Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

18 March 2018

Menunggu Big Bad Wolf Books 2018

Auuuuwwww!

Big Bad Wolf books akan segera diselenggarakan buat ketiga kalinya di ICE BSD akhir bulan Maret ini! Siapa lagi yang semangaaattt? Sayaaaa (tapi dompet dan rekening siap-siap meregang nyawa hahaha)!

Yang belum pernah ke sana biasanya nanya saya gini, "Emang murah banget ya buku-bukunya? Bagus buku-bukunya?" Tentu sajaaah, kalau enggak ngapain kan saya semangat 45 gini. Kenapa BBW ini dinanti-nanti di rumah kami?

1. Harga buku yang ruaawwrr biasa murah dibandingkan toko buku besar. Discountnya 60-80%!
Misalnya nih yaa... di BBW saya bisa beli buku anak seharga Rp 80.000! Ketika saya lihat judul yang sama di toko buku di mall, harganya 2 kali lipat!
Kebayang kan buku resep tebal penuh foto full colour yang biasanya seharga 300-400 ribu, bisa dibeli dengan seharga 150-200 ribu saja? Banyak juga buku resep dan craft seharga di bawah 100 ribu.

2. Variasi buku yang amazing buanyaknya. Segala genre ada sampai sedih. Lho kok malah sedih? Soalnya jadi semakin banyak yang mau dibeli hahahaha... Biasanya pasti saya beli 3-4 buku resep, novel fiksi, buku crafting, dan... PULUHAN BUKU ANAK! Hahahaha... Ya namanya juga emak-emak yaa. Gara-gara BBW, saya baru nyadar bahwa buku anak jaman sekarang tuh keren-keren banget ya... Perasaan dulu saya cuma tahu buku cerita dan ensiklopedia aja haha... Punya RPUL aja udah girang banget dulu mah.
Saya juga lihat banyak banget buku ekonomi dan manajemen, arsitektur dan desain, sejarah, kesehatan, self improvement, dan lain-lain.
Buku bahasa Indonesia juga ada lho, karena BBW ini bekerja sama dengan penerbit Mizan. 

3. Lokasinya cukup dekat rumah, alhamdullilah yaa... Tapi BBW di Surabaya, Kuala Lumpur dan Bangkok pun saya sempat ikutan via jastip alias jasa titip hahahaha...

4. Buku adalah investasi (menurut saya) jadi ini kesempatan yang baguuus sekali buat mengumpulkannya. Ya walaupun jadinya sepanjang tahun menghindari toko buku karena budgetnya sudah habis duluan di BBW hahahaa... Ya misalnya dengan budget segitu cuma bisa beli 2 buku per bulan, di BBW jadi bisa dapat 4-6 buku! Tentu saya pilih BBW kan?


Terus, ada tips ga buat pergi ke sana?
1. Bawa air minum. 
2. Pakai sepatu sport atau sandal dan baju yang nyaman. ACnya lumayan bagus kok di ICE jadi kayanya ga usah takut kegerahan. Yang biasanya mengagetkan adalah ukuran hallnya! Guedeee! Kalo mau diputerin semua, bisa seharian dan lumayan pegel rasanya.
3. Bawa koper 4-wheels kosong. Ini suka dikira bercanda kalau saya ngomong gini, tapi serius lho hahaha... Buku kan berat ya.
4. Hindari weekend.
5. Tetap join grup jastip karena biasanya buku bagus dikeluarkan malam atau subuh dan langsung dihabres sama jastip hahaha.
6. Daftar membership dan usahakan mendapat tiket preview day. Walaupun ga semua buku dikeluarkan di preview day, tapi biasanya jumlah tamu dibatasi.
7. Bawa cash atau Mandiri card. Jangan pakai BCA, ga diterima hehehe.
8. JANGAN TINGGALKAN KERANJANG BELANJA ANDA! Lengah sedikit, bisa dikira keranjang ga bertuan dan isinya diambil orang lain lho, serius. 

Nah, see you at BBW ya! Buat yang di luar kota, silakan kontak @jastipbbwjkt atau WA ke 087878733456 buat saya bantu pilihkan buku. Ciao!


13 August 2015

Book Review: Look Who's Back by Timur Vermes Plus My Thoughts On Genocide Hoax, Rasisme, and Minority's Right

Saya sudah nggak mau menyatakan diri sebagai 'kaum minoritas', karena saya adalah orang Indonesia. Titik. Merasa diri minoritas berarti saya merasa berbeda. 'Kecil'.
Kalau ada yang nanya label-label Suku, Agama, Ras, Golongan tanpa konteks, saya cenderung menghindar untuk menjawab.
Kalau saya Kristen Katolik, lantas kenapa? Kalau saya keturunan cina, lantas kenapa? Haruskah diperlakukan berbeda dari orang keturunan Ambon, Batak, Jawa, Sunda? Saya sendiri lebih mengidentifikasi diri ke Sunda dan nggak merasakan patriotisme ke negeri Cina sama sekali. Pingin ke sana pun kagak.  Bisa bahasanya pun nggak. Kebetulan aja buyut saya lahir di sana. Udah lebih dari 100 tahun keluarga saya tinggal di Indonesia dan masiiih aja dianggap pendatang. Seriously, dudes? Kami bayar pajak ke Indonesia lho!

