kami langsung sibuk ngeberesin box bayi dan membongkar isi kulkas yang keburu nggak layak makan. Si eneng belum mau nyusu langsung dan produksi ASIku masih seret (kucoba mompa pakai tangan karena belum punya breastpump). Dia masih sempat minum 1-2 botol sufor lagi tapi kukasih cuma sekitar 25 cc aja dan pakai sendok supaya dia masih mau belajar ngenyot nenen. Pelan-pelan ASIku mulai terkumpul dan kami berikan pakai sendok karena anaknya suka menolak ngenyot nenen. Kalau kupaksa pun, paling ngenyot 2-3 menit aja terus tidur lagi. Damn, kena bingung puting nih kayanya, gara-gara dua hari pake dot di rumah sakit.

Selama 3 hari berikutnya, saya terus memompa ASI dan kami bergantian menyuapi si eneng dengan sendok. Minumnya cuma sedikit. Mama yang pertama menyadari, warna kulit si eneng makin kuning. Mama nyaranin buat percepat kontrol ke DSAnya.

Ketika usia si eneng 6 hari, kami bawa dia cek ke dokter. Betul aja, dokter juga melihat dia kuning. Langsung diminta cek darah. Ngiluuu sekali lihatnya, tumit kecil si eneng ditusuk sampai 3 ampul. Nangis jejeritannya nggak usah ditanya. Ibaa banget. Hasilnya keluar sejam kemudian. Betul, bilirubinnya 19,3. Si eneng harus disinar. *nangis*

Kisah fototerapinya bersambung ya.... *halah*


PS: belakangan baru kutahu, kalau ketuban udah pecah duluan tuh seharusnya nggak periksa dalam karena ada risiko bakteri masuk dan membahayakan bayi. Ihhhh, gimana sih susternya!

18 August 2015

Review: Pengajuan KPR di BCA

Untuk memperjelas aja, di sini saya betul-betul mau sharing proses pengajuan KPR yang baru kami lewati sekalian mengungkapkan uneg-uneg, bukan bermaksud pamer properti dan aset yaak! Lha ini aja beli pake KPR kok, kalo mau gaya mah cash dong? Hahaha... Dan dalam kasus ini, sebetulnya cuma nama saya aja 'dicatut' buat keperluan KPR rumah keluarga yang nantinya akan ditempati papa mama dan adek. Pengajuan KPR pakai nama saya supaya kemungkinan disetujuinya lebih tinggi (double income saya dan suami nominalnya lebih besar dari income adik saya).

BCA nggak menerima joint income selain suami istri; jadi rencana awal kami di mana KPR dan sertifikat atas nama adik dengan saya sebagai penjamin tuh nggak diizinkan. Nah kalau KPR atas nama suami, sertifikat atas nama istri (atau sebaliknya) itu boleh.

Properti berada di suatu perumahan di Tangsel, kondisi bekas tahun 2011, status sertifikat HGB. Jual beli disepakati dan uang tanda jadi sebesar Rp 20 juta ditransfer tanggal 21 Juni 2015. Saat itu BCA memberikan bunga KPR yang oke. Ada fix selama 1 dan 2 tahun (9,25% per annum bebas penalti), 3 tahun (9,5% p.a, penalti 1%), dan 5 tahun (10% p.a, penalti 2%). Juga ada Fix 3 tahun 8,88% p.a dan Cap 2 tahun 9,99% p.a dengan penalti 2%.

- Fixed maksudnya bunga akan tetap selama waktu tersebut. 
Misalnya fixed 2 tahun, maka angsuran akan tetap dari cicilan pertama sampai ke-24. Tapi umumnya orang ambil KPR buat 5-20 tahun, yang mana bunga di tahun ketiga dan seterusnya bersifat floating setiap 6 bulan.
- Floating maksudnya bunga akan direview ulang oleh bank, biasanya setiap 6 bulan. 
Nah bunga floating inilah yang biasanya bikin empet, karena biasanya melejit lebih tinggi dari bunga fix di awal-awal masa KPR hehehe... Sekarang aja setahuku bisa nyampe 12-14%. Sakit juga tuh di rekening.
- Cap adalah suku bunga tertinggi ketika floating diberlakukan. Jadi di tahun ke-4 dan seterusnya di BCA, suku bunga akan direview setiap 6 bulan tapi nggak akan lebih dari 9,99% per tahun. Cap BCA ini berlaku selama 2 tahun, sisanya (kalau KPR lebih dari 5 tahun) ya floating biasa.
- Penalti dikenakan ketika kita melunasi (sebagian atau seluruhnya) pokok fasilitas KPR kita, dihitung dari nilai pelunasan pokok hutang.

Kami mengajukan yang fix and cap karena dihitung-hitung masih lebih murah daripada yang fixed 5 tahun.

Berikut susunan timeline pengajuan KPR kami.

1. Menyiapkan Dokumen Pengajuan KPR
Kalau sudah ada plan membeli rumah, ada baiknya dokumen-dokumen pribadi disiapkan sedari dini. Pengecualian mungkin untuk surat dari employer; sebaiknya diminta belakangan saja ketika KPR sudah diajukan. Bank suka emoh sama surat yang ketuaan (di atas 2 bulan).

Fotokopi dari:
- KTP suami istri (jika sudah menikah).
- NPWP pribadi sesuai nama pemohon KPR.
- Kartu Keluarga, Akta Nikah.
- Rekening omzet / copy buku tabungan 3 bulan terakhir. 
Kalau pengajuannya di bank yang sama dengan rekening, cukup pakai print out e-banking. Untungnya saya rajin save tiap bulan karena di KlikBCA hanya available 2 bulan terakhir saja. Kalau request ke customer service, butuh waktu 3 hari karena harus dimintakan dulu ke cabang pembukaan akun saya di Bandung dan kena biaya.
- SIUP, TDP, Surat Keterangan Domisili (untuk usaha perorangan atau PT atau CV).
- Akta Pendirian, Akta Perubahan Anggaran Dasar, Pengesahan Menkeh, NPWP badan usaha, KTP seluruh pengurus dan pemegang saham (untuk badan usaha PT atau CV).
- Sertifikat agunan, IMB, PBB terakhir dari properti yang diajukan.

Asli dari:
Surat keterangan kerja dan penghasilan ATAU slip gaji 1-2 bulan terakhir (untuk karyawan).
Kalau kerja belum sampai 2 tahun, harus sertakan surat keterangan kerja dari employer terdahulu. Nah saya nggak punya surat keterangan dari tempat terdahulu dan udah males mintanya, jadi saya kasih aja copy SPT PPh saya selama 3 tahun terakhir. Kan ada cap perusahaan sama tanda tangan bos juga. Untungnya dibolehkan.

Sebagian besar dokumen berhasil kami kumpulkan tanggal 24 Juni dan saya titipkan ke agen propertinya buat diantarkan ke bank (sekalian karena file legal rumah macam IMB dkk kan ada di doi). Sisanya yaitu surat keterangan gaji akan disusulkan.

2. BI Checking
Selama menunggu kelengkapan dokumen terkumpul, saya kasih dulu copy KTP dan NPWP untuk BI checking (BCA mengecek status kredit saya selama ini menurut catatan BI) saat tanda tangan surat kesepakatan jual beli. Biasanya sekitar 3-4 hari, dan hasilnya keluar tanggal 24 Juni.
Ehh ternyata ada status kolek 2 di salah satu credit card HSBCku yang nggak terpakai, jadi persyaratannya nambah: surat bukti penyelesaian dari HSBC.
Buru-buru kutelpon HSBC dan mereka membenarkan ada tagihan annual fee ke-pending, tapi karena cardnya memang nggak pernah kuaktifkan, mereka bisa cepat batalkan card itu. Sayangnya mereka nggak bisa ngasih e-mail ataupun surat (keterangan tertulis) mengenai penyelesaiannya, jadi cuma ku-screen capture aja m-banking HSBCku yang menunjukkan aku udah nggak ada kewajiban apa-apa ke HSBC. Untung dibolehkan, toh kan BCA tinggal cek ulang aja ke BI ya.

3. House Appraisal (paralel dengan mengumpulkan kelengkapan dokumen, tapi menunggu hasil BI Checking positif)
Tanggal 30 Juni, saya ditagih biaya appraisal untuk dibayarkan ke rekening virtual BCA. Biaya yang berlaku saat ini:
- Rp 700 ribu untuk plafon pinjaman di bawah Rp 1 M.
- Rp 900 ribu untuk plafon pinjaman Rp 1 s.d. 5 M.
- Rp 1,2 juta untuk plafon pinjaman di atas Rp 5 M.
Plafon pinjaman yang dimaksud di sini adalah POKOK HUTANG + BUNGA yak.
Lucunya, walau saya transfer dari rekening atas nama saya (alias si pengaju KPR), orang BCAnya tetap minta e-mail bukti transfernya dong. Yasud lah, aku juga pernah kerja di corporate kok, ngerti birokrasinya nan rudet. Kami dijanjikan appraisal akan dilakukan tanggal 4 Juli dan akan di-arrange oleh pihak appraiser (Appraisor? Ser, sor, bebas lah) dengan agen properti yang memegang kunci rumah tersebut.