Sejak kecil saya diajari nilai-nilai nasionalisme sama mama. Wah, bangganya setiap lihat nama Indonesia sebagai nomor 1 negara ASEAN penghasil _____ (isi aja dengan nama komoditi apapun) di RPUL. *bongkar umur banget ya* Makanya sewaktu kerusuhan 1998 terjadi, saya teramat sangat shocked. Traumatized. Kenapa tiba-tiba status 'cina' menempel lekat dan menjadi sesuatu yang membuat saya harus waswas setiap kali keluar rumah? Kenapa saya 'diincar' karena bentuk mata dan warna kulit yang sedikit berbeda dari 'mayoritas'?

Saat itu saya masih SMP dan nggak begitu mengenal dunia. Membaca berita dan cerita tentang kerusuhan di Jakarta membuat saya ketakutan setengah mati. Perempuan 'cina' diperkosa dan disiksa, laki-laki 'cina' disiksa dan dibunuh. Rumah orang 'cina' diserbu. Toko 'cina' dijarah. Papa saya panik berat, teringat kerusuhan yang dialaminya tahun 1963, ketika rumahnya diserbu perusuh dan dia harus bersembunyi di lemari selama berjam-jam. Puji Tuhan rumahnya nggak dibakar dan seluruh anggota keluarganya selamat, tapi kejadian itu membekaskan trauma yang dalam. Kami cuma bisa merenung. KENAPA KAMI SAMPAI BEGINI DIBENCI? Kami nggak punya salah ke masyarakat Indonesia. (Malah keluarga eks-presiden yang terbukti korupsi triliunan Rupiah dipuja-puja! Helooow?) Apa kami salah karena leluhur kami tidak lahir di Indonesia? Apa kami bukan orang Indonesia karena baru 2-3 generasi lahir di sini? Apa kami bukan manusia?

Dan sekarang, hampir 20 tahun kemudian, banyak orang menyatakan bahwa kejadian tahun 1998 terhadap etnis cina tersebut 'hoax' dan 'hiperbola'. WOW! Okelah, saya nggak kenal sama satupun korban kejadian tersebut (puji Tuhan semua keluarga dan teman saya selamat secara fisik dan kejiwaan walaupun ada juga yang kena jarah). Tapi begitu mudahnya menyatakan bahwa kejadian itu nggak nyata? Karena korban-korbannya nggak mau maju dan menuntut keadilan lalu mereka dianggap nggak ada? Padahal mereka ketakutan untuk bersuara karena lemahnya sistem peradilan negara ini (yang bahkan masih menganggap perkosaan hanya terjadi ketika ada penetrasi alat kelamin) dan budaya menyalahkan korban perkosaan (bukan pelakunya)! Padahal beberapa di antara mereka sampai menderita penyakit kejiwaan bahkan bunuh diri akibat trauma yang mereka alami! Dan masih banyak yang mengingkari kejadian kerusuhan 1998? Keterlaluan. Ini salah satu artikel yang ditulis seorang mantan wartawan Forum Keadilan, Sien Tjiaw. Dia pun gagal mendapatkan wawancara dengan korban perkosaan 1998. Di luar ketiadaan saksi formal, saya percaya bahwa saat itu 'kaum etnis cina' dikorbankan (dan hampir mengalami pemusnahan atau genosida).

Saya teringat kembali soal kerusuhan 1998 karena baru-baru ini saya membaca sebuah buku fiksi yang kebetulan berlatar belakang masa kekuasaan Hitler di Jerman. Di salah satu buku, diceritakan tentang Kristallnacht. Saya googling untuk cari tahu tentang peristiwa ini, yang ternyata adalah penjarahan dan pengusiran kaum Yahudi Jerman. Pelakunya sudah tentu partai NSDAP alias NAZI. Googling lebih lanjut... ternyata banyak sekali orang yang menganggap bahwa HOLOCAUST (alias pemusnahan massal) yang dilakukan Nazi adalah hoax! Argumennya pun sangat meyakinkan dan dijamin bisa menggoyahkan kepercayaan terhadap holocaust. Terutama argumen soal jumlah kaum Yahudi yang dibantai. Aliansi AS-Soviet dkk menyatakan bahwa jumlah korban mencapai 6 juta orang. Sebelum PD II (perang dunia kedua), statistik menyatakan bahwa orang Yahudi ada 5 koma sekian juta orang, nah masa abis semua semasa perang? Menurut sejumlah info, korban jiwa Yahudi harusnya 'hanya' beberapa ratus ribu orang saja. Argumen-argumen lainnya pun banyak sekali. Satu yang kusayangkan, banyak pendukung holohoax ini seolah menyatakan bahwa NAZI's war crime nggak terjadi dan hanyalah propaganda Israel. Some of them are Neo-NAZI.

Duh! Okelah, selalu ada kemungkinan pergeseran realita dalam sejarah (e.g.: G30S/PKI dan Supersemar yang mungkin nggak akan pernah kita ketahui, fact or hoax). Okelah, mungkin holocaust didramatisasi untuk kepentingan propaganda. Tapi apakah kemanusiaan hanya berlaku ketika melibatkan jumlah jutaan manusia? Apa 1 nyawa terbuang itu bukan pelanggaran kemanusiaan? Siapapun yang mempropagandakan perang memang sudah seharusnya menjadi musuh humanisme, baik itu Hitler ataupun George W Bush. Begitu juga siapapun yang bertanggung jawab atas kerusuhan 1998 di Indonesia. Gue naif dan sok idealis? Sebodo.

Oke, balik ke review buku. Dengan pemikiran seperti itulah, saya membaca novel satire karya Timur Vermes berjudul Look Who's Back. (Novel fiksi tentang Kristallnacht yang saya sebut tadi itu malah belum saya kelarin hehehe...) Judul asli dalam bahasa Jermannya adalah Er Ist Wieder Da (yang katanya berarti: dia kembali).
17289087
Mirip siapa hayooo?
Tokoh utamanya, tentu saja, sesuai gambar sampulnya: Adolf Hitler! Diceritakan dalam bentuk sudut pandang orang pertama, dia terbangun di Berlin di tahun 2011, entah bagaimana (dan Si Hitler terlalu logis untuk berkutat pada pertanyaan yang tidak terjawab) dan tampaknya lupa bahwa dia udah bunuh diri. Catatan pinggir: well, pada kenyataannya, mayatnya udah dibakar dan abunya dibuang di laut dan sisa tulang yang ada - ketika dites - ternyata bukan tulang dia, jadi ada teori konspirasi bahwa dia berhasil kabur dan hidup tenang pasca-perang bersama istrinya, Eva. Fucked up eh?

Hitler yang ingatan terakhirnya adalah tahun 1945 jadi cengo melihat perkembangan jaman (Banyak mobil di jalan! Bangunan berdiri megah!) dan ditolong oleh seorang penjual koran di kios pinggir jalan. Dia dikenalkan dengan beberapa orang dari kantor produser TV dan pufff! Hitler pun menjadi stand-up comedian! Semua orang di sekitarnya mengira dia adalah satire comedian dengan method-acting yang luar biasa. Catatan pinggir: method acting adalah teknik akting di mana si actor betul-betul meresapi persona tokoh yang diperankannya, baik perasaan maupun pemikirannya berdasar perasaan dan pengalaman yang pernah dialaminya sendiri dan kadang bahkan dalam kehidupan nyatanya dia tetap berperan sebagai orang itu. Contoh method actor adalah Christian Bale, Al Pacino, Anne Hathaway, dan Heath Ledger (lihat performancenya sebagai Joker, wew).
Dengan monolognya yang 'mengerikan', dia menjadi tenar. Ironisnya, Hitler sendiri merasa langkahnya masuk ke pertelevisian adalah propaganda yang tepat untuk kelak mendirikan kembali NSDAP dan menciptakan Jerman yang tangguh dan murni (alias bebas dari Yahudi).

Gila ya temanya? Sebagai satire, kurasa buku ini bener-bener lihai deh ngobrak-abrik pemikiran dan perasaan pembacanya. Kenapa? Karena Hitlernya likeable! Lucu! Simpatik! Kok bisa, dia kan Hitler yang mengerikan ituuu!!! We should hate him, right? He's a human monster, war-wager, hate-crime politician, right? Banyak orang nggak suka sama buku ini dengan alasan itu, masa Hitlernya dipuja-puja sih. Nah, mereka lupa bahwa Hitler di buku ini adalah tokoh fiksi! Menurut orang-orang yang ngerti, memang cara ngomongnya si Hitler ini persis sama gaya orasi Hitler asli di video-video. Jadi ingat klip Hitler ngamuk dari cuplikan film Downfall yang rame diparodiin di Youtube itu. Emang sangat mudah menjadikan Hitler olok-olokan ya, dengan kumis kotak anehnya itu. Charlie Chaplin juga pernah bikin film buat menertawakan Hitler.