4. Pihak KPR BCA menghubungi untuk melakukan verifikasi
Tanggal 2 Juli, mereka menghubungi untuk mengkonfirmasi jangka waktu pinjaman dan jenis suku bunga pinjaman yang ingin saya ajukan. Mereka juga bilang bahwa pencairan dana maksimal adalah 80% dari hasil penilaian appraisor.
Ehh mereka minta lagi dong slip gaji suamiku yang Juni. Ya kutolak lah, ini baru awal Juli gitu loh, gaji Juni aja baru keluar dan minta slip tuh suka lama. Toh yang Mei sudah tersedia. Trus mereka minta surat keterangan kerjaku ditambahkan nominal gaji karena slip gaji dari kantorku unavailable. Suratnya baru bisa kufulfill tanggal 7 Juli, nunggu si boss.

Tanggal 6 Juli barulah aku kontekan pertama kali sama marketing BCA. Tadinya via si agen terus, tapi kuminta kontak langsung aja biar cepat. Yah gaya-gayanya sih masih semi-formal ya, jadi kesannya ga terlalu profesional, tapi emang ekspektasiku ke orang dari financial industry tuh tinggi karena pernah kerja di corporate Nippon nan sangat formal. Lagian liat profpicnya mah kayanya doi masih bocah (halaahh, sok tua hahaha). Si neng BCA ini ngirimin simulasi KPRnya.

Tanggal 9 Juli, orang bagian analisa kredit BCA nelpon aku ke kantor juga nelpon HRD memastikan tanggal masuk kerja dan salary, dan nanya kenapa di rekeningku salary masuk bukan dari rekening perusahaan tapi dari rekening pribadi. Hahahaa... ya namanya juga perusahaan keluarga, Pak... Nah bagian ini jangan lupa kongkalikong sama orang HRD yak hihihi.

Tanggal 10 Juli, si Eneng Marketing BCA ngirim WA lagi nagih appraisal fee. Bingung dong eike, kan udah hampir 2 minggu? Taunya salah nagih. Yaelah jangan lipenan mulu makanya, neng. Keracunan merkuri kali tuh. *mulai jahat*

Nah ketika kami mengira semuanya udah kelar, tinggal nunggu approval, ehhh suamiku ditelpon orang appraisor BCA tanggal 13 Juli, katanya mau melakukan appraisal dan minta kunci sama kami! Yaelahyaelalooohhh! Ke mane aje looo? Lagian logisnya, mana lazim pembeli udah megang kunci selagi mengajukan KPR seh? Trus mana si neng marketing pas kukontak malah bilangnya nggak punya nomor penjual. Lha, kan situ udah kontak-kontakan sama agen propertinya dari kapan hari! Pas kubilang, "Gimana ya ini koordinasinya, kok kaya mau tahu beres aja" malah doi jawabnya ngeyel, "Saya juga koordinasi sama Bu Agen kok, bukan mau tau beres aja. Kan saya urusin. Ya udah Pak. Eh Bu." Kujawab, "Iya memang harusnya koordinasi antara BCA, appraiser, dan penjual jadi efisien. Jangan hubungi pembeli karena pembeli nggak mungkin megang kuncinya. Pengalaman saya di KPR sebelumnya juga pembeli tahu beres untuk urusan appraisal." Doi masih berani ngeyel lho! "Di form KPRnya ga ditulis nomor broker, Bu. Tadi suami ibu yang dihubungi mungkin karena udah hubungi ibu tapi nggak diangkat. Biasanya kalau ada nomor broker, langsung hub pembelinya. Biasanya pembeli akan infoin no hp orang yang bisa dihubungi untuk appraisal." Ga profesional abiiiisss! Ga customer-oriented banget! Wong ga ada telpon masuk ke hapeku. Lagian form KPR ya harus dicek dulu lah sama marketing, mana yang nggak lengkap, lengkapin sendiri, kan doi punya nomor agennya. Emang sih terakhirnya doi minta maaf dan bilang tidak akan kami ulangi lain kali. Keburu kesel tuh aku, aku cuekin aja trus langsung kukontak agen propertinya aja, biar dia yang urus. Nah selanjutnya keburu libur Lebaran deh tanggal 16-21 Juli.

5. Pengumuman Hasil Pengajuan KPR
Tanggal 23 Juli (dua hari setelah kelar libur Lebaran), saya menerima SMS dan e-mail hasil pengajuan KPR saya di BCA. Boleh dibilang pas 1 bulan sejak pengajuan yaa... Puji Tuhan, approved sesuai kondisi yang kami ajukan. Nilai appraisalnya memang lebih rendah sekitar 8% dari nilai jual-beli sesungguhnya (tapi emang biasanya gitu sih setahuku).
Di Surat Persetujuan Kredit yang saya dapat di e-mail, terinci biaya apa saja yang harus kami siapkan untuk dibayarkan ke BCA (provisi 1% dari pokok hutang, administrasi, premi asuransi jiwa, dan premi asuransi kebakaran rumah yang di-KPR-kan). Lumayan pedih di premi asuransi jiwa, nyampe 20 jeti bo! Tapi mungkin karena jangka waktu pinjamannya 15 tahun. In sya Allah kalau kami lunasi dipercepat, preminya pun balik. Biaya-biaya tersebut akan didebet langsung dari rekening BCA saya saat akad dilangsungkan. Awalnya orang BCA bilang premi ini sifatnya masih estimasi, tapi ternyata in the end ga berubah tuh. Padahal udah ngarep dapet diskon; aku kan masih muda belia dan sehat walafiat! Hahaha...

Di SPK tersebut juga disebutkan kelengkapan dokumen yang diminta BCA untuk disediakan saat akad:
- Asli slip gaji Juni suamiku (keukeuh ya booo!)
- Asli surat pernyataan LTV (bahwa kewajiban KPR kami ke bank lain adalah nihil). Copynya pakai scan-scanan harus dikirim duluan via e-mail ke BCA sebelum akad.
- Asli surat keterangan lunas KPR rumah kami dari bank pemberi KPR (karena bukan BCA) untuk diperlihatkan.
- Peningkatan status HGB menjadi SHM (akan diurus si notaris, kami tinggal bayar feenya).

Dari BCA juga ada bagian follow up yang langsung menghubungiku hari itu. Selanjutnya aku kontekannya sama dia buat follow up persyaratan dan jadwal akad.


6. Pemenuhan Syarat Persetujuan KPR
Beberapa hal yang harus kami penuhi saat itu adalah:
- Survey by phone dari agen asuransi jiwa. Biasalah, nanya-nanya riwayat kesehatan dan habit merokok atau obat-obatan, kondisi hamil atau tidak, dll. Saya nyoba nego premi tapi doi langsung ngeles hahaha...
- Menghubungi notaris yang ditunjuk oleh BCA, menanyakan fee legal dan kelengkapan legal yang harus kami penuhi. In the end saya serahkan sama agen propertinya aja, sekalian dia kan harus menyerahkan berkas legal rumah tersebut untuk dicek ke BPN sebelum akad dapat dilakukan (supaya tahu apakah sertifikat tersebut dalam sengketa atau tidak). Biasanya pengecekan sertifikat ke BPN itu butuh 3-4 hari. Juga ada surat yang harus ditandatangani penjual non-developer. Akhirnya si agen dan sekretaris notaris menghubungi saya dan ngasih rincian biaya legal yang harus saya bayar.
- Transfer biaya legal dan pajak pembeli ke notaris maksimal H min 3 (dari hari akad), sekalian nalangin pajak penjual sesuai permintaan doi (buat dipotong dari DP). Buktinya tentu harus dikirim via email atau fax ke kantor si notaris.
- Arrange tanggal akad. Nah ini yang ribet, secara suamiku harus hadir dan doi lagi banyak keluar kota dan si penjual susah dihubungi (harus melalui agennya yang mana susah dihubungi juga)! Mabok deh, dari tanggal 7 Agustus disepakati akad tanggal 12 Agustus, tapi statusnya tentatif sampai H min 1 hahaha.