Kelemahannya? Hmmm mungkin saking jermannya, buat pembaca yang nggak pernah tinggal di sana, atau ngikutin berita politik dan budaya Jerman kaya diriku tuh agak susah 'nangkep'nya ya. Tapi terasa sih buku ini sarat kritik terhadap politik dan sosial. Trus di narasinya kan si Hitler ini memang digambarkan bahwa dia jago berkata-kata, tapi kok nggak diceritakan ya apa argumennya ketika dia berhadapan dengan seorang wanita tua Yahudi yang melarang cucunya bekerja ke Si Hitler ini? Sayang aja, menurutku...

In overall, kurasa ini buku yang hebat. Menghibur sekaligus memancing pembacanya untuk berpikir dan mengulik perasaannya. "Ahahaa that's funny! Errr wait... may I laugh about it?" Bangkek deh pokonya! Buku ini juga bikin aku teringat pertanyaan yang dulu pernah terpikir: kalau aku hidup sebagai orang Jerman tahun 1940, akankah aku setuju sama pemikiran Hitler? Menyalutinya 'Heil! Heil!' waktu dengar orasinya? Mungkin aja kan? Tokoh-tokoh yang sekarang dianggap 'penjahat' itu dulunya naik ke puncak kekuasaan dengan dukungan masyarakat lho. *Uhuk! Orba... Uhuk!*
 
Susahnya, buku kaya gini bisa dijadiin alat propaganda Neo-NAZI juga buat orang-orang yang mudah dibrainwash. Ofensif buat beberapa orang. Ada komentator di Goodreads yang bahkan nggak mau baca buku ini. Menjijikkan, katanya, dan dia juga mengecam orang-orang membaca Mein Kamf (manifestonya Hitler). Padahal menurutku sih balik lagi ke niatannya ya. Buat peace-keeper, membaca Mein Kamf tuh bisa menjadi peringatan supaya jangan sampai ada world war lagi kan ya? Yah aku sendiri belum tertarik baca sih hehe... Cuma kalau yang bacanya memang penganut Neo-NAZI mah mungkin malah makin terinspirasi ya. Tapi jaman sekarang adalah jaman informasi. Kalau kita melarang orang membaca dan kalau kita memusnahkan buku yang nggak sesuai dengan ideologi kita, apa bedanya dengan NAZI? Dengan para diktator?

Nah ngomong-ngomong pemaksaan ideologi, boleh ya mulur ke soal gay rights? Review bukunya udah kelar kok hehehe... Aku sendiri bukan homophobia tapi juga nggak mempromosikan homoseksualitas. Pokoknya ya bebas lah, pilihan masing-masing orang aja mau jadi hetero, homo, apa biseksual, selama nggak memaksa orang lain. Menurut agamaku sih, homoseksualitas tuh dikecam yah... (Tapi aku nggak muluk-muluk lah, buktinya beberapa pastor pernah ketangkap pedofilia sama anak cowo, gila kan! Kalau petinggi agamaku aja masih ada yang ngaco, punya hak apa aku bilang orang dosa atau kaga. Biarlah itu mah keputusan Tuhan aja.) 
 
Beberapa waktu lalu dunia heboh kan tuh soal pengesahan pernikahan homoseksual di US. Kalau menurut Om Hans Davidian, pengesahan ini tuh sebetulnya bukan masalah mempromosikan homoseksualitas tapi masalah pengakuan hak sipil warga negara karena selama ini pasangan homoseksual tidak mendapatkan benefit yang diperoleh pasangan heteroseksual. Tapi tahun lalu (kalau ga salah), pernah juga kubaca pasangan homoseksual yang mau get married menuntut seorang baker (apa pemilik venue gitu) karena menolak mereka sebagai klien karena agama si vendor wedding ini menolak homoseksualitas. Dan tuntutannya dikabulkan pengadilan! Lho kalo kaya gitu, di mana letak perlindungan kebebasan beropini dan beragama ya? Selama penolakan dilakukan dengan respectful (tanpa hinaan atau apalah), walaupun memang menyakitkan buat si pasangan homoseksual, tapi itu adalah hak si vendor dong? Tapi kalau dipikir lagi, memang jadi diskriminasi ya? Kebayang kalau vendor weddingku dulu nolak aku misalnya dengan alasan "duh nggak bisa, abis kamu beda agama sih sama aku." Pasti sebel juga. Ahhh pusing! Hahahaha...

24 June 2015

Book Review: The Husband's Secret by Liane Moriarty

 


Aku pernah bikin review buat buku Mbak Moriarty yang judulnya Big Little Lies. Sukaaa banget aku sama buku itu. Ya witty, ya lucu. Lihai pula memasukkan topik-topik berat macam KDRT dan perceraian dalam cerita kehidupan sehari-hari keluarga suburban (yang biasanya digeneralisasi sebagai kehidupan yang monoton dan membosankan). Saking sukanya, aku langsung minta suami beliin buku-buku terbitan terdahulu karangan si mbak Moriarty ini buat Kindle. Salah satunya si The Husband's Secret ini. 