7. Penandatanganan akad kredit dan akta jual beli
Tiba juga tanggal 12 Agustus, hari penandatanganan akad. Waktunya jam 11 siang di KCU Serpong, untung masih lumayan dekat rumah. Saya dan suami memutuskan ngantor siang aja sepulang akad. Si baby kami bawa karena saya pastinya rempong kalo harus mompa di sana (maklumlah stok ASIP di freezer tipis, jadi diirit-irit). Nyampe jam 10.30, kami diminta nunggu dulu karena ruangan rapatnya semua penuh. Terlihat notaris dan gengnya sibuk bolak-balik beberapa ruangan (Kesimpulan: properti masih laku ya cuy walau ekonomi lagi gojlak). Pihak notaris minta maaf, katanya penandatangan akad paling pagi ngaret sejam jadi berantakan semua jadwal hari itu. Ihhh tau gitu kami aja yang paling pagi yaa hahaa... Akhirnya kami diminta isi beberapa form awal di meja depan ruang rapat sambil wakil notaris menjelaskan prosedur selanjutnya. Sesudah akad, BCA akan mendebet biaya asuransi dan provisi dari rekeningku, "jadi mohon disiapkan ya Buu...". Pencairan dana ke rekening penjual hanya akan dilakukan setelah pendebetan rekeningku berhasil. Kelengkapan dokumen persyaratan persetujuan kredit juga dikumpulkan dan dicek.

Jam 11-an, agen properti datang, disusul pasangan suami-istri penjual rumah. Kami penjual-pembeli dipersilakan masuk ke ruang rapat (dan penghuni alias penanda tangan akad sebelumnya buru-buru diusir hahaha). Neng marketing BCA sama eneng rekannya juga datang tapi tentunya nunggu di luar bareng agen properti (3 orang). Yaiyalah masa tanda tangan sekompi cyin, kaya akad nikah aja haha...

Selanjutnya sih standar, notaris bacain isi akta kredit, kami bergantian disuruh tanda tangan. Yang nggak standar adalah gantian megangin bocah maceuh yang nggak mau duduk diem. Sibuuukk banget si Euis, ya narik bolpen lah, manjat meja lah, numpahin minum lah hahaha... Padahal tadi di mobil cuma bobo bentar. Untung notarisnya sabar. Oya, notaris juga memastikan berapa jumlah aset properti kami karena ada batas maksimum 5 buat setiap pasang suami-istri yang tidak pisah harta. Katanya kami masih bisa tuh nambah lagi. Yakali? Amin aja dehhh hahaha... Tanda tangan berlangsung cepat, sebelum jam 12an udah kelar.

Nah setelah penandatanganan dan cap jari kelar, kami digiring (alias diusir) keluar. Notarisnya ngasih folder buat nyimpan file-file rumah; cakep deh foldernya udah pakai kantong-kantong plastik dan dinamain buat naruh sertifikat, IMB, PBB, dll. Rapiii... aku sukaa (maklum OCD). Di luar, duo Eneng Marketing nyamperin aku. "Ibu, nanti biasanya ada yang telepon Ibu dari survey BCA, nanya kepuasan gitu. Tolong bilang sangat puas ya Bu, jangan bilang cukup puas doang, soalnya penilaian kami dari situ. Tolong ya, Bu, jangan lupa ya. Nanti kalau Ibu ada keluhan, langsung ke kami aja." Trus mereka ngasih souvenir (bantal kepala). Ih norak ya bo. Bukan souvenirnya tapi cara requestnya. Kayanya mendingan nanya dulu dong keluhanku apa selama kontak dengan mereka, trus minta maaf, baru jelasin bahwa bakal ada survey dan penilaian mereka sangat tergantung dari situ.  Ya aku juga ngerti bahwa beberapa orang emang sadis ngasih nilai (lihat aja Tokopedia, nilai 3 dari 5 bintang tapi komennya 'puaaasss, barangnya baguuuss', dafuuq?) tapi kan bisa dibikin elegan gitu requestnya? Cuman sudahlah, aku capek ngajarinnya, anak gue bukan, adek gue bukan, iyain aja biar cepet.

Selagi kami nunggu agen ngitung-ngitung pembagian pentransferan sisa DP (yang baru kubayar 20 juta + kutalangin pajak penjual XX juta), orang-orang pada mengagumi si eneng (Halaaahh! Ya abis dia lagi baek aja, mau digendong tante agen karena tertarik kalung bling-blingnya). Maklum agennya ada 2 perusahaan jadi ngitungnya rada lama. Untungnya si penjual adalah member BCA Prioritas jadi kami ga usah antri di teller bawah nan udah rame banget jam segitu. Enak ya antri di Prioritas, dikasih air dan kopi (tapi nggak kuambil karena lagi megang cah wedhok nan lincah), nyaman buat rumpi-rumpi sama si penjual. Keluar deh kampungannya hahaha... Kelar transaksi, kami bubar. Bocah udah ngamuk minta nyusu.

Sehari sesudahnya si Neng Marketing masih WA lho dengan request yang sama. Cape deehh... Padahal sampai sekarang (seminggu setelahnya) pun belom ada yang survey tuh!

BTW, berikut adalah strategi kami ketika mengajukan KPR:
1. Pilih yang paling lama suku bunga fixednya. Biasanya bunga fix paling lama yang ditawarkan bank tuh 5 tahun. Awal-awal pembayaran KPR tuh bunganya sangat besar karena dihitung dari pokok hutang, makanya sebisa mungkin pilih suku bunga terkecil dan fix dalam jangka waktu terlama. Jangan lupa set budget buat masa ketika bunga floating berlaku, karena biasanya kenaikan suku bunganya signifikan.
2. Tanyakan detail tentang peraturan mengenai pelunasan dipercepat (baik sebagian maupun seluruhnya). Misalnya, di CIMB dulu ternyata hanya boleh 2 kali pelunasan sebagian per tahun dan harus berjarak 6 bulan.
3. Persiapkan dokumen sedari dini. Cek ke HRD perusahaan, biasanya slip atau surat keterangan kerja tuh berapa lama dibuatnya sejak diminta (kalau tidak rutin dibagikan setiap bulan). Tanya siapa contact person yang akan menjawab interview verifikasi oleh analis kredit bank.
4. Bank biasanya mensyaratkan cicilan per bulan maksimal 30% dari income. Kalau suami istri bekerja dan nggak pakai perjanjian pisah harta, itungan double incomenya bisa mempermudah pengajuan. Kalau pisah harta sih aku gak tau detail, kayanya cuma dilihat dari income si pengaju aja dan sertifikat harus atas nama pengaju ya?
5. Sebaiknya aktif bertukar nomor kontak pihak-pihak yang terlibat (penjual, pembeli, agen properti, marketing bank, dll) untuk mempermudah koordinasi. Agen properti aja kadang ada dari pihak penjual dan pembeli hehehe...

Trus dana apa aja yang harus disiapkan untuk KPR (dalam kasus ini, diajukan ke BCA Serpong)?
1. DP: setahuku minimal 20% dari nilai jual beli. Pokoknya bank maunya mencairkan maksimal 80% dari nilai appraisal, jadi kalau bisa kasih spare lah sekitar 10% dari nilai jual belinya.
2. Biaya appraisal: Rp 700 ribu s.d. Rp 1,2 juta. Tergantung plafon kredit.
3. Premi asuransi jiwa. Nah ini aku kurang tahu gimana ngitungnya, pokoknya tergantung umur pengaju kredit dan plafon kreditnya.
4. Premi asuransi kebakaran. Sekitar 1-2% dari nilai rumah.
5. Provisi: 1% dari pokok hutang.
6. Administrasi: Rp 400-600 ribu.
7. BPHTB (Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan) alias pajak pembeli: 5% x (NJOP - Rp 60 juta). NJOP bisa ditanyakan ke agen penjual.
6. Biaya Notaris: Pengecekan Sertifikat dan Zona Nilai Tanah (sekitar Rp 750 ribu), Legalisir Pajak Jual Beli (sekitar Rp 500-600 ribu), Perjanjian Kredit (sekitar Rp 500 ribu s.d. Rp 1 juta), AJB dan balik nama (sekitar Rp 3 s.d. 3,5 juta), APHT & SKMHT (sekitar Rp 1,5 s.d. 3,5 juta). Jika perlu peningkatan HGB jadi SHM: sekitar Rp 2 s.d. 2,5 juta.
7. Penerimaan Negara Bukan Pajak: tergantung peruntukannya. Kami dikenai PNBP pengecekan sertifikat (sekitar Rp 100 ribu), PNBP balik nama (sekitar Rp 500 ribu s.d. 2 juta), dan PNBP Hak Tanggungan.
Saat ini tarif PNBP untuk HT yang berlaku adalah sbb:
a. untuk nilai s.d Rp 250 juta: Rp 50 ribu.
b. untuk range Rp 250 juta s.d Rp 1 M: Rp 200 ribu.
c. untuk di atas Rp 1 M sampai Rp 10 M: Rp 2,5 juta.
Untuk detailnya mungkin berbeda tergantung bank, notaris, lokasi properti, dan nilai transaksi ya...

13 August 2015

Book Review: Look Who's Back by Timur Vermes Plus My Thoughts On Genocide Hoax, Rasisme, and Minority's Right

Saya sudah nggak mau menyatakan diri sebagai 'kaum minoritas', karena saya adalah orang Indonesia. Titik. Merasa diri minoritas berarti saya merasa berbeda. 'Kecil'.
Kalau ada yang nanya label-label Suku, Agama, Ras, Golongan tanpa konteks, saya cenderung menghindar untuk menjawab.
Kalau saya Kristen Katolik, lantas kenapa? Kalau saya keturunan cina, lantas kenapa? Haruskah diperlakukan berbeda dari orang keturunan Ambon, Batak, Jawa, Sunda? Saya sendiri lebih mengidentifikasi diri ke Sunda dan nggak merasakan patriotisme ke negeri Cina sama sekali. Pingin ke sana pun kagak.  Bisa bahasanya pun nggak. Kebetulan aja buyut saya lahir di sana. Udah lebih dari 100 tahun keluarga saya tinggal di Indonesia dan masiiih aja dianggap pendatang. Seriously, dudes? Kami bayar pajak ke Indonesia lho!

Sejak kecil saya diajari nilai-nilai nasionalisme sama mama. Wah, bangganya setiap lihat nama Indonesia sebagai nomor 1 negara ASEAN penghasil _____ (isi aja dengan nama komoditi apapun) di RPUL. *bongkar umur banget ya* Makanya sewaktu kerusuhan 1998 terjadi, saya teramat sangat shocked. Traumatized. Kenapa tiba-tiba status 'cina' menempel lekat dan menjadi sesuatu yang membuat saya harus waswas setiap kali keluar rumah? Kenapa saya 'diincar' karena bentuk mata dan warna kulit yang sedikit berbeda dari 'mayoritas'?

Saat itu saya masih SMP dan nggak begitu mengenal dunia. Membaca berita dan cerita tentang kerusuhan di Jakarta membuat saya ketakutan setengah mati. Perempuan 'cina' diperkosa dan disiksa, laki-laki 'cina' disiksa dan dibunuh. Rumah orang 'cina' diserbu. Toko 'cina' dijarah. Papa saya panik berat, teringat kerusuhan yang dialaminya tahun 1963, ketika rumahnya diserbu perusuh dan dia harus bersembunyi di lemari selama berjam-jam. Puji Tuhan rumahnya nggak dibakar dan seluruh anggota keluarganya selamat, tapi kejadian itu membekaskan trauma yang dalam. Kami cuma bisa merenung. KENAPA KAMI SAMPAI BEGINI DIBENCI? Kami nggak punya salah ke masyarakat Indonesia. (Malah keluarga eks-presiden yang terbukti korupsi triliunan Rupiah dipuja-puja! Helooow?) Apa kami salah karena leluhur kami tidak lahir di Indonesia? Apa kami bukan orang Indonesia karena baru 2-3 generasi lahir di sini? Apa kami bukan manusia?

Dan sekarang, hampir 20 tahun kemudian, banyak orang menyatakan bahwa kejadian tahun 1998 terhadap etnis cina tersebut 'hoax' dan 'hiperbola'. WOW! Okelah, saya nggak kenal sama satupun korban kejadian tersebut (puji Tuhan semua keluarga dan teman saya selamat secara fisik dan kejiwaan walaupun ada juga yang kena jarah). Tapi begitu mudahnya menyatakan bahwa kejadian itu nggak nyata? Karena korban-korbannya nggak mau maju dan menuntut keadilan lalu mereka dianggap nggak ada? Padahal mereka ketakutan untuk bersuara karena lemahnya sistem peradilan negara ini (yang bahkan masih menganggap perkosaan hanya terjadi ketika ada penetrasi alat kelamin) dan budaya menyalahkan korban perkosaan (bukan pelakunya)! Padahal beberapa di antara mereka sampai menderita penyakit kejiwaan bahkan bunuh diri akibat trauma yang mereka alami! Dan masih banyak yang mengingkari kejadian kerusuhan 1998? Keterlaluan. Ini salah satu artikel yang ditulis seorang mantan wartawan Forum Keadilan, Sien Tjiaw. Dia pun gagal mendapatkan wawancara dengan korban perkosaan 1998. Di luar ketiadaan saksi formal, saya percaya bahwa saat itu 'kaum etnis cina' dikorbankan (dan hampir mengalami pemusnahan atau genosida).

Saya teringat kembali soal kerusuhan 1998 karena baru-baru ini saya membaca sebuah buku fiksi yang kebetulan berlatar belakang masa kekuasaan Hitler di Jerman. Di salah satu buku, diceritakan tentang Kristallnacht. Saya googling untuk cari tahu tentang peristiwa ini, yang ternyata adalah penjarahan dan pengusiran kaum Yahudi Jerman. Pelakunya sudah tentu partai NSDAP alias NAZI. Googling lebih lanjut... ternyata banyak sekali orang yang menganggap bahwa HOLOCAUST (alias pemusnahan massal) yang dilakukan Nazi adalah hoax! Argumennya pun sangat meyakinkan dan dijamin bisa menggoyahkan kepercayaan terhadap holocaust. Terutama argumen soal jumlah kaum Yahudi yang dibantai. Aliansi AS-Soviet dkk menyatakan bahwa jumlah korban mencapai 6 juta orang. Sebelum PD II (perang dunia kedua), statistik menyatakan bahwa orang Yahudi ada 5 koma sekian juta orang, nah masa abis semua semasa perang? Menurut sejumlah info, korban jiwa Yahudi harusnya 'hanya' beberapa ratus ribu orang saja. Argumen-argumen lainnya pun banyak sekali. Satu yang kusayangkan, banyak pendukung holohoax ini seolah menyatakan bahwa NAZI's war crime nggak terjadi dan hanyalah propaganda Israel. Some of them are Neo-NAZI.

Duh! Okelah, selalu ada kemungkinan pergeseran realita dalam sejarah (e.g.: G30S/PKI dan Supersemar yang mungkin nggak akan pernah kita ketahui, fact or hoax). Okelah, mungkin holocaust didramatisasi untuk kepentingan propaganda. Tapi apakah kemanusiaan hanya berlaku ketika melibatkan jumlah jutaan manusia? Apa 1 nyawa terbuang itu bukan pelanggaran kemanusiaan? Siapapun yang mempropagandakan perang memang sudah seharusnya menjadi musuh humanisme, baik itu Hitler ataupun George W Bush. Begitu juga siapapun yang bertanggung jawab atas kerusuhan 1998 di Indonesia. Gue naif dan sok idealis? Sebodo.

Oke, balik ke review buku. Dengan pemikiran seperti itulah, saya membaca novel satire karya Timur Vermes berjudul Look Who's Back. (Novel fiksi tentang Kristallnacht yang saya sebut tadi itu malah belum saya kelarin hehehe...) Judul asli dalam bahasa Jermannya adalah Er Ist Wieder Da (yang katanya berarti: dia kembali).
17289087
Mirip siapa hayooo?
Tokoh utamanya, tentu saja, sesuai gambar sampulnya: Adolf Hitler! Diceritakan dalam bentuk sudut pandang orang pertama, dia terbangun di Berlin di tahun 2011, entah bagaimana (dan Si Hitler terlalu logis untuk berkutat pada pertanyaan yang tidak terjawab) dan tampaknya lupa bahwa dia udah bunuh diri. Catatan pinggir: well, pada kenyataannya, mayatnya udah dibakar dan abunya dibuang di laut dan sisa tulang yang ada - ketika dites - ternyata bukan tulang dia, jadi ada teori konspirasi bahwa dia berhasil kabur dan hidup tenang pasca-perang bersama istrinya, Eva. Fucked up eh?

Hitler yang ingatan terakhirnya adalah tahun 1945 jadi cengo melihat perkembangan jaman (Banyak mobil di jalan! Bangunan berdiri megah!) dan ditolong oleh seorang penjual koran di kios pinggir jalan. Dia dikenalkan dengan beberapa orang dari kantor produser TV dan pufff! Hitler pun menjadi stand-up comedian! Semua orang di sekitarnya mengira dia adalah satire comedian dengan method-acting yang luar biasa. Catatan pinggir: method acting adalah teknik akting di mana si actor betul-betul meresapi persona tokoh yang diperankannya, baik perasaan maupun pemikirannya berdasar perasaan dan pengalaman yang pernah dialaminya sendiri dan kadang bahkan dalam kehidupan nyatanya dia tetap berperan sebagai orang itu. Contoh method actor adalah Christian Bale, Al Pacino, Anne Hathaway, dan Heath Ledger (lihat performancenya sebagai Joker, wew).
Dengan monolognya yang 'mengerikan', dia menjadi tenar. Ironisnya, Hitler sendiri merasa langkahnya masuk ke pertelevisian adalah propaganda yang tepat untuk kelak mendirikan kembali NSDAP dan menciptakan Jerman yang tangguh dan murni (alias bebas dari Yahudi).