Style awalnya mirip lah sama BLL. Naratornya 3 tokoh utama perempuan suburban juga. Plus pakai 'pemikiran atau komentar' tokoh-tokoh sampingan juga. Di BLL, komentar tokoh-tokoh tersier ini dipakai buat ngasih POV berbeda terhadap plot dan bikin makin penasaran sama mysterious victimnya (siapa sihhh yang matiii?) tapi sayangnya nggak demikian di THS. Tokoh-tokoh tersier yang disebutkan di awal hampir nggak muncul lagi di belakang dan nggak ada gunanya, malah bikin pusing aja karena munculnya di chapter awal ketika aku masih berusaha mempelajari karakter-karakternya.

Sinopsisnya sih menarik ya. Seorang IRT menemukan surat dari suaminya untuk dia buka ketika si suami sudah meninggal. Nah si suami belum meninggal. Ketika dia telponan sama si suami, suaminya panik mohon-mohon supaya jangan dibuka. Tapi bininya penasaran lah ya... Kalau kamu jadi dia, apakah akan kamu buka atau nggak? Inilah 'Pandora's box'-nya kisah ini. Kalau aku sih, pasti kubuka tuh nggak pakai mikir lama... soalnya aku dan suami bukan tipe yang rahasia-rahasiaan. Kalo mau, chat history pun bebas dibaca. Nah problem berikut di cerita muncul ketika rahasia si suami sudah terbongkar dan ini adalah a very big secret. Apa yang akan kamu lakukan kalau jadi si istri? 

Di pihak lain, ada 2 tokoh utama lain. Yang satu dikhianati sama orang-orang terdekatnya. Yang satu kehilangan semua hal yang penting dalam hidupnya.

Nah di luar sebuah momen yang mentrenyuhkan hatiku sampe remek-remek, nggak ada momen lain yang aku bisa berkorelasi. Yah kesel sih pas baca yang bagian dikhianati itu, tapi nggak terlalu bisa relate (dan amit-amit jangan pernah). Udah, cuma SATU momen aja yang kena ke hati! Witty banter atau heart monologuenya nggak ada yang bikin aku ketawa, padahal aku maniak banget sama bitchy banter.

Karakter-karakternya juga bikin susah berkorelasi. Buktinya aku nggak hapal nama-nama mereka hahahaa... padahal aku masih inget semua nama tokoh utama di BLL. Ya maap ya Mbak Moriarty, pastinya terjadi perbandingan ketika aku baca. Ketiga tokoh di BLL tuh likable, tapi sedikit pun aku nggak menemukan rasa sayang sama tokoh-tokoh di THS. Awalnya aku cukup kebayang jadi si istri penerima surat yang OCD. Serba teratur, prefeksionis, family-person. Kemudian reaksi dia terhadap rahasia suaminya membuatku kecewa. Apa aku yang terlalu idealis? Kayanya nggak. She knows the right thing to do and she chooses not to do it. Si perempuan yang terkhianati juga nggak puguh cara ngatasi masalahnya. Betrayal tuh kaya menimpa hidup dia tanpa aba-aba (BAM!) dan berlalu begitu saja. Tokoh yang kehilangan segala hal yang berarti buat dia itu lupa bahwa sebetulnya dia punya hal lain yang sangat penting dan dia abaikan selama ini: putra dan menantu yang baik! She was being a jerk to them for no reasons at all. 

Apa yang akhirnya terjadi juga cukup ketebak. Yang harusnya klimaks berakhir dengan datar. Epilognya garing abis.

Ah, entahlah... aku nggak bilang buku ini jelek, tapi aku mungkin kecewa karena berharap lebih. Bukannya aku mengira ini kisah romance lalu kecewa karena bukan lho; malah aku nggak suka romance yang menye-menye hehehe. Dan bukannya aku nggak biasa sama tema-tema yang suram. Tapi sayangnya buku ini nggak sehebat successornya (si BLL itu) dalam menciptakan keterikatan dengan para tokohnya. Semuanya ngeselin. Kaya tokoh-tokohnya Girl On The Train (walaupun beda pengarang). Aku belum kapok sih, masih punya satu lagi stok bukunya Mbak Moriarty. Semoga lebih kena ke hati daripada buku ini!