Gila ya temanya? Sebagai satire, kurasa buku ini bener-bener lihai deh ngobrak-abrik pemikiran dan perasaan pembacanya. Kenapa? Karena Hitlernya likeable! Lucu! Simpatik! Kok bisa, dia kan Hitler yang mengerikan ituuu!!! We should hate him, right? He's a human monster, war-wager, hate-crime politician, right? Banyak orang nggak suka sama buku ini dengan alasan itu, masa Hitlernya dipuja-puja sih. Nah, mereka lupa bahwa Hitler di buku ini adalah tokoh fiksi! Menurut orang-orang yang ngerti, memang cara ngomongnya si Hitler ini persis sama gaya orasi Hitler asli di video-video. Jadi ingat klip Hitler ngamuk dari cuplikan film Downfall yang rame diparodiin di Youtube itu. Emang sangat mudah menjadikan Hitler olok-olokan ya, dengan kumis kotak anehnya itu. Charlie Chaplin juga pernah bikin film buat menertawakan Hitler.

Kelemahannya? Hmmm mungkin saking jermannya, buat pembaca yang nggak pernah tinggal di sana, atau ngikutin berita politik dan budaya Jerman kaya diriku tuh agak susah 'nangkep'nya ya. Tapi terasa sih buku ini sarat kritik terhadap politik dan sosial. Trus di narasinya kan si Hitler ini memang digambarkan bahwa dia jago berkata-kata, tapi kok nggak diceritakan ya apa argumennya ketika dia berhadapan dengan seorang wanita tua Yahudi yang melarang cucunya bekerja ke Si Hitler ini? Sayang aja, menurutku...

In overall, kurasa ini buku yang hebat. Menghibur sekaligus memancing pembacanya untuk berpikir dan mengulik perasaannya. "Ahahaa that's funny! Errr wait... may I laugh about it?" Bangkek deh pokonya! Buku ini juga bikin aku teringat pertanyaan yang dulu pernah terpikir: kalau aku hidup sebagai orang Jerman tahun 1940, akankah aku setuju sama pemikiran Hitler? Menyalutinya 'Heil! Heil!' waktu dengar orasinya? Mungkin aja kan? Tokoh-tokoh yang sekarang dianggap 'penjahat' itu dulunya naik ke puncak kekuasaan dengan dukungan masyarakat lho. *Uhuk! Orba... Uhuk!*
 
Susahnya, buku kaya gini bisa dijadiin alat propaganda Neo-NAZI juga buat orang-orang yang mudah dibrainwash. Ofensif buat beberapa orang. Ada komentator di Goodreads yang bahkan nggak mau baca buku ini. Menjijikkan, katanya, dan dia juga mengecam orang-orang membaca Mein Kamf (manifestonya Hitler). Padahal menurutku sih balik lagi ke niatannya ya. Buat peace-keeper, membaca Mein Kamf tuh bisa menjadi peringatan supaya jangan sampai ada world war lagi kan ya? Yah aku sendiri belum tertarik baca sih hehe... Cuma kalau yang bacanya memang penganut Neo-NAZI mah mungkin malah makin terinspirasi ya. Tapi jaman sekarang adalah jaman informasi. Kalau kita melarang orang membaca dan kalau kita memusnahkan buku yang nggak sesuai dengan ideologi kita, apa bedanya dengan NAZI? Dengan para diktator?

Nah ngomong-ngomong pemaksaan ideologi, boleh ya mulur ke soal gay rights? Review bukunya udah kelar kok hehehe... Aku sendiri bukan homophobia tapi juga nggak mempromosikan homoseksualitas. Pokoknya ya bebas lah, pilihan masing-masing orang aja mau jadi hetero, homo, apa biseksual, selama nggak memaksa orang lain. Menurut agamaku sih, homoseksualitas tuh dikecam yah... (Tapi aku nggak muluk-muluk lah, buktinya beberapa pastor pernah ketangkap pedofilia sama anak cowo, gila kan! Kalau petinggi agamaku aja masih ada yang ngaco, punya hak apa aku bilang orang dosa atau kaga. Biarlah itu mah keputusan Tuhan aja.) 
 
Beberapa waktu lalu dunia heboh kan tuh soal pengesahan pernikahan homoseksual di US. Kalau menurut Om Hans Davidian, pengesahan ini tuh sebetulnya bukan masalah mempromosikan homoseksualitas tapi masalah pengakuan hak sipil warga negara karena selama ini pasangan homoseksual tidak mendapatkan benefit yang diperoleh pasangan heteroseksual. Tapi tahun lalu (kalau ga salah), pernah juga kubaca pasangan homoseksual yang mau get married menuntut seorang baker (apa pemilik venue gitu) karena menolak mereka sebagai klien karena agama si vendor wedding ini menolak homoseksualitas. Dan tuntutannya dikabulkan pengadilan! Lho kalo kaya gitu, di mana letak perlindungan kebebasan beropini dan beragama ya? Selama penolakan dilakukan dengan respectful (tanpa hinaan atau apalah), walaupun memang menyakitkan buat si pasangan homoseksual, tapi itu adalah hak si vendor dong? Tapi kalau dipikir lagi, memang jadi diskriminasi ya? Kebayang kalau vendor weddingku dulu nolak aku misalnya dengan alasan "duh nggak bisa, abis kamu beda agama sih sama aku." Pasti sebel juga. Ahhh pusing! Hahahaha...

06 August 2015

Kena Polip Mulut Rahim (Lalu Sembuh Sendiri?)

Cerita ini berawal 5 bulan yang lalu. Waktu itu umur si bayi menginjak 7 bulan, dan emaknya baru menginjakkan kaki lagi di praktik obgyn buat papsmear. Dasar emak-emak pamalesan hihihi... Ya abis gimana ya, sibuk ngurus anak dan kerjaan (cuih). Ceritanya menyadarkan diri buat papsmear. Kaya apa rasanya? Ya awkward siiihh... namanya juga pertama kali. Disuruh buka celana, duduk ngangkang di bangku periksa, terus bangkunya diengkol ke posisi sejajar kepala si dokter (ya Gustiiiii, malunyaa! Mana suami ga ikut). Sakit? Sedikit, pas masukin alat semacam dongkrak ke dalem Madam V terus diusap kerokan buat ambil sampel sel. Malu? Banget lah cuy! Tapi belagak it's nothing aja.

Hasilnya diinfokan dokter via BBM beberapa hari kemudian dan puji Tuhan hasilnya bagus.

Nah pas ceki-ceki tersebut, ketauanlah oleh si dokter bahwa ada polip di mulut rahimku. Bentuknya tipis tapi tersebar di beberapa lokasi seputar mulut rahim. Kata dokter, polip ini musti dicauter dan sebaiknya pakai bius total untuk mencegah akunya gerak-gerak (walaupun sebetulnya bius lokal juga bisa siih). Dengan bius total, dokter juga jadi leluasa untuk cek kondisi di bagian dalam mulut rahim yang nggak nampak dari luar dan buang polip di dalam (kalau ada). Trus kalau aku pakai asuransi, sebaiknya rawat inap supaya bisa di-reimburse walaupun sebetulnya ini operasi kecil dan boleh langsung pulang. Haduduuuu... napa idupku jadi penuh operasian begini yaa? Kirain Caesar will be the first and the last (amiiinn)!

Aku emoooh operasi. Kesatu, ga tau recoverynya gimana. Kedua, kasian kalo bawa si kecil nginep di RS, ranjangnya kan kecil dan anaknya udah motah banget gaya bobonya. Kalo doi ditinggal, aku ga kebayang mompanya secape apa (secara si bocah masih nyusu 4-5 kali sepanjang malam). Nggak mompa? Buset, ini aja stok udah tipis banget! Saking ngeri dan malesnya, aku cuekin dulu aja tuh si polip, tapi dalam hati suka waswas juga. Akhirnya suami nggak sabar, ngajak cek ke dokter lain buat minta second opinion. Aku searching-searching nyari obgyn yang subspesialisnya onkologi (kanker), biar sekalian konsul sama yang expert. Nemu nama dr. Sigit Purbadi di RS PIK dan dia praktik hari Sabtu.

Jadilah Sabtu lalu aku diantar suami dan si unyil main ke RS PIK. Ternyata tipe rumah sakit klasik gitu ya, nggak anyar kaya restoran-restoran di dekatnya (ya iyalah apa hubungannya). Kami nanya arah obgyn ke bagian informasi lalu dipersilakan turun ke basement. Baru kali ini liat ruang praktik dokter di basement. Kami daftar dan ngisi formulir lalu dipersilakan antri di depan ruang anamnesa (buat cek berat dan tekanan darah) lalu tunggu di depan ruang dokter. Dokter Sigitnya sendiri belum datang (saat itu jam 10.30 dan praktiknya harusnya mulai jam 10.00). Aku dapat urutan nomor 6.

Aku dipanggil masuk ke ruang anamnesa, ditimbang (masih sisa 3 kilo padahal hamilnya udah ampir setahun lalu hahahaa), diukur tekanan darahnya (110/70 as always), dan ditanya-tanya riwayat kesehatan (misal: pernah operasi ga, melahirkan kapan, dll). Habis itu, nunggu dokter. Lumayan lama, dia baru nyampe jam 11-an dan kami baru masuk jam 12-an. Akhirnya aku asyik aja ngeliatin ibu-ibu hamil yang pada abis latihan senam hamil dan check up; jadi pingin hamil lagi hihihi... 

Kami sempat hampir dilompat, tahu-tahu suster manggil no 7 (mungkin nomor kami keselip). Untung paksu sigap nanya suster jadi kami tetap masuk sesuai urutan. Udah laper bok hahaha... Aku langsung bilang ke dokter bahwa aku papsmear 4 bulan lalu dan dibilang ada polip mulut rahim. Aku pingin minta second opinion karena di dokter sebelumnya aku diminta operasi kecil. Dokternya menyahut santai, "kalau polip mah gampang kok tinggal dipotek." Dipotek, bo! Dokter buru-buru nyuruh aku duduk di kursi periksa. 

Suster nyuruh aku lepas celana dan gantungin di sisi bangku (posisi gantungannya pendek, cuma sepaha, sebel juga jeansku jadi kena lantai... mohon maklum aku kan bersihan hehe) dan nutupin kakiku lalu menaikkan si kursi. Dokter masang dongkrak dan ngecek. "Ah, mana, bersih kok!" katanya, lalu dia suruh suamiku ikut lihat (ya ampun vulgarnyaaa hahahaha). Dia foto pakai USG via Madam V buat bukti kalau mulut rahimku bersih.

Shocked? Jelas. Tapi bersyukur banget! Sebodo deh apa aku dikerjain dokter sebelumnya atau sembuh sendiri with the power of God, pokoknya yang penting sembuh! PS: menurut kakak iparku yang seorang dokter, polip mulut rahim nggak akan 'sembuh sendiri'. Jadi ya either mukjizat atau dokter lamaku ngaco hehehe... Sayang aku terlalu bloon waktu periksa itu nggak minta foto USG buat barang bukti.

BTW, biaya dokternya yahud bo: Rp 500 ribu! USGnya mah standard lah, sekitar 100ribuan. Yahsudlah buang-buang duit tapi kan nggak usah operasi. Hati pun tenang. Tinggal ngatur jadwal buat program bikinin adek buat si eneng, hihiiiyy! Wish us luck!

05 August 2015

Don't Touch My Baby!

Rasanya pingin pake plang bertuliskan begitu setiap pergi sama si baby. Ya, maksudku bukan betul-betul melarang orang menyentuh si unyil sih, tapi membatasi sentuhan mereka. Gimana nggak kesel, selama ini udah ga keitung:
- Kasir-kasir yang megang-megang tangan si baby padahal dia habis megang uang dan banyak barang (yang tentunya penuh bakteri).
- Berbagai orang ga dikenal nowel-nowel pipi si kecil dengan kebersihan tangan yang meragukan.
- Orang-orang yang nyosor nyium si bocah tanpa izin emaknya (some of them were even unknown people that we've just met dan seorang tetangga bahkan pernah nyium bibir si bocah!) yang bener-bener bikin aku NAIK DARAH.

Okelah, makasih udah menganggap anakku lucu sampe ga tahan pingin nguyel-nguyel.... tapi mbok ya nanya dulu kek ke emak/bapak/neneknya, boleh pegang ga? Kan risih ya, kita nggak tahu kebersihan tangan dan mulut mereka. Ada lho bakteri mulut yang bikin gigi rusak. Gimana kalo ternyata mereka perokok dan nikotin nempel di mulut, tangan, dan pakaian mereka? Ada lho anak bayi mati kena herpes yang ternyata ditularkan dari ciuman papanya sendiri! Lha ini bahkan dicium orang asing!

Sebelnya, kalo disindir malah orangnya nggak ngerasa, ditegur malah orangnya ngeyel. "Jangan cium si eneng, Bu, enengnya lagi pilek, nanti nular," sindir mamaku. Malah disahutin, "Gapapa sini tularin sama Oma!" Yeee! Anak gue sehat, Buuukk, tapi mana tahu ada bakteri apa virus nempel di dirimu! Anak bayi kan masih rentan banget. Si tetangga yang nyium bibir si eneng sampe disemprot sama mamaku (bhaay rasa sungkan... Mama esmosi liat cucunya dicium-cium hahahaa), "Jangan cium-cium ah Bu, saya nggak suka! Papa mamanya juga nggak suka, jangan dibiasain!" Ehh si ibu malah nyaut, "Abis biar nular putihnya..." Ya kaleee? Hahaha... dia sampe improvisasi bikin excuse ngaco saking shocked dimarahin kali yaa...

Abis itu si bocah yang kena 'omelan' dariku dan mamaku, "Kamu mah napa sih ketawa-ketawa aja kalo orang cium teh? Cakar aja! Kalo mama yang ciumin malah jual mahal. Jangan murah-murah amat atuh sama orang lain!" Hahahaha... mama dan nenek yang absurd! Si baby boro-boro ngerti, cuek aja ngeliatin kita.

FYI, aku nggak ngelarang kok keluarga dan sahabat-sahabatku meluk, gendong, megang dan occassionally nyium pipi si eneng. Mayoritas dari mereka (terutama yang punya anak atau ponakan kecil) udah tahu bahwa sebelum pegang bayi itu harus cuci tangan dulu dan nyium bayi hanya dilakukan dalam kondisi fisik yang betul-betul prima. Jika mereka punya anak, syaratnya nambah: kondisi kesehatan anaknya juga sedang betul-betul prima (karena kalo anaknya lagi sakit, bisa aja virus dan bakterinya nempel di ortunya kan). Dan mereka biasanya nrimo ketika di-'warah' alias dikasih tau dulu untuk mencuci tangan dll kalau mau nyentuh si bayi.

Sekarang strategi kami buat mengatasi sentuhan-sentuhan tak diinginkan adalah sbb:
1. Menghindari tempat ramai. Hihi beneran lho, kalo tempatnya rame lebih tinggi probability ditowel-towelnya. Di tempat ramai, si kecil kugendong menghadapku supaya lebih susah kalo ada yang mau nyipok ato nowel pipi (soalnya muka si baby nempel ke emaknya hihi).
2. Ketika gendong si kecil dan diajak ngobrol orang, lihat gelagatnya. Kalau gelagatnya mau pegang-pegang, pura-pura aja mau buru-buru ke manaa gitu. Ntar kalau dia udah bisa jalan, mau kami biasakan supaya tangannya selalu kami gandeng, dan makin besar mau kita ajari say no to strangers.
3. Ajarin si kecil dadah atau high-five. Kami lagi usahain dia belajar kiss-bye. Masih mending high-five deh daripada dicium orang ga dikenal. Ntar kalo dia gedean mau kami ajarin buat say 'no' kalau dipeluk atau dicium orang lain and just shake hands.
4. Di lingkungan yang sering ditemui si anak (misal: tetangga, komunitas di mana ortunya jadi member macam arisan RT dll atau di sekolah kakaknya), jujur dan dengan sopan meminta orang-orang tidak mencium si anak. Alasannya bisa bilang karena dilarang dokter, buat jaga kesehatan, kebiasaan di keluarga, dll. Atau minta pegang kaki si bayi aja karena tangannya suka masuk mulut.
5. Menghindari perokok. It may be offensive but I don't care: kalo mau meracuni diri dengan nikotin ya nggak usah ngeracunin anak orang ya.
6. Last but most important effort: selalu bawa tisu antiseptik dan hand sanitizer. On some occasions di mana orang nyosor kilat dan nggak sempat kita cegah, ya si kecil kuangkut pergi aja trus kulap-lap dan ajak cuci tangan.