26 May 2015

Book Review: One Plus One by Jojo Moyes (No Spoiler)

One Plus One

Pas nyari rekomendasi bacaan di Goodreads, nemu novel ini yang penilaiannya oke (almost 4 star). Gini sinopsisnya: 
One single mom. One chaotic family. One quirky stranger. One irresistible love story from the New York Times bestselling author of Me Before You

Suppose your life sucks. A lot. Your husband has done a vanishing act, your teenage stepson is being bullied and your math whiz daughter has a once-in-a-lifetime opportunity that you can’t afford to pay for. That’s Jess’s life in a nutshell—until an unexpected knight-in-shining-armor offers to rescue them. Only Jess’s knight turns out to be Geeky Ed, the obnoxious tech millionaire whose vacation home she happens to clean. But Ed has big problems of his own, and driving the dysfunctional family to the Math Olympiad feels like his first unselfish act in ages... maybe ever.
Napa aku mau baca padahal mayoritas reviewer Goodreads menyatakan novel ini bergenre romance & chicklit? Chicklit! Iyuh. Pasti banyak cinta-cintaannya. Aku kan tipe orang yang baca Harlequin (punya mamaku) hanya saking nggak ada kerjaannya dan buat ngehina-hina aja hahaha... Tapi kulihat beberapa orang mengategorikan novel ini realistic fiction dan humour. I love humor! I love family-theme fiction! Dan tokoh cowoknya di sinopsis disebut sebagai 'geeky Ed'. I love geeky guys! Walaupun deskripsi 'millionaire' sempet bikin ilfil sih. I'm not a fan of shitty Cinderella-ish stories where a maid marries a rich galant Prince Charming and they live happily ever after. Urggghh... Tapi yasudlah dicoba baca dulu aja.

Jengjengjeeng.... ternyata bukunya pendek banget! Di Kindle aku emang nggak suka ngecek jumlah halaman, jadi kaget juga. Yah... jangan-jangan ini mah sebenernya masuk kategori cerpen ya? Hahahaa...

Well, in overall, I quite like it. Masih lebih suka sama gaya penulisannya Liane Moriarty sih (see my review on Big Little Lies here). Aku suka caranya mendeskripsikan tokoh-tokohnya tanpa gambaran 'cantik, kaki jenjang, tubuh kecil namun seksi' atau 'tampan, dagu yang kokoh, tubuh yang bak pahatan dewa yunani' atau other shit yang suka muncul di novel Harlequin dan bikin mata bulukan. Point of viewnya diambil dari 4 tokoh (Jess, Ed, Tanzie, dan Nicky) dan bikin kita lebih kebayang pemikiran masing-masingnya. Aku juga suka karakter tokoh-tokohnya yang menurutku sih nggak terlalu dibuat-buat yah. Flaws ya flaws aja, nggak pake banyak excuse supaya tokohnya tetep flawless kaya di chicklit standar. Perpisahan kedua tokoh utama juga punya sebab yang kuat, bukan yang unyu-unyu dibuat-buat semacam karakter-cewe-yang-sok-tegar-ingin-menanggung-bebannya-sendirian atau sejenisnya. Some parts juga sukses bikin ngakak.

On the other hand, there are some annoying things (buatku) ketika membaca buku ini:
  • Mindsetku kan Indonesia banget ya, di mana yang namanya nebeng (walau kepaksa) ya harus sopan. Bersih. Apalagi akunya sendiri juga rada clean freak. Nggak kebayang gitu, nebeng mobil orang trus naikin kaki ke dashboardnya! Waw! Ke mobil sendiri aja nggak pernah hahaha... Mana mereka enak aja nyampah di mobil orang. Mungkin buat nunjukin how different the characters were and how they learn about each other and in the end accepted each flaw kali yaaa....
  • Incongruity cerita. Small thing sih, tapi kalo baca sambil ngebayangin kalo difilmin kira-kira adegannya kaya apa, agak bingung. 'Eh, lho?' trus baca ke depan lagi karena ngerasa ada yang aneh, dan ternyata emang nggak match sama setting awal. Yah ini bener-bener small thing kok, nggak mengganggu jalan cerita.
  • Itu idup ga bisa lebih ribet lagi, woooiii??? *lap keringet* Pengarangnya sadis bener nambah-nambahin masalah terus menerus hahahah... Kadang aku malah jadi bertanya-tanya: emangnya bule nggak punya sejenisnya Antimo? Dan susah kah nyari oralit dan norit di Inggris? Belom lagi masalah yang muncul di klimaks. Hih!
  • Endingnya. Okelah semua penghuni dunia conspire to make it happen, tapi kok rasanya jadi terburu-buru. Tadi masih galau-galau, kok halaman berikut udah speech dengan iye yakin beud soal keputusannya?
Yah semua itu berdasar penilaianku doang. Banyak kok reviewers yang muji-muji novel ini setinggi Monas. Trus apakah novel ini recommended (menurutku)? Tergantung apa yang dicari. If you're looking for romance, mending baca buku lain. Di sini mah minim cinta-cintaan. If you're looking for family drama with a touch of romance, it's a good choice.