Beberapa situs parenting ngasih saran buat bilang, "Maaf ya ini anaknya belum lengkap vaksinnya jadi masih musti hati-hati... kadang kita orang dewasa sih ngerasa sehat tapi sebetulnya ada kuman penyakit di badan kita." atau bahkan ditambahi, "Ayah ibunya aja masih jaga-jaga, nggak cium-cium mukanya dulu." Di ruang tamu juga bisa pasang tulisan 'Wash your hands before touch the baby!' hahahaa.

Kalau ada yang bilang 'kuman dikit mah bagus supaya anaknya kebal!', tahan emosi dan sahutin aja dengan kalem, "Iya tapi sekalinya sakit kalo masih bayi gini kan kasihan, pilek dikit aja anaknya kaya kesiksa banget. Mending kitanya hati-hati aja." Kalo masih ngeyel mah tinggalin! Emangnya kalo anak kita sakit, dia yang urusin dan bayarin dokternya?

Di luar masalah higienitas, anak-anak harus dibiasakan untuk mengenal dan mengontrol ruang privasi mereka. Mau gimana jadinya kalau sampai besar dia menganggap lazim dipeluk-ciumi bahkan sama lawan jenis yang lebih tua? Jaman udah gila, banyak pedofil sekarang bebas berkeliaran nyari mangsa. Kita para orang tua musti lebih waspada. Salah satu caranya, tentu aja dengan memastikan si kecil berani melarang orang (terutama orang asing dan orang yang membuat si kecil merasa nggak nyaman) untuk menyentuhnya tanpa izin, tentunya dengan cara yang sopan. Dan selagi si kecil belum bisa membatasi perlakuan orang ke dia, tugas kita buat melindungi dia. Sebodo deh mau dibilang clean-freak atau germphobic juga.

30 July 2015

Baby Kena Infeksi Saluran Kencing

DAY 1
Hari Senin jam 5 pagi, si eneng bangun buat nyusu sambil kentut-kentut seperti biasa (hihi maaf vulgar yak) lalu bobo lagi. Walaupun saya udah feeling 'ni anak kayanya pup', tapi karena 2 alasan saya tunda untuk ngeceknya:
1. Si eneng biasanya keliatan ngeden kalau pup, sedangkan tadi cuma kentut-kentut aja.
2. Si eneng langsung tidur lagi dengan pulas dan keliatan masih cape. Mengingat kami habis meng-'abuse' dia dengan membawa dia bepergian setiap hari sepanjang libur Lebaran (dan hari Senin itu pun masih akan bawa dia jalan-jalan ke Bekasi), saya pikir biarlah si eneng istirahat dulu... toh palingan dalam 20-30 menit lagi juga dia bakal bangun (karena badan si eneng kaya ada alarmnya).
What a stupid mistake!

Ketika dia betul-betul bangun, langsung saya buka popoknya. Wahhh betul aja, udah penuh dengan tokai (maaf yaa...)! Rupanya si eneng mencret... tumben. Langsung saya ceboki dia sambil mengingat-ingat aja kemarin saya dan si eneng makan apa aja yang kira-kira bikin dia mencret. Sampai sekarang pun saya nggak tahu apa tuh.

Siangnya, ketika kami sedang di rumah famili kami di Bekasi (sekitar jam 12 siang), si eneng kelihatan resah. Nyusu sambil merem-merem, bangun dan menjelajah kasur saudara kami, merengek minta nyusu, dan seterusnya berulang-ulang. Kami pikir dia ngantuk tapi susah tidur karena excitement di tempat baru. Punggung dan ketiaknya agak panas tapi kukira hanya karena kegerahan. Karena dia udah agak rewel, kami putuskan untuk pulang. Di mobil akhirnya dia bisa tidur sambil menyusu.

Sorenya kami perhatikan keningnya pun mulai hangat, selain punggung dan ketiaknya yang makin panas. Kami ukur suhunya 37,6C. Wah tumben nih, si eneng demam. Kami beri saja King Fung Powder (Ke Hong San) yang selama ini tokcer mengatasi gejala sakitnya si eneng. Habis itu kuajak dia tidur lebih awal. Semalaman dia resah, keringatnya banjir membasahi sprei.


DAY 2

Neng kecilku bangun dengan resah, pakai acara nangis segala nggak kaya biasanya. Kami beri Ke Hong San lagi. Sampai siang badannya masih panas dan anaknya rewel. Nggak mau nyemil sedikitpun, maunya nemplok aja. Suhunya mencapai 38,3C. Kami berikan Sanmol drop 0,6ml dan syukurlah suhunya menurun ke 36C-an. Anaknya pun bisa morning nap cukup pulas.

Seharian, demamnya naik terus (menurun hanya kalau diberi Sanmol yang kami kasih sekitar 6 jam sekali) dan mencapai 39C. Kasihaaan sekali lihatnya... resah banget dan rewel. Kucoba skin-to-skin kalau dia menyusu tapi kayanya dia masih merasa nggak nyaman. Kulitnya yang nempel di kulitku terasa panas sekali. Kami tetap mandikan dia dua kali sehari dengan air hangat seperti biasa, sekalian untuk ngompres dan kelihatannya dia selalu lebih nyaman sehabis mandi. Mukanya mutuuung terus sejak kemarin nggak ada senyumnya. Kalau soal makan... lagi sehat aja susah, apalagi demam gini ya. Maunya cuma nyusu terus menerus. Tapi gapapa deh, biar cukup cairan. Hari itu pun pupnya masih bertekstur encer, nggak seperti biasa.

Malamnya pun dia super gelisah dan suhunya naik lagi ke 39C. Dia baru bisa tidur lagi setelah diberi Sanmol jam 2 subuh. Saya, suami, dan mama saya sampai susah tidur karena takut dia kejang. Saya dan suami memang nggak ada riwayat kejang tapi kakak ipar saya pernah kejang waktu kecil. Saya putuskan buat membawa si eneng ke dokter besok pagi-pagi, nggak perlu nunggu demam 3 hari. Bolos dulu deh hari pertama ngantor, yang penting anak sembuh dulu.


DAY 3

Kebetulan suamiku nggak ada jadwal meeting pagi jadi dia bisa ngantar kami ke RS Bethsaida. Si eneng masih lemas; nggak pakai dimandikan pokoknya langsung kami gantiin baju dan popoknya lalu kami angkut. Biasanya di mobil dia sibuuuk banget pingin pegang safety belt lah, lihat keluar jendela lah, manjat jok lah. Kali ini dia terkulai lemas di pelukanku, mengibakan banget... nyampe RS dia malah ketiduran.

Syukurlah dr. Johannes praktik seperti biasa. Setelah memeriksa si eneng, dia sarankan untuk cek urine. Menurut analisanya, biasanya ada 3 kemungkinan:
1. Rotavirus (karena memasukkan segala barang ke mulut; tadinya analisa ini yang saya rasa paling memungkinkan, apalagi mengingat si eneng mencret dua hari ini).
2. Infeksi saluran kencing dari bakteri.
3. Virus roseola.
Kemungkinan radang tenggorokan ditampik dr. Jo, "Anak sampai umur 3 tahun jarang kena radang tenggorokan, kecuali suka makan gorengan." Dia juga mencek telinga, hidung, kerongkongan, dan kemaluan si kecil tapi ga komen apa-apa. Suhu si eneng 38,3C (nggak kami kasih Sanmol dulu supaya ketauan sepanas apa, lagian si enengnya nggak terlalu rewel).

Suster memasangkan urine collector dan mempersilakan kami memberi paracetamol kalau mau (sayangnya kami lupa bawa dan akhirnya kami nggak beli lagi, biar si eneng nyusu aja). Dokter melarang kami memberi ibuprofen selama si kecil belum mencapai 2 tahun. Saya bawa si eneng ke nursing room supaya dia nyusu terus (biar cepat pipis). Si suami menunggu di luar sambil ketak-ketik laptop ngurus kerjaan. Ehh sampai jam 10 si bocah tak kunjung pipis, malah ketiduran. Kusuruh paksu berangkat kerja aja, kasihan udah kesiangan banget. Kucoba tetesi mulut si kecil dengan air putih, malah ngamuk hihi... Nggak lama kemudian, ehh dia malah ngeden dan pup hahahaa! Teksturnya udah agak memadat, tapi tetap aja urine collectornya kena dan kotor. Kucabut aja dan kuceboki si eneng, lalu kuminta suster pasangkan lagi urine collector baru.