Got it from Goodreads, lucuk ya

29 March 2015

Book Review: Big Little Lies by Liane Moriarty (No Spoiler)

19486412

Waktu baca sinopsisnya di Amazon, aku dan paksu udah ilfeel duluan, "Ih kok kaya Chicklit for Desperate Housewives ya?" Tapi ternyata genrenya masuk 'mystery' dan dapet penilaian bagus dari Goodreads readers, jadi dibeliin deh sama paksu bareng sama The Girl on The Train yang udah kubaca duluan.

Kesan pertama setelah baca 5 chapters: SUKAAA! Dalam sehari pertama aku bisa abisin 20 chapter. It's a record since I became a working mom. Ternyata Big Little Lies ini bisa kuselesaikan dalam 3 hari.

Karakter utamanya ada 3 perempuan, kaya di The Girl On The Train, tapi bedanya novel ini ga bikin 'gemes-jengkel' sama tokohnya. Pembentukan karakternya juga dapet; they got flaws in adorable and natural way. Sebagai pembaca, aku bisa relate sama perasaan tokoh-tokohnya.  Kekurangannya: penggunaan deskripsi yang berulang-ulang terhadap suatu karakter. Misalnya A nganggep si B 'feisty', terus ternyata C juga bilang B 'feisty'. Padahal kan bisa aja lively, gutsy, ato apaa gitu?

Interaksi para tokohnya nyindir ibu-ibu banget... judgey gitu satu sama lain, kepo tapi gengsi, cynical. Conversation-nya jail, gengges, witty, dan lebay; gaya bahasa kesukaanku! Ceritanya tentang ibu-ibu anak TK yang geng-gengan, lumayan menarik buat diriku yang 3 taon lagi jadi ibu anak TK. Jadi kebayang mungkin mirip-mirip gitu yaa... walau pastinya didramatisasi.

Settingnya juga adorable deh, aku sukaa... kota kecil di pinggir pantai utara Sydney. Trus ada cafe asoy dengan pemandangan ke laut dan sedia buku-buku bekas. Ihhh sorgaa!

Satu-satunya yang buatku agak annoying adalah adanya snippets di awal ato ending tiap chapter, isinya komen beberapa tokoh sampingan (biasanya para ortu lain di TK tersebut) tentang pembunuhan yang terjadi. Nah ortunya kan banyak, jadi awalnya aku agak bingung, ni penting ga sih buat dihapalin nama-namanya, apa perlu diperhatikan siapa ngomong apa? Siapa tau di situ letak clue-nya, soalnya pengarangnya niat banget. Ga cuma pembunuhnya yang dirahasiakan, korbannya juga (di awal-awal) ga dikasih tahu identitasnya. Dia juga bisa bikin pembacanya ngakak padahal novel ini kan bertema pembunuhan! Jagoan kan?

Penasaran... aku buka profilenya Liane Moriarty di Goodreads. Lucuuuk! Gini nih katanya:
About this author

 
 
Liane was born on a beautiful November day in 1966 in Sydney. A few hours after she was born, she smiled directly at her father through the nursery glass window, which is remarkable, seeing as most babies can’t even focus their eyes at that age.

Her first word was ‘glug’. This was faithfully recorded in the baby book kept by her mother. (As the eldest of six children, Liane was the only one to get a baby book so she likes to refer to it often.)

As a child, she loved to read, so much so that school friends would cruelly hide their books when she came to play. She still doesn’t know how to go to sleep at night without first reading a novel for a very long time in a very hot bath.

She can’t remember the first story she ever wrote, but she does remember her first publishing deal. Her father ‘commissioned’ her to write a novel for him and paid her an advance of $1.00. She wrote a three volume epic called, ‘The Mystery of Dead Man’s Island’

After leaving school, Liane began a career in advertising and marketing. She became quite corporate for a while and wore suits and worried a lot about the size of her office. She eventually left her position as marketing manager of a legal publishing company to run her own (not especially successful) business called The Little Ad Agency. After that she worked as (a more successful, thankfully) freelance advertising copywriter, writing everything from websites and TV commercials to the back of the Sultana Bran box.

She also wrote short stories and many first chapters of novels that didn’t go any further. The problem was that she didn’t actually believe that real people had novels published. Then one day she found out that they did, when her younger sister Jaclyn Moriarty called to say that her (brilliant, hilarious, award-winning) novel, Feeling Sorry for Celia was about to be published.

In a fever of sibling rivalry, Liane rushed to the computer and wrote a children’s book called The Animal Olympics, which went on to be enthusiastically rejected by every publisher in Australia.

She calmed down and enrolled in a Masters degree at Macquarie University in Sydney. As part of that degree, she wrote her first novel, Three Wishes. It was accepted by the lovely people at Pan Macmillan and went on to be published around the world. (Her latest books are published by the equally lovely people at Penguin in both the US and the UK)

Since then she has written two more novels for adults, as well as a series of books for children.

Liane is now a full-time author. She lives in Sydney with her husband, her new baby daughter Anna, and her son George, who likes to sit on her lap while she works, helpfully smashing his fist against the keyboard and suggesting that she might prefer to be watching the Wiggles instead.

Once upon a time she went heli-skiing and skydiving* and scuba diving. These days she goes to the park and ‘Gymbaroo’ and sings ‘I’m a Little Cuckoo Clock’ at swimming lessons. She has discovered that the adrenaline burst you experience from jumping out of a plane is remarkably similar to the one you get when your toddler makes a run for it in a busy car park.
Besok-besok mau baca lagi buku-buku dari pengarang ini ah, tapi mau kuseling pengarang lain dulu. Takut keburu bosen.
Satu hal lagi yang menarik: buku ini katanya sedang dibikinkan filmnya oleh bintang-bintang kece Aussie: Nicole Kidman dan Reese Witherspoon! Plus katanya penulis skenarionya adalah David E. Kelley (penulis skenarionya Doogie Howser, LA Law, dan Ally McBeal sekaligus suaminya Michelle Pfeiffer). Hmm... siapa memerankan siapa yaa? Aku sih pinginnya sih Reese jadi Madeline, Nicole jadi Celeste. Trus Rose Byrne jadi Jane dan Hugh Jackman jadi Perry. Semoga beneran jadi difilmkan!


26 March 2015

Book Review: The Girl On The Train by Paula Hawkins



Image result for the girl on the train

Sesudah bulan lalu kelar baca Gone Girl-nya Gillian Flynn, aku jadi kepingin baca novel psychological thriller lagi. Paksu cariin deh di Amazon, lalu download-in di Kindle. Salah satu judul yang dia temukan: The Girl on The Train. Pengarangnya Paula Hawkins. Jujur belom pernah denger, soalnya walaupun aku kutu buku, aku cuma hapal pengarang mainstream alias yang sedunia tahu kaya JK Rowling, Dan Brown, Paulo Coelho, Enid Blyton gitu deh... *cupu* Novel TGOTT ini termasuk salah satu novel yang suka dibanding-bandingkan sama si Gone Girl.


Kesan pertama dari buku ini: ih, story-nya mulai sehari sebelom tanggal pernikahanku! Eh ga penting amat ya hihi...

Kesan berikutnya setelah membaca sekitar 5 chapter: Hmmm prospektif, belom menemukan sesuatu yang bikin aku males. Aku suka chapter-chapternya yang pendek, sangat cucok buat working mother sepertiku yang sering baca ngaclok-ngaclok sesempatnya di jalan menuju kantor atau rumah, jam makan siang, atau sambil nyusuin bocah. (Aku ga keburu menyelesaikan Game of Thrones kan gara-gara itu juga, begitu sempet baca dah lupa ceritanya sebelomnya gimana. Maklum lah ya hormon kehamilan yang bikin pikun itu masih nyisa lhoo sampe bulan ke-7 iniii...)

Ke belakangnya pun ceritanya semakin bikin aku terpikat (halah bahasanyaa) sampe agak susah stop, tapi apa boleh buat musti maen dulu lah sama anak, musti bikin report, dll dll. Untungnya pola penceritaannya simple walau timelinenya maju mundur. Jadi misalnya abis cerita yang bulan Juli, chapter berikut flashback ke awal tahun, lalu balik lagi ke Agustus, ehh flashback lagi, gitu terus. Tapinya si pengarang ga bikin ini ribet kok, ingatanku yang kaya Dory temen papanya Nemo ini pun masih sanggup ngikutin.

Penggunaan bahasa Inggrisnya pun sederhana, ga banyak kalimat majemuk nan belibetan. Nyantai lah bacanya, ga perlu bolak-balik mencet dictionary. Tapi kenapa ya aku berasa kurang dapet aksen Britishnya, padahal settingnya di Inggris. Aku bacanya tetep kaya English amiriki aja.
Pembentukan karakternya juga dapet. Kayanya pengarangnya manteb riset psikologinya. Aku suka cerita yang bisa ngasih perspektif dari berbagai tokohnya seperti di dunia nyata. Kaya punya temen yang nyebelin tapi tetep kita temenin, gitu. Nobody's perfect. Nggak ada pengantagonisan tokoh di novel ini, beda tipe dengan novel-novel Dan Brown yang jelas siapa penjahatnya (ya walaupun biasanya mastermindnya disembunyiin yaa). Nah kalo di novel ini kita dibikin nebak-nebak siapa sih penjahatnyaa... Etapiii... walau ga ada antagonisnya sampai akhir cerita, semua tokoh di novel ini....

Spoiler Alert for next paragraph including things I don't like from this novel.