Jam 11an barulah si eneng pipis. Lahh... pas dicek, urinenya udah tumpah dari collector ke popoknya. Cape deehh... Ternyata saya salah menggendong si eneng pakai carrier. Harusnya bagian bawahnya jangan tertekan sama sekali. Ya mohon maklumlah ya, belum ngerti... Akhirnya dr. Jo (yang jam praktiknya udah abis) dan susternya menyarankan buat nunggu si eneng pipis di rumah aja. Saran mereka, si eneng dibiarkan aja nggak pakai popok ataupun celana, jadi lebih mudah mendeteksi ketika dia pipis. Dr. Jo kayanya udah lihat alamat rumahku, katanya, "Nanti nggak apa-apa kok kalau periksa ke Omni. Kasihan jauh kan ke sini." Sebelum pulang, saya mampir ke lab buat nanya takaran minimum urinenya segimana. Mereka ngasih tabung, "sepertiganya cukup kok Bu." Mereka pesan kalau urinenya dikumpulkan dalam 2 kali pipis, jangan sampai jaraknya lebih dari 1 jam.

Kami pulang naik taksi, si eneng tidur lagi di jalan. Nyampe rumah, lepas celana dan popok si kecil, oper dia ke mama, dan saya langsung kalap nyari makan. Laper berat dari tadi diisep terus ahaha... Habis itu ya nyusuin lagi, sambil saya dan mama bersahut-sahutan "sssshhhhh ssssshhhh" buat mancing si eneng pipis hahaha... Akhirnya jam 13.30 keluarlah tu pipis. Langsung kupegangi dia di posisi berdiri supaya aliran pipisnya lurus ke collector. Cuma dapet sekitar 30 ml tapi sabodolah. Mama buru-buru bawa sampel urine ke Omni; saya mandiin si eneng. Sehabis mandi dia nampak sangat segeran. Suhunya menurun ke 36C padahal hari ini belum dikasih Sanmol dan udah mulai mau main. Senyumnya pun udah nongol lagi (duuuhh neeeeng, mamamu kangen beraaat sama senyummuu). 

Mama baru pulang jam 4an bawa hasil lab. Wah betul aja, bakteri positif dan leukositnya tinggi, hiiiks! Kayanya gara-gara pup ga langsung dicebokin itu! Yang aneh, asam uratnya juga positif. Kok bayi kena asam urat sihh? Berbekal hasil lab, kubawa si eneng ke Omni. Kupilih dr. Andy Sugoro yang paling senior. Nunggunya lamaaa bener, 40 menitan. Ternyata dia lagi visitation ke kamar pasien. Setelah melihat hasil labnya, dokter membenarkan bahwa si eneng kena infeksi saluran kencing. "Kalau DB mah demamnya nggak akan turun di bawah 38C walau sudah diberi paracetamol," katanya. Dia memberikan resep puyer antibiotik untuk membunuh bakterinya lalu meminta kami cek lagi urine si kecil ketika antibiotiknya habis, dan sebulan setelahnya. 

Kutanya penyebab ISK. Menurut penelitian si dokter, ada 3 penyebab paling umum:
1. Berenang.
2. Popok kotor.
3. Perempuan rentan ISK.

Dokter sebetulnya prefer si eneng dirawat inap karena kondisinya sudah terkena demam, yang artinya infeksinya sudah mengenai saluran kencing atas (katanya kalau baru kena saluran kencing bawah biasanya belum demam) tapi dia menyuruh saya pantau dulu di rumah dalam 2 hari ini. Aku disuruh kasih Sanmol drop 1,2 ml ("Jangan 0,6 doang, nggak ngefek," katanya. Hahaha mungkin karena berat si eneng ya. Kalo panduan umur kan masih 0,6.) "Kalau terus demam, langsung bawa ke sini ya," katanya. Soal asam uratnya, dokter kaya nggak terlalu concern. Katanya cukup kurangi sayur hijau dan perbanyak minum aja.

Kutebus obatnya. Lumayan lama meraciknya, 40 menitan. Dosisnya 3x sehari selama 8 hari; harus sampai habis. Akhirnya ketika kami sampai rumah, sudah jam 19.00! Obatnya kami berikan (pakai acara nangis histeris secara dia nggak suka rasanya) lalu dia tidur jam 20.00. Semalaman tidurnya masih agak gelisah tapi suhunya udah stabil di 37C-an.


DAY 4-5

Saya udah ngantor lagi walau agak resah meninggalkan si eneng. Yah setidaknya dia udah ga demam tinggi, tapi tetap saya minta dia dipingit dulu aja (biasanya kan tiap pagi dia dibawa jalan-jalan keliling komplek). Menurut laporan mama saya, si eneng banyak tidur dua hari ini. Setiap bangun, nyusu, main bentar, merengek lagi minta digendong, tidur lagi. Mungkin efek obatnya. Pupnya pun masih encer. Yang kasihan ya mamaku, mana ART harian kami nggak nongol-nongol. Di akhir hari Jumat, si kecil udah mulai bisa ketawa-ketawa lagi (walau jarang) dan suhu badannya udah normal.


DAY 6-7

Fiuhh, udah weekend lagi hihihi... jadi bisa nemenin si kecil. Puji Tuhan, kondisinya udah jauh membaik. Hari Sabtu bahkan dia udah minta diajak jalan-jalan pagi seperti biasa (nunjuk-nunjuk pintu, minta keluar). Sabtu siangnya juga kami bawa makan di mall sebentar (gendeng yak, tapi kan demamnya bukan karena virus hahaha) dan Minggu pagi kami bawa ke gereja. Walau belum seceria biasa, tapi udah mulai ada senyumnya. Makannya masih susah. Yang bingung, kok pupnya masih encer ya?


DAY 8-12

Weekdays; saya ngantor seperti biasa. Menurut cerita mamaku, si kecil udah nggak bisa diam kaya biasa. Ketawanya juga udah banyak lagi. Tapii... minta nyusu mulu, susah makan. Haiyaaa....hahahaha... Mana produksi saya lagi agak seret akibat datang bulan. Senin valve pompa rusak jadi hasil pompaan kurang 150 ml dari demand (500 ml). Selasa saya dapat kerjaan mendadak dan harus pulang malam, yang mana artinya nggak sempat mompa sore dan si eneng pun kebagian 1 botol sufor karena stok di chiller dah abis dan nggak sempat angetin stok dari freezer. Kemudian ketika saya nyampe rumah dia udah resah gundah gulana nyariin emaknya *terharuuu*! Rabu pupnya udah padat lagi tapi jadi nangis deh pas ngeden. Uh, serba salah!

Obatnya habis hari Kamis malam (total 8 hari minum obatnya) jadi saya harus belikan urine collector lagi nih. Semoga ngumpulin urinenya gampang dan hasil tesnya bagus yaakk...

NOTE
BTW, hasil pembicaraan sama kakak ipar dan teman yang berprofesi dokter: pake pospak tuh gapapa (bahkan kalau misalnya bablas semaleman). Desain pospak jaman sekarang tuh canggih kok. Ya emang sebelum ini juga berbulan-bulan si eneng pake pospak bablas semaleman (10 jam) gapapa kok... Cumaa WAJIB BANGET langsung bersihin begitu pup! Nah emang biasanya juga gitu, cuma saya teledor kemarin ini. Apalagi kalau anaknya perempuan, bener-bener nggak boleh lengah karena sangat rentan kena ISK. Ponakan teman saya juga gitu, kena ISK gara-gara nunda bersihin pup 10 menit (karena kagok, lagi makan). Hati-hati ya, peeps!

Lanjutannya

Tes urine akhirnya baru dilakukan hari Senin siang, telat 4 hari! Abisnya beberapa hari aku nyari urine collector di apotek dan lab dekat rumah nggak ada semua. Mau beli ke RS, ga keburu. Akhirnya Minggu mamaku berkreasi pakai plastik tomat (kantong plastik makanan biasa) pake selotip gede. Ehh tumpah. Senin baru berhasil kekumpul. Ternyata hasilnya masih agak tinggi leukositnya, huhuuu... Bakterinya juga masih positif 1. Selasa sore sepulang kantor kubawa lagi si eneng ke dr. Andy. Ga pindah-pindah dokter ah, biar tuntas. Dokter ngasih antibiotik lagi buat 5 hari dan begitu mau habis harus tes urine lagi. 

Kasihan si eneng, dia nggak suka banget obat antibiotik ini, nggak kaya Kehongsan. Tiap disuapin obat sampe jerit-jerit panik padahal kalo Kehongsan mah dia sruput-sruput nikmat dan malah nangis kalo abis hahaha. Mana sekarang jadi susah minum air putih kalau bukan sehabis minum obat! Kayanya dia identikkan air putih sama obat deh. Puji Tuhan hasil tes berikutnya bagus. Normal semua. 

Eneeeng, jangan sakit lagi dooong, sehat-sehat selalu yaahh!